Kamis, 13 Januari 2011

meditasi vipassana bhavana yang berhasil


Oleh : Y.M. Bhikkhu Dhammarakkhita
Penerbit : Lembaga Satipatthana Indonesia


Motto Meditasi Vipassana saya adalah


“Melihat ,


    Mengetahui,


        Memperhatikannya ketika pergi !”


(Menyadari, mencatat, ingat ketika lenyap) HARAP DIINGAT


    * Diam adalah mulia-diminta tidak berbicara dengan peserta meditasi yang lain. Jika Anda punya masalah tanyakan pada guru atau panitia Ingatlah : Sedikit saja percakapan = merusak konsentrasi yang telah ada.
    * Dimohon tidak meninggalkan batas tempat yang telah ditentukan tanpa persetujuan guru atau panitia Anda.
    * Ruang meditasi adalah tempat yang paling kondusif untuk berlatih.
    * Dimohon untuk memperhatikan kesantunan dan tenggang rasa terhadap peserta lain dengan :
          o Tidak terlalu lama di dalam kamar mandi dan toilet namun tetap menjaga kesadaran.
          o Jangan berisik dengan tas dan pintu di kamar tidur maupun Dhammasala.
          o Makan secukupnya dengan tenang, perlahan dan penuh perhatian.
          o Tidak mencampuri urusan orang lain.
    * Harap lakukan membaca dan menulis hanya jika benar-benar diperlukan saja.
    * Anda boleh membuat catatan pengalaman Anda untuk konsultasi dengan guru Anda tetapi bukannya membuat karangan. Kalaupun tidak dicatat, apabila hal itu penting, Anda akan ingat dengan sendirinya.
    * Dimohon tidak mengarahkan kaki Anda pada Buddharupang, bhikkhu atau obyek penghormatan lainnya.
    * Tangga merupakan tempat yang baik untuk mengembangkan konsentrasi (tetapi jangan menghalangi jalan peserta lain).
    * Dalam keadaan duduk, berdiri dan posisi berjalan serta kegiatan sehari-hari, kita tetap melakukannya dengan bermeditasi.
    * Ambil sedikitnya empat atau lima aktivitas setiap hari dan lakukanlah dengan sangat perlahan dan akurat serta perhatian terpusat.
    * Pakaian harus yang nyaman, sederhana dan tertutup. Diminta tidak memakai celana pendek, rok pendek atau baju tanpa lengan.
    * Jangan berolah raga yang aktif atau jogging, perenggangan otot sebentar dengan perlahan penuh perhatian diperbolehkan.
    * Jaga dan patuhi peraturan yang ada di pusat meditasi.


JADWAL YANG DIANJURKAN


03:00 – 04:00 Bangun Pagi/Meditasi Jalan.
04:00 – 05:00 Meditasi Duduk Bersama
05:00 – 06:00 Meditasi Jalan
06:00 – 07:00 Makan Pagi
07:00 – 08:00 Mandi dan Meditasi jalan
08:00 – 09:00 Meditasi Duduk
09:00 – 10:00 Meditasi Jalan
10:00 – 11:00 Meditasi Duduk
11:00 – 12:00 Makan Siang
12:00 – 13:00 Meditasi Jalan
13:00 – 14:00 Meditasi Duduk Bersama
14:00 – 15:00 Meditasi Jalan
15:00 – 17:00 Interview Dhamma Talk (Lihat Schedule)
17:00 – 18:00 Mandi/Minum Sore/Meditasi Jalan
18:00 – 19:00 Meditasi Duduk
19:00 – 20:00 Meditasi Jalan
20:00 – 21:00 Meditasi duduk bersama
21:00 Istirahat
Retreat hari pertama dan terakhir bersifat variable dan tidak harus mengikuti jadwal ini.


SYAIR UNTUK PEMBERIAN MAAF


Pemberian Maaf merupakan salah satu bagian kunci dari latihan spiritual dan cara terbaik untuk memulai suatu retreat. Hal ini membuat kita dapat melepaskan dari keterikatan terhadap masa lalu dan memulai awal segar yang baru mulai sekarang, saat ini. Ulangilah bait pertama selama sejam, sehari atau bahkan seminggu, hingga Anda merasa puas. Kemudian yang kedua dan terakhir yang ketiga. Ini bisa menjadi sangat kuat.


Dalam banyak cara saya telah menyebabkan kerugian dan penderitaan makhluk lain, Saya memaafkan diri sendiri. Semoga mereka terbebas dari penderitaan mereka.


Dalam banyak cara saya telah menyebabkan kerugian dan penderitaan terhadap diri saya sendiri
Saya memaafkan diri sendiri. Semoga saya terbebas dari penderitaan saya.


Dalam banyak cara saya telah dirugikan oleh makhluk lain
Saya memaafkan mereka. Semoga kami semua terbebas dari penderitaan kami.


VIPASSANA
(MEDITASI PANDANGAN TERANG)


Cara lain untuk mengatakan meditasi pandangan terang adalah; meditasi perhatian penuh, introspeksi, observasi realitas, kewaspadaan obyektif dan belajar dari pengalaman setiap momen adalah sangat bermanfaat untuk mengetahui manakah yang Vipassana dan mana yang bukan.


Bukan sekadar relaksasi, Vipassana adalah realisasi dari batin dan jasmani Anda sebagaimana mereka muncul dihadapan Anda sekarang. Pikiran waspada, tajam dan penuh perhatian tetapi tubuh dalam kondisi rileks dan tidak tegang atau kaku.


Bukan sekedar pelepasan stres. Vipassana adalah mengidentifikasi, mengenal dan selanjutnya pengurangan faktor-faktor penyebab stres, tidak hanya sekarang tetapi juga untuk masa mendatang.


Bukan sekedar kepercayaan membuta. Vipassana adalah praktis dan berdasarkan pengalaman pribadi. Kami memberikan Anda nasehat, jika Anda bekerja dengan sikap yang benar dan pikiran yang terbuka maka Anda dapat mengukur hasilnya sendiri.


Bukan merupakan penyerapan, konsentrasi yang tetap atau mendalam dari satu obyek tunggal, seperti pernafasan, obyek yang nampak atau obyek yang divisualisasi, jampi-jampi atau mantra, perenungan atau refleksi dari suatu konsep atau pemikiran yang mendalam. Vipassana merupakan pengembangan kemampuan pikiran untuk mengamati banyak proses perubahan dengan menggunakan konsentrasi ringan, dimana bila dilakukan secara berkesinambungan dapat menjadi cukup kuat untuk menembus pemahaman semu atas keberadaan diri kita.


Bukan merupakan kesadaran tanpa memilih obyek pilihan menurut keinginan sendiri atau instruksi guru, suatu pengamatan tanpa penilaian dari segala sesuatu sebagaimana apa adanya, hidup pada saat sekarang.


Bukan sifat egois. Vipassana memahami diri sendiri sepenuhnya sebelum berusaha menolong orang lain.


Bukan merupakan pemujaan berhala, sulap, berdoa, pengorbanan atau campur tangan dewa. Vipassana hanyalah Anda sendiri dengan kemampuan alamiah Anda dan keinginan Anda untuk terbebas dari segala bentuk penderitaan.


Bukan sesuatu yang terpisah atau di luar kehidupan Anda. Vipassana adalah melihat momen demi momen pada momen sekarang yang sangat nyata dari keberadaan Anda sebagaimana adanya tanpa memberi pendapat, kritik atau mengubah.


Bukan suatu pemunculan mendadak yang muluk-muluk pada jalan spritual yang agung. Sesungguhnya Vipassana membumi, kembali ke dasar dan kesederhanaan kehidupan dalam batin dan jasmani Anda.


PRINSIP
(Sangat Penting)


Prinsip dari meditasi Vipassana adalah untuk mengamati segala proses mental atau fisik yang paling dominan pada saat sekarang


Catatlah hal ini dalam batin Anda !


Tiga kata yang berlaku dalam prinsip ini adalah mengamati, segala sesuatu dan yang paling dominan. Kita hanya mengamati, kita tidak mengubah, membasmi atau menghancurkan apapun. Bukan hanya obyek yang berkesinambungan satu dan permanen, tetapi segala sesuatu yang muncul. Yang mendominasi, kuat, jelas, obyek yang ada dalam kesadaran Anda, panca indera kita, tubuh dan pikiran Anda, itu semua. Jika ada keraguan, ingatlah prinsip ini cobalah untuk mengucapkan prinsip ini tiga kali setiap mulai duduk.


MENCATAT DALAM BATIN


Ini berarti mengingat kata-kata dalam batin Anda mengenai pengalaman yang sedang Anda alami pada Batin dan Jasmani Anda saat ini. Kata yang Anda gunakan tidak sepenting kesadaran itu sendiri. Jika Anda dapat menyadari setiap proses tanpa melakukan analisa, membandingkan, memikir atau menilai, maka tidak perlu lagi melakukan pencatatan dan Anda hanya perlu melakukan pengamatan.


Kita mencatat obyek selama obyek tersebut mendominasi, kita hanya menggunakan satu kata (biasanya hanya kata kerja).


Ubahlah observasi dan pencatatan jika.....


    * Obyeknya tergantikan atau digantikan oleh obyek yang lebih menonjol.
    * Objeknya telah berubah menjadi proses yang lain
    * Objeknya telah menghilang.
    * Objeknya menjadi samar, tumpul atau Anda telah menjadi tidak tertarik.


Ingatlah, bahwa Anda tak perlu mencatat suatu objek hingga menghilang sebab kadang-kadang tidak mau hilang. Jangan gunakan perhatian dan pencatatan sebagai senjata untuk menghancurkan sesuatu yang tidak Anda sukai. Contohnya rasa sakit, mungkin dapat diperhatikan terus-menerus selama setengah jam atau lebih. Pikrian penuh nafsu mungkin tercatat selama 20 atau 30 kali sebelum menghilang. Jika ada suara berisik yang terus menerus seperti suara motor Anda tidak perlu mencatatnya tetapi hanya melakukan observasi dan catat obyek berikutnya yang lebih dominan.


Jangan berkonsentrasi pada pencatatan. Sebab pencatatan hanya untuk mengarahkan pikiran Anda kepada proses yang terjadi saat ini tanpa berpikir atau menilai.


Perhatian murni yang paling utama, mencatat nomor dua. Pencatatan yang terus menerus berarti perhatian Anda terus menerus. Perhatian yang terus menerus berarti bahwa konsentrasi Anda tajam. Konsentrasi yang tajam berarti Anda akan mendapatkan pandangan terang. Pandangan terang berarti kebijaksanaan. Kebijaksanaan menghancurkan kegelapan batin dan penyebab penderitaan. Hiduplah dengan damai !


VIPASSANA DUDUK


Perhatian murni pada waktu duduk.


Cobalah untuk duduk di lantai dengan posisi bersila, mungkin dengan pinggul Anda beralaskan tikar atau bantal dan kaki Anda lebih rendah di lantai. Anda boleh duduk di kursi, tetapi jangan bersandar.


Ambil posisi badan yang nyaman dengan posisi yang tegak punggung yang lurus dan bahu Anda melebar, tidak terlalu kaku dan tidak terlalu santai. Berusaha untuk tidak bersandar atau menyentuh sesuatu. Jagalah agar kepala Anda tetap tegak lurus, dagu ditekuk sedikit ke dalam tetap dalam posisi duduk dan mata tertutup.


Ketika anda menarik nafas, rasakan udara dingin ketika masuk ke lubang hidung, rasakan udara hangat yang keluar dari lubang hidung. Gunakan perasaan tersebut sebagai fokus utama untuk memulai meditasi. Cobalah mencatat hal itu sebagai “dingin” dan “hangat” atau hanya sebagai “merasakan”, “merasakan”. Dengan cara yang sama, Anda dapat mengamati sensasi dari udara yang melewati sepanjang hidung atau keseluruhan proses pernafasan. Rileks pada saat Anda bernafas masuk dengan penuh perhatian dan rileks saat Anda membuang nafas keluar dengan penuh perhatian.


Akibat kita bernafas ketika dada kita mengembang adalah, perut kita mengembang naik dan ketika menghembuskan nafas keluar perut kita mengempis turun. Kita catat hal ini sebagai “naik” dan “turun”. Jika nafasnya panjang, perhatian sebagai “naik, naik, naik, turun, turun, turun”, tidak dengan pelan seperti “na-ik, tu-run”. Jika nafasnya pendek, kita catat “naik, turun”. Jadi Anda harus melihatnya secara berurutan, momen demi momen yang Anda alami, jika nafasnya panjang, Anda dapat melihatnya berkali-kali. Jika nafasnya pendek, perhatikan hanya sekali. Menurut tradisi kami pergerakan naik-turun merupakan salah satu obyek perhatian yang utama. Jika Anda pernah tersesat dalam meditasi atau tidak tahu apa yang diperhatikan, kembalilah ke nafas atau “naik dan turun “.


