Minggu, 02 Oktober 2011

LAKKHANA SUTTA


Bagian I

Demikian yang saya dengar.
  1. Pada suatu ketika Sang Bhagava berada di Jetavana, Anathapindika arama, dekat kota Savatthi. Di sana Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu.” “Ya, Bhante,” jawab para bhikkhu. Selanjutnya Sang Bhagava berkata:
    “Para bhikkhu, seorang Manusia Agung (Maha Purisa) memiliki 32 tanda (lakkhana). Bagi Maha Purisa yang memiliki 32 lakkhana ini hanya ada dua kemungkinan cara hidupnya dan tidak ada yang lain. Jika ia hidup sebagai manusia biasa, maka ia akan menjadi raja dunia (cakkavati), raja berdasarkan raja-dhamma, penguasa empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyat, pemilik tujuh ratna. Tujuh ratna itu adalah: cakka, gajah, kuda, permata, wanita, kepala rumah tangga dan panglima perang. Memiliki banyak anak yang gagah perkasa dan penakluk musuh. Namun ia akan menaklukkan muka bumi bukan dengan pedang tetapi dengan kebenaran. Bilamana ia meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi tanpa berumah tangga (pabbajja), maka ia akan menjadi Arahat Samma Sambuddha.
  2. Para bhikkhu, apakah 32 Maha Purisa Lakkhana yang menyebabkan hanya ada dua kemungkinan cara hidupnya dan tidak ada yang lain, jika ia hidup sebagai manusia biasa, maka ia akan menjadi raja dunia (cakkavati), … maka ia akan menjadi Arahat Samma Sambuddha; yaitu:
    1. Telapak kaki rata (suppatitthita-pado). Ini merupakan satu lakkhana dari Maha Purissa.
    2. Pada telapak kakinya terdapat cakra dengan seribu ruji, lingkaran dan pusat dalam bentuk sempurna.
    3. Tumit yang bagus (ayatapanhi).
    4. Jari-jari panjang (digha-anguli)
    5. Tangan dan kaki yang lembut serta halus (mudutaluna).
    6. Tangan dan kaki bagaikan jala (jala-hattha-pado).
    7. Pergelangan kaki yang agak tinggi (ussankha-pado).
    8. Kaki yang bagaikan kaki kijang (enijanghi)
    9. Kedua tangan dapat menyentuh atau menggosok kedua lutut tanpa membungkukkan badan.
    10. Kemaluan terbungkus selaput (kosohitavattha-guyho).
    11. Kulitnya bagaikan perunggu berwarna emas (suvannavanno)
    12. Kulitnya sangat lembut dan halus / sehingga tidak ada debu yang dapat melekat pada kulit
    13. Pada setiap pori kulit ditumbuhi sehelai bulu roma.
    14. Rambut yang tumbuh pada pori-pori berwarna biru-hitam.
    15. Potongan tubuh yang agung (brahmuiu-gatta).
    16. Tujuh tonjolan (sattussado), yaitu pada kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu dan badan.
    17. Dada bagaikan dada singa (sihapubbaddha kayo).
    18. Pada kedua bahunya tak ada lekukan (citantaramso).
    19. Tinggi badan sama dengan panjang rentangan kedua tangan, bagaikan pohon (beringin), Nigroda.
    20. Dada yang sama lebarnya (samavattakkhandho).
    21. Indera perasa sangat peka (rasaggasaggi).
    22. Rahang bagaikan rahang singa (siha-banu).
    23. Empat puluh buah gigi (cattarisa-danto).
    24. Gigi-geligi rata (sama-danto).
    25. Antara gigi-gigi tak ada celah (avivara-danto).
    26. Gigi putih bersih (susukka-datho).
    27. Lidah panjang (pahuta-jivha).
    28. Suara bagaikan suara-brahma, seperti suara burung Karavika.
    29. Mata biru (abhinila netto).
    30. Bulu mata lentik, bagaikan bulu mata sapi (gopakhumo).
    31. Di antara alis-alis mata tumbuh sehelai rambut halus, putih bagaikan kapas yang lembut.
    32. Kepala bagaikan berserban (unhisasiso).
  3. Para bhikkhu, inilah 32 Maha Purisa lakkhana, yang hanya ada dua kemungkinan cara hidupnya dan tidak ada yang lain, jika ia hidup sebagai manusia biasa ia akan menjadi raja dunia (cakkavati), … maka ia akan menjadi Arahat Samma Sambuddha. Maha Purisa lakkhana ini diketahui oleh para pertapa, tetapi mereka tidak tahu karena apa yang menghasilkan Maha Purisa lakkhana itu.
    1. Telapak Kaki Rata (Suppatitthita-pado)
  4. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia yang melakukan perbuatan-perbuatan besar dengan maksud yang baik; tak tergoncangkan melakukan perbuatan baik melalui jasmani, ucapan dan pikiran, dermawan, disiplin diri, melaksanakan hari uposatha; menghormati orang tua, para pertapa, pendeta dan para pemimpin, serta melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat terpuji lainnya. Karena melakukan perbuatan-perbuatan baik seperti itu, menimbun dan mengumpul kamma-kamma baik, setelah ia meninggal dunia, ia terlahir kembali di alam bahagia, di alam surga, hidup melebihi dewa lain dalam sepuluh hal, yaitu: lamanya kehidupan surga, keindahan, kebahagiaan, kemegahan, pengaruh, penglihatan, pendengaran, pembauan, pengecapnya dan sentuhan (kontak). Setelah meninggal di alam surga, ia terlahir kembali di alam ini sebagai manusia dengan memiliki maha purissa lakkhana: (1) Telapak kaki rata (Suppatitthita-pado), sehingga ia menempatkan telapak kakinya rata di tanah, mengangkatnya sama rata, dan menyentuh tanah sama rata dengan semua telapak kakinya.
  5. Dengan memiliki ini, jika ia hidup berumah-tangga ia akan menjadi raja cakkavati … penakluk bukan dengan tombak atau pedang melainkan dengan kebenaran (dhamma), ia menguasai dunia ini sampai ke batas lautan, kerajaan yang bebas dari penjahat, kuat, sejahtera, bahagia dan bebas dari bencana. Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Ia tidak akan terganggu oleh kemauan jahat manusia. Bilamana ia meninggalkan kehidupan dunia (sebagai pertapa), ia akan menjadi Samma Sambuddha … Apa manfaat yang didapatnya sebagai Samma Sambuddha? Ia tidak dapat diganggu oleh: musuh atau gangguan dari dalam maupun luar, keserakahan, kebencian dan kebodohan, pertapa, brahmana, dewa, mara, brahma atau makhluk apa pun di dunia ini. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  6. Mengenai hal ini disebutkan:
    “Kejujuran, kebenaran, jinak dan sepi,
    Murni dan bermoral (sila, melaksanakan uposatha sila)
    Berdana, tak melukai, selalu damai
    Ia melaksanakan tugas maha besar ini
    Pada akhir hidupnya ia ke surga
    Hidup dengan gembira dan bahagia
    Terlahir kembali di bumi
    Dengan telapak kaki rata menyentuh tanah
    Para ahli menyatakan:
    “Bagi dia yang menapak rata di tanah,
    Tak ada gangguan yang dapat menghalangi jalannya,
    Jikalau ia hidup berumah-tangga,
    Atau jikalau ia meninggalkan kehidupan duniawi.
    Inilah tanda yang jelas menunjukkannya
    Sebagai orang biasa, tidak ada halangan,
    Tidak ada lawan yang dapat melawannya.
    Tidak ada kekuatan manusia yang dapat
    Menghilangkan buah kammanya.
    Atau jikalau ia memilih kehidupan tanpa berumah-tangga
    Meninggalkan kehidupan duniawi, dengan pandangan jelas — ia akan menjadi pemimpin manusia
    Tanpa bandingan, tak akan terlahir kembali:
    Inilah hukum (dhammata) baginya.”
    2) Telapak kaki terdapat cakra dengan seribu ruji, lingkaran dan pusat dalam bentuk yang sempurna.
  7. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia yang telah hidup demi kebahagiaan, menghilangkan rasa takut dan teror, memberikan perlindungan dan naungan yang benar serta menyediakan kebutuhan orang banyak. Karena melakukan perbuatan-perbuatan baik seperti itu, ketika ia meninggal, ia terlahir kembali di alam surga … terlahir kembali di alam ini sebagai manusia dengan memiliki maha purisa lakkhana: (2) Telapak kakinya terdapat cakra dengan seribu ruji, lingkaran dan pusat dalam bentuk yang sempurna.
  8. Dengan memiliki maha purisa lakkhana ini, bila ia hidup berumah-tangga …. Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Ia memiliki banyak pengikut: brahmana, penduduk, rakyat, bendahara, pengawal, penjaga, menteri, raja-raja lain, tuan tanah dan pelayan. Bila ia …. menjadi Samma Sambuddha …. Ia memiliki pengikut yang banyak: bhikkhu, bhikkhuni, upasaka, upasika, manusia, dewa, asura, naga dan gandhabba. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  9. Mengenai hal ini disebutkan:
