Minggu, 02 Oktober 2011
NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (A)
Abaddha/Abaddhana : bebas, tidak terikat
Abbha : langit
Abhaya : aman, bebas dari rasa takut
Abhimanggala : selamat, beruntung
Abhinava : baru, segar
Abhinnya : pengetahuan batin tinggi
Abhippasãda : kepercayaan
Abhirãdha : senang, riang, suka
Abhita/Abhiru/Abhiruka : berani
Abhivãda : penghormatan
Abyãpãda : tidak mempunyai kemauan jahat
Acala : tak tergoyahkan; bukit
Ãcariya : guru, pembimbing
Accana : penghormatan, pemujaan
Accha : terang, jernih, suci, murni
Accharã : peri, bidadari
Acchariya : ajaib, memukau, yang menyebabkan terpengaruh
Acci : lidah api, terik (matahari)
Accimã : benderang, menyala-nyala, cerdas
Accita : mulia, terhormat
Accuta : abadi, kepadaman total/abadi
Ãcinnadhamma : berperangai sesuai Dhamma
Ãdara : belas kasihan, sayang, peduli
Ãdãsa : cermin
Adda : basah, berair
Addha : kaya, mewah; setengah, separoh
Addhagu : pengembara
Addhika : pengembara
Addhi : gunung
Adhi : atas, lebih (unggul dsb)
Adhika : unggul, lebih tinggi
Adhipannya : kebijaksanaan yang lebih tinggi
Adhipati : tuan, pemimpin
Ãdi : pertama, awal
Ãdicca (Aditya) : matahari
Aga : gunung, pohon
Agada : sehat, baik; obat, jamu
Agãra : rumah
Agga : tertinggi, terhebat, puncak, unggul
Aggi (Agni) : api
Agha : langit, angkasa
Aha : hari
Ãhãra : makanan
Ahimsa : tanpa kekerasan
Ajãtasattu : nama seorang raja di jaman Sang Buddha, putra Raja Bimbisara
Ajimha : lurus, tulus hati
Ãjiva : penghidupan
Ajjhayaka : guru
Akalika : terbebas dari waktu
Ãkãsa : angkasa
Akka : matahari
Akkhadassa : hakim, wasit
Akkhaya : abadi, kekal
Akkhi/Aksi : mata
Akuppa : tabah, teguh, tak tergoncangkan
Akutila : jujur
Ãloka : cahaya
Amala : suci, murni, tak bernoda
Amara : keabadian, dewa
Amata : abadi
Amba : ibu
Ambu : air
Ãmisa : materi
Amita : tanpa batas, tak terukur
Amitã : nama saudara Raja Suddhodana yang merupakan ibu Yasodhara
Amitodana : saudara Raja Suddhodana yang merupakan ayah Ananda
Amma : ibu
Amoha : kebijaksanaan
Anala : api
Anãmaya : tidak berpenyakit, sehat
Ãnanda : 1. kegembiraan, periang ; 2. nama seorang siswa yang menjadi pembantu tetap Sang Buddha
Ãnandi : penggembira
Ananta : tanpa akhir/batas
Anãthapindika : nama seorang siswa awam yang menjadi penyokong utama Sang Buddha
Anavaya : sempurna, tidak kekurangan
Anda : telur
Aneja : bebas dari nafsu
Anela/Anelaka : tiada cacat, sempurna, murni
Angganã : perempuan
Anggira : seseorang/sesuatu yang cemerlang
Anjana : nama ayah Ratu Mahamaya
Angguli : jari
Anggulimãla : nama seorang siswa Sang Buddha yang sebelumnya merupakan orang jahat
Anigha : bebas dari kesukaran
Anila : angin
Anna : air
Annava : lautan
Anoma : penguasa, tertinggi
Anomadassi : orang yang mempunyai pengetahuan tinggi
Anta : akhir, pucuk
Antalikkha : angkasa
Anubala : bantuan
Anubhaddo : maju dengan baik
Anubhãva : kekuatan, anugerah, daya
Anubodha : turut mengetahui, turut sadar
Anuja : saudara
Anuruddha : nama seorang siswa Sang Buddha
Anusãsaka : penasihat
Anusãsana : nasihat
Anussati : perenungan
Anuttara : tak terbandingkan
Annya : memiliki pengetahuan yang sempurna
Apannaka : betul, benar
Ãpo : air
Appa : sedikit, kecil
Accharã : bidadari, peri
Ãrãdhanã : undangan, ajakan
Ãrãma : taman, hutan kecil
Arana : damai
Arannya : hutan
Aravinda : teratai
Araya : mulia, agung, utama
Ariya : suci, mulia
Arittha : nama murid Arahanta Mahinda yang memimpin Konsili di Anuradhapura, Srilanka
Ajjuna : 1. bersinar ; 2. nama seorang pangeran
Akka : sinar matahari, nyanyian, penyanyi
Arnasati : pemenang dari arus
Aroga : sehat
Asabha : pemberani
Ãsana : tempat duduk
Asani : halilintar, petir
Asi : pedang
Asita : 1. biru tua, tak menumpang, bebas ; 2. nama pertapa yang mengunjungi Bodhisatta Siddhattha ketika baru terlahir
Asma : batu
Asoka : 1. bebas dari kesedihan ; 2. nama seorang raja yang mengembangkan agama Buddha
Assaji : nama seorang dari lima siswa pertama Sang Buddha
Assattha : pohon Bodhi
Assava : penurut, mudah dinasihati
Atandi/Atandita : rajin
Ãtãpa : sinar matahari, panas, terik, usaha
Atavi : hutan belukar, hutan lebat
Ati/Aticaya : sangat
Atideva : dewa tinggi
Atimahanta : maha besar
Atimanãpa : sangat menarik, sangat memuaskan
Attã (Atma) : jiwa
Attadattha : 1 . manfaat bagi diri sendiri ; 2. nama seorang siswa Sang Buddha
Attaja : anak kandung
Attamana : gembira, puas
Attha (Artha) : kemakmuran, manfaat, tujuan, hasil
Attha : delapan
Atthi : tulang, benih
Atula : 1. tak terbandingkan, tak terperikan ; 2. nama seorang umat Buddha di jaman Sang Buddha
Avadãna : cerita, sejarah, dongeng, nasihat
Avadãta : putih, bersih
Avani : bumi, parit
Avatãra : penjelmaan
Avera : tanpa permusuhan, tanpa kedengkian, ramah, kebaikan
Avikkhepa : ketenangan/keseimbangan pikiran
Ayana : jalan, pintu
Ãyatana : tempat, kediaman, sumber, penyambung, bagian
Ãyu : umur
Ãyudha : senjata
Ayya : mulia, tuan
NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (B)
Bahula : tebal, padat, banyak
Bajra : 1. permata ; 2. senjata dewa Indra
Bala : kekuatan, tenaga, bala tentara, kekuasaan, kawanan
Bãlaka : bocah laki, kanak-kanak laki
Bãlika : bocah wanita, kanak-kanak wanita
Bali : 1. sajian, pajak, penghormatan ; 2. nama seorang yaksa
Bãna : anak panah
Bandhana : ikatan
Bandhu : sanak keluarga
Bãyu : angin
Bhadda (Bhadra) : agung, anggun, baik, cantik, menguntungkan
Bhaddãcãra : tingkah laku luhur
Bhaddakaccãna : nama lain Yasodhara (isteri Pangeran Siddhattha)
Bhaddiya : salah seorang dari lima siswa pertama
Bhadraka : yang agung, yang anggun, yang baik, yang cantik, yang menguntungkan
Bhagini : saudara wanita
Bhãgya : mujur, beruntung, bernasib baik
Bhallika : nama seorang siswa awam pertama Sang Buddha
Bhãnu : matahari, sinar
Bhãra : barang berat, muatan, beban
Bhãsura : terang, bercahaya
Bhata : karyawan, pekerja, pegawai; orang piaraan
Bhata : prajurit, tentara
Bhãtika/Bhãtu : saudara laki-laki
Bhatti : bakti
Bhãvanã : pemunculan, pengembangan, pengembangan batin
Bhoga : kekayaan, peralatan, penggunaan
Bhumi : alam kehidupan, tingkat, bumi
Bhuri : kebijaksanaan, bumi
Bimbã/Bimbãdewi/Bimbãsundari : nama lain Yasodhara (istri Pangeran Siddhattha)
Bimbisãra : nama raja di jaman Sang Buddha
Bindu : tanda
Bodha/Bodhana : penerangan, pengetahuan
Bodhi : pengetahuan tertinggi
Brahma : dewa tingkat tinggi
Brahmadatta : nama seorang siswa Sang Buddha
Buddha : yang telah bangun, yang bijaksana
Buddhi : bijaksana, pandai
NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (C)
Cãga : pelepasan, kerelaan, pemberian, pengorbanan
Cakka (Cakra) : roda
Cakkhu : penglihatan
Canda (Candra) : bulan
Candana : pohon cendana
Candika : sinar bulan
Candimã : bulan
Cara : tindakan, perjalanan, mata-mata
Caraka : pengembara
Carana : pelaksanaan, tingkah laku
Cãrika : perjalanan
Carita : pembawaan, sifat, watak kehidupan
Cariya : tingkah laku
Catu : empat
Catura : pandai, ahli, cerdas
Cetanã : kehendak
Chana : festival, hiburan, pagelaran
Channa : nama kusir Pangeran Siddhattha
Chanda : keinginan, hasrat
Chandaka : yang berkemauan, yang berketetapan hati
Citi : pengertian, kecerdasan
Citta : 1. pikiran, kesadaran, menawan, indah ; 2. nama bulan (Maret - April)
Civara : jubah bhikkhu
Culla : kecil
Cunda : nama orang yang memberikan persembahan makanan terakhir kepada Sang Buddha
NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (D)
Dabba : cerdas, mampu; material
Daha : kolam
Dahara : muda
Daka : air
Dakkha : pandai, ahli, fasih
Dakkhina : pintar, fasih; benar
Dãna : pemberian, barang pemberian, sedekah, dana
Dandadipikã : obor bertangkai
Dandaneti : jaksa
Dandapãni : 1. pemegang tongkat ; 2. nama saudara Ratu Mahamaya
Danta : gigi, gading; yang telah terlatih
Dãraka : anak laki-laki
Dãrikã : anak wanita
Dãru : kayu
Dasa : sepuluh
Dasaka : nama seorang siswa Sang Buddha
Dassana : pandangan, intuisi
Dassaniya : cantik, menarik, menawan
Datta : kekayaan, barang pemberian
Dãtu : pemberian, dermawan