Kita tidak boleh memaksa nafas kita masuk atau keluar. Jangan tarik atau dorong perut kita tetapi bernafaslah secara alamiah. Ketika kita duduk, kita merasakan banyak sensasi/perasaan dalam tubuh seperti sakit, tekanan, ketegangan, kaku, gatal, dingin, panas, mencium, mendengar, kita hanya memperhatikan dan menyebut nama mereka masing-masing.


Setiap suara yang kita dengar, hanya dicatat sebagai “mendengar”. Jika posisi Anda sudah bungkuk, hanya sadari dan dengan perlahan diluruskan kembali, “luruskan, luruskan”.


Anda dapat memulai duduk Anda dengan suatu tekad dengan mengulangi prinsip sebanyak tiga kali atau bertanya pada diri Anda sendiri, “Mengapa saya bermeditasi?”. Meditasi cinta kasih selama 5 atau 10 menit juga suatu cara yang baik untuk mulai.


Walau lima menit pencatatan mental yang intensif dan pengamatan jernih adalah lebih penting dan bermanfaat daripada melamun, berpikir dan tidur selama satu, dua atau tiga jam. Setelah itu, dengan secara bertahap menambah waktu duduk, secara alamiah Anda akan mendapat lebih banyak pengalaman.


Duduk dengan bersila di lantai untuk waktu yang lama atau dalam posisi teratai penuh adalah tidak penting, yang penting adalah tingkat kesadaran yang murni. Menggunakan kursi, bantal atau bangku tanpa sandar tidak menjadi masalah. Rileks.


Sebelum mengakhiri duduk, Anda dapat bertanya pada diri Anda sendiri, “Mengapa saya berdiri sekarang?”. Kemudian amati dan catatlah jawabannya, Anda dapat melalui penghalang dan duduk lebih lama atau bangun dengan penuh perhatian dengan pikiran yang segar.


KEADAAN BATIN


Memperhatikan semua keadaan batin, termasuk pikiran dan emosi, merupakan aspek terpenting dari meditasi Vipassana.


Jika pikiran tidak diperhatikan dengan semangat dan diobservasi secara obyektif, pikiran akan berlari ke sana ke mari dengan gembira dan cepat, tanpa sadar sampai kemudian muncul perasaan bersalah, menghakimi dan mengkritik diri sendiri. Bilamana hal ini muncul, catat dengan hati-hati dan juga lakukan pengamatan, ini merupakan bagian dari proses penyembuhan.


Alasan lain yang baik untuk memperhatikan pikiran karena ketenangan dari pikiran, menyenangkan, menghibur dan bersifat gembira, mereka menyebabkan tidur dan malas, kita dapat melakukan dengan baik tanpa mereka.


Kita memperhatikan proses ini seperti merencanakan, mengingat, berimajinasi, kemarahan, tidak sabar, kebosanan dan lainnya sampai mereka berubah atau hilang. Bahkan jika mereka datang dan pergi dengan cepat, masih merupakan hal yang baik untuk melatih mencatatnya sekali atau dua kali sebelum mereka menghilang.


Ketika pikran sedang melamun, berkhayal atau mengembara, kita tidak langsung membawanya kembali pada naik dan turun. Kita mencatat, “melamun, melamun”, atau “berkhayal, berkhayal,” atau “mengembara, mengembara”, sampai menghilang atau diganti dengan obyek lain yang lebih dominan.


Gelap atau kosong? Ini normal, rileks saja dan tetap perhatikan, “hitam,hitam” atau “kosong, kosong” atau bahkan “tidak ada, tidak ada” , lihat bagaimana hal itu berubah dan apa yang terjadi kemudian.


Kedamaian adalah kondisi mental alamiah yang harus dicatat dengan serius sebagai “damai”, “tenang”, “hening”, dan lain-lain. Jangan membuatnya pergi dan jangan juga menikmatinya. Tetapi secara obyektif melihatnya sebagai suatu proses mental dan mengerti keadaan alami yang sebenarnya.


Hal penting yang perlu diingat di sini, selama Anda melekat atau memegang pada suatu pengalaman tertentu, baik atau buruk, Anda akan tetap berada pada tingkat tersebut dan tidak membuat kemajuan.


Harapan adalah racun para yogi.


Jika Anda mengharapkan hal-hal yang baik atau pengalaman lampau atau melakukan proyeksi dan berspekulasi, catat juga semuanya dengan serius !


Harapan dapat mengarah pada kekecewaan;
Keterbukaan mengarah pada kebijaksanaan dan kegembiraan.


Konsentrasi? Jangan dipaksa, rileks saja!
Bahkan jangan pernah mencari atau mencemaskannya, ini merupakan kondisi mental yang selalu terjadi, Anda sudah memilikinya, sekarang gunakan dengan baik dan bijaksana untuk mengamati bagaimana pengalaman Anda saat ini tumbuh secara alamiah.


Apa yang terjadi jika obyek terlalu cepat, terlalu banyak atau nampaknya tidak ada obyek yang dominan untuk diperhatikan? Kita dapat melakukan satu dari tiga hal berikut :


   1. Catat, “bingung, bingung” sampai pikiran jernih
   2. Berhenti mencatat dan amati saja, sampai sebuah obyek menjadi jelas.
   3. Pilih satu obyek dan lanjutkan untuk mencatatnya.


MENGANTUK
(Cara mengatasi ngantuk)


Cara yang TERBAIK adalah dengan kesadaran.
Maka amati secara langsung dan catatlah dengan bersemangat sebagai, “ngantuk, ngantuk, ngantuk” usahakan untuk melihatnya sebagaimana sifat alamiahnya. Perhatikan sampai ngantuknya hilang, kemudian Anda dapat mencatat, “segar, segar” atau “bangun, bangun”.


Ingat pikirkan kembali beberapa hal mengenai Dhamma, seperti kotbah Dhamma terakhir yang Anda dengar. Ingatlah prinsip dari meditasi Vipassana. Ingatlah petunjuk-petunjuk ini untuk melihat akhir dari ngantuk.


Ulangilah beberapa paritta yang Anda ketahui yang Anda tahu akan membangkitkan semangat bermeditasi.


Bayangkanlah suatu sinar terang dalam pikiran Anda dan perhatikan sebagai “lihat, lihat” selama mungkin agar pikiran tetap terjaga.


Buka mata Anda sedikit, cukup untuk membuat Anda bangun dan tutup mata lagi. Coba buka mata Anda dan tataplah suatu sinar atau wajah Buddharupang. Atau arahkanlah pandangan Anda sejauh mungkin.


Pijat atau tekan beberapa bagian dari tubuh Anda. Anda dapat mencoba memilih menarik kuping Anda. Mencubit pada beberapa bagian dari tubuh Anda.


Bangun dari posisi duduk secara pelan-pelan dan lakukanlah meditasi jalan dengan perhatian penuh. Jika Anda harus berjalan sedikit lebih cepat lakukanlah tetapi jauh dari meditator lain. Coba berjalan mundur dengan hati-hati !


Yang terakhir adalah yang paling sulit untuk seorang yogi sejati yaitu pergi dan berbaring tetapi tidak berarti tidur! Usahakan untuk meditasi dalam posisi sebagaimana diinstruksikan dalam catatan yang lain.


Berbagai variasi lainnya.
Mengantuk disebabkan karena berpikir. Ya, bahkan mengangguk atau menggeleng tiba-tiba sebenarnya adalah rasa kantuk yang disebabkan pikiran masuk ke keadaan pikiran yang menyenangkan dan halus atau oleh pencatatan semu atau otomatis.


Catatlah pada waktu berpikir dengan seksama, dengan penuh perhatian.
Guru kami berkata, mengantuk harus dicatat dengan penuh perhatian, dengan penuh semangat dan dengan cepat.


Berteriaklah dalam batin Anda ketika Anda mencatat rasa ngantuk,
“NGANTUK!, NGANTUK!, NGANTUK!”
Ingatlah bahwa kita harus mengerti rasa ngantuk dalam keadaan yang sebenarnya.


Usahakan untuk duduk lebih dekat ke tembok atau tirai, sehingga bila kepala Anda jatuh ke depan akan menyentuh sesuatu dan membangunkan Anda, ini sangat efektif tetapi harap berhati-hati. Duduklah tanpa bantal duduk atau duduk dengan posisi yang tidak nyaman, seperti posisi teratai (padmasana) atau dengan melipat kaki menyangga tubuh Anda. Cobalah duduk ditempat berangin, dingin atau tempat yang panas.


Catatlah keadaan mental yang menyertai jika Anda melihatnya, seperti kemarahan, rasa bosan, keinginan, menikmati, nafsu keinginan, atau yang sederhana kemalasan, catatlah dengan penuh semangat.


Jika rasa mengantuk tetap datang setelah menghilang, cobalah untuk mencatat “kejengkelan” terhadapnya atau “kecewa” atau mungkin “frustasi”.


Catatlah perasaan fisik mengantuk, seperti rasa berat, tekanan atau ketegangan di tubuh, kepala atau mata. Ambillah nafas panjang dan catatlah dengan penuh perhatian. Lakukanlah metta, meditasi cinta kasih terhadap dirimu, sesama teman meditator dan terhadap semua makhluk (lihat halaman belakang). Mulailah dengan tekad :
“Saya akan mencoba untuk mencatat rasa ngantuk segera ketika dia muncul.”
“Saya akan mencoba melihat keadaan sesungguhnya dari rasa mengantuk.”


Usahakan jangan menyerah dan usahakan untuk tidak membuang atau menolaknya. Hanya mencatatnya dengan sabar, amati dengan tajam sampai kantuk itu hilang, ini adalah jalan tengah. Jika Anda benar-benar tidak dapat memperhatikan dan “melihat” proses dari ngantuk, bangun dengan perlahan dan dengan penuh perhatian lakukanlah meditasi jalan. Jika Anda harus berjalan lebih cepat lakukanlah dengan menjauhi peserta yang sedang meditasi duduk dan yang sedang meditasi berjalan.


PANDANGAN TERANG TERHADAP RASA SAKIT.


Sakit adalah alamiah dan merupakan guru yang sangat baik. Rileks dan periksa kondisi mental dan keadaan emosi yang muncul karena sakit tersebut. Kita cukup mengetahui sakit tersebut, tidak membuatnya pergi, kita amati sakit secara obyektif agar mengerti karakteristiknya. Kita tidak hanya bersabar dengannya, kita juga melakukan penyelidikan. Tidak perlu mempertahankan rasa sakit akan tetapi jangan menyerah begitu saja, bereksperimenlah dengan rasa sakit itu. Anda akan tahu ketika harus merubah posisi duduk Anda catatlah, merubah “lega” , “bahagia”.


Inilah lima cara melihat melalui rasa sakit.


   1. Amati langsung sensasi fisik dengan memberi label pada sakit sebagai “sakit, sakit, sakit” atau Anda dapat menggunakan kata yang lebih khusus seperti, menusuk, terbakar, sakit, berdebar-debar dan sebagainya. Anda juga bisa hanya mengamatinya tanpa mencatat tetapi cara seperti ini akan membuat pikiran sering muncul, bila muncul pikiran tersebut harus dicatat. Jangan memperhatikan atau mencatat posisi sakit seperti, “sakit dilutut” atau “sakit di pinggang” atau “lutut sakit”. Kita hanya mencatat dalam satu kata. Konsentrasi pada sakit kelihatannya menjadi lebih parah tetapi jangan khawatir, sakit tidak bertambah parah, Anda baru saja melihatnya dengan lebih jelas.
   2. Amati semua kondisi mental yang berhubungan atau emosi perasaan yang timbul bersamaan dengan rasa sakit. Akan timbul rasa tidak suka pada Anda yang akan menghentikan Anda untuk melihat keadaan alami dari rasa sakit itu maka kita akan mencatatnya sebagai “tak suka, tak suka” sampai hilang dan kita lanjutkan lagi pengamatan pada rasa sakit sebagaimana adanya.
      Juga ketika Anda ingin membuang sakit tersebut catat keinginan atau niat tersebut. Sering kita khawatir terhadap rasa sakit seperti di masa yang lalu dan kita khawatir yang akan terjadi di masa sekarang ini, jadi kita harus mencatat kecemasan kita, ingatan kita atau spekulasi kita sampai menghilang kemudian catatlah rasa sakit itu sebagaimana apa adanya. Apakah Anda sedang menganalisa rasa sakit, mencoba mencari penyebabnya? “Analisa, analisa” Mungkin Anda sedang menilai atau mengkritik diri Anda, catat juga hal itu. Kata-kata lain yang perlu dicatat adalah : Agitasi, takut, frustasi, tidak sabar dan gelisah. Catatlah semuanya hingga semuanya menghilang dan kemudian lihatlah apa yang terjadi.
   3. Santailah!! Duduk saja dan perhatikan dari suatu jarak dengan memberi “daerah aman” antara Anda dengan rasa sakit. Anda dapat mencoba membayangkan suatu pelindung kaca sehingga sakit seolah-olah terputus dari Anda tetapi Anda masih melihatnya dengan jelas. Anda dapat membayangkan sakitnya disembunyikan di dalam suatu gelembung yang jernih. Cara yang lain adalah dengan melihatnya seolah-olah ada di TV, seperti film dokumenter atau seolah-olah rasa sakit orang lain.
   4. Menembus sampai ke pusat rasa sakit seperti roket besar yang bergerak menuju matahari, semakin mengecil dan mengecil sampai menghilang dari pandangan, menjadi semakin panas (sakit terasa lebih menyakitkan) dan kemudian menjadi seperti titik jarum dan menghilang dari pandangan. Tetapi, jika Anda mengharapkan rasa sakit itu hilang catatlah “mengharapkan, mengharapkan”, hal itu tak akan terjadi!
   5. Lihatlah bentuk mental yang timbul bersama rasa sakit. Bagaimana Anda melihatnya dalam pikiran Anda? Apakah mempunyai warna, bentuk, gerakan atau karakteristik lainnya? Catatlah sebagai melihat atau berimajinasi sampai rasa sakitnya lenyap atau berubah atau muncul objek lain yang lebih dominan.
      Bahkan bila sakitnya hilang, sakit selalu akan kembali, cobalah untuk bersahabat dengannya. Seperti semuanya ........., ITU AKAN BERLALU.