    Dalam perjalanan waktu, dalam kehidupan-kehidupan yang lampau,
    Sebagai manusia melakukan banyak perbuatan baik,
    Menghilangkan ketakutan dan kecemasan,
    Ia melaksanakan pekerjaan besar ini,
    Pada akhir hidupnya, ia ke surga,
    Hidup gembira dan bahagia
    Terlahir kembali di bumi, telapak kakinya
    Memiliki tanda lingkaran-lingkaran
    Masing-masing dengan seribu ruji, sempurna
    Melihat banyak tanda pahala ini,
    Para ahli menyatakan:
    “Pengikutnya akan besar,
    Semua lawan ditaklukkannya.
    Ini jelas ditunjukkan oleh tanda lingkaran.
    Jika ia meninggalkan kehidupan duniawi,
    Ia akan memutar Roda dan menguasai dunia.
    Para kesatria akan menjadi pengikutnya.
    Semua pembantu dalam kekuasaannya.
    Tetapi, jikalau ia memilih hidup tanpa berumah tangga:
    Meninggalkan kehidupan dunia dengan pandangan jelas –
    Para manusia, dewa, asura, sakka, raksasa
    Gandhabba, naga, garuda dan
    Binatang berkaki empat akan melayaninya pula,
    Tak tertandingi oleh para dewa dan manusia
    Demikian pula tentang keagungannya.”
    3) Tumit yang bagus.
    4) Jari-jari panjang.
    15) Potongan tubuh yang agung.
  10. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia, menolak melakukan pembunuhan dan pantang melakukannya, meletakkan pemukul dan pedang, hidup dengan baik hati dan kasih sayang, rasa persahabatan dan simpati kepada semua makhluk. Karena telah melakukan perbuatan-perbuatan baik seperti itu, ketika ia meninggal dunia … di alam surga … terlahir kembali di alam ini sebagai manusia dengan memiliki maha purisa lakkhana:
    (3) Tumit yang bagus.
    (4) Jari-jari kaki dan tangan yang panjang.
    (15) Potongan tubuh yang agung.
  11. Dengan memiliki maha purissa lakkhana seperti itu, bila ia hidup berumah-tangga …. Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Ia berusia panjang, selama hidupnya tidak ada orang lain yang dapat membunuhnya … sebagai Samma Sambuddha … ia berusia panjang, dan tidak ada lawan pertapa, brahmana, dewa, mara, brahma atau seorang pun yang dapat membunuhnya. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  12. Mengenai hal ini disebutkan:
    Mengetahui dengan baik tentang ketakutan akan kematian
    Ia menolak membunuh makhluk
    Kebaikan ini menyebabkan kelahiran di surga,
    Tempat ia bergembira karena pahala.
    kemudian ia terlahir kembali di bumi
    Pada tubuhnya terdapat tiga tanda:
    Tumitnya penuh dan panjang
    Tubuhnya tegap bagaikan Brahma
    Menarik dilihat, potongan tubuh sempurna
    Jari-jari halus, lembut dan panjang.
    Dengan tiga tanda yang terbaik ini
    Diketahui bahwa anak akan berumur panjang.
    Panjang kehidupannya bila berumah-tangga
    Lebih panjang kehidupannya bila tak berumah-tangga
    Dengan mengembangkan iddhi (iddhi bhavana)
    Demikianlah makna dari tiga tanda.”
    16) Tujuh tonjolan, yaitu: pada kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu dan pada badan.
  13. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia pemberi makanan yang baik, enak, nikmat, keras dan lunak, serta minuman. Karena telah berbuat demikian, ketika ia meninggal dunia di surga … terlahir kembali sebagai manusia di alam ini dengan memiliki maha purisa lakkhana: (16) Tujuh tonjolan, yaitu: Pada kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu dan pada badan.
  14. Dengan memiliki maha purisa lakkhana seperti itu, bila ia hidup berumah-tangga … Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Ia menerima makanan dan minuman yang baik … sebagai Samma Sambuddha, beliau menerima yang sama. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  15. Mengenai hal ini disebutkan:
    ‘Ia pemberi makanan yang enak
    Serta minuman terbaik
    Kebaikan ini menyebabkan kelahiran bahagia,
    Juga lama ia hidup di Nandana (surga).
    Terlahir kembali di bumi, ia memiliki
    Tujuh tonjolan.
    Para ahli menyatakan:
    “Ia akan menikmati makanan dan minuman terbaik:
    Bukan hanya dalam kehidupan berumah-tangga –
    Karena walaupun ia meninggalkan kehidupan duniawi
    Dan memotong kehidupan nafsu indera,
    Makanan baik akan ia terima!”
    5) Tangan dan kaki yang halus dan lembut (manu-taluna-hattha-pado).
    6) Tangan dan kaki bagaikan jala (jala-hattha-pado).
  16. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia dan dicintai karena empat dasar simpati: dermawan, bicara yang menyenangkan, melakukan perbuatan berguna dan adil.. karena telah melakukan perbuatan baik seperti itu, ketika ia meninggal dunia … di alam surga … terlahir kembali di alam ini sebagai manusia dengan memiliki maha purisa lakkhana:
    (5) Tangan dan kakinya halus dan lembut.
    (6) Tangan dan kakinya bagaikan jala.
  17. Dengan memiliki maha purissa lakkhana seperti itu, bila ia hidup berumah-tangga …. Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Semua pengikutnya: brahmana, penduduk, rakyat … dan pelayan teratur dengan baik … sebagai Samma Sambuddha, semua pengikutnya: bhikkhu, bhikkhuni … dan gandhabba teratur dengan baik. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  18. Mengenai hal ini disebutkan:
    Berdasarkan pada berdana, melakukan pertolongan,
    Kata-kata yang menyenangkan, pikiran yang adil,
    Bermanfaat untuk semua,
    Ketika ia meninggal terlahir kembali di surga.
    Bila ia terlahir kembali di bumi
    Tangan dan kakinya halus lembut,
    Jari kaki dan tangan bagaikan jala
    Begitulah yang dimiliki bayi.
    Sangat menyenangkan melihatnya:
    Ia akan menjadi pemimpin manusia,
    Dikelilingi oleh orang yang yakin.
    Ucapan yang menyenangkan, melakukan perbuatan baik,
    Perbuatan bermoral dan bijaksana.
    Tetapi, jika ia menolak pemuasan nafsu indera,
    Sebagai penakluk, ia akan mengajarkan Jalan,
    Karena gembira pada kata-katanya
    Semua yang mendengarnya akan mengikutinya
    Dalam jalan dhamma yang besar mau pun yang kecil!”
    7) Tumit bulat seperti kerang (ussankha-pado).
    14) Rambut pori-pori berwarna biru-hitam tumbuh keriting ke atas.
  19. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia yang menjadi guru penerang dhamma dan kesejahteraan untuk banyak orang serta membahagiakan banyak orang, serta pembabar dhamma. Karena telah melakukan perbuatan baik seperti itu, ketika ia meninggal dunia … di alam surga … terlahir kembali di alam ini sebagai manusia dengan memiliki maha purisa lakkhana:
    (7) Tumit bulat seperti kerang,
    (14) Rambut pori-pori berwarna biru-hitam tumbuh keriting ke atas.
  20. Dengan memiliki maha purisa lakkhana seperti itu, bila ia hidup berumah-tangga … Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Ia menjadi kepala, yang tertinggi, terkemuka, terutama dari semua orang (duniawi) … sebagai Samma Sambuddha, ia menjadi kepala, yang tertinggi, terkemuka terutama dari semua makhluk. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  21. Mengenai hal ini disebutkan:
    Suatu waktu ia mengatakan semua yang baik
    Dengan nyaring kepada semua manusia
    Membawa berkah kepada semua makhluk,
    Pemberi dhamma yang terbuka.
    Karena tindakan dan perbuatan seperti itu,
    Ia terlahir kembali di surga.
    Terlahir kembali di bumi, ia memiliki dua tanda,
    Tanda-tanda dari kebahagiaan tertinggi:
    Bulu tubuh tumbuh ke atas,
    Pergelangan kaki tinggi di atas kaki
    Dibentuk di bawah kulit dan daging,
    Berbentuk bagus dan indah di atas.
    “Jikalau ia hidup berumah-tangga