Datti : hadiah, barang pemberian
Dãya : hutan, barang pemberian, hadiah
Dãyãda : warisan, ahli waris
Dãyaka : pemberi, penyokong
Dayãlu : yang penuh kasih sayang
Dayita : wanita; yang tercinta
Desanã : pengarahan, pembabaran, nasihat
Deva : dewa; raja; langit; hujan
Devadaha : nama leluhur Puteri Yasodhara
Devi : dewi, permaisuri
Dhaja : bendera, panji
Dhama/Dhamaka : pemain musik, peniup, penguncar
Dhamma (Dharma) : kebenaran; ajaran Sang Buddha; fenomena
Dhammadinnã : nama seorang bhikkhuni yang terkemuka dalam penyampaian Dhamma
Dhammãrãma : nama seorang siswa Sang Buddha
Dhammattha : berpijak pada kebenaran, teguh pada kebenaran
Dhammika : penyandang kebenaran
Dhana : kekayaan, harta, dana
Dhani : orang kaya
Dhananjaya : nama ayah Upasika Visakha
Dhanita : suara, bersuara
Dhannya : beruntung, nasib baik
Dhãra : pintu, lorong, aliran
Dharani : bumi, pertiwi
Dhãtu : unsur, zat, mineral, akar (kata), asal
Dhavala : putih, bersih
Dhira : bijaksana
Dhitã : anak wanita
Dhiti : energi, bersemangat, kebijaksanaan
Dhona : bijaksana
Dhotodana : nama saudara Raja Suddhodana
Dhuma : asap
Dhupa : dupa
Dhura : kewajiban
Dibba : kedewaan, surga
Dibya : sakti
Digha : panjang
Dija : brahmana; burung
Dina : hari
Dinakara : matahari
Dipa (Dwipa) : pulau; lampu, pelita
Dipankara : nama seorang Buddha yang meramalkan bahwa pertapa Sumedha akan menjadi Buddha (Gotama)
Dippana : bersinar
Disa : arah, jurusan
Ditthi : pandangan, pendapat
Ditti : kecemerlangan, sinar
Diva : surga, hari
Dona : nama brahmana yang membagi relik Sang Buddha
Doni/Donika : perahu
Duta : utusan
Dwi : dua
NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (E)
Eka : satu
Ekagga : menyatu
Ekãyana : jalan tunggal
Ekudana : nama seorang siswa Sang Buddha
NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (G)
Gagana : angkasa, langit
Gala : leher
Gãma : desa
Gana : kelompok, himpunan
Ganda : pipi
Gandha : bau, sedikit
Gandhi : memiliki wewangian
Gani : yang berpengikut, yang mempunyai siswa
Gantha/Ganthi : ikatan
Gabbha : kandungan
Guru : guru; mulia, berharga; berat
Gãthã : syair, puisi
Gati : tujuan, perjalanan
Gatta : tubuh, organ (tubuh)
Gãyaka : penyanyi
Gãyana : senandung
Ghana : hidung
Ghati : pot/jambangan air, jam
Gihi : perumah tangga
Gini : api
Girã : kata, pengucapan
Giri : gunung
Gita : lagu, nyanyian
Gitika : lagu
Giva : leher
Gopaka : pelindung
Gotama : nama suku Sang Buddha
Gotami : wanita dari suku Gotama
Govinda : julukan dari Krishna
Guna : kebijakan, kepandaian; lapis
Gutti : perlindungan, pengawal
NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (J)
Jãgara : siaga, jaga
Jala : air
Jalana : bersinar
Jalita : bernyala, bersinar, cerlang
Jana : orang, manusia
Janitta : tempat lahir, asal
Jannya : suci/murni, mulia, cantik, kelahiran baik
Jantu : mahluk hidup
Japã : mawar
Jarã : usia
Jãtaka : cerita kehidupan Bodhisatta pada kelahiran lampau
Jãti : kelahiran, keturunan; jenis
Jãtika : keturunan, milik suatu kelas, suku, bangsa
Jatila : pertapa bergelung, resi
Java : kecepatan, kekuatan
Jaya : kemenangan, jaya
Jayana : kemenangan
Jayasena : nama leluhur Pangeran Sidhattha
Jãyati : lahir, muncul
Jeta : nama pangeran yang tanahnya dibeli untuk dijadikan vihara
Jetu : pemenang
Jhãna (Dhyana) : konsentrasi pikiran, tingkatan meditasi
Jhãnika : orang yang mencapai konsentrasi pikiran
Jina : penakluk
Jita : lembut (suara), kemenangan
Jiva : kehidupan
Jivita : hidup, kehidupan
Jotana : bernyala
Joti : cahaya, pancaran sinar
Jotika : nama seorang siswa Sang Buddha
NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (K)
Kabba : puisi
Kakusandha : nama seorang Buddha sebelum Buddha Gotama
Kala : waktu
Kãlã : hitam
Kãlãma : nama suku pada masa kehidupan Sang Buddha
Kalãpa : ikatan, bungkusan, tumpukan, kelompok
Kalla : pandai, sehat
Kallita : sikap menyenangkan, keramahan
Kãludãyi : nama seorang siswa yang merupakan teman kecil Pangeran Siddhattha
Kalyãna : baik, indah, menyenangkan
Kalyãni : wanita cantik
Kãma : kesenangan
Kamala : bunga teratai
Kamalini : kolam teratai
Kãmaniya : menyenangkan, cantik
Kamma (Karma) : perbuatan
Kancana : emas
Kanaka : emas
Kanika : tanda kecil
Kaniskha : nama seorang raja
Kanittha/Kaniya : yang termuda
Kanitthi : saudara wanita termuda
Kanna : telinga
Kantã : menyenangkan, cantik; wanita
Kannya : gadis
Kapila : warna coklat; nama seorang pertapa
Kappa : masa dunia
Kara : tangan; cahaya
Karaka : pohon delima; kendi
Karakã : hujan es
Karaniya : yang patut dilakukan, kewajiban
Kariya : kewajiban
Karunã : belas asih
Kasina : alat untuk obyek meditasi
Kassapa : nama seorang Buddha sebelum Buddha Gotama
Kataka : gelang
Kathã : ucapan, wacana, cerita
Kathina : bingkai pengencang; upacara penyerahan jubah untuk bhikkhu yang telah bervassa
Kavi : penyair
Kãya : badan jasmani
Kesa : rambut
Kesava : nama dewa Wisnu
Ketu : bendera
Khaga : burung
Khandha : gugus, pangkal leher, batang, kelompok, tumpukan
Khanti : kesabaran
Khattiya : ksatria, raja, tuan
Khema : aman, tenang, penuh kedamaian
Khemã : nama seorang bhikkhuni siswa utama
Khemi : orang yang menikmati kedamaian
Khetta : ladang
Khira : susu
Khuddaka : kecil, sedikit, rendah, tak penting
Kicca : tugas
Kiki : sejenis burung berwarna biru
Kila : bermain, olahraga
Kirana : cahaya
Kiriya : perbuatan (dari seorang arahat)
Kisa : ramping, kurus
Kisãgotami : nama seorang bhikkhuni siswa Sang Buddha
Kitti : kemasyuran
Kokanada : teratai merah
Kolita : nama kecil Yang Ariya Moggallana
Koliya : nama suku yang berkerabat dengan suku Sakya
Komala : lembut, menarik
Komara : muda
Konãgamana : nama seorang Buddha sebelum Buddha Gotama
Kondannya : salah seorang dari lima siswa pertama Sang Buddha
Kosala : nama sebuah negeri di jaman Sang Buddha
Kosalla : kepandaian, kecerdasan
Koti : puncak
Kovida : cerdas, pandai
Kulla : rakit
Kumãra : anak laki-laki
Kumãri : anak wanita
Kumuda : bunga teratai putih
Kunda : sejenis bunga melati
Kundala : anting-anting
Kuntala : rambut
Kusala : kebaikan, cerdas, tangkas
Kusuma : bunga
Kuta : puncak
Kuvera : nama dewa yang memerintah di utara
NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (L)
Lãbha : sesuatu yang didapat, pendapatan
Laddha : telah didapat, telah dicapai
Lahu : cepat, ringan, nihil
Lakkhi : beruntung, makmur
Lakkha : tanda, target, tujuan, ratus ribu
Lakkhana : tanda, mutu, wajar
Lalita : cantik, anggun
Lãsika : penari
Lena: guna
Lila : luwes, anggun; tindak tanduk
Locana : mata
Loha : logam
Lohita/Lohitaka : merah
Loka : dunia, alam kehidupan
Lokapãla : penjaga alam
Lokiya : duniawi
Lumbini : tempat Pangeran Siddhattha dilahirkan
NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (M)
Maddava : kelembutan, keempukan
Madhu : madu
Magadha : nama sebuah kerajaan
Magga (Marga) : jalan
Mãgha : nama bulan (Januari - Februari)
Mahã : besar
Mahaddhana : kekayaan yang besar
Mahãkassapa : nama seorang siswa pemimpin Konsili Buddhis I
Mahãmãyã : nama ibu Pangeran Siddhattha
Mahãnãma : nama seorang dari lima siswa pertama Sang Buddha
Mahanta : besar
Mahattama : terbesar
Mahaviro : pemberani
Mahesi : guru besar, orang bijaksana
Mahesi : ratu, permaisuri
Mahilã : wanita
Mahinda : nama seorang siswa Sang Buddha (putra Raja Asoka) yang menyebarkan Dhamma ke Srilanka
Mahisa : kerbau
Mahita : dihormati
Mahodadhi : lautan luas
Majjha : tengah
Majjhima : bagian tengah, berada di tengah
Makaranda : sari bunga
Makuta : mahkota
Mãlã : rangkaian bunga
Mãlati : bunga melati
Mallika : bunga melati
Mãluta : angin
Mãlya : karangan bunga, untaian bunga
Mana : pikiran
Mandala : daerah, lingkaran
Mandana : perhiasan, penghiasan
Manggala : keberuntungan, berkah
Mani : mutiara, permata
Mãnita : dihormati, dipuja
Manju : cantik, molek, merdu
Manta : mantra, ungkapan
Mantã : kecendekiaan, pengetahuan
Manti : penasihat, menteri
Marakata : batu indah, giok
Mariyãda : tingkah laku
Matha : sekolah, akademi
Mattã : dimensi, ukuran; kecukupan
Mãtu : ibu
Mãyã : khayal
Mayãra : burung merak