Obyek yang tidak kita perhatikan


    * Denyut jantung
    * Sakit di dada
    * Sakit di kepala


Mengapa ? Karena kadang-kadang ketika kita berkonsentrasi pada sesuatu, hal itu akan terlihat lebih besar atau lebih hebat karena hal ini merupakan system dan organ utama kita. Kita gampang khawatir dan panik terhadap apa yang terjadi pada mereka. SANTAI SAJA!! Kita hanya mengamati mereka tanpa mencatat atau dengan catatan kecil secara umum seperti, “pera-saan, pera-saan”.


VIPASSANA BERJALAN


Kesadaran murni yang bergerak


Pertama-tama kita perlu mengetahui yang manakah meditasi berjalan dan mana yang bukan.


Vipassana bukan merupakan latihan fisik, Vipassana merupakan metode menjaga pikiran secara umum, memperhatikan proses fisik dan mental yang sedang berubah sekarang ini. Bukan sekadar istirahat dari meditadi duduk.


Vipassana merupakan metode serius dari latihan yang dapat menghasilkan konsentrasi yang mendalam dan pandangan terang yang murni pada batin, serta proses jasmani. Ini bukan hanya berjalan secara kebetulan.


Vipassana adalah pengamatan mendalam dan terkendali dari gerakan-gerakan yang biasanya kita lakukan asal saja. Ini seperti belajar berjalan kembali dari awal secara keseluruhan. Meditasi berjalan merupakan kesempatan yang ideal untuk mengembangkan ketrampilan meditasi yang sangat berharga yang dapat dilatih dimana saja, setiap waktu sepanjang hidup Anda.


Dianjurkan bahwa, setiap meditasi duduk harus diawali dengan meditasi berjalan, sedikitnya 10 menit. Mengapa? Karena hal ini membantu untuk terpusatnya pikiran dan mempersiapkan hal-hal penting untuk meditasi duduk. Harap jangan meremehkan nasehat ini.


Tips : Pilihlah tempat yang tenang tanpa gangguan. Kita tidak berjalan jauh pada satu arah atau melingkar, tapi hanya berjalan bolak-balik dengan penuh perhatian. Tempat berjalan harusnya antara 3-10 meter, idealnya sekitar 6 meter. Lihatlah dengan pandangan lurus dengan mata ke bawah kira-kira dua meter ke depan. Satukan tangan Anda di depan atau belakang.


Meditasi berjalan biasanya dimulai secara alamiah dengan meditasi berdiri, lalu kita mengamati, “berdiri, berdiri” sebanyak yang diinginkan, rasakan seluruh badan saat berdiri, seperti sebuah pohon. Anda juga sadari bernafas, mendengar, tekanan pada telapak kaki dan kaki atau sensasi awal lain yang menonjol.


Dimulai dengan berjalan dan, menyadari setiap langkah seperti, “melangkah, melangkah”, “menyentuh, menyentuh” atau cukup sebutkan “berjalan, berjalan”. Ketika Anda mencapai ujung, BERHENTI catat dalam batin berdiri, berbalik dan berdiri, bersiap untuk berjalan sampai ke ujung lagi. Ulangi selama 5 atau 10 menit atau sampai pikiran menjadi tenang. Ini disebut langkah satu bagian.


Langkah dua bagian adalah; mengangkat dan menempatkan. Sewaktu Anda mengangkat kaki Anda berkata dalam pikiran. “mengangkat”, saat menaruhnya Anda catat, “letakkan”. Lakukan hal ini selama 10 menit atau sampai Anda dapat konsentrasi lebih baik. Anda harus mengamati paling sedikit dua bagian ketika sedang berjalan berkeliling di luar.


Jika Anda sedang berpikir, BERHENTI dan catat sampai menghilang. Obyek dari pikiran adalah apa saja yang muncul, tidak hanya berjalan. Hal yang sama bila Anda merasa gatal, sakit, mendengar dan sebagainya. BERHENTI dan catat, kemudian mulai berjalan lagi.
Cobalah menutup mata Anda saat Anda berhenti, berdiri, berputar dan berdiri lagi tetapi tidak ketika sedang berjalan!


Langkah tiga bagian adalah; mengangkat, mendorong, menempatkan. Saat Anda melambatkan langkah, Anda dapat merasakan kaki berpindah setelah mengangkat dan sebelum menurunkan. Jika Anda ingin berjalan lebih lambat, Anda dapat rasakan setiap bagian 2 atau 3 kali seperti, “angkat, angkat”, “dorong, dorong, dorong”, “letakkan, letakkan, letakkan”. Ini adalah petunjuk dasar meditasi berjalan, Anda bisa melakukan ini selama Anda suka.


Langkah empat bagian adalah; naikkan, angkat, dorong, letakkan. Ketika kita berjalan lebih pelan, kita merasa bahwa tumit terangkat lebih dulu, kemudian jari kaki terangkat sehingga kita merasakannya.


Langkah lima bagian adalah; naikkan, angkat, dorong, turun, letakkan. Peletakkan ini dibagi menjadi 2 bagian.


Langkah enam bagian adalah; naikkan, angkat, dorong, turun, sentuh, tekan. Karena kita sedang berjalan sangat pelan, kita dapat merasakan bahwa gerakan pertama mendorong kemudian menyentuh dan kemudian menekan. Jika Anda berjalan sangat pelan, Anda dapat merasakan setiap bagian dua atau tiga kali.


Anda dapat juga merasakan keinginan mental untuk menggerakan setiap bagian sebelum bergerak tetapi hanya jika Anda MELIHAT-nya.


VIPASSANA WAKTU MAKAN


Diharapkan untuk tidak memandang terlalu tinggi atau terlalu rendah meditasi pandangan terang ini. Dalam meditasi makan kita mencatat dalam batin “melihat” makanan, “ingin” makan, “mengambil” sendok, “menyendok” makanan, “memindahkan”, “membuka” mulut, meletakkan makanan. “menutup” mulut dan mata tetapi BELUM MENGUNYAH ! “menurunkan” tangan Anda kemudian “mengunyah”, “merasakan”, “menyukai”, “menelan”, “membuka” mata Anda, “melihat”, “menginginkan” dan seterusnya, mencatat setiap proses. Hanya satu hal pada satu waktu. Catat pikiran. Pada kehidupan sehari-hari kita tak bisa makan dengan lambat, tetapi kita dapat makan dengan penuh perhatian.


VIPASSANA BERBARING


Ada dua macam meditasi berbaring; sistimatis dan gaya bebas. Posisi tubuh adalah sama untuk kedua tipe. Berbaring lurus dengan punggung Anda pada permukaan keras dengan bantal tipis untuk kepala Anda, bukan guling. Istirahatkan tangan Anda pada kedua sisi dengan telapak menghadap atas.


Pertama, sistimatis. Rasakan tempat dimana tubuh menyentuh lantai, disebut “titik sentuh”. Mulai dari tumit kanan kemudian otot betis kanan, pantat kanan belakang dari tangan kanan, siku, bahu dan kepala. Kemudian turun ke bagian kiri dari tubuh pada 6 tempat yang sama, 13 titik bersama-sama. Catat mereka dalam batin sebagai “sentuhan”. Kemudian kita catat kembang dan kempis perut secara singkat dan kemudian dari atas kepala, kita menyapukan pikiran turun keseluruh titik sentuh kembali kesebelah tumit kanan dan catat, “berbaring”. Jadi kita bermeditasi dengan mencatat “sentuhan” tiga belas kali, “kembang, kempis” secara singkat dan “berbaring” itulah metode sistematik. Jika Anda mulai berpikir, catat saja dalam batin dan kembali lagi ke sistem di mana saja.


Kemudian ada gaya bebas dengan instruksi yang sama dengan meditasi duduk, kita hanya mencatat apapun yang terjadi, mengembang/mengempis, mendengar, berpikir, menyentuh, berbaring, ngantuk dan lainnya.


Meditasi berbaring sangat baik untuk menghilangkan stres ibu rumah tangga, pelajar atau orang sibuk yang mau istirahat tetapi tidak ingin tertidur. Jika Anda ingin tetap waspada, Anda harus memperhatikan rasa kantuk dengan baik, jika tidak, tidurlah dengan damai. Malam hari jangan hanya menjatuhkan badan tetapi pergi tidur dengan penuh perhatian dan bangun dengan perasaan segar.


VIPASSANA AKTIF


Setelah kesadaran berpikir, kesadaran dari aktivitas sehari-hari merupakan aspek penting dari meditasi Vipassana. Ini artinya kesadaran kita harus diperluas ke dalam setiap tindakan atau pergerakan. Dengan kata lain dapat disebut “Meditasi tidak ada akhirnya” .


Guru besar kita, Chanmyay Sayadaw berkata bahwa tanpa kesadaran dalam melakukan aktivitas sehari-hari maka meditasimu tak ada harapan maju. Pandangan terang dapat muncul setiap waktu maka kita harus terus mencatat keadaan batin ketika sedang bangun atau turun untuk duduk, ketika sedang bergerak melakukan berbagai kegiatan, sementara kita sedang berpakaian, merapikan tempat tidur, membersihkan, mencuci dan bahkan ketika sedang pergi ke toilet. Aspek-aspek dalam latihan ini tak dapat dikesampingkan.


Apa yang sedang kita lakukan adalah mengembangkan tingkat perhatian kita pada suatu titik di mana hal ini menjadi sifat alamiah kedua dan tidak ada proses batin, jasmani atau emosi yang terlewatkan tanpa kewaspadaan, walaupun hanya perhatian secara umum.


Cara terbaik untuk mencapai hal ini adalah dengan memperlambat semua aktivitas dan gerakan. Hanya bila semua dilakukan secara perlahan mereka dapat dilihat secara terperinci, seperti ketika sedang meditasi berjalan. Ketika sedang dalam latihan, semakin lambat, semakin baik. Dengan secara konstan mengamati dan mencatat semua gerakan jasmani, kita sedang mempertajam ketrampilan dalam memperhatikan, kemudian menerapkannya pada emosi dan keadaan mental yang lebih halus.


VIPASSANA LUAR


Vipassana dalam kehidupan sehari-hari


Di luar situasi meditasi dan membawa latihan vipassana ke rumah, seseorang tidak dapat melakukan sesuatu dengan perlahan, kita tak dapat melakukan sesuatu secara perlahan-lahan, namun tidak berarti perhatian dan kewaspadaan menjadi hilang.


Suatu ketika Anda tetap menerapkan pencatatan dalam batin, keduanya secara spesifik, jika Anda punya waktu dan biasanya jika Anda sedang sibuk. Anda bahkan dapat mencatat, “sibuk, sibuk, sibuk”.


Pengalaman berdasarkan pengamatan yang intensif selama berlatih vipassana memberikan kita pandangan terang yang diperlukan terhadap peristiwa duniawi umumnya dalam kehidupan kita sehari-hari pada suatu lingkungan yang terjaga dan memancarkan sinar baru terhadap proses jasmani dan pikiran yang tidak nampak atau tidak diketahui sebelumnya. Oleh karena itu, kembali ke rumah, kita akan lebih trampil mendeteksi dan menghindari situasi yang tidak bermanfaat, tidak sesuai dan mudah berubah-ubah, memiliki kendali atas kehidupan emosi kita, dengan demikian hidup menjadi lebih damai dan bijaksana dengan suatu keseimbangan dan harmoni yang baru.