    Ia akan menjadi kaya raya dan
    Tak ada orang lain yang lebih daripadanya:
    Karena ia akan menguasai Jambudipa
    Jikalau ia kuat sekali,
    Ia meninggalkan kehidupan duniawi
    Ia akan menjadi pemimpin semua makhluk hidup dan
    Tak ada orang yang melebihinya
    Ia menjadi pemimpin dunia.”
    8) Kaki bagaikan kaki kijang (enijanghi).
  22. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia yang mempunyai: keahlian, tahu cara dan pelaksanaan ilmu pengetahuan, dengan berpikir: “Apa yang dapat saya pelajari dan kuasai dengan cepat serta dapat saya praktekkan dengan cepat, tanpa keletihan?” … Karena telah melakukan hal seperti itu, ketika ia meninggal dunia … di alam surga … terlahir kembali di alam ini sebagai manusia dengan memiliki maha purissa lakkhana:
    8) Kakinya bagaikan kaki kijang.
  23. Dengan memiliki maha purissa lakkhana seperti itu, bila ia hidup berumah-tangga … Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Ia cepat memiliki potensi-potensinya sebagai raja, yang sesuai dan menyenangkannya … sebagai Samma Sambuddha, ia akan memiliki hal-hal yang sama. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  24. Mengenai hal ini disebutkan:
    Sastra dan ilmu pengetahuan, cara-cara dan
    Pelaksanaannya, “Dengan senang hati
    Saya pelajari,” katanya.
    Keahlian yang tidak mengganggu makhluk hidup
    Dipelajari dengan cepat dan tanpa susah payah.
    Berdasarkan pada perbuatan, keahlian dan kemanisan,
    Maka ia memiliki keagungan dan organ tubuh yang baik
    Rambutnya berputar ke atas
    Dari kulit yang lembut bulu tubuh lurus
    Orang seperti dia berkaki bagaikan kaki kijang:
    Dikatakan: Kekayaan akan segera menjadi miliknya.
    “Setiap bulu membawa keberuntungan,
    Jikalau ia hidup berumah-tangga.
    Tetapi, jikalau ia memilih meninggalkan keduniawian,
    Hidup tak berumah-tangga,
    Dengan mata-jernih, semua hal cepat ia temukan
    Sesuai dengan cara hidup yang lembut.”
    12) Kulit sangat licin sehingga debu tak melekat di tubuh.
  25. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia yang sering mendatangi para pertapa dan brahmana untuk bertanya: “Apakah yang baik dan buruk? Apa yang salah dan benar? Apa perbuatan yang patut diikuti dan yang tak patut diikuti? Bilamana saya melakukan sesuatu, apakah akibatnya penderitaan dan kesedihan atau pahalanya menyenangkan dan membahagiakan? … Karena telah melakukan hal itu, ketika ia meninggal dunia … di alam surga … terlahir kembali di alam ini sebagai manusia dengan memiliki maha purisa lakkhana:
    (12) Kulit sangat halus dan lembut sehingga debu tak melekat ditubuhnya.
  26. Dengan memiliki maha purisa lakkhana seperti itu, bila ia hidup berumah-tangga … Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Ia akan menjadi amat bijaksana, di antara orang-orang (duniawi) tidak ada yang sama atau lebih tinggi kebijaksanaannya daripadanya … sebagai Samma Sambuddha, beliau: akan memiliki kebijaksanaan yang luas, dalam, menyenangkan, tangkas, menembus dan tajam, di antara semua makhluk: tidak ada yang sama atau lebih tinggi kebijaksanaan-nya daripada beliau. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  27. Mengenai hal ini disebutkan:
    Pada waktu yang lampau, pada kelahiran-kelahiran
    Yang lampau, ia ingin mengetahui dan bertanya
    Kepada para pertapa:
    Rajin mengembangkan kebijaksanaan,
    Ia memperhatikan ajaran mereka mengenai tujuan hidup.
    Akibat hal-hal ini bila terlahir kembali sebagai
    Manusia, maka kulitnya halus dan lembut.
    Para ahli menyatakan:
    “Ia akan mengetahui arti yang dalam.
    Jikalau ia tidak meninggalkan kehidupan duniawi,
    Ia akan menjadi raja cakkavatti (maharaja)
    Bijak mengetahui semua yang dalam dan halus,
    Tak ada bandingan atau melampauinya.
    Tetapi, jika ia meninggalkan kehidupan duniawi,
    Hidup sebagai pertapa,
    Kebijaksanaan tertinggi akan dicapainya,
    Penerangan Sempurna dan luas sekali.”
    11) Kulitnya bagaikan perunggu berwarna emas.
  28. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia yang tak pernah marah, tanpa berkerut, begitu pula walaupun banyak kata-kata (jahat) telah ditujukan kepadanya ia tidak menjadi kejam, terhasut, gusar, agresif; tidak mempertunjukkan kemarahan, kebencian dan kejengkelan. Namun ia biasa memberikan barang-barang indah, seperti: permadani yang lunak, jubah, linen halus, kapas, sutera dan bahan wol …. Karena telah bersikap dan melakukan perbuatan seperti itu, ketika ia meninggal dunia … di alam surga … terlahir kembali di alam ini sebagai manusia dengan memiliki (11) Kulit bagaikan perunggu berwarna emas.
  29. Dengan memiliki maha purisa lakkhana seperti itu, bila ia hidup berumah tangga … Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Ia akan menerima barang-barang yang indah … sebagai Samma Sambuddha akan menerima seperti itu pula. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  30. Mengenai hal ini disebutkan:
    “Mantap dengan pikiran yang baik, ia memberikan
    Hadiah pakaian yang halus dan bagus.
    Pada kehidupan-kehidupan yang lampau
    Ia memberi seperti itu,
    Bagaikan dewa hujan yang mengguyurkan hujan.
    Kebaikan ini menyebabkan ia terlahir di surga.
    Di sana ia bergembira dalam buah pahalanya.
    Setelah waktu berlalu (ia terlahir kembali di bumi)
    Dengan tubuh bagaikan emas yang bagus
    Segalanya bagaikan para dewa, seperti dewa Sakka.
    ‘Jikalau ia hidup berumah tangga,
    Ia akan mengurus dunia yang jahat ini,
    Berdasarkan apa yang telah dibuatnya, ia menerima
    Pakaian yang berkwalitas terbaik,
    Permadani dan kain penutup yang terbaik.
    Jikalau ia memilih meninggalkan duniawi,
    Hal-hal seperti itu pula akan diterimanya.
    Pahala perbuatan tidak dapat hilang.”
    10) Kemaluan terbungkus oleh selaput (kosohitavatthaguyho).
  31. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia yang mempersatukan keluarga-keluarga, teman-teman dan orang-orang yang telah lama terpisah; mempersatukan: ibu dengan anak dan sebaliknya, ayah dengan anak dan sebaliknya, saudara laki-laki dengan saudara laki-laki, saudara wanita dengan saudara wanita, yang membuat mereka gembira sekali … Karena telah melakukan perbuatan seperti itu, ketika ia meninggal dunia … di alam surga … terlahir kembali di alam ini sebagai menusia dengan memiliki maha purisa lakkhana: (10) Kemaluan terbungkus oleh selaput.
  32. Dengan memiliki maha purisa lakkhana seperti itu, bila ia hidup berumah tangga … Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Ia akan memiliki anak yang banyak, lebih dari seribu anak yang perkasa dan penakluk musuh-musuh … sebagai Samma Sambuddha, beliau memiliki yang sama. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  33. Mengenai hal ini disebutkan:
    Pada waktu yang lampau, dalam kelahiran-kelahiran
    Yang lampau, teman-teman dan sanak saudara yang telah
    Lama berpisah, dipertemukannya, dipersatukannya,
    Demikianlah persatuan mereka yang menggembirakan.
    Berdasarkan perbuatan baik ini ia lahir di surga,
    Bahagia dan gembira sebagai buah karmanya.
    Ketika ia meninggal dan terlahir kembali di bumi,
    Selaput membungkus kemaluannya.
    Ia akan memiliki banyak anak,
    Lebih dari seribu anak akan ia punyai,
    Kesatria pemenang, penakluk dan penyayang;
    Kegembiraan hidup manusia biasa.
    Jikalau ia meninggalkan kehidupan duniawi,
    Ia tetap akan memiliki banyak ‘anak’ yaitu:
    Mereka yang tergantung pada kata-katanya.
    Begitulah, apakah ia meninggalkan
    Kehidupan duniawi atau tidak,
    Demikianlah arti dari tanda ini.