Medhã : pemberian sesaji/korban, puja
Medha : kebijaksanaan
Medhãvi : orang bijaksana
Medini : bumi
Megha : awan, mega
Meghanãda : guntur
Meghiya : nama seorang siswa Sang Buddha
Mejjha : murni
Mettã (Maitri) : cinta kasih
Metteyya : nama seorang Bodhisatta
Mettiko : pemancar metta
Mihita : senyuman
Milinda : nama seorang raja
Mina : ikan
Minana : pengukuran, penghitungan, penimbangan
Mita : terukur, cukup, sedikit
Mitta (Mitra) : teman
Moda : senang, gembira
Modana : kegembiraan
Moggallãna : nama seorang siswa utama Sang Buddha yang memiliki kesaktian tinggi
Moggaliputta Tissa : nama seorang bhikkhu pemimpin Konsili Buddhis III
Mona : bijaksana, ketenangan
Mora : burung merak
Muda : kegembiraan
Muddhã : kepala, puncak
Muditã : gembira, puas, simpati
Muddã : cetakan, cap, cincin
Mudu : lembut, halus, muda
Mukhya : penting, besar
Mula : akar, umbi, awal, pangkal; modal
Muni : pertapa
Muninda : raja para bijaksana, Sang Buddha
Mutta : mutiara
Mutti : kebebasan
NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (N)
Nabhã : langit
Nãda : suara
Nadi : sungai
Nãga : naga; gajah; luhur
Nagara : kota
Nalina : bunga teratai
Nalini : danau teratai
Nama : batin
Namakãra : penghormatan
Nanda : 1. gembira; periang ; 2. nama seorang siswa Sang Buddha yang merupakan anak Pajapati Gotami
Nandana : 1. kegembiraan ; 2. nama kebun di kota Indra
Nandati : bergembira
Nandi : kesenangan, kegembiraan, kepuasan, keinginan
Nandiya : nama seorang umat yang mempersembahkan vihara kepada Sang Buddha
Nara : orang, laki-laki
Narapati : raja, pemimpin
Nãri : wanita
Nãsa : hidung
Nãtaka : penari
Nãtaputtaka : nama seorang siswa Sang Buddha
Nãtha : perlindungan
Nãtikã : penari wanita, aktris
Natta : malam
Nattu : cucu laki-laki
Nava : baru; sembilan
Navanita : mentega segar
Nãvika : anak kapal
Naya : pengajaran; rencana; ciri; cara; nasihat
Nãyaka : pemimpin
Nayana : mata
Neru : nama sebuah gunung tertinggi
Nibha : kilau, terang, seimbang
Nicca : tetap, pasti, abadi, berlangsung
Nidhi : harta karun
Nikanti : kepuasan, keinginan, nafsu, ambisi
Nikãya : kelompok, bagian
Nila : warna biru, warna hijau kebiruan
Nimi : nama seorang raja dalam cerita Jataka
Nimitta : tanda, gambaran, image
Nimmala (Nirmala) : bersih, murni
Nipãta : kumpulan, himpunan
Nipuna : pandai, ahli; berhasil
Niroga : sehat
Nirodha : padam, habis, hancur
Nisakara : bulan
Niyata : pasti, konstan, teguh, mantap
Niyoga : perintah, kepentingan
Nyãna : pengetahuan
NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (O)
Obhãsa : sinar, kilauan
Obhãsati : bersinar
Odhi : Batas
Oja : sari makanan, gizi, kelezatan, kilau; kekuatan
Oka : air, habitat
Okãsa : ruang, celah, tempat kosong; ijin; penampakan
Osadha : obat
Ottappa : rasa takut berbuat jahat
Ovada : nasihat, perintah
NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (P)
Pabala : berkuasa, kemampuan, berkekuatan besar
Pabba : bagian, buku, sendi
Pabbata : gunung
Pabhava : sumber, sebab
Pabhã : sinar
Pabhãva : kekuasaan, kekuatan, kebesaran
Pabhu : prabu, raja, penguasa, tuan
Paccaya : syarat, kondisi; sebab, penyokong
Padhãna : utama, perdana
Padipa : lentera, lampu
Paduma : bunga teratai
Paggaha : usaha, pujian, tunjang
Pahattha : penggembira, bersuka-ria; terpukul
Pajãpati : nama bibi Pangeran Siddhattha perawat Beliau
Pajja : syair, jalan
Pakattha : teragung, bagus
Pãla/Pãlaka : pelindung
Pãlana : perlindungan
Pailala : kolam kecil, danau kecil
Pamadã : wanita
Pamãna : penghitungan, ukuran, jumlah; batas; standar; jarak
Pãmitã : nama saudara Raja Suddhodana
Pãna (Prana) : kehidupan, mahluk hidup, nafas
Panãma : penghormatan
Panca : lima
Pandara : putih, putih kekuningan
Pandicca : kebijaksanaan, kecerdasan
Pandita : orang bijaksana, orang cerdas
Pandu : kekuningan
Pãni : tangan, telapak tangan; mahluk
Panita : nikmat; bagus, lembut, rapi
Paniya : pedagang
Pankaja : teratai
Pannya : kebijaksanaan; pengertian
Parãga : benang sari
Parama : yang tertinggi
Pãramitã : timbungan kebajikan, kesempurnaan kebajikan
Pari : menyeluruh
Parinnya : penuh pengertian
Parivãra : pengawal, pengikut
Pãsãda (Prasadha) : gedung, istana
Pãsãna : karang, batu
Pasenadi : nama seorang raja di jaman Sang Buddha
Pasiddha : berhasil; muncul; ahli
Passaddhi : ketenangan, kepadaman, keheningan
Passika : nama seorang siswa Sang Buddha
Patãcãrã : nama seorang bhikkhuni siswa Sang Buddha
Patãkã : bendera
Patapa : daya, kekuatan, kebesaran, kemahsyuran
Patha : jalan
Pathama (Pratama) : pertama, awal
Pathavi : bumi, tanah, pertiwi
Pathika : pengembara
Pati : pemilik, tuan, suami
Patihãriya : keajaiban
Patipadã : jalan pelaksanaan, metode
Patita : jatuh, roboh
Patita : sangat gembira
Patta : mangkuk; daun; mahkota bunga; mencapai, tercapai
Patthiva : raja
Pãtu : depan, tampak, terlihat
Pãvaka : api, terang, cerah, murni
Pavana : angin
Pavara : agung
Paveni : tradisi, adat; keturunan; gelung
Pavina : pandai, ahli
Pavitta : suci
Paya : susu, air
Payojana (Prayojana) : manfaat, tujuan
Pema : cinta
Phala : buah, hasil, akibat, pahala
Phussa : 1. sentuhan, perasaan; berbintik-bintik; cerah ; 2. nama bulan (Desember - Januari)
Pingala : warm coklat
Pita : kuning
Pitaka : keranjang
Piti (Priti) : kegiuran
Pitu : ayah
Piya (Priya) : menyenangkan, tercinta
Pokkhara : teratai
Pori : sopan
Posa : laki-laki
Pubba (Purwa) : permulaan, awal, dulu
Puggala : orang, manusia
Puja : penghormatan, puja
Pulina : pasir
Puma : laki-laki
Pundarika : teratai putih
Punnya : jasa, kebajikan, kebaikan
Punna (Purna) : sempurna
Puppha (Puspa) : bunga
Pura : kota
Purisa : laki-laki, orang
Purohita : penasihat kerohanian seorang raja
Putta : anak laki-laki, putra
NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (R)
Rãdha : nama seorang siswa Sang Buddha
Rahada : kolam dalam
Rãhu : gerhana, pemimpin kaum asura
Rãhula : 1. belenggu ; 2. nama anak Pangeran Siddhattha
Rãja : raja
Rajani : malam
Rajata : perak
Rakkhana : perlindungan
Rakkhita : terjaga, terlindungi, terobati
Ramana : kegembiraan, kesukariaan
Ramani : wanita
Ramaniya : menyenangkan, menggembirakan, nyaman
Ramati : bersenang, bergembira
Ramma/Ramya : (lih. Ramaniya)
Rasa : rasa, pengecapan, sopan santun, tugas, harta
Rasmi : pancaran sinar, tall
Ratha : kereta
Rati : kesenangan
Ratana : permata
Ratta : merah, darah, terwarnai
Ratti : malam
Rathapãla : nama seorang siswa Sang Buddha
Rava : suara, gumam
Ravi : matahari
Revata : nama seorang siswa Sang Buddha
Rohini : nama seorang bhikkhuni
Rohita : merah, darah
Rucira : senang, cantik, ramah
Rukkha : pohon
Rupa : bentuk, jasmani
Rupanandã : nama puteri clan Pajapati Gotami
Rupasãri : nama ibu Yang Ariya Sariputta
Rupasiri : cantik, anggun
Rupini : wanita cantik
Rupiya : perak
NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (S)
Sabha : semua, seluruh
Sabhã : tempat permusyawaratan, gedung rapat
Sacca (Satya) : kebenaran
Sadã : selamanya
Sãdara : patut disayang, penuh perhatian
Sadda : suara, kata
Saddhã : keyakinan
Saddhamma : kebenaran
Saddhana : kaya, makmur
Sãdu : menyenangkan, nikmat
Sãgara : laut
Sagga : surga
Sakka : nama raja dewa di surga Tavatimsa, dewa Indra, wangsa Sakya
Sakhã : sahabat
Sakhi : sahabat
Sukkodana : nama saudara Raja Suddhodana
Sakulã : nama seorang bhikkhuni
Sãkya : nama suku Pangeran Siddhattha
Sãlã : aula
Salila : air
Sãma : sama
Sama : hitam, gelap; kuning, keemasan, tenang
Samadhi : pemusatan pikiran, keteguhan pikiran
Samana : pertapa
Samantã : sekeliling, sekitar
Samatha : ketenangan
Sãmãvati : nama ratu isteri raja Udena
Samaya : waktu, saat, tempo; perhimpunan; ajaran
Samiddhi : sukses
Samijjhana : sukses
Sãmika : pemilik, majikan
Sãmini : majikan perempuan
Samirana : angin
Samita : tenang, menentramkan
Sammã : benar
Sammãna : penghormatan
Sammodaka : orang yang berbicara dengan ramah, pemberi rasa suka hati
Sammodana : kegembiraan, pembicaraan yang menyenangkan, pemberian rasa suka hati
Sampadã : kesempurnaan, kelengkapan
Sampasãda : simpati, cerah, senang