Pengamatan terhadap keadaan emosi seperti kemarahan, ketakutan, frustasi, tidak sabar, kesepian, kesedihan dan sebagainya dalam bentuk alamiah mereka, ketika mereka muncul, merupakan hal yang paling penting buat seseorang yang ingin terbebas. Tanyalah pada diri Anda sendiri setiap waktu :


“Bagaimana perasaan saya sekarang ?”
“Apakah yang terjadi sekarang ?”
“Apa yang sedang terjadi sekarang ?”


Contoh : kita harus berjalan setiap hari, bahkan jika hanya menuju atau dari mobil, Anda dapat mencatat sebagai “berjalan”, “berpikir”. Hampir setiap orang harus naik dan turun tangga di dalam aktivitas rutin mereka, tidak ada yang dapat dilakukan pada saat itu, maka praktikkanlah mencatat dalam batin, “melangkah”, “sakit”, “keengganan”, “kemalasan”, “berpikir”, atau “merencanakan”, dan lain-lainnya.


Saat mengendarai mobil, sekali lagi, catat secara umum (bukan secara spesifik semua kegiatan dan gerakan !) dan terutama pada kondisi batin/ emosi seperti tidak sabar, frustasi, marah, takut, cemas, mengantuk! dan sebagainya.


“Compu-Dhamma” ketika Anda sedang menunggu komputer terhubung dengan internet atau menemukan beberapa file yang telah lama hilang, jangan duduk di sana dan berkeluh kesah, catat, “menunggu”, “tidak sabar”, “bosan”, “tidak puas” atau apapun yang Anda rasakan. Pada saat itu, komputernya sudah siap dan dapat melanjutkan pekerjaan dengan damai.


Kirim metta via internet! Atau coba ini, “Semoga setiap orang yang sedang bekerja dengan komputer mereka sekarang sukses dan terbebas dari segala bentuk tekanan batin!”


Kadang-kadang kita merasa malu atau merasa bersalah karena kurang melatih meditasi. Maka hanya catat, “malu, malu” atau “bersalah, bersalah, bersalah”, pada saat ini Anda sedang bermeditasi! Dan tanpa rasa malu atau bersalah tetapi dengan keseimbangan, obyektifitas dan kedamaian.


Ketahuilah meditasi adalah mengenai kehidupan apa adanya. Kita tidak harus mengambil waktu khusus duduk bermeditasi di hadapan patung Buddha, lakukan di mana saja, lakukanlah sekarang!


Jika tubuh Anda sakit, jangan biarkan pikiran Anda menjadi sakit. Jika Anda terluka, perhatikan sakit, frustasi dan gelisah, refleksikan dan proyeksikan, mengetahui apa yang sedang berubah, berfluktuasi. Jika Anda mempunyai penyakit yang tidak kunjung sembuh, kemudian bertanya, “Kenapa saya?”, berkeluh kesah atau gelisah tidak akan membantu. Segala sesuatu mempunyai sebab, tanpa suatu sebab tidak akan ada akibat. Semua yang muncul akan lenyap. Ini adalah sifat alamiah dari hukum Karma. Sadari secara penuh dan obyektif atas perubahan Anda, pengalaman saat ini dan segala sesuatunya adalah baik sebagaimana apa adanya. Bahkan jika Anda tidak merasa baik, adalah baik untuk tidak merasa baik. Anda baik-baik sebagaimana apa adanya. Rileks dan hiduplah pada saat ini.


Jangan berharap perhatian 100 %;
haraplah hanya 5%,
Anda tak akan kecewa.


AKHIR VIPASSANA


Tujuan dari semua ini adalah untuk menggantikan khayalan dengan mengembangkan kebijaksanaan dan welas asih, untuk mengurangi dan menghapus penderitaan di dalam diri kita dan semua makhluk............ ISTIMEWA!!!!!!


BEBERAPA POINT UTAMA


Kewaspadaan terhadap pikiran
Perhatian pada aktivitas sehari-hari
Kesinambungan perhatian.


Y.M. Bhikkhu Chanmyay Sayadaw
Selalu mengingatkan kita pada “3P”


    Latihan


        Kesabaran


            Pantang menyerah


METTA – CINTA KASIH


Jika Anda sungguh-sungguh mencintai diri Anda, Anda tidak akan menyakiti orang lain. Jika Anda sungguh-sungguh mencintai diri Anda, Anda akan mudah mengasihi orang lain. Semoga saya / semua makhluk terbebas dari gangguan dari dalam dan dari luar. Semoga saya / semua makhluk berbahagia dan damai.


Semoga saya / semua makhluk sehat dan kuat. Semoga saya / semua makhluk dapat mempertahankan kebahagiaan saya sendiri / mereka sendiri.


Metta spesifik ditujukan pada diri sendiri dulu, kemudian ditujukan pada setiap individu menurut urutan, sesepuh yang dihormati, teman dekat (bukan kekasih), orang netral dan musuh, kemudian diakhiri dengan memancarkan metta pada semua makhluk.


Metta secara umum dapat dipancarkan dalam lingkaran terpusat. Pertama ulangi untuk diri Anda sendiri sampai kuat. Kemudian Anda katakan, “Semoga semua makhluk yang ada di ruangan ini bebas dari gangguan dari dalam maupun dari luar semoga mereka berbahagia”. Ulangi kalimat tsb sampai Anda merasakannya. Kedua, “Semoga semua makhluk yang ada di dalam bangunan ini”, dan seterusnya. Kemudian, “Semoga semua makhluk yang ada dalam lingkungan, dalam kota ini, dalam negara ini, benua, dunia, alam semesta dan tutup dengan, “Semoga semua makhluk dimanapun berada .......”.


Ketika sedang bepergian; Semoga semua makhluk di perjalanan ini bebas dari penderitaan, bebas dari gangguan dari dalam maupun dari luar.....


Ketika bekerja; Semoga semua rekan kerja saya, baik senior maupun junior, bebas dari kemarahan dan stress, semoga mereka semua sukses, makmur dan bahagia.


Ketika makan; Semoga semua makhluk yang telah menderita karena membawa makanan ini terbebas dari penderitaan mereka.


Ketika seseorang sakit; visualisasikan mereka kuat dan sehat dan pikirkan, “Semoga ia terbebas dari penderitaan, semoga ia menjadi sehat dan kuat dan sebagainya.”


INTERVIEW
(Membagi Dhamma)


Interview adalah waktu untuk bersama dengan “kalyana mitta” (teman Anda yang baik dan bijaksana) yaitu guru. Ini bukanlah interogasi atau ujian, ini adalah saat Anda membagi pengalaman dan perasaan Anda yang timbul dari perkembangan perhatian murni Anda. Jika Anda berlatih pada arah yang benar, Guru mungkin tak akan banyak bicara dan meminta Anda untuk melanjutkan dengan cara yang sama. Jangan mengharapkan pujian atau teguran, guru bukan bertugas untuk menilai pribadi Anda tetapi hanya mendengarkan dan membantu Anda bila memungkinkan. Seorang meditator harus jujur dan langsung apa adanya, terangkanlah mengenai pengalaman yang baik maupun yang buruk apa adanya. Mungkin Anda memerlukan nasehat, koreksi, dorongan atau disiplin, kemudian silahkan dengarkan dengan seksama dan menyimak nasehat teman baik Anda.


Jika Anda melaporkan sepenuhnya dengan cara berikut maka tidak diperlukan guru untuk bertanya mengenai latihan Anda.


DUDUK


    * Pada waktu duduk; katakan berapa lama biasanya Anda duduk (umumnya) atau berikan waktu spesifik.
    * Dapatkah Anda mengamati kembung kempisnya perut dengan jelas? Jika bisa, berikanlah beberapa detail mengenai pengamatan Anda. Jika tidak, apalagi yang Anda amati dan catat ?
    * Proses lain atau objek-objek yang teramati dan tercatat.
    * Kesulitan-kesulitan atau problem-problem tertentu.


BERJALAN


    * Waktu berjalan; katakanlah berapa lama Anda biasanya jalan (umumnya) atau berikan waktu yang spesifik.
    * Berapa bagian langkah yang Anda amati dan catat. Berikanlah detail pengamatan Anda.
    * Pengalaman yang baru atau tak umum.
    * Kesulitan-kesulitan atau problem apapun.


MAKAN


    * Proses mental dan fisik apa yang Anda amati dan catat? Berikanlah beberapa perincian.
    * Pengalaman-pengalaman baru atau tak umum. Apakah yang Anda temui mengenai diri Anda ?
    * Kesulitan-kesulitan atau problem-problem apapun.


AKTIVITAS SEHARI – HARI


Semua perbuatan dan pergerakan selain daripada saat duduk, berjalan dan saat makan.


    * Berikanlah contoh kemampuan Anda untuk melambatkan dan mencatat dengan penuh perhatian pada gerakan dan kegiatan sehari-hari di tempat-tempat tertentu seperti kamar mandi, kamar tidur, ruang meditasi, tangga, pada saat membuka dan menutup pintu, juga termasuk berpakaian, merapikan, mengatur tempat tidur, bernamaskara, dan sebagainya.
    * Periode perhatian yang berkesinambungan tak terputus tertentu.


PADA UMUMNYA


    * Laporkanlah kemampuan Anda untuk mencatat pemikiran jika teramati.
    * Laporkanlah kesulitan-kesulitan apapun, persoalan-persoalan atau pertanyaan apapun yang mungkin Anda miliki berkenaan dengan latihan.
    * Pertanyaan yang umum mengenai Dhamma atau agama Buddha dapat ditanyakan pada akhir meditasi Vipassana. Sementara itu, Anda harus mencatat berpikir, berpikir, “menganalisa, menganalisa”.


POINT – POINT


    * Cobalah untuk hindarkan untuk menghakimi diri sendiri dan menilai diri sendiri, bila muncul catatlah, “menghakimi, menghakimi”, “menganalisa, menganalisa”.
    * Jika Anda merencanakan untuk interview, Anda harus mencatat, “merencanakan, berpikir”, dan sebagainya. Jika Anda cemas menghadapi interview catatlah, “cemas, cemas”. Setelah itu, jika Anda merenungkan kembali apa yang telah dikatakan, kemudian catatlah, “merenungkan”, “berpikir”, “menganalisa”.
    * Datanglah lebih awal dan tunggulah dengan penuh perhatian pada tempat yang berdekatan dimana Anda dapat terlihat dan mudah dipanggil dan santai saja !


METTA - CINTA KASIH


Jika Anda sungguh-sungguh
mencintai diri sendiri,
Anda tak akan melukai yang lainnya.
Jika Anda sungguh-sungguh
mencintai diri Anda sendiri,
Anda akan dengan mudah mencintai
makhluk lain.


Semoga semua makhluk terbebas
penderitaan luar maupun dalam.
Semoga semua makhluk
berbahagia dan damai.
Semoga semua makhluk sehat dan kuat.
Semoga semua makhluk bisa merawat diri
saya maupun diri mereka sendiri,
dengan bahagia.


Metta spesifik adalah ditujukan kepada diri sendiri terlebih dahulu, kemudian kepada individual yang lain dalam urutan berikut; kepada sesepuh yang dihormati, seorang teman karib (bukan kekasih), pribadi netral dan musuh, kemudian selesaikan dengan mengirimkan metta kepada semua makhluk hidup.


Metta umum dapat dipancarkan dalam lingkaran yang terpusat. Pertama ulangilah metta kepada diri sendiri hingga kuat. Kemudian Anda berkata, "Semoga semua makhluk di ruangan ini bebas dari penderitaan luar maupun dalam.... Dengan rasa bahagia." Ulangi kata-kata ini hingga Anda merasakannya. Kedua, "Semoga semua makhluk di ruangan ini....", dan seterusnya. Kemudian, "Semoga semua makhluk di lingkungan ini......,.... di kota ini, di propinsi ini, di negara ini, di benua ini, dunia, alam semesta..." Dan selesaikanlah dengan; "Semoga semua makhluk di manapun....."


Jika dalam perjalanan: Semoga semua makhluk sepanjang perjalanan ini bebas dari penderitaan, bebas dari cedera luar maupun dalam... semoga mereka tiba di tujuan mereka dengan bahagia.


Jika sedang bekerja: Semoga semua rekan-rekan pekerja, senior maupun yunior, bebas dari kemarahan dan tekanan, semoga mereka sukses, sejahtera dan puas.