Bagian II

9) Kedua tangan dapat menyentuh dan menggosok kedua lutut, tanpa membungkukkan badan, 19) Tinggi tubuh sama dengan panjang rentangan kedua tangannya.
  1. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia yang selalu memikirkan kesejahteraan orang lain, mengetahui setiap orang, mengetahui bagaimana orang yang satu dengan lain berbeda: “Orang ini perlu ini dan orang itu perlu … dst.” demikianlah ia membedakan mereka … Karena telah memiliki pengetahuan seperti itu, ketika ia meninggal dunia … di alam surga … terlahir kembali di alam ini sebagai manusia dengan memiliki maha purisa lakkhana: (9) Kedua tangannya dapat menyentuh dan menggosok kedua lututnya tanpa membungkukkan badannya, (19) tubuhnya bagaikan pohon (Beringin) Nigroda, tingginya sama dengan panjang rentangan kedua tangannya.
  2. Dengan memiliki maha purisa lakkhana seperti itu, bila ia hidup berumah tangga … Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Ia akan kaya, mempunyai harta dan sumber yang banyak, harta simpanan mas dan perak yang banyak, simpanan berbagai macam kebutuhan, gudangnya penuh makanan … sebagai Samma Sambuddha ia akan kaya raya dalam hal: saddha (keyakinan), sila (moral), hiri (malu berbuat salah) dan ottappa (takut akan akibat perbuatan salah). Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  3. Mengenai hal ini disebutkan:
    Menimbang dengan benar, mencatat,
    Mencari manfaat untuk orang-orang,
    Melihat: “Orang ini berhak,
    Ini bagian orang itu,” renungnya.
    Sekarang, tanpa membungkuk ia dapat
    Menyentuh lutut-lututnya dengan kedua tangannya,
    Tubuhnya bagaikan pohon seimbang dan tingginya,
    Adalah buah karma baiknya.
    Orang yang membaca tanda dan ciri-ciri,
    Ahli dalam hal itu menyatakan:
    “Segala sesuatu memenuhi kebutuhan duniawinya,
    Ia akan memiliki anak yang banyak,
    Banyak kekayaan dunia karena dia penguasa dunia,
    Ini sesuai bagi manusia biasa, begitulah dia.
    Jikalau ia meninggalkan kehidupan duniawi,
    Ia akan mendapatkan kekayaan yang tiada bandingannya.”
    17) Dada bagaikan dada singa, 18) Kedua bahunya tidak ada lekukan, 20) Dada sama lebarnya.
  4. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia yang menginginkan agar banyak orang sejahtera, maju, senang, bebas dari beban; memikirkan bagaimana agar banyak orang mengembangkan keyakinan, moral, pelajaran, kedermawanan, dhamma, kebijaksanaan, milik dan kekayaan; begitu pula untuk para istri, anak, pelayan, pekerja, pembantu, saudara, teman dan kenalan, berkaki dua maupun berkaki empat. Karena telah melakukan hal itu, ketika ia meninggal dunia … di alam surga … terlahir kembali sebagai manusia di alam ini dengan memiliki maha purisa lakkhana: (17) Dada bagaikan dada singa, (18) kedua bahunya tidak ada lekukan, (20) Dada sama lebarnya.
  5. Dengan memiliki maha purisa lakkhana seperti itu, bila ia hidup berumah tangga …
    Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Ia tidak akan kehilangan: milik dan kekayaan, berkaki dua atau berkaki empat, istri dan anak, ia akan sukses dalam semua hal …. sebagai Samma Sambuddha ia tidak akan kehilangan: keyakinan, sila, pelajaran, kedermawanan dan kebijaksanaan. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  6. Mengenai hal ini disebutkan:
    ‘Keyakinan, moral, belajar, kebijaksanaan,
    Menahan diri dan adil, banyak perbuatan baik lain,
    Kekayaan, harta, istri-istri dan anak-anak,
    Kawan, sanak keluarga, sahabat, sejawat,
    Kuat, rupawan dan bahagia:
    Hal-hal ini ia inginkan untuk orang lain
    Harapannya begitu bagi mereka dan tidak hilang.
    “Begitulah, berpenampilan bagaikan singa, ia lahir,
    Tak ada lekukan di bahu dan dada sama lebar,
    Ini sebagai simpanan buah karma yang lampau,
    Dengan tanda-tanda kelahiran menghindarkan kerugian,
    Dalam kehidupan berumah tangga ia kaya harta,
    Istri, anak serta empat pasang;
    Jika ia meninggalkan kehidupan duniawi,
    Tanpa memiliki sesuatu (harta),
    Penerangan Sempurna menjadi miliknya,
    Yang tak akan gagal dicapainya.”‘
    21) Indera perasa yang sangat peka.
  7. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia yang pantang membahayakan orang lain dengan tangan, batu, tongkat atau pedang. Karena telah bersikap demikian, ketika ia meninggal dunia … di alam surga … terlahir kembali sebagai manusia di alam ini dengan memiliki maha purisa lakkhana: (21) Indera perasa yang sangat peka.
  8. Dengan memiliki maha purisa lakkhana seperti itu, bila ia hidup berumah tangga …
    Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Ia akan sedikit menderita dan sakit, pencernaannya bagus, ia merasa tidak terlalu dingin atau panas … sebagai Samma Sambuddha, beliau mengalami hal yang sama, serta menggunakan tenaga dengan wajar.
    Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  9. Mengenai hal ini disebutkan:
    ‘Tidak menyakiti dengan tangan, tongkat atau batu,
    Tidak membunuh dengan pedang, tidak membahayakan,
    Tidak mengancam dengan tali,
    Kelahiran yang berbahagia didapatkannya sebagai
    Buah dari perbuatannya yang baik, ia terlahir di surga,
    Membentuk alat perasanya dengan baik.
    “Kebahagiaan yang amat sangat menjadi haknya
    Sebagai orang biasa atau pertapa.
    Itulah arti dari tanda ini.”‘
    29) Mata biru, (30) Bulu mata bagaikan bulu mata sapi (lentik).
  10. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia yang jika melihat orang lain pandangan matanya tidak: mencurigakan, miring, sembunyi-sembunyi; tetapi melihat secara langsung, terbuka, lurus dengan pandangan yang lembut …. Karena telah bersikap demikian, ketika ia meninggal dunia …. di alam surga …. terlahir kembali sebagai manusia di alam ini dengan memiliki maha purisa lakkhana: (29) Mata biru, (30) Bulu mata bagaikan bulu mata sapi (bulu mata lentik).
  11. Dengan memiliki maha purisa lakkhana seperti itu, bila ia hidup berumah tangga …
    Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Ia akan dicintai oleh orang-orang, ia akan populer dan dicintai oleh para brahmana-berumah-tangga, rakyat, bendahara … dan pelayan … sebagai Samma Sambuddha, beliau akan populer dan dicintai oleh para bhikkhu, bhikkhuni … naga dan gandhabba. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  12. Mengenai hal ini disebutkan:
    ‘Melihat dengan tak rasa curiga, tak mengelak,
    Tak membuang pandangan, ia melihat langsung dan
    Jelas kepada banyak orang
    Dengan terus terang, dengan mata mengasihi.
    Ia lahir kembali di tempat yang bahagia,
    Di sana ia menikmati hasil karma baiknya.
    Terlahir kembali di bumi,
    Bulu matanya lentik, matanya biru.
    Mereka yang mengetahui artinya, menyatakan:
    “Anak yang memiliki mata yang bagus akan menjadi
    Orang diliputi kesenangan.
    Bila ia orang biasa,
    Ia akan menyenangkan pandangan semua orang.
    Jikalau ia menjadi pertapa,
    Ia dicintai sebagai penyembuh penderitaan manusia.”‘
    32) Kepala bagaikan berserban.
  13. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia yang berprilaku sangat terpuji, pemimpin melaksanakan perbuatan, ucapan dan pikiran yang benar, dermawan, bermoral baik, melaksanakan uposatha sila, menghormati: ayah, ibu, pertapa, brahmana ketua suku, dan giat dalam berbagai aktivitas. karena telah melakukan perbuatan seperti itu, ketika ia meninggal dunia …. di alam surga …. terlahir kembali sebagai manusia di alam ini dengan memiliki maha purisa lakkhana: (32) Kepala bagaikan berserban.
  14. Dengan memiliki maha purisa lakkhana seperti itu, bila ia hidup berumah tangga …
    Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Ia akan menerima loyalitas dari para brahmana-berumah-tangga, rakyat, bendahara … dan pelayan. Sebagai Samma Sambuddha, beliau akan menerima loyalitas dari para bhikkhu, bhikkhuni … naga dan gandhabba. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  15. Mengenai hal ini disebutkan:
    ‘Ia memimpin dalam perbuatan,
    Berkeinginan hidup dalam kebenaran.
    Begitulah orang-orang loyal padanya di sini,
    Lahir di surga sebagai buah karmanya.
    Setelah buah karma untuk hidup di sana habis
    Ia lahir kembali di bumi dengan
    Kepala bagaikan berserban.
    Mereka yang mengetahui makna tanda-tanda menyatakan:
    “Ia akan menjadi orang yang paling utama,
    Semua akan melayaninya dalam hidup ini
    Seperti pada keadaan yang lampau.
    Ia seorang kesatria yang kaya,
    Ia akan mendapat pelayanan dari keluarganya,
    Tetapi bila ia meninggalkan kehidupan duniawi,
    Orang ini akan menguasai dhamma dan
    Semua orang akan berkumpul untuk mendengar
    Ajaran yang akan dikhotbahkannya.”‘
    13) Bulu roma terpisah-pisah, sehelai pada setiap pori. 31) Di antara alis-alis mata
    tumbuh sehelai rambut halus, putih bagaikan kapas lembut.
  16. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia yang tidak berdusta, tidak berbohong dan menjadi pembicara kebenaran, menyatu dengan kebenaran, dipercaya, konsisten, tidak menipu orang-orang … Karena telah bersikap seperti itu, ketika ia meninggal dunia … di alam surga … terlahir kembali sebagai manusia di alam ini dengan memiliki: (13) Bulu roma terpisah-pisah, sehelai pada setiap pori, (31) Di antara alis-alis mata tumbuh sehelai rambut halus, putih bagaikan kapas lembut.
  17. Dengan memiliki maha purisa lakkhana seperti itu, bila ia hidup berumah tangga …
    Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Ia akan dipatuhi oleh para brahmana, penduduk, rakyat, bendahara, pengawal, penjaga, menteri, raja-raja lain, para tuan tanah dan pelayan… sebagai Samma Sambuddha, beliau dipatuhi oleh para bhikkhu, bhikkhuni …. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  18. Mengenai hal ini dikatakan:
    ‘Pada kehidupan yang lampau ia menepati janji,
    Jujur dalam ucapan, ia menolak semua bohong.
    Ia tidak melanggar kata-katanya,
    Ia senang pada kebenaran dan kejujuran.
    Putih, cemerlang dan lembut bagaikan bulu burung
    Rambut nampak di antara alisnya,
    Dari satu pori tumbuh hanya sehelai rambut,
    Setiap rambut tumbuh terpisah.
    Para ahli tanda menyatakan:
    “Dengan tanda seperti itu yang ada di antara dua alis
    Rambut-rambut seperti itu, ia akan dipatuhi oleh semua.
    Jika ia hidup sebagia manusia biasa orang-orang akan
    Menghormatnya, karena perbuatan yang lampau;
    Jika meninggalkan kehidupan duniawi, tanpa memiliki,
    Sebagai Buddha mereka akan memujanya.”‘
    23) Empat puluh buah gigi, 25) Di antara gigi tak ada celah.
  19. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia yang pantang menfitnah, tidak mengulangi apa yang didengar di sana untuk menimbulkan permusuhan di sini, maupun sebaliknya …. Karena telah melakukan demikian, ketika ia meninggal dunia …. di alam surga … terlahir kembali sebagai manusia di alam ini dengan memiliki maha purisa lakkhana: (23) Empar puluh buah gigi, (25) Di antara giginya tak ada celah.
  20. Dengan memiliki maha purisa lakkhana seperti itu, bila ia hidup berumah tangga …
    Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Para pengikutnya: brahmana, penduduk, rakyat, bendahara, pengawal, penjaga, menteri, raja-raja lain, tuan tanah dan pelayan tidak akan terpecah-belah…. sebagai Samma Sambuddha, para pengikutnya: bhikkhu, bhikkhuni … tidak akan terpecah-belah. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  21. Mengenai hal ini disebutkan:
    ‘Ia tidak mengucapkan kata-kata jahat
    Yang menyebabkan perpecahan atau meningkatkannya,
    Memperpanjang perpecahan dan kepahitan,
    Namun ia membimbing ke arah persahabatan yang baik.
    Semua yang diucapkannya adalah untuk perdamaian,
    Serta mempersatukan kembali ikatan yang putus,
    Harmoni adalah kesenangannya.
    Terlahir kembali di alam yang bahagia,
    Di sana ia menikmati hasil karma baiknya.
    Terlahir kembali di bumi, giginya bertumbuh dengan
    Rapat dengan jumlah empat puluh buah dan kuat.
    Jika ia sebagai kesatria yang kaya,
    Ia akan lembut kepada bawahannya;