Sampatti : kekayaan, kesempurnaan, kesuksesan
Samudda : lautan, samudra
Sanda : tebal, padat
Sandhi : sambungan, penyatuan, penghubungan
Sandhya : waktu senja
Sangha : perhimpunan, perhimpunan para bhikkhu
Sanghamittã : nama bhikkhuni (puteri Raja Asoka) yang menyebarkan Dhamma ke Srilanka
Sãni : tabir, tirai, korden, layar
Santakãya : 1. berjasmani tenang ; 2. nama seorang siswa Sang Buddha
Santutthi : kepuasan terhadap yang dimiliki
Santusitã : nama seorang dewa yang sebelumnya merupakan ibu Pangeran Siddhattha
Sannya : pencerapan, pengenalan
Santa : tenang, damai
Santi : ketenangan, kedamaian
Santosa : kesenangan atas yang dimiliki
Santussati : bersenang atas yang dimiliki
Sãnu : nama seorang siswa Sang Buddha
Sappadasa : nama seorang siswa Sang Buddha
Sara : danau; anak panah; suara, vokal
Sarana : perlindungan, pengenangan, pergantungan
Saraniya : yang seharusnya diingat
Sãriputta : nama seorang siswa utama Sang Buddha yang merupakan murid terpandai
Sãririka : yang berkenaan dengan jasmani, tulang, relik
Saroja/Saroruha : bunga teratai
Sãsana : ajaran, aturan, pemerintahan, berita
Sasi : bulan
Sassata : kekal
Sassirika : semarak, cahaya kemilau, tenar
Sata : seratus, berperhatian
Sati : perhatian, pengenangan
Satta : mahluk hidup; tujuh
Satthu : guru, Sang Buddha
Satti (Sakti) : kemampuan, kekuatan, kehebatan
Sãvaka : siswa, pendengar
Savana : pendengaran, pengaliran
Sãvatthi : nama ibukota kerajaan Kosala
Seda : keringat
Senã : tentara
Seritã : tindakan sekehendak hati, bebas
Seta : putih
Settha : utama, baik sekali, luhur
Setthi : jutawan
Setu : jembatan
Seyya : lebih baik
Siddha : 1. berhasil ; 2. nama seorang dewa
Siddhattha : l . yang tercapai tujuannya ; 2. nama kecil Buddha Gotama
Siddhi : keberhasilan
Siha : singa
Sihahanu : nama ayah Raja Suddhodana
Sihãsana : tahta, singgasana
Sikkha : latihan
Sikha : lidah api, puncak, ujung
Sikhi : 1. burung merak ; 2. nama seorang Buddha sebelum Buddha Gotama
Sila : moralitas, susila, kewajaran, keajegan, senantiasa
Simã : batas
Sindhu : sungai Sindhu
Sira : kepala, topik
Siri : keagungan, keberuntungan
Sissa : pelajar, pendengar
Sita/Sitala : dingin
Sivali : nama seorang siswa Sang Buddha yang terkenal banyak timbunan jasanya
Sobhã : kecantikan
Sobhana : kecantikan
Sobhati : indah, memancarkan keindahan
Sogata : Buddhis
Sokhaya : kebahagiaan, kenyamanan
Soma: bulan
Somma : sopan, rapi, gemulai
Sonna : emas
Sopaka : nama seorang siswa Sang Buddha
Soracca : rendah hati
Sota : pendengaran
Sotthi : sejahtera, selamat, berkah
Su : baik, indah, mudah
Subha : cantik, menarik
Subhadda : berkembang biak, gagah perkasa
Subhata : mudah dipelihara, mudah dirawat
Sucarita : kebaikan
Suci : suci, bersih
Sudatta : nama kecil Anathapindika
Suddha : bersih, murni
Suddhodana : nama ayah Buddha Gotama
Sudhi : orang bijaksana
Sudina : terang, bercahaya, hari baik
Sudinna : terberikan dengan baik
Sugandha : harum
Sugata : telah pergi dengan baik, telah sampai dengan baik
Sugati : keadaan bahagia, alam menyenangkan
Suhada : teman, berhati baik
Suhita : puas, bermanfaat baik
Sujã : nama isteri dewa Sakka
Sujana : orang baik
Sujãtã : nama orang yang mempersembahkan makanan kepada pertapa Siddhattha
Sujjhati : menjadi bersih/suci
Sukha : kebahagiaan, kesenangan
Sukheti : membuat bahagia
Sukhita : gembira, bahagia
Sukkodana : nama saudara Raja Suddhodana
Sukhumãla : lembut
Suladdha : terterima dengan baik, terterima dengan mudah
Sumana : 1. suka hati, baik hati ; 2. nama seorang perangkai bunga di jaman kehidupan Sang Buddha
Somanassa : kegembiraan, kepuasan
Sumanggala : 1. berkah baik ; 2. nama seorang siswa Sang Buddha
Sumati : orang bijaksana, pengetahuan baik, pikiran baik
Sumedha : 1. bijaksana ; 2. nama bodhisatta yang kemudian menjadi Buddha Gotama
Sundara : tampan, baik, bagus
Sundari : cantik, baik, bagus
Sunita : nama seorang siswa Sang Buddha
Sunu : anak laki-laki
Supanna : nama sejenis burung surga; burung garuda
Supina : mimpi
Suppabuddha : nama ayah Puteri Yasodhara
Suppasanna : bersih, cemerlang
Sura : dewa, berani
Suriya (Surya) : matahari
Surupa/Surupi : tampan, cantik, rupawan/wati
Susila : bertingkah laku baik
Susu : pemuda
Susuddha : sangat bersih
Susukka : sangat putih
Suta : anak laki-laki; terdengar; telah belajar
Sutã : anak wanita
Sutta : benang, terlelap; salah satu bentuk sabda Sang Buddha
Suvanna : emas
Suvatthi : sejahtera, selamat
Suvitta : kaya
Suyama : nama dewa yang menyambut kelahiran Pangeran Siddhattha
NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (T)
Tãdi : orang yang tegar/tetap; sedemikian itu
Tamãla : nama sejenis pohon, pohon pinang
Tamba : coklat, merah; tembaga
Tãla : pohon palmyra
Tãna : perlindungan, pertahanan, pernaungan; Nibbana
Tanaya : anak laki; keturunan
Tanayã : anak wanita
Tanti : tali kecapi, garis, tradisi, kitab, pustaka, perdana
Tanu : kurus, ramping
Tapa : tapa, latihan diri, usaha membakar kilesa
Tapana : bercahaya, pembakaran
Tapussa : nama seorang siswa awam pertama Sang Buddha
Tãrã/Tãrakã : bintang
Tarani : kapal, perahu
Taru : pohon
Taruna : pemuda
Taruni : pemudi
Tasa : getar, goyang, gerak
Tathã : demikian, begitu
Tatiya : ketiga
Tatta : hakekat, kebenaran, keaslian; telah panas, berkilau
Teja : panas, sinar, kemuliaan, keagungan, kekuatan
Tevijja : mempunyai tiga pengetahuan (Vijja 3), arahanta
Thala : tanah
Thãma : kekuatan
Thanita : guruh, guntur; gelegar
Thera : tua, senior
Thira : teguh, kuat, abadi; gunung; pohon
Thuti : pujian
Ti : tiga
Tidasa : dewa, dewa surga Tavatimsa
Tika : bagian tiga, kelompok tiga; terdiri dari tiga
Tikkha : tajam, cerdas
Timi : nama ikan yang sangat besar
Tina : rumput
Tissa : nama seorang siswa Sang Buddha
Titti : kepuasan, kesukaan; penuh, kenyang; pinggir
Tomara : tombak
Tuhina : embun
Tusita : nama surga
Tuttha : gembira
NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (U)
Ubbiri : nama seorang bhikkhuni
Ucca : tinggi, mulia, agung
Uccakulina : kelahiran yang mulia/agung
Udadhi : lautan
Udagga : kegembiraan hati; berhati mulia
Udaka : air
Udara : perut
Udãna : nama salah satu kitab suci agama Buddha
Udarã : mulia, terbaik, tinggi
Udaya : timbul, tumbuh; pendapatan
Udayana : pertumbuhan, perkembangan
Udena : nama seorang raja pada jaman Sang Buddha
Udicca : mulia
Udita : muncul, terbit, naik; telah terucapkan
Ugga : besar, berkuasa
Uggasena : nama seorang siswa Sang Buddha
Ujjala : terang, bersinar
Uju : lurus, jujur
Ukkã : obor
Ulu : bintang
Ummi : gelombang
Upadi : semangat kehidupan
Upajivati : hidup, berpenghidupan, benaung, bergantung
Upakãra : bantuan, tunjangan
Upãli : nama seorang bhikkhu pengulang Vinaya pada Konsili Buddhis I
Upananda : nama seorang siswa Sang Buddha
Uparãja : raja muda
Upatissa : nama kecil Yang Ariya Sariputta
Upatthãna : tunjangan; pelayanan
Upãya : cara, jalan, upaya
Upekkhã : keseimbangan batin; keadaan batin tak condong
Uppala : teratai
Uppalavannã : nama seorang bhikkhuni siswa utama Sang Buddha
Usabha : nama seorang siswa Sang Buddha
Usmã : panas, uap hangat
Ussava : pertunjukan, pagelaran
Uttama : tertinggi, terbaik, utama, mulia
Uttara : lebih tinggi, lebih hebat; arah utara; jawaban; selimut; perahu; terseberang; berikut, atas
Utthãyaka : aktif, rajin
Utu : suhu, panas, musim cuaca, waktu; darah bulanan
Uyyãna : taman, kebun buah
arti awalan nama dalam agama buddha
A : pendengar yang baik.
B : berjiwa besar.
C : pembicara yang baik.
D : penyayang.
E : tidak stabil.
F : sopan santun.
G : mudah memaafkan.
H : pandai menyembunyikan kesedihan dibalik senyuman.
I : murah senyum dan selalu tampil bahagia.
J : tulus hati.
K : adil.
L : sangat perasa.
M : humoris.
N : tidak mudah jatuh cinta.
O : mempunyai kepribadian yang baik.
P : terkenal.
Q : orang aneh.
R : Rajin bekerja.
S : Bijaksana.
T : cinta damai.
U : pemikir.
V : Jaim (jaga image).
W : pesimis.
X : penuh rahasia.
Y : lucu dan konyol secara bersamaan.
Z : berpikiran sempit.
B : berjiwa besar.