Jika sedang makan: Semoga semua makhluk yang telah menderita untuk makanan ini bebas dari penderitaan mereka. Semoga semua makhluk merasa puas.


Jika seseorang sedang sakit: Gambarkanlah dalam pikiran bahwa mereka sehat dan kuat dan berpikirlah: Semoga ia bebas dari penderitaan, semoga ia menjadi sehat dan kuat.... dan sebagainya

Senin, 03 Januari 2011

Ringkasan Upasampada Bhikkhu Menurut VINAYA PITAKA PALI


Vinaya Pitaka adalah bagian kitab suci Tipitaka yang membahas
mengenai aturan-aturan kebhikkhuan termasuk syarat-syarat serta
proses pentahbisan atau upasampada seorang bhikkhu. Sebagai umat awam
tidak ada salahnya kita juga mengetahui isi Vinaya Pitaka. Pada
kesempatan kali ini, kita akan mengulas mengenai seluk beluk
upasampada seorang bhikkhu menurut Vinaya Pitaka Pali.


1.Tiga jenis metode upasampada dalam sejarah Buddhadhamma


a.Ehi-bhikkhu upasampada


Pentahbisan oleh Buddha dengan ucapan, "Ehi bhikkhu, svakkhato dhammo
caro brahmacariyam samma dukkhasa antakiriyaya" - "Marilah bhikkhu,
Dhamma telah dibabarkan dengan baik, hiduplah sebagai brahmacariya
untuk mengakhiri dukkha ini selamanya." Setelah ucapan itu
diperdengarkan, orang yang berminat menjadi bhikkhu itu diterima dan
bergabung dengan Sangha. Pentahbisan ini dikenal sebagai Ehi-bhikkhu
upasampada yang berarti "Pentahbisan dengan Ucapan Marilah Bhikkhu!"


b.Tisaranagamanupasampada


Pentahbisan dilakukan di hadapan para siswa utama Buddha. Para calon
bhikkhu diharuskan mencukur terlebih dahulu rambut dan janggut mereka
serta mengenakan jubah kasaya (berwarna kuning) sebagai pertanda niat
mereka untuk bergabung dengan Sangha. Selanjutnya, mereka mengucapkan
dengan tulus rumusan Berlindung Pada Tiga Permata dengan sikap
hormat. Setelah melakukan tatacara ini, calon bhikkhu diterima dan
bergabung dengan Sangha sebagai bhikkhu seutuhnya. Oleh karena itu,
pentahbisan semacam ini disebut Tisaranagamanupasampada, yang berarti
Pentahbisan dengan Berlindung pada Tiga Permata.


c Natti-catutthakamma-upasampada


Pentahbisan dilakukan di hadapan anggota Sangha, dimana kumpulan
sejumlah bhikkhu yang jumlahnya ditentukan berdasarkan tugasnya
berkumpul dalam sebuah sima (yakni suatu tempat dengan batasan-
batasan tertentu). Mereka memaklumkan penerimaan calon bhikkhu ke
dalam anggota Sangha yang kemudian disetujui oleh para bhikkhu
lainnya.


Berdasarkan ketiga metode di atas, kita mengenal tiga jenis bhikkhu
berdasarkan metode pentahbisannya; yakni bhikkhu yang diupasampadakan
dengan metode pertama, kedua, dan ketiga.


2.Empat syarat yang harus dipenuhi agar seseorang dapat
diupasampadakan (sampatti)


(1) Orang yang berhasrat untuk menerima upasampada haruslah pria.


(2) Ia harus mencapai usia 20 tahun sebagaimana yang disyaratkan,
dimana usia ini dihitung semenjak mulainya pembuahan (dengan
menganggap bahwa janin berada dalam kandungan ibunya selama 6 bulan
menurut penanggalan lunar).


(3) Tubuh orang itu hendaknya mencerminkan seorang pria yang
sempurna. Seorang kasim dengan demikian tidak diizinkan menjadi
bhikkhu. Selain itu, organ-organ tubuh lainnya harus sempurna dan
lengkap. Inilah yang dimaksud dengan terbebas dari kecacatan.


(4) Ia hendaknya tidak pernah melakukan kejahatan-kejahatan sangat
berat, seperti membunuh ibu, membunuh ayah, dan lain sebagainya.


(5) Ia hendaknya tidak pernah melakukan pelanggaran-pelanggaran yang
dianggap berat oleh Buddhasasana, seperti melanggar aturan-aturan
parajika sebelum ditahbiskan sebagai bhikkhu. Atau, kendati ia
sebelumnya pernah menjadi bhikkhu, tetapi memiliki pandangan salah
dan menganut keyakinan lainnya.


3.Langkah-langkah menuju kesempurnaan upasampada


Agar upasampada seorang bhikkhu dapat dikatakan sempurna masih ada
beberapa hal lagi yang harus dipertimbangkan


a. Vatthu-sampati


Jika seseorang pernah melakukan pelanggaran serius atau terlahir
sebagai seorang wanita, maka orang itu tidak dapat menerima
upasampada dan pentahbisan mereka disebut sebagai vatthu-vipatti,
yang secara harafiah berarti "tidak sempurna atau rusak secara
materiil." Apabila sangha dengan sadar atau atau tidak sadar
mentahbiskan orang-orang yang tidak memenuhi kelima kriteria di atas
secara sempurna, maka penerima upasampada itu tidak akan menjadi
bhikkhu yang sesuai dengan aturan yang ditetapkan Sang Buddha. Begitu
sangha mengetahui adanya pelanggaran terhadap kriteria di atas, orang
yang telah "ditahbiskan" tersebut harus diusir dari sangha.
Sebaliknya, orang yang memenuhi kelima kriteria di atas disebut
vatthu-sampatti (sempurnanya seluruh kriteria) dan boleh diupasampada
oleh sangha. Meskipun demikian, seseorang telah memenuhi kriteria di
atas tetap harus diuji lebih lanjut secara seksama oleh sangha
sebelum upasampada diberikan, demi menghindari ditahbiskannya para
pencuri, penjahat, atau orang-orang yang bereputasi buruk di tengah-
tengah masyarakat. Selanjutnya, yang perlu pula dihindari adalah
orang-orang yang memiliki rajah-rajah (tatto) pada tubuhnya (sebagai
tanda hukuman di zaman dahulu) sesuai dengan kejahatan yang telah
mereka lakukan, atau memiliki luka-luka akibat cambukan pada
punggungnya, dan begitu pula dengan orang yang menderita cacat fisik
atau penyakit kronis sehingga tidak dapat mengemban tugas mereka
sebagai bhikkhu. Orang yang memiliki penyakit menular atau berada di
bawah perlindungan dan kekuasaan orang lain, seperti orang tua,
pemerintah, pejabat, majikan, dan pemberi hutang, juga tidak dapat
menerima upasampada. Namun, bila mereka diberi izin oleh pemberi
perlindungan atau orang yang berkuasa atas mereka, barulah upasampada
dapat diberikan. Sebagai contoh adalah seorang anak yang telah
mendapat restu orang tuanya, pejabat pemerintah yang berwenang
memberikan izin baginya, sang majikan membebas-tugaskannya, atau
orang itu telah melunasi segenap hutang-hutangnya. Orang-orang
semacam ini tidaklah tertutup sama sekali kemungkinannya untuk
ditahbiskan sebagai bhikkhu (berbeda dengan orang yang tidak memenuhi
kelima kriteria wajib di atas), dan bila sangha secara tidak sadar
telah mentahbiskan orang-orang semacam itu, maka upasampadanya tetap
sah dan mereka tidak perlu diusir dari sangha.


b.Parisa-sampatti


Bila sangha hendak memberikan upasampada-nya, para bhikkhu yang telah
ditetapkan jumlahnya haruslah hadir, inilah yang disebut parisa-
sampatti (sempurnanya jumlah bhikkhu yang diperlukan). Tetapi, bila
jumlah bhikkhu yang hadir kurang dari yang seharusnya, hal ini
disebut parisa-vipatti (ketidak-sempurnaan dalam hal jumlah), dan
konsekuensinya upasampada juga tidak dapat dilangsungkan.


c.Sima-sampatti


Upasampada adalah suatu kegiatan dimana seluruh bhikkhu harus
berperan serta di dalamnya. Apabila di dalam suatu daerah yang telah
ditentukan batas-batasnya (sima), terdapat bhikkhu-bhikkhu dengan
jumlah lebih banyak dibandingkan dengan yang telah ditetapkan, tetapi
mereka tidak seluruhnya mengikuti acara upasampada itu dan tidak pula
peduli dengannya, maka meskipun jumlah bhikkhu telah memadai,
upasampada tetap tidak dapat diberikan. Inilah yang disebut denga
sima-vipatti (ketidak sempurnaan dalam hal sima). Karenanya, anggota
sangha dengan jumlah yang sesuai dengan ketentuan haruslah berkumpul
dalam suatu tempat yang telah ditetapkan batas-batasnya pula. Dengan
demikian barulah upasampada akan menjadi sah, dimana hal ini disebut
sebagai sima-sampatti (sempurnanya sima).


d. Kammavaca-sampatti


Sebelum upasampada dapat dilangsungkan, masih ada lagi langkah
pendahuluan yang perlu diambil. Orang yang berniat menjadi bhikkhu
harus diuji terlebih dahulu kualitas pribadinya (dimana dalam
pengujian ini sangha harus disertai oleh satu atau acariya, yakni
guru yang membacakan pertanyaannya). Pertanyaan yang ditanyakan oleh
guru itu meliputi satu kelompok pelanggaran-pelanggaran saja. Mungkin
juga pertanyaan-pertanyaan [mengenai pelanggaran] paling serius telah
dipilih (untuk ditanyakan di hadapan sangha). Barangkali pada masa
awal perkembangannya, hanya pelanggaran-pelanggaran sangat berat
semacam ini sajalah yang ditanyakan pada calon bhikkhu, sedangkan
pelanggaran lain yang lebih ringan ditambahkan kemudian. Seorang
calon penerima upasampada memerlukan seorang bhikkhu untuk
merekomendasikan dan membawa dirinya ke hadapan sangha, dimana
bhikkhu ini disebut upajjhaya. Seorang upajjhaya hendaknya seorang
bhikkhu senior yang mumpuni, sehingga dapat mengajar bhikkhu baru
tersebut setelah ia diupasampadakan. Selain itu, ia juga harus
menanyakan apakah kebutuhan-kebutuhan wajib atau parikkhara sang
calon, seperti jubah dan mangkuk, telah tersedia. Jika belum, ia
harus mengusahakannya. Sangha harus memerintahkan seorang bhikkhu
untuk menanyakan pada calon bhikkhu mengenai barang-barang keperluan
ini. Upasampada hanya boleh diberikan bila orang itu memang bersedia
menerimanya dan tidak dapat dipaksakan. Sudah menjadi tradisi bahwa
seorang calon bhikkhu mengutarakan permohonannya agar diterima
sebagai anggota sangha. Semua ini adalah langkah-langkah pendahuluan
sebelum upasampada dapat dilangsungkan. Jika syarat-syarat pendahuan
ini ada yang kurang sempurna, tetapi calon tidak pernah melakukan
pelanggaran-pelanggaran serius, upasampada-nya tetap dianggap sah,
hanya saja tidak sesuai dengan tradisi.
Ketika segala sesuatunya telah sempurna (sampatti), tibalah saatnya
untuk mengumumkan penerimaan calon bhikkhu ke dalam komunitas sangha.
Seorang bhikkhu yang memiliki pengetahuan memadai ditugaskan untuk
membacakan pernyataan itu di hadapan sangha. Pernyataan itu sendiri
dibagi menjadi empat tahap. Pertama-tama disampaikan pemberitahuan
(natti) bagi sangha serta permohonan agar calon diterima. Ketiga
pernyataan berikutnya disebut dengan anusavana, yang berisikan hasil
perundingan antar anggota sangha, dimana masing-masing anggota berhak
untuk berbicara. Apabila ada salah seorang bhikkhu yang menentang
permohonan itu, penerimaan akan dibatalkan; tetapi bila seluruh
anggota sangha berdiam diri, hal itu dapat diartikan bahwa mereka
semua telah sepakat menerima sang calon ke dalam komunitas sangha.
Jika seluruh anggota telah sepakat, pernyataan penerimaan oleh sangha
diumumkan dan seorang guru (atau dua orang guru bila kedua acariya
yang membacakannya) mengatakan bahwa ia akan mengingat hal ini. Pada
kesempatan tersebut, nama calon bhikkhu serta upajjhaya yang
merekomendasikannya kepada sangha, dan juga sangha itu sendiri tidak
boleh lupa disebutkan. Ini merupakan suatu keharusan dan bukan
sebaliknya. Bila segenap hal ini telah dilakukan dengan benar dan
sempurna, barulah dapat disebut sebagai Kammavaca-sampatti
(sempurnanya segenap pernyataan). Sangha yang hendak memberikan
upasampada haruslah melaksanakannya berdasarkan kelima sampatti ini,
sehingga tatacara pentahbisan tersebut selaras dengan apa yang telah
ditetapkan oleh Sang Buddha.