    Jika ia seorang pertapa, bebas dari noda,
    Kelompoknya akan terbentuk dan terbina dengan baik.’
    27) Lidah panjang, 28) Suara bagaikan suara-brahma, seperti suara burung Karavika.
  22. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia yang pantang berbicara kasar, menghindar mengucapkan kata-kata kasar, mengucapkan kata-kata yang baik, enak didengar, menyenangkan, mengena, sopan, menggembirakan dan menarik didengar oleh banyak orang. Karena telah melakukan perbuatan demikian, ketika ia meninggal dunia … di alam surga … terlahir kembali sebagai manusia di alam ini dengan memiliki maha purisa lakkhana: (27) Lidah panjang, (28) Suara bagaikan suara brahma, seperti burung Karavika.
  23. Dengan memiliki maha purisa lakkhana seperti itu, bila ia hidup berumah tangga …
    Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Ia memiliki suara persuasif, para pengikutnya, yaitu brahmana, penduduk, rakyat,… pelayan akan menerima kata-katanya dengan senang hati…. Sebagai Samma Sambuddha, beliau memiliki suara persuasif, para pengikutnya, yaitu bhikkhu, bhikkhuni …. akan menerima kata-kata beliau dengan senang hati. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  24. Mengenai hal ini disebutkan:
    ‘Ia tidak mengucapkan hinaan, makian,
    Yang menyakitkan atau melukai orang.
    Kata-katanya halus, lembut dan manis,
    Menarik di hati orang-orang dan
    Menyenangkan didengar.
    Terlahir kembali di alam surga, di sana
    Ia menikmati buah karma baiknya.
    Setelah menikmati buah karma baiknya,
    Dengan memiliki suara Brahma ia terlahir di bumi
    Serta memiliki lidah yang panjang.
    “Apa yang ia katakan adalah sangat bermakna.
    Sebagai manusia biasa ia akan sejahtera sekali.
    Jikalau ia meninggalkan kehidupan duniawi,
    Orang-orang akan memperhatikan kata-katanya, serta
    Selalu ingat semua kata-katanya.”‘
    22) Rahang bagaikan rahang singa.
  25. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia yang pantang mengobral tanpa arti, bicara pada waktu yang tepat, bicara dengan benar dan bertujuan, berbicara tentang dhamma dan vinaya, bicara untuk hal yang berguna. Karena telah berbuat demikian, ketika meninggal dunia …. di alam surga …. terlahir kembali sebagai manusia di alam ini dengan memiliki maha purisa lakkhana: (22) Rahang bagaikan rahang singa.
  26. Dengan memiliki maha purisa lakkhana seperti itu, bila ia hidup berumah tangga …
    Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Ia tidak dapat diganggu oleh maksud jahat manusia atau lawannya…. sebagai Samma Sambuddha, beliau tidak dapat diganggu oleh maksud jahat dari: dalam maupun luar, oleh nafsu, kebencian, kebodohan, pertapa atau brahmana, dewa, mara, brahma atau makhluk apa pun. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  27. Mengenai hal ini disebutkan:
    Tak ada cerita yang sia-sia atau konyol,
    Ia berkepala dingin,
    Ia tak meninggalkan kata-kata menyakitkan,
    Hanya mengucapkan kebaikan semua orang.
    Ia meninggal dan terlahir kembali di surga
    Menikmati buah karma baiknya.
    Sekali lagi terlahir di bumi,
    Ia memiliki rahang menyerupai milik dari
    Penguasa semua makhluk berkaki dua.
    “Ia akan menjadi raja yang tak terkalahkan,
    Penguasa manusia yang sangat perkasa,
    Bagaikan penguasa dari tiga alam dewa,
    Menyerupai dewa yang paling agung.
    Gandhabba, sakka dan asura
    Sia-sia untuk menjatuhkannya.
    Sebagai manusia biasa ia akan
    Menguasai seluruh dunia.
    24) Gigi rata, 26) Gigi putih bersih.
  28. Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai manusia yang pantang melakukan mata pencaharian salah, hidup dengan mata pencaharian benar, tidak menipu dengan timbangan maupun ukuran, tidak memberi suap dan tidak korupsi, tidak curang, tulus, tidak melukai, tidak membunuh, tidak mengurung orang, tidak menodong dan tidak merampok. Karena telah melakukan perbuatan demikian, ketika ia meninggal dunia …. di alam surga …. terlahir kembali sebagai manusia di alam ini dengan memiliki maha purisa lakkhana: (24) Gigi rata, (26) Gigi putih bersih.
  29. Dengan memiliki maha purisa lakkhana seperti itu, bila ia hidup berumah tangga …
    Apa manfaat yang didapatnya sebagai raja? Para pengikutnya: brahmana, penduduk, rakyat, bendahara … pelayan, akan berpenghidupan benar ….
  30. Bila ia meninggalkan kehidupan duniawi menjadi tak berumah-tangga (pabbajja), ia akan menjadi Arahat Samma Sambuddha. Apakah manfaat yang didapatnya sebagai Buddha, para pengikutnya: bhikkhu, bhikkhuni, upasaka, upasika, dewa, manusia, asura, naga dan gandhabba akan berpenghidupan suci. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
  31. Mengenai hal ini disebutkan:
    Ia meninggalkan penghidupan salah,
    Ia melakukan cara hidup yang suci dan benar.
    Menyakitkan orang lain, ia tinggalkan,
    Bekerja hanya untuk kebaikan banyak orang.
    Ia mendapat hasil yang manis di alam surga
    Karena perbuatan-perbuatan yang dilakukannya
    Yang mendapat pujian dari
    Orang yang bijaksana dan ahli:
    Ia membagi semua kesenangan dan kegembiraan,
    Bagaikan Penguasa dari tiga alam dewa,
    Meninggal di alam sana,
    Ia terlahir kembali sebagai manusia,
    Sebagai sisa dari karma baiknya
    Ia memiliki gigi rata
    Bersih dan cemerlang.
    Para ahli menyatakan:
    “Para pengikutnya akan menjadi suci.
    Bagi dia yang giginya bagaikan burung Dija.
    Bagaikan raja para pembantunya yang suci akan
    Menghormatnya, pemimpin mereka.
    Tanpa tekanan mereka akan berusaha
    Untuk mencapai kesejahteraan dan kegembiraan.
    Tetapi bila ia hidup sebagai pertapa,
    Bebas dari kejahatan, semua nafsu dilenyapkan,
    Melepaskan tabir; kesakitan dan keletihan lenyap,
    Ia melihat dunia ini dan yang berikut.
    Di sana, selagi ia mengajar,
    Umat awam telah siap meninggalkan
    Hal tak suci, kejahatan yang ia kritik.
    Para pengikutnya adalah suci, karena ia
    Menghilangkan kejahatan dan hal yang buruk
    Dari batin mereka.

NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (A)


Abaddha/Abaddhana : bebas, tidak terikat
Abbha : langit
Abhaya : aman, bebas dari rasa takut
Abhimanggala : selamat, beruntung
Abhinava : baru, segar
Abhinnya : pengetahuan batin tinggi
Abhippasãda : kepercayaan
Abhirãdha : senang, riang, suka
Abhita/Abhiru/Abhiruka : berani
Abhivãda : penghormatan
Abyãpãda : tidak mempunyai kemauan jahat
Acala : tak tergoyahkan; bukit
Ãcariya : guru, pembimbing
Accana : penghormatan, pemujaan
Accha : terang, jernih, suci, murni
Accharã : peri, bidadari
Acchariya : ajaib, memukau, yang menyebabkan terpengaruh
Acci : lidah api, terik (matahari)
Accimã : benderang, menyala-nyala, cerdas
Accita : mulia, terhormat
Accuta : abadi, kepadaman total/abadi
Ãcinnadhamma : berperangai sesuai Dhamma
Ãdara : belas kasihan, sayang, peduli
Ãdãsa : cermin
Adda : basah, berair
Addha : kaya, mewah; setengah, separoh
Addhagu : pengembara
Addhika : pengembara
Addhi : gunung
Adhi : atas, lebih (unggul dsb)
Adhika : unggul, lebih tinggi
Adhipannya : kebijaksanaan yang lebih tinggi
Adhipati : tuan, pemimpin
Ãdi : pertama, awal
Ãdicca (Aditya) : matahari
Aga : gunung, pohon
Agada : sehat, baik; obat, jamu
Agãra : rumah
Agga : tertinggi, terhebat, puncak, unggul
Aggi (Agni) : api
Agha : langit, angkasa
Aha : hari
Ãhãra : makanan
Ahimsa : tanpa kekerasan
Ajãtasattu : nama seorang raja di jaman Sang Buddha, putra Raja Bimbisara
Ajimha : lurus, tulus hati
Ãjiva : penghidupan
Ajjhayaka : guru
Akalika : terbebas dari waktu
Ãkãsa : angkasa
Akka : matahari
Akkhadassa : hakim, wasit
Akkhaya : abadi, kekal
Akkhi/Aksi : mata
Akuppa : tabah, teguh, tak tergoncangkan
Akutila : jujur
Ãloka : cahaya
Amala : suci, murni, tak bernoda
Amara : keabadian, dewa
Amata : abadi
Amba : ibu
Ambu : air
Ãmisa : materi
Amita : tanpa batas, tak terukur
Amitã : nama saudara Raja Suddhodana yang merupakan ibu Yasodhara
Amitodana : saudara Raja Suddhodana yang merupakan ayah Ananda
Amma : ibu
Amoha : kebijaksanaan
Anala : api
Anãmaya : tidak berpenyakit, sehat
Ãnanda : 1. kegembiraan, periang ; 2. nama seorang siswa yang menjadi pembantu tetap Sang Buddha
Ãnandi : penggembira
Ananta : tanpa akhir/batas
Anãthapindika : nama seorang siswa awam yang menjadi penyokong utama Sang Buddha
Anavaya : sempurna, tidak kekurangan
Anda : telur
Aneja : bebas dari nafsu
Anela/Anelaka : tiada cacat, sempurna, murni
Angganã : perempuan
Anggira : seseorang/sesuatu yang cemerlang
Anjana : nama ayah Ratu Mahamaya
Angguli : jari
Anggulimãla : nama seorang siswa Sang Buddha yang sebelumnya merupakan orang jahat
Anigha : bebas dari kesukaran
Anila : angin
Anna : air
Annava : lautan
Anoma : penguasa, tertinggi
Anomadassi : orang yang mempunyai pengetahuan tinggi
Anta : akhir, pucuk
Antalikkha : angkasa
Anubala : bantuan
Anubhaddo : maju dengan baik
Anubhãva : kekuatan, anugerah, daya
Anubodha : turut mengetahui, turut sadar
Anuja : saudara
Anuruddha : nama seorang siswa Sang Buddha
Anusãsaka : penasihat
Anusãsana : nasihat
Anussati : perenungan
Anuttara : tak terbandingkan
Annya : memiliki pengetahuan yang sempurna
Apannaka : betul, benar
Ãpo : air
Appa : sedikit, kecil
Accharã : bidadari, peri
Ãrãdhanã : undangan, ajakan
Ãrãma : taman, hutan kecil
Arana : damai
Arannya : hutan
Aravinda : teratai
Araya : mulia, agung, utama
Ariya : suci, mulia
Arittha : nama murid Arahanta Mahinda yang memimpin Konsili di Anuradhapura, Srilanka
Ajjuna : 1. bersinar ; 2. nama seorang pangeran
Akka : sinar matahari, nyanyian, penyanyi
Arnasati : pemenang dari arus
Aroga : sehat
Asabha : pemberani
Ãsana : tempat duduk
Asani : halilintar, petir
Asi : pedang
Asita : 1. biru tua, tak menumpang, bebas ; 2. nama pertapa yang mengunjungi Bodhisatta Siddhattha ketika baru terlahir
Asma : batu
Asoka : 1. bebas dari kesedihan ; 2. nama seorang raja yang mengembangkan agama Buddha
Assaji : nama seorang dari lima siswa pertama Sang Buddha
Assattha : pohon Bodhi
Assava : penurut, mudah dinasihati
Atandi/Atandita : rajin
Ãtãpa : sinar matahari, panas, terik, usaha
Atavi : hutan belukar, hutan lebat
Ati/Aticaya : sangat
Atideva : dewa tinggi
Atimahanta : maha besar
Atimanãpa : sangat menarik, sangat memuaskan
Attã (Atma) : jiwa
Attadattha : 1 . manfaat bagi diri sendiri ; 2. nama seorang siswa Sang Buddha
Attaja : anak kandung
Attamana : gembira, puas
Attha (Artha) : kemakmuran, manfaat, tujuan, hasil
Attha : delapan
Atthi : tulang, benih
Atula : 1. tak terbandingkan, tak terperikan ; 2. nama seorang umat Buddha di jaman Sang Buddha
Avadãna : cerita, sejarah, dongeng, nasihat
Avadãta : putih, bersih
Avani : bumi, parit
Avatãra : penjelmaan
Avera : tanpa permusuhan, tanpa kedengkian, ramah, kebaikan
Avikkhepa : ketenangan/keseimbangan pikiran
Ayana : jalan, pintu
Ãyatana : tempat, kediaman, sumber, penyambung, bagian
Ãyu : umur
Ãyudha : senjata
Ayya : mulia, tuan



NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (B)