C : pembicara yang baik.
D : penyayang.
E : tidak stabil.
F : sopan santun.
G : mudah memaafkan.
H : pandai menyembunyikan kesedihan dibalik senyuman.
I : murah senyum dan selalu tampil bahagia.
J : tulus hati.
K : adil.
L : sangat perasa.
M : humoris.
N : tidak mudah jatuh cinta.
O : mempunyai kepribadian yang baik.
P : terkenal.
Q : orang aneh.
R : Rajin bekerja.
S : Bijaksana.
T : cinta damai.
U : pemikir.
V : Jaim (jaga image).
W : pesimis.
X : penuh rahasia.
Y : lucu dan konyol secara bersamaan.
Z : berpikiran sempit.
sigalovada suta
Pada suatu ketika, Sang Buddha sedang berdiam di Rajagaha, di Vihara Hutan Bambu, di Kandakavinapa (Tempat Pemeliharaan Tupai). Pada waktu itu, Sigala, putra kepala keluarga, bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha, dengan rambut dan pakaian basah, sambil ber-anjali ia menyembah ke berbagai arah, yaitu arah Timur, Selatan, Barat, Utara, bawah dan atas. Dan Sang Bhagava pada pagi hari itu, setelah mengenakan jubah serta membawa mangkukNya, pergi ke Rajagaha untuk mengumpulkan dana makanan (pindapatta). Kemudian Sang Bhagava melihat Sigala, putera kepala keluarga itu menyembah ke berbagai arah dan bertanya :
“O Putera kepala keluarga, mengapa engkau bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha, dengan rambut dan pakaian basah sambil ber-anjali, engkau menyembah ke berbagai arah, yaitu ke arah Timur, Selatan, Barat, Utara, bawah dan atas?”
“O Putera kepala keluarga, mengapa engkau bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha, dengan rambut dan pakaian basah sambil ber-anjali, engkau menyembah ke berbagai arah, yaitu ke arah Timur, Selatan, Barat, Utara, bawah dan atas?”
“Yang Mulia, ketika ayahku menjelang wafat, beliau berkata kepadaku untuk menyembah ke enam arah. Demikianlah Yang Mulia, karena menghormati, mengindahkan, menjunjung dan menganggap suci kata-kata ayah itulah, maka saya bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha. Dengan rambut dan pakaian basah, sambil ber-anjali, saya menyembah ke enam arah.”
Sang Buddha lalu berkata, “Tetapi anakKu, dalam agama seorang Ariya enam arah itu tidak seharusnya disembah dengan cara demikian.”
Sigala, putera kepala keluarga itu bertanya :
“Yang Mulia, bagaimanakah seharusnya seorang Ariya menyembah ke enam arah itu? Alangkah baiknya apabila Sang Bhagava berkenan mengajarkan kepada saya, ajaran yang menguraikan caranya menyembah ke enam arah itu sesuai dengan agama seorang Ariya.”
“Yang Mulia, bagaimanakah seharusnya seorang Ariya menyembah ke enam arah itu? Alangkah baiknya apabila Sang Bhagava berkenan mengajarkan kepada saya, ajaran yang menguraikan caranya menyembah ke enam arah itu sesuai dengan agama seorang Ariya.”
“O putera kepala keluarga, dengarkan dan perhatikan dengan baik kata-kataKu ini. Karena siswa Ariya telah menyingkirkan empat kekotoran tingkah laku (kammakilesa), karena ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat (papakamma) yang didasari oleh empat dorongan, karena ia tidak mengejar enam saluran yang memboroskan kekayaan, maka dengan menjauhi (nasevati) empat belas hal buruk ini, ia adalah seorang pengayom enam arah itu, seorang penakluk (vijaya), yaitu ia akan sejahtera dalam alam ini dan alam berikutnya. Pada saat penghancuran tubuhnya, setelah mati, ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga. Apakah empat kekotoran tingkah laku yang telah ia singkirkan itu? Yaitu membunuh makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berzinah dan berbohong. Apakah empat dorongan yang mendasari perbuatan-perbuatan jahat yang tidak ia lakukan?
Perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan :
- atas dorongan rasa senang sepihak (chanda gati),
- atas dorongan kebencian (dosa gati),
- atas dorongan ketidak-tahuan (moha gati), dan
- atas dorongan rasa takut (bhaya gati).
Tetapi karena para siswa Ariya tidak terseret oleh keempat dorongan-dorongan tersebut, maka ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat.”
Kemudian Sang Buddha menerangkan lebih lanjut :
“Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian atau ketidak-tahuan atau ketakutan telah melanggar Dhamma, maka nama baik dan kemashyurannya akan menjadi pudar, bagaikan bulan yang susut pada masa bulan gelap.”
“Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian atau ketidak-tahuan atau ketakutan telah melanggar Dhamma, maka nama baik dan kemashyurannya akan menjadi pudar, bagaikan bulan yang susut pada masa bulan gelap.”
“Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian, atau ketidak-tahuan atau ketakutan tidak pernah melanggar Dhamma, maka nama baik dan kemashyurannya menjadi sempurna dan penuh, bagaikan bulan purnama pada masa bulan terang.”
“Dan apakah enam saluran yang memboroskan kekayaan itu?” Yaitu :
- Gemar minum minuman yang memabukkan,
- Berkeliaran di jalan pada saat yang tidak pantas,
- Mengejar tempat-tempat hiburan,
- Gemar berjudi,
- Bergaul dengan teman-teman jahat,
- Kebiasaan malas.
“O putera kepala keluarga, terdapat pula enam bahaya karena :
- Gemar minum minuman yang memabukkan, yaitu :
- Kerugian harta secara nyata,
- Bertambahnya pertengkaran,
- Tubuh mudah terserang penyakit,
- Kehilangan sifat yang baik,
- Terlihat tidak sopan,
- Kecerdasan menjadi lemah.
- Berkeliaran di jalan pada saat yang tidak pantas, terdapat enam bahayanya, yaitu:
- Dirinya sendiri tidak terjaga dan tidak terlindung,
- Anak isterinya tidak terjaga dan tidak terlindung,
- Harta kekayaannya tidak terjaga dan tidak terlindung,
- Ia dapat dituduh sebagai pelaku kejahatan-kejahatan yang belum terbukti,
- Menjadi sasaran desas-desus palsu,
- Ia akan menjumpai banyak kesulitan.
- Mengejar tempat-tempat hiburan, bahaya-bahayanya adalah ia akan selalu berpikir :
- Dimanakah ada tari-tarian,
- Dimanakah ada nyanyi-nyanyian,
- Dimanakah ada pertunjukan musik,
- Dimanakah ada pembacaan deklamasi,
- Dimanakah ada permainan tambur,
- Dimanakah ada permainan genderang.
- Gemar berjudi, bahaya-bahayanya adalah :
- Bila menang, ia memperoleh kebencian,
- Bila kalah, ia kehilangan harta kekayaannya,
- Kerugian harta benda secara nyata,
- Di pengadilan kata-katanya tidak berharga,
- Ia dipandang rendah oleh sahabat-sahabat dan pejabat-pejabat pemerintah,
- Ia tidak disukai oleh orang-orang yang akan mencari menantu, karena mereka akan berkata bahwa seorang penjudi tidak dapat memelihara seorang isteri.
- Bergaul dengan teman-teman jahat, bahaya-bahayanya adalah ia menjadi teman dan sahabat dari :
- Setiap penjudi,
- Setiap orang yang gemar berfoya-foya,
- Setiap pemabuk,
- Setiap penipu,
- Setiap orang yang kejam.
- Kebiasaan menganggur (malas), bahaya-bahayanya adalah ia akan selalu berkata:
- ‘Terlalu dingin’ dan ia tidak bekerja,
- ‘Terlalu panas’ dan ia tidak bekerja,
- ‘Terlalu pagi’ dan ia tidak bekerja,
- ‘Terlalu siang’ dan ia tidak bekerja,
- ‘Aku terlalu lapar’ dan ia tidak bekerja,
- ‘Aku terlalu kenyang’ dan ia tidak bekerja.
Dengan demikian semua yang harus ia kerjakan tetap tidak dikerjakan, harta kekayaan baru tidak ia peroleh dan harta kekayaan yang sudah ia miliki menjadi habis.”
Sang Buddha kemudian menerangkan :
“O putera kepala keluarga, terdapat empat macam orang yang harus dianggap musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu :
“O putera kepala keluarga, terdapat empat macam orang yang harus dianggap musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu :
- Orang yang tamak,
- Orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat suatu apapun,
- Penjilat,
- Kawan pemboros.
Terdapat pula empat dasar yang menyebabkan orang yang seharusnya dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu :
- Orang yang tamak, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
- Ia tamak,
- Ia memberi sedikit dan meminta banyak,
- Ia melakukan kewajibannya karena takut,
- Ia hanya ingat akan kepentingannya sendiri.
- Orang yang banyak bicara, tetapi tidak berbuat sesuatu apapun, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
- Ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang lampau,
- Ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang mendatang,
- Ia berusaha untuk mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong,
- Bila ada kesempatan untuk membantu ia mengatakan tidak sanggup.
- Penjilat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
- Ia menyetujui hal-hal yang salah,
- Ia tidak menganjurkan hal-hal yang benar,
- Ia akan memuji dirimu dihadapanmu,
- Ia berbicara jelek tentang dirimu dihadapan orang-orang lain.
- Kawan pemboros mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
- Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar akan minum minuman keras,
- Ia menjadi kawanmu apabila engkau sering berkeliaran di jalan pada waktu yang tidak pantas,
- Ia menjadi kawanmu apabila engkau mengejar tempat-tempat hiburan dan pertunjukkan,
- Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar berjudi.”
Sang Bhagava lalu mengucapkan syair berikut :
“Sahabat yang selalu mencari apa-apa untuk diambil, sahabat yang kata-katanya berlainan dengan perbuatannya, sahabat yang menjilat, lagi pula hanya berusaha membuat engkau senang, sahabat yang gembira dengan cara-cara jahat. Empat ini adalah musuh-musuh. Setelah menyadarinya demikian, biarlah orang bijaksana menghindari mereka dari jauh, seakan mereka jalan yang berbahaya dan menakutkan.”
“Sahabat yang selalu mencari apa-apa untuk diambil, sahabat yang kata-katanya berlainan dengan perbuatannya, sahabat yang menjilat, lagi pula hanya berusaha membuat engkau senang, sahabat yang gembira dengan cara-cara jahat. Empat ini adalah musuh-musuh. Setelah menyadarinya demikian, biarlah orang bijaksana menghindari mereka dari jauh, seakan mereka jalan yang berbahaya dan menakutkan.”