Rangkuman Empat Kondisi yang Harus Dipenuhi


1.Vatthu-sampatti - berkenaan dengan kualitas pribadi calon bhikkhu
2.Parisa-sampatti - berkenaan dengan jumlah para bhikkhunya
3.Sima-sampatti - berkenaan dengan tempat pentahbisan yang telah
ditetapkan batasannya (sima)
4.Kammavaca-sampatti - berkenaan dengan pernyataan penerimaan


Sementara itu butir terakhir dapat dibagi menjadi dua, sehingga
secara keseluruhan terdapat lima sampatti:


4.Natti-sampatti - berkenaan dengan permohonan
5.Anusavana-sampatti - berkenaan dengan penerimaan calon bhikkhu
tersebut

vinaya bhikkhu perihal makanan


Makanan yang aku makan pada hari ini,
bukanlah untuk kemewahan,dipamerkan,mendapatkan pujian,
namun hanya kesederhanaan makan agar tubuh ini dapat terus hidup mempelajari Dhamma
untuk menghindari gangguan tubuh(cth:lemes) dan membantu pencapaian hidup spiritual.
dan saya akan dapat menghilangkan rasa lapar dan tidak menciptakan keinginan untuk terus makan.
dan saya akan dapat bekerja dalam Dhamma tanpa cela dan belajar/hidup dengan tenang.


Seorang Bhikkhu bersahaja dalam makanan yang dipersembahkan kepada dirinya. pada masa Sang Buddha, seorang bhikkhu menggunakan mangkok pindapata untuk mendapat makanan,pada zaman sekarang kita masih melihat ada beberapa bhikkhu yang menggunakan mangkok dan ada yang telah makan dengan menggunakan peralatan makan sekarang seperti piring.


Vinaya menggariskan bahwa seorang Bhikkhu hanya boleh menggunakan satu mangkok makanan dan makanan yang disediakan oleh umat awam apapun juga,seorang bhikkhu tidak diizinkan memilih-milih makanan. Hal ini sangat bergantung pada latihan kesadaran agar tidak melekat pada rasa lidah dan rasa lapar. Makanan yang disediakan akan dimakan dengan cukup dan bisa melanjutkan tubuh ini mempelajari Dhamma


Mari belajar kasus.
1. Bhikkhu perkotaan biasa tinggal di vihara,makan dengan piring, apakah diperbolehkan?
Mangkok pindapata dalah sebuah simbol seorang bhikkhu Buddhis, ia boleh makan apa saja selama didanakan oleh umat dalam hal ini umat dengan tangan sendiri memberikan nasi,lauk,dan minuman kepada bhikkhu maka bhikkhu baru boleh makan.
di piring atau di mangkok,peraturan vinaya mencatat adalah sama saja.hal ini kita akan bedakan bhikkhu yang tinggal di hutan yang melakukan pindapata dengan bhikkhu yang stay di vihara dimana umat menyediakan.


Satu hal paling utama di catat adalah bahwa makanan harus didanakan oleh umat langsung kepada bhikkhu.contoh ,ada umat berdana makanan namun ia tidak mengundang bhikkhu untuk makan melainkan hanya meletakkan di meja saja,seorang bhikkhu tidak akan makan karena ia akan amsuk dalam adinadana veramani. kecuali umat dengan tangan langsung memberikan makanan dan bhikkhu dengan tangan langsung menerima.


2. Bagaimana kalo mangkok sengaja diisi pasir,apakah bhikkhu akan memakannnya juga?
pada zaman Sang Buddha ketika Buddha berpindapata,ada anak kecil yang kurang tahu memasukkan pasir dan kotoran kedalam mangkok Buddha, Sang Buddha dengan cinta kasihnya mengatakan bahwa anak kecil itu telah berdana dan mengatakan buah karma anak kecil suatu hari akan menjadi sebuah bangunan yang besar dan benar anak itu terlahir sebagai seorang raja dengan kerajaan yang luas.
kembali ke pertanyaan, seorang bhikkhu yang menemukan kejadian seperti itu,akan berkata anumodana kepada pendana,kemudia ketika sudah jauh dari pendana,ia bisa membuang dana seperti itu,karena memang tidak cocok sebagai makanan.
Kenapa tidak langsung didepan pendana?karena seorang bhikkhu harus melatih diri agar dana apapun oleh pendana selalu menjadi berkah bagi pendananya dan agar pendana juga bisa belajar cinta kasih dan kebijaksanaan.


3. Lalu bagaimana kalo umat berdana semangkok penuh dan tidak bisa dihabiskan oleh bhikkhu?
seorang bhikku yang tidak bisa menghabiskan makanan yang telah diderma maka sewajarnya ia akan mendermakan kembali makanan yang tidak habis mungkin kepada avuso(rekan bhikkhu),kepada umat yang lapar atau jika ia berada di hutan,ia bisa memberikan makanan kepada makhluk2 di sekitar.
Catatan : bhikkhu tidak dizinkan menyimpan makanan lebih dari setengah hari, dan seorang bhikkhu hanya akan makan pada saat munculnya sinar matahari(pagi) dan pertengahan matahari(siang,biasanya jam 11.00), setelah lewat dari itu makanan tidak akan disimpan.


4. Lalu untuk umat apa saja yang mesti dimengerti?
-. Danakan makanan yang selayaknya bisa dimakan oleh bhikkhu dengan tidak berlebihan atau kekurangan(ingat jalan tengah)
-. di beberapa vihara,umat boleh ikut makan bersama setelah bhikkhu selesai makan,dan sisa sayur bisa dikonsumsi oleh umat agar tidak mubajir.
-. untuk bhikkhu dhutanga, sediakan makanan yang tidak menimbulkan sakit contoh terlalu pedas,terlalu asam,sediakan makanan yang mendukung gizi seorang manusia.


5. Saya melihat ada bhikku yang minum jus setelah tengah hari memang diperbolehkan?
Sang Buddha mengajarkan bahwa setelah tengah hari maka yang disediakan adalah penunjang yang bukan dibuat untuk mengeyangkan namun sebagai obat. contoh coklat murni disediakan agar tidak timbul maag begitu juga dengan madu. yang tidak diizinkan contiohnya madu,mentega,nasi, atau istilah kasarnya makan berat.


Demikian Vinaya ini menjadi lathian seorang bhikkhu agar ia tidak menganggap makanan sebagai kemelakatan dalam dirinya.

vinaya bhikkhu perihal pakaian


Perihal Pakaian


Mengapa bhikkhu dianjurkan untuk memakai jubah berwarna kuning seperti yang telah kita kenal sekarang ini?
Sang Buddha bersabda:


Mayà apaccavekkhitvà ajja yam civaram paribhuttam,
tam yàvad-eva sãtassa patighàtàya, ubhassa patighàtàya
damsamakasavàtàtapasirimsapasamphassànam pañighàtàya,
yàvad-eva hirikopãnapañicchàdanattham.


Jubah yang saya pakai hari ini seharusnya saya merenungkan
ini hanya untuk melindungi saya dari panas dan dingin
ini hanya untuk melindungi saya dari gigitan nyamuk,serangga,angin,matahari dan objek yang berbahaya kepada tubuh saya
dan sebagai penutup dari bagian yang dianggap tidak layak dipertontonkan.


Pada zaman Sang Buddha,jubah terbuat hanya sederhana saja dengan pola yang sederhana untuk mendukung cara hidup sederhana seorang bhikkhu.


Warna kuning pada jubah merupakan perlambangan dari Arahanta Magga (The Banner Of Arahant) dan sebagai corak khas Buddhism. Ada tata cara dalam menentukan panjang jubah,pola,jenis bahan dan bagaimana cara seorang diperbolehkan memakai jubah.


Jubah berwarna putih digunakan oleh umat Buddha sebagai lambang komitmen mereka memegang teguh Atthasila, juga dipakai oleh Anagarika(calon samanera),penggunaan jubah ini harus mengikuti tata cara Buddhism,jadi umat awam mohon tidak sembarangan memakai jubah Naga tanpa mengetahui dengan jelas apa yang dia pakai.


Beberapa pertanyaan perihal jubah :


1. Apakah seorang bhikkhu boleh memakai jeans seperti misalkan kondisi perang dimana ia harus cepat-cepat mengganti celana?


Kembali lagi ke Vinaya,seorang bhikkhu sepantasnya memakai jubah yang telah diajarkan oleh Guru Buddha,memakai jeans memang perkembangan jaman namun apakah layak dipakai seorang yang telah bertekad meninggalkan keduniawian.
Jubah juga akan selalu mengingatkan pemakainya kepada peraturan Sang Buddha,menghindarkan dirinya dari perbuatan yang bertentangan dengan Buddha Dhamma dan jubah ini memang diperlukan terutama mereka yang menginjak Arahatta Magga.


2. Kenapa ada beberapa bhikkhu memakai warna merah,orange,coklat?


Kembali lagi kepada struktur daerah setempat apakah warna itu dimungkinkan diperoleh. org Tibet memakai merah danmerah menjadi perlambangan cinta kasih.hal ini disesuaikan menurut struktur geografis tiap daerah namun diinget, tata cara pembuatan jubah tetap mengikuti aturan yang sudah ada.


3. Adakah batasan jumlah jubah yg dimiliki seorang Bhikkhu? (mis: min 3 jubah)


Batasan jubah bhikku dalam setahun adalah satu jubah utama dan satu jubah serapan (dalam artian kalo dicuci maka masih ada satu lagi). Bhikkhu dalam Vinaya tidak diizinkan menumpuk jubah lebih dari itu karena ini akan mengganggu latihannya dan menambah kemelekatan akan baju, bhikkhu yang memakai jubah terlalu mewah juga dianggap tidak layak, contoh dari kain sutra yang berkilau-kilau………………….

Selasa, 28 Desember 2010

04 Sepuluh Tanya Jawab dengan Bhikkhu Uttamo


06 Desember 2010 s.d. 15 Desember 2010
01. Silvie
Monday, 6 December 2010
Hal yang dilakukan sewaktu meditasi
Namo Buddhaya,
Bhante, saya ingin bertanya. Ketika bermeditasi apa yg harus saya renungkan atau apa yang harus saya pikirkan? Kemudian apa yang dimaksud dengan dassana?
Mohon petunjuk dan pejelasannya Bhante.. Terima kasih.
Jawaban :
Meditasi dalam pengertian Buddhis adalah latihan mengembangkan keterampilan memusatkan pikiran pada satu hal. Meditasi dilatih secara rutin. Biasanya meditasi dilatih setiap pagi bangun tidur dan malam menjelang tidur. Lama waktu yang diperlukan setiap kali berlatih meditasi paling sedikit 15 menit sampai dengan 60 menit. Selama berlatih meditasi, seseorang hendaknya memposisikan duduk bersila dengan nyaman terlebih dahulu, kemudian pikiran diarahkan untuk berlatih fokus pada satu hal yang disebut obyek meditasi. Obyek meditasi yang dipergunakan biasanya adalah mengamati udara masuk dan keluar melalui lubang hidung saat seseorang bernafas secara normal. Dengan demikian, pelaku meditasi bukan merenungkan atau memikirkan hal lainnya. Selama meditasi seseorang hanya memusatkan pikiran pada kesadaran bahwa ‘saat ini saya sedang bernafas’.
Apabila kesadaran pada saat ini telah dilatih secara rutin setiap hari, maka tahap selanjutnya adalah mempergunakan kesadaran pada satu obyek tersebut untuk menyadari segala tindakan yang dilakukan dengan badan, ucapan serta pikiran. Usahakan untuk selalu sadar, ‘saat ini saya sedang apa?’ Dengan kesadaran setiap saat, maka lama kelamaan timbullah pengertian bahwa hidup hanyalah proses yang selalu berubah. Pengertian ini akan mengurangi kemelekatan sehingga kebencian maupun ketamakan juga berkurang.
Pemahaman akan hakekat kehidupan yang selalu berubah sehingga mampu melenyapkan kemelekatan inilah yang sering disebut sebagai dassana.
Semoga jawaban ini dapat meningkatkan upaya mengembangkan kesadaran setiap saat dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga semua mahluk selalu hidup berbahagia dalam kesadaran setiap saat.
Salam metta,
B. Uttamo
————————————————————————————————————
02. Eko Wahyudi
Monday, 6 December 2010<
Abu jenazah
Namo Buddhaya,
Papa saya baru saja meninggal. Kami sepakat jenazah akan dikremasi. 48th yll saat mama meninggal, jenazahnya dikebumikan. Kini kami punya rencana mengambil kembali jenazah (tulang-tulang) mama untuk diperabukan kemudian kami satukan dgn abu papa (2 pak). Rencana abu tsb akan saya titipkan di rumah abu.
Pertanyaan saya, apakah ada syarat / aturan tertentu untuk mengambil jenazah mama yang sudah menjadi tulang tsb ? Mengingat kami dua bersaudara (kakak adik) saat ini belum ada yang pernah mantu.
Xie Xie Bhante atas jawabannya.
Jawaban :
Dalam Kitab Suci Agama Buddha, Tipitaka, tidak terdapat aturan maupun persyaratan menggali dan memindahkan jenasah. Umat Buddha apabila hendak mengadakan upacara pemindahan sisa jasmani seseorang dapat menggunakan tradisi yang berlaku di tempat tersebut. Oleh karena itu, silahkan mencari sanak saudara atau kerabat yang dianggap mengerti tradisi agar tidak bertentangan dengan kebiasaan setempat. Setiap daerah dan kelompok masyakat biasanya memiliki cara tersendiri untuk menyelenggarakan upacara pemindahan serta penyempurnaan sisa jenasah seperti yang ditanyakan.
Secara umum, umat Buddha boleh saja mengurus penggalian dan penyempurnaan sisa jenasah orangtua walaupun dalam keluarga anak masih belum ada yang memiliki menantu. Tidak ada persyaratan khusus untuk hal ini.
Prosesi upacara biasanya dimulai dengan membacakan paritta saat berkunjung ke makam dengan susunan seperti yang ada di buku Paritta Suci. Kemudian, dengan atau tanpa dupa, mengucapkan niat untuk membongkar makam dan mengangkat sisa jenasah untuk di kremasi. Setelah sisa jenasah dikumpulkan dalam peti yang telah disediakan, maka sebelum kremasi dilakukan, keluarga hendaknya membacakan paritta dari buku Paritta Suci yang telah disusun untuk keperluan tersebut. Demikian pula waktu meletakkan kedua kantong abu jenasah di ruang persemayaman abu yang telah disediakan.
Semoga saran ini bermanfaat untuk dijadikan pertimbangan.
Semoga kedua mendiang berbahagia di alam kelahiran yang sekarang sesuai dengan kebajikan yang telah beliau lakukan semasa hidupnya.
Semoga semua mahluk selalu hidup berbahagia.
Salam metta,
B. Uttamo
————————————————————————————————————
03. Silvie
Monday, 6 December 2010
Papakamma
Namo Buddhaya,
Saya ingin bertanya apa saja perbuatan-perbuatan jahat (papakamma) yang didasari oleh empat dorongan. Dorongan apa saja itu?
Mohon penjelasan serta bimbingannya Bhante.. Terima kasih
Jawaban :
Papakamma adalah istilah bahasa Pali yang bila diterjemahkan menjadi ‘perbuatan jahat’. Istilah ini menunjuk pada segala perbuatan jahat yang dilakukan dengan badan, ucapan dan juga pikiran.
Empat dorongan yang dimaksudkan telah dijelaskan dalam Sigalovada Sutta bait ke 5 yaitu :
1. Perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan atas dorongan rasa senang sepihak (chanda gati),
2. Perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan atas dorongan kebencian (dosa gati).
3. Perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan atas dorongan ketidaktahuan (moha gati) dan
4. Perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan atas dorongan rasa takut (bhaya gati).
Untuk lebih lengkap, silahkan membaca Sigalovada Sutta yang terdapat pada :
http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/sigalovada-sutta/
Semoga informasi ini bermanfaat,
Semoga selalu bahagia.
Salam metta,
B. Uttamo
————————————————————————————————————
04. Liauw Yi Fong
Tuesday, 7 December 2010<
Ciong Shio
Namo Buddhaya,
Ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan :
1.Apakah dalam Agama Buddha mengenal ciong shio?
2.Berdasarkan ramalan yang mengerti hitungan tanggal lahir Chinese, apabila mendapatkan pasangan beda 6 tahun tidak bagus, jelek dalam menjalani kehidupan rumah tangga, kehidupan ekonomi keluarga tidak lancar. Apakah ini benar ?
3.Adanya ramalan ini membuat saya menjadi bimbang dalam menjalani hubungan ini dgn pacar saya,apakah lanjut atau diputusin saja.
Mohon bimbingan dan penjelasan Bhante. Terima kasih.
Jawaban :
Salah satu tujuan penggunaan istilah ‘shio’ yang berasal dari masyarakat Tionghoa adalah untuk menandai tahun kelahiran seseorang.  Maksud istilah ‘ciong shio’ menunjuk pada ketidaksesuaian watak seseorang dengan shio tertentu terhadap shio yang lain. Karena Agama Buddha berasal dari India, maka tidak mengenal istilah maupun pengertian ciong shio.
Meskipun demikian, umat Buddha boleh saja mempercayai maupun menggunakan perhitungan shio sejauh ia memahami bahwa hal itu bukan merupakan Ajaran Sang Buddha.
Dalam pengertian Buddhis, kebahagiaan dalam rumah tangga bukan ditentukan oleh perbedaan umur tertentu, melainkan karena kemampuan seseorang berkomunikasi serta memahami pasangan hidupnya. Oleh karena itu, ketika seseorang memiliki kerelaan menerima pasangan hidup sebagaimana adanya, dengan segala kekurangan maupun kelebihannya, maka ia telah memiliki modal utama kebahagiaan untuk hidup berpasangan.
Dengan demikian, apabila dirasa mampu berkomunikasi serta menerima pacar sebagaimana adanya, dan juga hubungan telah disetujui oleh orangtua, maka status pacaran kiranya boleh dipikirkan untuk ditingkatkan menjadi pasangan hidup.
Semoga jawaban ini bermanfaat untuk menentukan sikap terhadap perbedaan usia dengan pasangan.
Semoga berbahagia dalam kehidupan berpasangan.
Semoga semua mahluk selalu hidup berbahagia.
Salam metta,
B. Uttamo
————————————————————————————————————
05. Suryananda
Wednesday, 8 December 2010
Rasa bersalah
YM Bhante,
Saya memiliki kebiasaan mencuci tangan berlebihan terutama pada saat saya akan melakukan puja bakti. Dalam pikiran, saya menganggap badan saya kotor jika tidak cuci tangan. Sering kali saya menderita karena perbuatan ini dan sering merasa bersalah jika tidak melakukan.
Kemudian saya juga ingin bertanya jika saya menemukan gambar Buddha atau para Bodhisatva atau buku buku Buddhis yg tergeletak di tempat umum apa yg harus saya lakukan mengingat saya sering ingin membersihkan buku atau gambar tersebut. Bila membiarkan buku atau gambar tersebut, saya sering merasa bersalah. Mohon saran Bhante.
Jawaban :
Dalam pengertian Buddhis, kesalahan timbul apabila suatu perbuatan dilakukan dengan niat buruk. Oleh karena itu, jika badan secara umum sudah dapat dianggap bersih, serta tidak memiliki niat buruk untuk menodai kegiatan puja bakti yang hendak dilakukan, maka sebenarnya sudah tidak perlu lagi mencuci tangan secara berlebihan. Apalagi, kalau sudah mengerti bahwa tindakan tersebut berlebihan serta menimbulkan penderitaan.
Untuk mengatasi timbulnya rasa bersalah, kembangkanlah kesadaran untuk meneliti niat yang muncul saat tidak mencuci tangan karena memang sudah bersih. Bila tidak ada niat buruk, maka lanjutkan kegiatan puja bakti tanpa harus mencuci tangan lagi. Saat muncul kembali pikiran yang mendorong untuk cuci tangan, sadari timbulnya pikiran tersebut dan amati lagi niat yang muncul. Dengan berlatih kesadaran seperti ini terus menerus, maka keinginan mencuci tangan secara berlebihan perlahan-lahan akan dapat dikurangi bahkan diatasi.
Sedangkan, ketika melihat gambar Buddha maupun Bodhisatta serta buku Buddhis yang ada di tempat umum apabila keadaan memungkinkan, boleh saja membersihkan serta meletakkannya di tempat yang lebih layak. Sikap mental ini mungkin timbul karena menyadari bahwa gambar-gambar itu mewakili kualitas batin mereka yang layak dihormati. Ada kesadaran pula bahwa buku Buddhis tentunya berisi Dhamma yang dapat memberikan peningkatan kualitas batin mereka yang memanfaatkannya. Jadi, niat baik ini boleh saja dilakukan secara bijaksana ketika kondisi saat itu memungkinkan untuk melaksanakan niat luhur yang sudah timbul.
Semoga saran ini bermanfaat untuk mengendalikan dorongan mencuci tangan yang berlebihan serta bersikap bijaksana ketika melihat gambar Buddha serta Bodhisatta yang tidak pada tempatnya.
Semoga semua mahluk selalu hidup berbahagia.
Salam metta,
B. Uttamo
————————————————————————————————————
06. Vivi
Thursday, 9 December 2010
Almarhum menjaga
Namo Buddhaya,
Bhante, suatu hari mama saya membawa saya ke orang pintar untuk meramal jodoh saya. Setelah di cek, kata orang pintar itu almarhum papa saya sering menjaga saya sehingga susah mendapatkan jodoh. Almarhum masih mengkhawatirkan saya. Jadi orang pintar itu minta saya untuk sembahyang papa saya dan minta dibuka jalan agar mengijinkan saya dapat bertemu jodoh. Saya pun sudah pernah 3 kali mandi bunga atas anjuran orang pintar itu. Memang saya merasakan setelah saya mandi bunga rasanya tubuh lebih fresh. Kata mama saya, raut muka tampaknnya lebih baik dari sebelumnya. Tapi saya kurang tau juga apakah hal itu karena pengaruh setelah saya membaca buku tentang berpikiran positif yang benar-benar mengubah pikiranku tentang banyak hal.sehingga saya merasa lebih semangat.
Saya mau tanya Bhante, apakah benar papa saya tetap bisa mengikuti saya dan menjaga saya sehingga susah untuk mendapatkan jodoh? Apa yang harus lakukan untuk almarhum papa saya?
Jawaban :
Dalam pengertian Buddhis, seseorang yang telah meninggal akan segera terlahir kembali di salah satu alam kehidupan sesuai dengan kamma yang ia miliki. Mungkin saja, seseorang setelah meninggal akan terlahir kembali di sekitar keluarganya. Biasanya, untuk memperbaiki kondisi seperti ini, keluarga melakukan pelimpahan jasa kepada almarhum. Pelimpahan jasa adalah melakukan kebajikan atas nama mendiang. Dengan pelimpahan jasa, apabila mendiang berada di alam kelahiran yang mampu menerima persembahan, ia akan merasa bahagia. Bahagia atas kebajikan orang lain adalah kamma baik melalui pikiran. Dengan demikian, semakin sering keluarga melakukan pelimpahan jasa, semakin banyak pula kebajikan melalui pikiran yang mendiang lakukan. Apabila kamma baik mendiang telah mencukupi, ia pun akan terlahir kembali di alam yang lebih baik dan bahagia.