“O putera kepala keluarga, terdapat empat macam sahabat yang harus dipandang berhati tulus (suhada), yaitu :
- Sahabat penolong,
- Sahabat pada waktu senang dan susah,
- Sahabat yang memberi nasehat yang baik,
- Sahabat yang bersimpati.
Atas empat dasar inilah sahabat penolong harus dipandang berhati tulus:
- Sahabat penolong berhati tulus karena :
- Ia menjaga dirimu sewaktu engkau lengah,
- Ia menjaga milikmu sewaktu engkau lengah,
- Ia menjadi pelindung dirimu sewaktu engkau dalam ketakutan,
- Ia memberikan bantuan dua kali daripada apa yang engkau perlukan. - Sahabat pada waktu senang dan susah berhati tulus karena :
- Ia menceritakan rahasia-rahasia dirinya kepadamu,
- Ia menjaga rahasia dirimu,
- Ia tidak akan meninggalkan dirimu sewaktu engkau berada dalam kesulitan
- Ia bahkan bersedia mengorbankan hidupnya demi kepentinganmu. - Sahabat yang memberi nasehat yang baik, berhati tulus karena :
- Ia mencegah engkau berbuat jahat,
- Ia menganjurkan engkau untuk berbuat yang benar,
- Ia memberitahukan apa yang belum engkau pernah dengar,
- Ia menunjukkan engkau jalan ke surga. - Sahabat yang bersimpati, berhati tulus karena :
- Ia tidak bergembira atas kesengsaraanmu,
- Ia merasa senang atas kesejahteraanmu,
- Ia mencegah orang lain berbicara jelek tentang dirimu,
- Ia membenarkan orang lain yang memuji dirimu.
“O putera kepala keluarga, bagaimanakah caranya siswa Ariya melindungi enam arah itu?
Enam arah itu harus dipandang sebagai berikut :
Enam arah itu harus dipandang sebagai berikut :
- Ibu dan ayah seperti arah Timur,
- Para guru seperti arah Selatan,
- Isteri dan anak-anak seperti arah Barat,
- Sahabat-sahabat dan kawan-kawan seperti arah Utara,
- Pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan seperti arah bawah,
- Guru-guru agama dan brahmana-brahmana seperti arah atas,
“AnakKu, Sigala, putera kepala keluarga, dengarkanlah baik-baik keterangan ini :
- Ibu dan ayah seperti arah Timur.
Ada lima cara seorang anak harus memperlakukan orang tuanya seperti arah
Timur :
- Aku harus merawat mereka,
- Aku akan memikul beban kewajiban-kewajiban mereka,
- Aku akan mempertahankan keturunan dan tradisi keluarga,
- Aku akan menjadikan diriku pantas menerima warisan,
- Aku akan melakukan perbuatan-perbuatan baik dan upacara agama setelah mereka meninggal duniaDalam lima cara inilah, orang tua yang diperlakukan demikian oleh seorang anak seperti arah Timur, menunjukkan kecintaan mereka kepadanya dengan:
- Mencegah anaknya berbuat jahat,
- Mendorong mereka berbuat baik,
- Melatihnya dalam suatu profesi,
- Mencarikan pasangan (suami/isteri) yang pantas,
- Pada waktu yang tepat, mereka menyerahkan warisan kepada anaknya.O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang anak memperlakukan orang tuanya seperti arah Timur. Dalam lima cara inilah orang tua menunjukkan kecintaan mereka kepadanya. Demikianlah arah Timur ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya. - Para guru seperti arah Selatan.
Ada lima cara siswa-siswa harus memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan :
- Dengan bangkit (dari tempat duduk untuk memberi hormat),
- Dengan melayani mereka,
- Dengan bersemangat untuk belajar,
- Dengan memberikan jasa-jasa kepada mereka,
- Dengan memberikan perhatian sewaktu menerima ajaran dari mereka.Dalam lima cara inilah, guru-guru yang diperlakukan demikian oleh siswa-siswa mereka seperti arah Selatan, akan mencintai siswa-siswanya dengan:
- Melatihnya sedemikian rupa sehingga ia selalu baik,
- Membuatnya menguasai apa yang telah diajarkan,
- Mengajarnya secara menyeluruh dalam berbagai ilmu dan seni,
- Berbicara baik tentang dirinya di antara sahabat-sahabatnya dan kawan-kawannya,
- Menjaga keselamatannya di semua tempat.O putera kepala keluarga, dengan lima cara inilah siswa-siswa memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan. Dalam lima cara inilah guru-buru mencintai siswa-siswa mereka. Demikianlah arah Selatan ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya. - Isteri dan anak-anak seperti arah Barat.
Dengan lima cara seorang isteri harus diperlakukan oleh suaminya seperti arah Barat :
- Dengan menghormati,
- Dengan bersikap ramah-tamah,
- Dengan kesetiaan,
- Dengan menyerahkan kekuasaan rumah-tangga kepadanya,
- Dengan memberikan barang-barang perhiasan kepadanya.Dengan enam cara inilah, seorang isteri yang diperlakukan demikian oleh suaminya seperti arah Barat dengan :
- Mencintainya,
- Menjalankan kewajiban-kewajibannya dengan baik,
- Bersikap ramah-tamah terhadap sanak-keluarga kedua belah pihak,
- Dengan kesetiaan,
- Dengan menjaga barang-barang yang diberikan suaminya,
- Pandai dan rajin dalam melaksanakan segala tanggung-jawabnya.O putera kepala keluarga, dengan lima cara inilah seorang suami memperlakukan isterinya seperti arah Barat. Dalam enam cara inilah seorang isteri mencintai suaminya. Demikianlah arah Barat ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya. - Sahabat-sahabat dan kawan-kawan seperti arah Utara.
Dengan lima cara seorang warga keluarga memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah Utara dengan :
- Bermurah hati,
- Berlaku ramah,
- Memberikan bantuan,
- Memperlakukan mereka seperti ia memperlakukan dirinya sendiri,
- Berbuat sebaik ucapannya.Dalam lima cara inilah, o putera kepala keluarga, sahabat-sahabat dan kawan-kawan yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah Utara, mencintainya dengan :
- Mereka melindunginya sewaktu ia lengah,
- Mereka melindungi harta miliknya sewaktu ia lengah,
- Mereka menjadi pelindung sewaktu ia berada dalam bahaya,
- Mereka tidak akan meninggalkannya sewaktu ia sedang dalam kesulitan,
- Mereka menghormati keluarganya.O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah Utara. Dalam lima cara inilah sahabat-sahabat dan kawan-kawan mencintainya. Demikianlah arah Utara ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya. - Pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan seperti arah bawah.
Dalam lima cara seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah :
- Dengan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka,
- Dengan memberikan mereka makanan dan upah,
- Dengan merawat mereka sewaktu mereka sakit,
- Dengan membagi barang-barang kebutuhan hidupnya,
- Dengan memberikan cuti pada waktu-waktu tertentu.Dalam lima cara inilah, o putera kepala keluarga, pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan yang diperlakukan demikian oleh majikan seperti arah bawah, akan mencintainya dengan cara :
- Mereka bangun lebih pagi daripadanya,
- Mereka merebahkan diri untuk beristirahat setelahnya,
- Mereka puas dengan apa yang diberikan kepada mereka,
- Mereka melakukan kewajiban-kewajiban mereka dengan baik,
- Dimanapun mereka berada mereka akan memuji majikannya, memuji keharuman namanya.O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah. Dalam lima cara inilah pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan mencintainya.
Demikianlah arah bawah ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya. - Guru-guru agama dan brahmana-brahmana seperti arah atas.
Dalam lima cara seorang warga keluarga harus memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas :
- Dengan cinta kasih dalam perbuatan,
- Dengan cinta kasih dalam perkataan,
- Dengan cinta kasih dalam pikiran,
- Membuka pintu rumah bagi mereka (mempersilahkan mereka),
- Menunjang kebutuhan hidup mereka pada waktu-waktu tertentu.Dalam enam cara inilah, o putera kepala keluarga, para pertapa dan brahmana yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah atas, akan menunjukkan kecintaan mereka :
- Mereka mencegah ia berbuat jahat,
- Mereka menganjurkan ia barbuat baik,
- Mereka mencintainya dengan pikiran penuh kasih sayang,
- Mereka mengajarkan apa yang belum pernah ia dengar,
- Mereka membenarkan dan memurnikan apa yang pernah ia dengar,
- Mereka menunjukkan ia jalan ke surga.O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas. Dalam enam cara inilah para pertapa dan brahmana menunjukkan kecintaan mereka kepadanya.
Demikianlah arah atas ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.”Setelah Beliau selesai berkata demikian, Sigala, putera kepala keluarga itu, berkata dengan amat gembira :
“Sungguh mengagumkan, Yang Mulia! Sungguh mengagumkan, Yang Mulia! Sama halnya seperti seseorang menegakkan kembali apa yang telah roboh, memperlihatkan apa yang tersembunyi, menunjukkkan jalan benar kepada yang tersesat, atau memberikan cahaya dalam kegelapan, agar mereka yang mempunyai mata dapat melihat benda-benda di sekitarnya. Demikian pula, dengan berbagai macam cara Dhamma telah dibabarkan oleh Sang Bhagava kepada saya. Dan sekarang, Yang Mulia, saya menyatakan berlindung kepada Buddha, Dhamma serta Sangha. Semoga Yang Mulia berkenan menerima saya sebagai seorang upasaka, yang sejak hari ini sampai selama-lamanya telah menyatakan berlindung kepada Buddha, Dhamma serta Sangha.”
Sabtu, 01 Oktober 2011
game buddhist
Kaki seribu
Sasaran : Mencairkan kebekuan
Kegiatan :
Peserta/regu membentuk barisan binatang kaki seribu, saling memegang pundak teman di depannya dan berjalan santai, riang dan gembira. Pembina menjadi kepalanya dan pembantu pembina menjadi ekornya Sambil bernyanyi-nyanyi gembira, pembina membawa peserta berjalan keliling arena permainan. Pada saat tertentu pembina berhenti berada di dalam lingkaran. para peserta lalu membentuk lingkaran spiral (seperti obat nyamuk) yang makin mengecil. Jika sudah padat di dalam, pembina bergerak ke luar dari lingkaran, yakni dengan cara melawan arus, membentuk lingkaran besar kembali. Selam berjalan-jalan membuat gerakan atau gaya-gaya yang lucu dan bernyanyi bersama.