Adanya pengertian bahwa almarhum menjaga anaknya sehingga mempersulit anak mendapatkan pasangan hidup sepertinya agak kurang sesuai dengan kenyataan. Biasanya, karena sangat cinta kepada anak, orangtua justru mengharapkan anaknya segera mendapatkan pasangan hidup. Tentunya pikiran positif seperti ini masih dimiliki oleh orangtua ketika ia telah meninggal dunia.
Oleh karena itu,ramalan tidak bisa dipercaya seratus persen. Kebenaran ramalan hanyalah 50 %. Apabila saran yang diberikan peramal tidak memberatkan maupun merugikan, silahkan dilaksanakan secara bijaksana. Semoga segala yang dilakukan dapat bermanfaat sesuai harapan.
Adapun upaya mendapatkan pasangan hidup hendaknya dimulai dengan memperluas pergaulan, serta berusaha meningkatkan kualitas diri agar lebih banyak orang yang senang bergaul dan berdekatan. Apabila telah memiliki banyak teman di sekitar, tentunya akan lebih mudah mendapatkan pasangan hidup dari salah satu di antara mereka.
Jangan lupa terus menerus memperbanyak kebajikan dengan badan, ucapan serta pikiran. Banyaknya kebajikan akan mengkondisikan lebih banyak kesempatan memperoleh pasangan hidup yang sesuai dengan harapan.
Semoga jawaban ini bermanfaat menumbuhkan pikiran positif kepada mendiang serta meningkatkan semangat memperbaiki kualitas diri  dan memperbanyak kebajikan sehingga memberikan kebahagiaan dalam bentuk memperoleh pasangan hidup.
Semoga semua mahluk selalu hidup berbahagia.
Salam metta,
B. Uttamo
————————————————————————————————————
07. Rayno
Friday, 10 December 2010
Semua hanyalah ilusi
Bhante, saya bersemangat untuk berbuat baik bagi makhluk lain. Namun kadang saya berpikir bahwa perbuatan baik saya itu sesungguhnya ‘percuma’ karena makhluk apapun yang saya bantu dan diri saya pun sesungguhnya tidak eksis secara hakiki, hanya paduan unsur saja. Susah senang membantu makhluk lain pun hanya ciptaan pikiran saya sendiri. Menentukan buah karma yang saya terima pun, baik atau buruk, hanyalah penilaian dari pikiran saya sendiri. (baik dan buruk relatif).
Lalu yang saya belum paham juga, mengapa Pertapa Sumedha ingin menjadi Sammasambuddha? Padahal alasan Beliau adalah ingin membahagiakan makhluk lain namun sesungguhnya makhluk lain dan Bodhisatta itu sendiripun hanyalah ilusi (perpaduan unsur-unsur belaka). Jadi menganggap makhluk lain menderita dan perlu ditolong itu semua menurut saya juga hanyalah khayalan belaka.
Saya punya cita-cita ingin memupuk parami seperti Petapa Sumedha namun saya juga heran sendiri karena makhluk lain yang mau saya bantu pun hanyalah ilusi, jadi apa manfaat nya saya membantu sesuatu yang tidak nyata? Saya juga punya pendapat, membantu korban bencana alam hanyalah sia-sia belaka sama seperti saya lapar lalu makan, toh nanti akan lapar lagi, kecuali korban bencana itu setelah ditolong diberikan pengertian bahwa selamat dari bencana kali ini bukanlah jaminan akan selamat dari bencana, atau penyakit diwaktu akan datang. Jadi kebahagiaan orang yang berhasil sembuh dari penyakit berat yang saya lihat di tv, menurut saya, hanyalah hal yang benar-benar fana, toh mereka keesokkan harinya bisa sakit lagi atau mati karena penyebab lain. (dan tetap saja, mereka mati atau tidak, hanyalah perpaduan unsur-unsur).
Jadi apakah benar Bhante semua ini hanya ilusi? Bhante apa boleh punya pikiran seperti itu?
Terima kasih Bhante. Saya senang sekali belajar Buddha Dhamma.
Jawaban :
Adalah benar kalau dalam pengertian tertinggi Ajaran Sang Buddha, segala sesuatu hanyalah paduan unsur. Semua paduan unsur selalu berubah. Karena berubah, semua menjadi tidak berguna untuk dilekati. Orang yang telah menyadari hakekat ini memiliki batin yang seimbang. Ia tidak lagi tergoyahkan oleh pujian – celaan, suka – duka, memperoleh kedudukan – dipecat, untung – rugi serta berbagai dualisme lainnya. Orang yang memiliki kualitas batin seimbang seperti ini disebut sebagai orang yang mencapai kesucian ataupun Nibbana. Kesucian atau Nibbana dapat dicapai ketika seseorang masih hidup.
Banyak orang memang mengerti bahwa segala sesuatu hanyalah paduan unsur yang selalu berubah, namun pengertian ini hanyalah sebatas teori saja. Pada kenyataannya, orang tersebut masih memiliki batin yang rapuh, mudah mengeluh, mudah terbawa perasaan, mudah dipermainkan oleh pikiran sendiri dsb. Justru karena itulah Sammasambuddha perlu terlahir di dunia untuk mengajarkan serta mengingatkan terus menerus kepada umat manusia akan hakekat kehidupan yang hanya ilusi ini. Hal itu pula kiranya yang menjadi salah satu sebab pertapa Sumedha ingin menjadi Sammasambuddha. Bila Beliau menjadi Sammasambuddha, Beliau mampu mengajarkan Dhamma sehingga mereka yang mendengarnya mencapai kesucian dan merasakan kebahagiaan sejati yaitu Nibbana. Harapan itu menjadi kenyataan. Pertapa Sumedha akhirnya terlahir di India sebagai Pangeran Siddhattha yang setelah mencapai kesucian sebagai Buddha Gotama, Beliau membabarkan Dhamma sehingga banyak orang mencapai kebahagiaan sejati yaitu Nibbana.
Seseorang yang belum mencapai kesucian dan baru memiliki teori tentang kehidupan yang hanya ilusi tentunya perlu memperoleh banyak kesempatan memahami kebenaran hakiki ini. Untuk mendapatkan banyak kesempatan melaksanakan Dhamma, tentunya ia perlu melaksanakan banyak kebajikan dengan badan, ucapan maupun pikiran. Membantu mereka yang menderita, sakit, terkena bencana serta banyak hal lainnya adalah termasuk menambah kamma baik. Semakin banyak kamma baik yang dilakukan, kiranya semakin besar pula kemungkinan untuk mendapatkan kesempatan memahami hakekat kehidupan yang tidak kekal. Jika suatu saat orang tersebut mempergunakan kesempatan yang telah ada dengan melaksanakan meditasi kesadaran setiap saat, mungkin saja jalan mencapai kesucian ia dapatkan. Ia berhasil mengubah teori yang selama ini dimiliki menjadi kenyataan. Batinnya seimbang, terbebas dari ketamakan, kebencian maupun kegelapan batin. Ia telah terbebas dari lingkaran kelahiran kembali. Ia mencapai kebahagiaan sejati.
Semoga jawaban ini bermanfaat untuk meningkatkan semangat berbuat kebajikan dengan badan, ucapan maupun pikiran agar semakin besar kesempatan untuk mencapai kesucian di kehidupan ini maupun di kehidupan – kehidupan selanjutnya.
Semoga semua mahluk selalu hidup berbahagia.
Salam metta,
B. Uttamo
————————————————————————————————————
08. Lina
Wednesday, 15 December 2010
Mengenal Dhamma di kehidupan mendatang
Namo Buddhaya,
Bhante, karena kelahiran kembali, kadang kita menjadi anak kecil kembali yang mana karena ketidaktahuan sering melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya yang tentu saja membuahkan kamma yang tidak baik. Adakah cara untuk mempertahankan kesadaran kita akan Agama Buddha di kehidupan mendatang sehinggga kita tidak menambah kamma buruk karena ketidaktahuan kita?
Bagaimana pula cara terbaik untuk menyadarkan orang dekat kita yang keras kepala agar hidup tidak terlalu melenceng dari Ajaran Buddha?
Terima kasih.
Jawaban :
Dalam Ajaran Sang Buddha memang mengenal adanya konsep kelahiran kembali. Mahluk yang meninggal dan terlahir kembali sebagai manusia akan memulai kehidupannya sebagai janin dalam kandungan. Setelah waktu kandungan mencukupi, bayi tersebut akan terlahir. Apabila ingin terlahir sebagai anak kecil yang telah mengenal Dhamma sejak dini, secara tradisi boleh mengucapkan tekad sejak kehidupan ini. Artinya, setiap kali melakukan kebajikan dengan badan, ucapan serta pikiran, ucapkanlah tekad, “Semoga dengan kebajikan yang telah dilakukan hingga saat ini akan mengkondisikan kelahiran kembali sebagai manusia dan mengenal Dhamma sejak kecil”. Diharapkan dengan pengulangan tekad serta dukungan kamma baik yang mencukupi, harapan luhur tersebut dapat menjadi kenyataan.
Adapun orang yang keras kepala biasanya karena ia belum menemukan cara atau orang yang tepat untuk menasehatinya. Oleh karena itu, carilah cara yang bijaksana serta waktu yang sesuai agar dapat berkomunikasi dengannya secara terbuka dan kekeluargaan. Atau, carilah orang yang biasanya didengar nasehatnya oleh orang tersebut. Mintalah bantuan kepada orang itu untuk menasehatinya. Mendengar nasehat yang diberikan secara jujur dan tulus serta dilakukan oleh orang yang ia hormati, biasanya orang yang keras kepala sudi mempertimbangkan serta mengubah perilakunya. Dengan kesabaran dan nasehat yang dilakukan secara berulang berlandaskan cinta kasih, kiranya secara bertahap terjadi perubahan perilaku sesuai dengan harapan.
Semoga jawaban di atas memberikan manfaat serta kebahagiaan.
Semoga semua mahluk selalu hidup berbahagia.
Salam metta,
B. Uttamo
————————————————————————————————————
09. Sylvie
Wednesday, 15 December 2010
Konsentrasi
Namo Buddhaya,
Jika kita sedang bermeditasi, kita harus berkonsentrasi pada objek yang kita pilih, misalkan objek pernapasan.Sering kali ketika kita sedang bermeditasi telinga kita menangkap suara-suara seperti suara pintu dsb.
Bagaimana cara kita mengatasinya Bhante? Sulit sekali bila harus mengontrol telinga kita agar tidak menangkap suara2 tersebut.
Mohon bimbingannya Bhante. Terima kasih.
Jawaban :
Meditasi adalah latihan ketrampilan memusatkan pikiran pada obyek tertentu, misalnya proses masuk dan keluar udara sewaktu bernafas secara alamiah. Selama meditasi, segala bentuk pikiran yang bukan obyek hendaknya diketahui, disadari dan dikembalikan pada obyek semula yaitu pernafasan. Jika pada awalnya masih terdengar suara, maupun merasakan panas dingin udara, hal itu adalah normal, dan dapat diabaikan. Pusatkan pikiran pada obyek semula. Lama kelamaan, segala sensasi indria menjadi tidak berkesan. Terdengar suara namun batin sudah tidak lagi tertarik untuk mengenali. Dan, pada akhirnya suara serta sensasi indria lainnya tidak ada. Pikiran memusat pada satu hal yaitu obyek meditasi.
Apabila seseorang sudah mampu memasuki kondisi ini secara cepat dan mampu mempertahankan untuk waktu yang lama, maka ia akan lebih mudah menjadikan segala tindakan sehari-hari dengan badan, ucapan serta pikiran sebagai obyek konsentrasi. Inilah meditasi dalam kehidupan sehari-hari, selalu sadar setiap saat. Inilah cara meditasi yang diajarkan Sang Buddha untuk melihat hidup sebagaimana adanya, bahwa hidup adalah tidak kekal, hanya proses yang selalu berubah.
Semoga jawaban ini dapat dijadikan pedoman pelaksanaan meditasi sehingga tidak lagi kuatir dengan segala sensasi indria yang pada saatnya nanti akan lenyap dengan sendirinya.
Semoga selalu bersemangat dalam melaksanakan meditasi.
Semoga semua mahluk selalu hidup berbahagia.
Salam metta,
B. Uttamo
————————————————————————————————————
10. Pri Pramudita
Wednesday, 15 December 2010
Ternak ayam petelur
YM Bhante, apakah usaha peternakan ayam petelur menyalahi ajaran Buddha?
Karena jika memungkinkan saya bermaksud belajar dan berusaha di bidang ayam petelur dimasa datang.
Terima kasih atas jawaban Bhante
Jawaban :
Dalam tuntunan pelaksanaan Ajaran Sang Buddha, sebaiknya umat Buddha menghindari usaha yang berhubungan dengan mahluk hidup. Usaha yang berkaitan dengan jual beli mahluk hidup maupun bangkai mahluk hidup cenderung mengkondisikan terjadinya pembunuhan. Seperti telah diketahui bersama, pembunuhan adalah merupakan pelanggaran sila pertama Pancasila Buddhis.
Usaha ayam petelur pada mulanya memang hanya memberi makan ayam serta mengambil telur yang dihasilkannya. Namun, ketika ayam sudah tidak lagi menghasilkan telur, peternak akan menjualnya ke pasar. Dengan demikian, ayam petelur yang sudah tidak produktif akan menjadi ayam sayur yang dipotong untuk dikonsumsi manusia. Tindakan yang mengkondisikan pembunuhan inilah yang kiranya perlu dihindari oleh umat Buddha.
Oleh karena itu, apabila usaha ayam petelur masih merupakan keinginan, kiranya dengan penjelasan di atas dapatlah dijadikan perenungan untuk meninjau ulang keinginan yang telah muncul. Sebaliknya, apabila keinginan itu sudah sedemikian kuat dan harus dilaksanakan, maka usaha ayam petelur ini hendaknya juga dibarengi dengan memperbanyak kebajikan melalui badan, ucapan serta pikiran. Dengan banyaknya kebajikan yang sering dilakukan, diharapkan kamma baik berbuah dalam bentuk kebahagiaan.
Semoga jawaban ini bermanfaat untuk dijadikan perenungan sebelum mengambil keputusan.
Semoga selalu sukses dan berbahagia.
Semoga semua mahluk selalu hidup berbahagia.
Salam metta,
B. Uttamo