Panen singkong
Sasaran : Riang, Akrab
Kegiatan :
Para peserta duduk dan melepaskan sepatunya. Masing-masing sepatu diserahkan kepada pembantu pembina, dan dikumPulkan (ditumpuk, diaduk hingga bercampur) di suatu tempat agak jauh dari peserta duduk melingkar. Sebelum pembina memberi aba-aba, para peserta diajak menyanyikan lagu-lagu gembira dan bertepuk tangan. Pada saat pembina memberi aba-aba, para peserta lari mengambil sepatunya masing-masing, kemudian kembali duduk di tempatnya semula dan meletakkan sepatu masing-masing di depannya. Sambil tetap bernyanyi, pembina memberikan aba-aba agar sepatu masing-masing dipindahkan ke sebelah kanan temannya, berlangsung terus sampai sepatu jauh dari pemiliknya. Setelah dibunyikan tanda kembali, peserta berusaha mencari sepatunya dan setelah ditemukan langsung dipakai kembali. Regu/kelompok yang selesailebih dahulu dan rapi mengenakan sepatunya dinggap sebagai pemenang.
Memetik buah
Sasaran : Ketrampilan, kerjasama
Bentuk : Lomba
Alat : Gambar buah-buahan sebanyak 2 jenis untuk tiap regu digunting / dipotong - potong menjadi 8 bagian yang tidak sama bentuk dan ukurannya. Amplop, lem, kertas untuk tempat menempelkan gambar.
Kegiatan :
Gambar yang telah dipotong-potong (2 jenis buah-buahan) dimasukkan amplop, secara diaduk. Regu membentuk setengah lingkaran, dan ditengah diletakkan amplop, kertas dan lem. Setelah tanda dimulai, masing-masing regu membuka amplop dan menyusun gambar buah-buahan tersebut menjadi bentuk yang utuh (2 gambar). Setelah selesai gambar tersebut direkatkan pada kertas secara bersih dan rapih. Regu yang cepat selesai dan karyanya bagus, bersih dan rapih menjadi juara.
Menangkap belut
Sasaran : Kerjasama
Kegiatan :
Salah satu anggota regu menjadi penangkap belut. Regu lainnya menjadi belut, berpegangan pinggang di depannya bergerak seperti belut. Peserta yang paling depan dari tiap belut, tidak ditutup matanya, anggota lainnya ditutup matanya dengan kain. Pembina bercerita bahwa mereka akan menangkapbelut pada malam hari, dan ketika tanda mulai diberikan penangkap belut berusaha menangkap ekornya. Belut berusaha menghindar, dan yang tertangkap dinyatkan kalah.
Pedagang sayuran
Sasaran : Pengayaan wawasan
Alat : Karton ukuran 11 x 30 cm warna-warni ditulis dengan spidol jenis sayuran, misalkan kangkung, bayam, terong, toge, dll.
Bentuk : Lomba
Kegiatan :
Peserta dalam posisi lomba, sekitar 3 meter di depannya diletakkan karton yang telah berisi tulisan nama sayuran (setiap regu satu karton), dalam posisi tertutup/dibalik hingga tidak terbaca. Setelah diberi aba-aba, masing-masing regu menuju tempat karton, dan karton dibalik agar terbaca nama sayurannya. Tugas regu adaah berusaha mencari benda-benda yang disekitarnya (dapat dibawa) dimana huruf awal dari benda-benda itu jika disusun menjadi nama sayuran, misalkan: BATU, huruf awalnya B dst. Benda-benda tersebut disusun didepan regunya, yang selesai terlebih dahulu dinyatakan pemenang
Roda tiga
Sasaran : Mencairkan kebekuan
Kegiatan :
Peserta dibagi dalam dua kelompok. Masing-masing kelompok berdiri di belakang garis start berjarak sekitar 6 meter dari garis finish. Dalam tiap kelompok, peserta berpasangan, dua orang dengan kaki sebelah diikat (kaki kiri dan kaki kanan diikat), sehingga berjalan dengan tiga kaki. Setelah siap, pembina memberi aba-aba mulai dan tiap pasangan dalam kelompoknya berjalan atau berlari bila mungkin menuju garis finis, dan setelah sampai lalu kembali ke garis start. Peserta yang terjatuh atau lepas ikatannya dikurangi nilai kelompoknya.
Haling rintang
Sasaran : Konsentrasi, daya ingat
Alat : Ember plastik kosong. batu, bola atau benda lain yang tidak membahayakan jika terinjak, kelereng, sapu tangan/kain untuk menutup mata
Kegiatan :
Peserta/regu dalam formasi lomba, berdiri di belakang garis start. Didepan setiap regu diletakkan ember kosong berjarak sekitar 6 meter. Batu, bola dan benda lain di sebarkan di arena dan diatur sedemikian rupa. Peserta dalam regu masing-masing ditutup matanya dengan sapu tangan dan tiap peserta memegang kelereng. Setelah semua siap, pembina membunyikan tanda dimulai. Peserta paling depan berjalan ke arah ember, setelah sampai peserta harus memasukkan kelereng dalam ember. Peserta berikutnya berjalan ke arah ember dan melakukan tugasnya, begitu seterusnya hingga peserta terakhir. Peserta yang telah menyelesaikan tugasnya boleh membuka saputangan, dan membantu memndu temannya agar tidak menginjak rintangan dan diarahkan tepat di depan ember agar dapat memasukkan kelereng Regu yang sedikit melakukan pelanggaran (menginjak rintangan) nilai dikurangi, dan regu yang sedikit melanggar dan banyak memasukan kelereng menjadi pemenang.
Bengkel sepeda
Sasaran : Ketrampilan, kerja sama
Alat : Band dalam sepeda dan pompa
Kegiatan :
Setiap regu disediakan suku cadang dan peralatannya sebagai berikut: - sebuah ban dalam yang belum dipompa - pentil ban dengan kelengkapannya - pompa sepeda Setelah siap, pembina memberi aba-aba mulai. Peserta bekerja dalam regunya, memasang pentil sepeda ke dalam ban dan memompanya. Bila ban sudah keras dipompa, maka regu membuat bentuk barisan berbanjar ke belakang, masing-masing peserta berjarak satu meter. Ban dalam tersebut secara bergantian dilemparkan ke belakang hingga masuk ke dalam, badan peserta. Regu yang pertama selesai dinyatakan sebagai pemenang.
Kecepatan waktu
Sasaran : Ketrampilan membaca jam
Alat : Jam karton
Kegiatan :
Setiap regu disediakan jam yang terbuat dari karton Regu dalam formasi lomba, di depan setiap regi disediakan jam karton. Salah seorang peserta berdiri di dekat jam dan siap menyebutkan jam berapa yang dibuat oleh temannya secara bergantian. Sebelumnya pembina membagikan kertas bertuliskan jam berapa yang harus ditunjukkan melalui jam karton tersebut. Misalnya jam 10.05, dsb. Regu yang paling banyak benarnya dinyatakan sebagai pemenang.
Balap sepeda
Sasaran : Akarab, riang gembira, trampil
Alat : Sepasang papan ukuran 15 x 20 cm untuk setiap regu
Kegiatan :
Regu dalam posisi lomba, berdiri di belakang garis start yang berjarak sekitar 5 meter dari garis finish. Papan diletakkan di depan regu yang berdiri berjajar. Pembina memberi tanda mulai, maka peserta paling depan berjalan dengan memakai papan sebagai alas hingga garis finish dan kembali lagi ke garis start. Peserta berikutnya melakukan hal yang sama hingga peserta terakhir. Pembina mencatat peserta yang melakukan kesalahan, misalnya kakinya menyentuh tanah, terjatuh, dsb. Regu yang sedikit melakukan kesalahan dan tiba lebih dahulu dinyatakan sebagai pemenang.
Adu ayam
Sasaran : Mencairkan kebekuan
Kegiatan :
Regu dalam formasi lomba, setiap peserta harus bersiap-siap menghadapi lawan dari regu lainnya. Untuk itu pilihlah lawan yang sama besar dan sama kuat, kemudian berdiri berhadap-hadapan. Tangan kiri ditekuk ke belakang menempel pada pinggang, tangan kanan lurus ke belakang dan tangan kiri memegang siku-siku tangan kanan. Kaki sebelah kiri diangkat dan dipegang oleh tangan kanan. Setelah semua siap, dan masing-masing siaga sudah berhadap-hadapan, pada saat pembina memberi tanda mulai, peserta harus saling mendorong lawannya dengan menggunakan badan. Peserta yang kaki kirinya menginjak tanah atau terjatuh dinyatkan kalah, sedangkan yang menang memperoleh nilai satu. Peserta berikutnya bersiap-siap untuk menghadapi lawan berikutnya, begitu seterusnya hingga peserta terakhir. Regu yang banyak mengumpulkan nilai, dinyatakan sebagai pemenang.
Super market
Sasaran : Kecerdasan, kerjasama
Alat : Gambar-gambar alat dapur sebanyak 10 buah
Kegiatan :
Peserta bekerja dalam regunya, gambar-gambar peralatan memasak yang diletakkan terbalik pada jarak sekitar 4 meter dari tiap regu. Pada saat pembina memberi tanda mulai, secara bergantian tiap peserta dalam regu menuju ke tumpukan gambar dan melihatnya selama satu menit. Setelah itu kembali ke regunya dan tiap peserta membuat gambar satu macam alat dapur yang diingatnya Setelah seluruhnya selesai, gambar digelar untuk penilaian, yang terbaik diberi penghargaan.
Menu lansia
Sasaran : Kecerdasan, Kerjasama.
Alat : Kertas HVS dan Spidol
Kegiatan :
Semua regu dalam formasi lomba, di depan setiap regu diletakkan kertas dan spidol Masing-masing regu mendapat tugas membuat menu untuk lansia (lanjut usia) yaitu: - bubur ayam - bubur kacang hijau - bubur merah putih - bubur ketan hitam Setelah pembina memberi tanda mulai, setiap anggota regu secara bergantian berlari ke arah kertas dan spidol serta menuliskan bahan pembuiat makanan lansia yang ditugaskan Regu yang paling cepat selesai dan benar membuat bubur menjadi pemenang.
Nasi bungkus
Sasaran : Riang, akrab
Kegiatan :
Peserta duduk dalam lingkaran besar, Pembina berada di tengahdan bercerita tentang nasi bungkus yang isinya berupa rendang daging, ayam goreng, dadar telur, dan tahu tempe. Setelah diberi penjelasan cara bermainnya, jika Pembina menyebut: - rendang, maka peserta cepat berdiri - ayam goreng, maka peserta jongkok - dadar telur, maka peserta balik kanan - tahu tempe, semuanya berteriak Ou Sehat. Yang membuat kesalahan dalam gerakan dikenakan sangsi dengan menari, melawak, menangis, dll. Untuk mengacaukan permainan, bisa disbutkan kata-kata yang keliru, misalnya: - rendang tempe - dadar ayam - telur goreng dan sebagainya
Ikan asin
Sasaran : Imajinasi, kreativitas
Alat : Kertas gambar, pensil warna, spidol atau krayon
Kegiatan :
Peserta bekerja masing-masing dalam regunya, membuat bentuk ikan yang dapat dibuat menjadi ikan asin dari kertas gambar. Membuatnya tanpa bantuan alat (gunting) cukup dengan tangan dan setelah selesai diberi warna. Kemudian hasil karya dijajarkan sperti orng menjemur ikan asin Peserta yang karyanya terbaik mendpat penghargaan.
astronot
Sasaran : Mencairkan kebekuan
Alat : Tali pramuka
Kegiatan :
Pembina dan pembantu pembina menyiapkan 2 utas tali pramuka sepanjang 4 meter Setiap regu ditunjuk 2 orang peserta, sedangkan peserta lainnya menyebar dalam arena yang dibatasi Pembina dan pembantu pembina mengikat tali pramuka pada pinggang kedua siaga, yang kedua ujungnya dipegang oleh pembina, diibaratkan sebagai pesawat ruang angkasa. Peserta yang lain berdiri bebas dalam arena yang dibatasi, diibaratkan sebagai benda-benda angkasa, seperti meteor, komet dan sebagainya. Setelah diberikan aba-aba, maka peserta yang menjadi pesawat ruang angkasa yang dikendalikan pembina mengejar peserta yang lain (meteor, komet) yang berlari menghindar. Jika mereka tertangkap oleh pesawat ruang angkasa atau bertabrakan dengan sesama meteor atau benda ruang angkasa lainnya, keluar dari permainan. Permainan dapat diulang kembali dengan mengganti peserta permainan.
Bukit maria
Sasaran : Kecerdasan, daya kreasi
Alat : Gambar-gambar alat-alat transpotasi dari yang tradisional sampai yang canggih, kertas HVS, lem.
Kegiatan :
Setiap regu diberi kertas HVS dan Spidol untuk membuat alat-alat transpotasi yang diinginkan. Peserta dalam formasi lomba. Pemimpin regu di depan membuat rangkaian transpotasi yang telah dibuat untuk berjalan di antara lereng pegunungan. Setelah siap, diberi tanda mulai dan regu berjalan ke depan sambil bernynyi, jika mendengan pembina berseru: - Merapi, Regu berhenti (jika diberi tanda mulai) berjalan lagi. - Merbabu, Regu berjalan mundur ke belakang - Muria, semua peserta berjongkok Peserta yang membuat kesalahan keluar dari permainan dn jika seluruh Regu membuat kesalahan diberi sangsi, misalnya joget, menyanti, tertawa, menangis bersama.
Pasar senggol
Sasaran : Kecerdasan, ketelitian
Alat : Karton warna-warni, spidol.
Kegiatan :
Karton dengan ukuran 8 x 20 cm ditulis dengan spidol nama sayur-sayuran, buah-buahan dan bumbu dapur yang dijual di pasar Nama-nama tersebut ditulis terbalik-balik atau dikacau, misalnya: lomen (melon), juhia beca (cabe hijau), caleun (leunca), istare (terasi), dll. Letakkan karton di empat penjuru dalam lingkaran besar dengan raduis 6 meter, tiap pos berisi 10 macam nama sayur-mayur, buah-buahan dan bumbu dapur, dicampur aduk dan keadan terbalik. Metode permainan adalah berganti pangkalan dan setiap regu menempati satu pos, setelah selesai menuju pos berikutnya. Setelah diberi tanda mulai, karton dibalik dan regu mencatat nama-nama yang tercantum dalam karton. Setelah satu menit, pembina yang berdiri di tengah lingkaran membunyikan peluit agar regu berpindah ke pos berikutnya searah jarum jam. Setelah seluruh pos disinggahi, regu lapor kepada pembina tentang barang-barang yang dijual di pasar senggol dan regu yang banyak mendapat nama-nama yang benar mendapat penghargaan.
Sumur timba
Sasaran : Kosentrasi, kerjasama
Alat : Ember plastik, botol, sendok
Kegiatan :
Semua peserta dalam formasi lomba, di depan setiap regu diletakkan ember palstik kecil yang berisi air, botol, dan sendok, yang jaraknya sekitar 5 meter. Peserta dalam regu masing-masing berbaris ke belakang berdiri di belakang garis Setelah pembina memberi tanda dimulai, peserta paling depan berlari ke arah ember, lalu mengambil air dengan sendok dan dimasukkan ke dalam botol. Setelah selesai kembali ke belakang barisan, peserta berikutnya melaksanakan tugas yang sama hingga peserta yang terakhir. Pembina mengukur seberapa banyak isi air dalam botol, regu yang paling banyak mengisi botol, dinyatakan sebagai pemenang.
Meramu jamu
Sasaran : Kerjasama, kerapihan
Alat : Tempat obat bekas dari plastik dan air diberi zat warna
Kegiatan :
Semua peserta dalam formasi lomba, di depan setiap regu, berjarak 5 meter, diletakkan satu botol plastik besar berisi cairan dan botol plastik kecil kosong. Setelah diberi tanda dimulai, peserta paling depan berlari menuju botol lalu menuangkan cairan dalam botol besar ke botol kecil, kembali ke regunya dengan berjalan mundur. Peserta berikutnya melakukan hal yang sama dan kembali dengan berlari dengan kaki sebelah.Demikian seterusnya sampai peserta terakhir, yang paling cepat dan cairan tidak tumpah, dinyatakahan sebagai pemenang.
Kamis, 21 April 2011
SILSILAH BUDDHA
- BUDDHA DIPANKARA
- BUDDHA KONDANNA
- BUDDHA MANGALA
- BUDDHA SUMANA
- BUDDHA REVATA
- BUDDHA SOBHITA
- BUDDHA ANOMADASSI
- BUDDHA PADUMA
- BUDDHA NARADA
- BUDDHA PADUMUTTARA
- BUDDHA SUMEDHA
- BUDDHA SUJATA
- BUDDHA PIYADASSI
- BUDDHA ATTHADASSI
- BUDDHA DHAMMADASSI
- BUDDHA SIDDHATTA
- BUDDHA TISSA
- BUDDHA PHUSSA
- BUDDHA VIPASSI
- BUDDHA SIKHI
- BUDDHAVESSABHU
- BUDDHA KAKUSANDHA
- BUDDHA KONAGAMANA
- BUDDHA KASSAPA
- BUDDHA ANGIRASA
- BUDDHA GOTAMA
Dan dimasa yang akan datang akan lahir BUDDHA MATREYA
40 objek meditasi samanta bhavana
- 10 kasina (wujud benda untuk perenungan)
Ø Pathavasi kasina (wujud tanah)
Ø Apo kasina (wujud air)
Ø Tejo kasina (wujud api)
Ø Vayo kasina (wujud udara atau angin)
Ø Nila kasina (wujud warna biru)
Ø Pita kasina (wujud warna kuning)
Ø Lohita kasina (wujud warna merah)
Ø Odata kasina (wujud warna putih)
Ø Aloka kasina (wujud cahaya)
Ø Akasa kasina (wujud ruangan terbatas)
- 10 asubha (ketidak murnian)
Ø Uddhumataka (wujud mayat yang membengkak)
Ø Vinilaka (wujud mayat yang berwarna kebiruan)
Ø Vupubbaka (wujud mayat yang bernanah)
Ø Vicchiddaka (wujud mayat yang tebelah ditengah)
Ø Vikkahayitaka (wujud mayat yang dicabik cabik binatang buas)
Ø Vikkhittaka (wujud mayat yang telah hancur/berserakan)
Ø Hatavikkhittaka (wujud mayat yang membusuk dan hancur)
Ø Lohitaka (wujud mayat yang berlumuran darah)
Ø Puluvaka (wujud mayat yang dikerubungi belatung)
Ø Atthika (wujud mayat yang telah menjadi tengkorak)
- 10 anussati (perenungan)
Ø Buddhanussati (perenungan terhadap kualitas kualitas buddha)
Ø Dhammanussati (perenungan terhadap kualitas kualitas dhamma)
Ø Sanghanussati (perenungan terhadap kualitas kualitas sangha)
Ø Silanussati (perenungan terhadap sila)
Ø Caganussati (perenungan terhadap dana/kemurahan hati)
Ø Devatanussati (perenungan terhadap kualitas kualitas dewa)
Ø Marananussati (perenungan terhadap kematian yang akan dialami)
Ø Kayagatanussati (perenungan terhadap kekotoran jasmani,yang terdiri dari 30 bagian)
Ø Anapanassati (perenungan terhadap keluar masuknya nafas)
Ø Upasamanussati (perenungan terhadap kebebasan)
- 4 brahmavihara (batin yang luhur)
Ø Metta (cintakasih yang universal kepada semua mahluk)
Ø Karuna (belas kasih universal kapada semua mahluk)
Ø Mudita (perasaan simpati atas keberhasilan dan kebahagian semua mahluk)
Ø Upekkha (keseimbangan batin)
- 4 arupayatana (arupa)
Ø Kasinugaghatimakasapattati (perenungan terhadap objek yang sudah keluar dari kasina)
Ø Akasanatcayatana-citta (perenungan terhadap objek kesadaran tanpa batas)
Ø Natthibhavapattati (perenungan terhadap objek kekosongan)
Ø Akincattatana citta (perenungan terhadap objek bukan pencerapan)
- aharepatikulasatta (renungan terhadap makanan yang menjijikan)
dalam meditasi ini meditator merenungkan bahwa makanan adalah barang yang menjijikan bila telah berada didalam perut.perenungan dilakukan hingga kejijikan dirasakan.
- catudhatuvavatthana(analisa atas empat unsur)
dalam meditasi ini meditator merenungkan terhadap unsur tanah,air,api,dan angin.
Langganan:
Postingan (Atom)