Bahula : tebal, padat, banyak
Bajra : 1. permata ; 2. senjata dewa Indra
Bala : kekuatan, tenaga, bala tentara, kekuasaan, kawanan
Bãlaka : bocah laki, kanak-kanak laki
Bãlika : bocah wanita, kanak-kanak wanita
Bali : 1. sajian, pajak, penghormatan ; 2. nama seorang yaksa
Bãna : anak panah
Bandhana : ikatan
Bandhu : sanak keluarga
Bãyu : angin
Bhadda (Bhadra) : agung, anggun, baik, cantik, menguntungkan
Bhaddãcãra : tingkah laku luhur
Bhaddakaccãna : nama lain Yasodhara (isteri Pangeran Siddhattha)
Bhaddiya : salah seorang dari lima siswa pertama
Bhadraka : yang agung, yang anggun, yang baik, yang cantik, yang menguntungkan
Bhagini : saudara wanita
Bhãgya : mujur, beruntung, bernasib baik
Bhallika : nama seorang siswa awam pertama Sang Buddha
Bhãnu : matahari, sinar
Bhãra : barang berat, muatan, beban
Bhãsura : terang, bercahaya
Bhata : karyawan, pekerja, pegawai; orang piaraan
Bhata : prajurit, tentara
Bhãtika/Bhãtu : saudara laki-laki
Bhatti : bakti
Bhãvanã : pemunculan, pengembangan, pengembangan batin
Bhoga : kekayaan, peralatan, penggunaan
Bhumi : alam kehidupan, tingkat, bumi
Bhuri : kebijaksanaan, bumi
Bimbã/Bimbãdewi/Bimbãsundari : nama lain Yasodhara (istri Pangeran Siddhattha)
Bimbisãra : nama raja di jaman Sang Buddha
Bindu : tanda
Bodha/Bodhana : penerangan, pengetahuan
Bodhi : pengetahuan tertinggi
Brahma : dewa tingkat tinggi
Brahmadatta : nama seorang siswa Sang Buddha
Buddha : yang telah bangun, yang bijaksana
Buddhi : bijaksana, pandai



NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (C)

Cãga : pelepasan, kerelaan, pemberian, pengorbanan
Cakka (Cakra) : roda
Cakkhu : penglihatan
Canda (Candra) : bulan
Candana : pohon cendana
Candika : sinar bulan
Candimã : bulan
Cara : tindakan, perjalanan, mata-mata
Caraka : pengembara
Carana : pelaksanaan, tingkah laku
Cãrika : perjalanan
Carita : pembawaan, sifat, watak kehidupan
Cariya : tingkah laku
Catu : empat
Catura : pandai, ahli, cerdas
Cetanã : kehendak
Chana : festival, hiburan, pagelaran
Channa : nama kusir Pangeran Siddhattha
Chanda : keinginan, hasrat
Chandaka : yang berkemauan, yang berketetapan hati
Citi : pengertian, kecerdasan
Citta : 1. pikiran, kesadaran, menawan, indah ; 2. nama bulan (Maret - April)
Civara : jubah bhikkhu
Culla : kecil
Cunda : nama orang yang memberikan persembahan makanan terakhir kepada Sang Buddha



NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (D)

Dabba : cerdas, mampu; material
Daha : kolam
Dahara : muda
Daka : air
Dakkha : pandai, ahli, fasih
Dakkhina : pintar, fasih; benar
Dãna : pemberian, barang pemberian, sedekah, dana
Dandadipikã : obor bertangkai
Dandaneti : jaksa
Dandapãni : 1. pemegang tongkat ; 2. nama saudara Ratu Mahamaya
Danta : gigi, gading; yang telah terlatih
Dãraka : anak laki-laki
Dãrikã : anak wanita
Dãru : kayu
Dasa : sepuluh
Dasaka : nama seorang siswa Sang Buddha
Dassana : pandangan, intuisi
Dassaniya : cantik, menarik, menawan
Datta : kekayaan, barang pemberian
Dãtu : pemberian, dermawan
Datti : hadiah, barang pemberian
Dãya : hutan, barang pemberian, hadiah
Dãyãda : warisan, ahli waris
Dãyaka : pemberi, penyokong
Dayãlu : yang penuh kasih sayang
Dayita : wanita; yang tercinta
Desanã : pengarahan, pembabaran, nasihat
Deva : dewa; raja; langit; hujan
Devadaha : nama leluhur Puteri Yasodhara
Devi : dewi, permaisuri
Dhaja : bendera, panji
Dhama/Dhamaka : pemain musik, peniup, penguncar
Dhamma (Dharma) : kebenaran; ajaran Sang Buddha; fenomena
Dhammadinnã : nama seorang bhikkhuni yang terkemuka dalam penyampaian Dhamma
Dhammãrãma : nama seorang siswa Sang Buddha
Dhammattha : berpijak pada kebenaran, teguh pada kebenaran
Dhammika : penyandang kebenaran
Dhana : kekayaan, harta, dana
Dhani : orang kaya
Dhananjaya : nama ayah Upasika Visakha
Dhanita : suara, bersuara
Dhannya : beruntung, nasib baik
Dhãra : pintu, lorong, aliran
Dharani : bumi, pertiwi
Dhãtu : unsur, zat, mineral, akar (kata), asal
Dhavala : putih, bersih
Dhira : bijaksana
Dhitã : anak wanita
Dhiti : energi, bersemangat, kebijaksanaan
Dhona : bijaksana
Dhotodana : nama saudara Raja Suddhodana
Dhuma : asap
Dhupa : dupa
Dhura : kewajiban
Dibba : kedewaan, surga
Dibya : sakti
Digha : panjang
Dija : brahmana; burung
Dina : hari
Dinakara : matahari
Dipa (Dwipa) : pulau; lampu, pelita
Dipankara : nama seorang Buddha yang meramalkan bahwa pertapa Sumedha akan menjadi Buddha (Gotama)
Dippana : bersinar
Disa : arah, jurusan
Ditthi : pandangan, pendapat
Ditti : kecemerlangan, sinar
Diva : surga, hari
Dona : nama brahmana yang membagi relik Sang Buddha
Doni/Donika : perahu
Duta : utusan
Dwi : dua



NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (E)

Eka : satu
Ekagga : menyatu
Ekãyana : jalan tunggal
Ekudana : nama seorang siswa Sang Buddha



NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (G)

Gagana : angkasa, langit
Gala : leher
Gãma : desa
Gana : kelompok, himpunan
Ganda : pipi
Gandha : bau, sedikit
Gandhi : memiliki wewangian
Gani : yang berpengikut, yang mempunyai siswa
Gantha/Ganthi : ikatan
Gabbha : kandungan
Guru : guru; mulia, berharga; berat
Gãthã : syair, puisi
Gati : tujuan, perjalanan
Gatta : tubuh, organ (tubuh)
Gãyaka : penyanyi
Gãyana : senandung
Ghana : hidung
Ghati : pot/jambangan air, jam
Gihi : perumah tangga
Gini : api
Girã : kata, pengucapan
Giri : gunung
Gita : lagu, nyanyian
Gitika : lagu
Giva : leher
Gopaka : pelindung
Gotama : nama suku Sang Buddha
Gotami : wanita dari suku Gotama
Govinda : julukan dari Krishna
Guna : kebijakan, kepandaian; lapis
Gutti : perlindungan, pengawal



NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (J)

Jãgara : siaga, jaga
Jala : air
Jalana : bersinar
Jalita : bernyala, bersinar, cerlang
Jana : orang, manusia
Janitta : tempat lahir, asal
Jannya : suci/murni, mulia, cantik, kelahiran baik
Jantu : mahluk hidup
Japã : mawar
Jarã : usia
Jãtaka : cerita kehidupan Bodhisatta pada kelahiran lampau
Jãti : kelahiran, keturunan; jenis
Jãtika : keturunan, milik suatu kelas, suku, bangsa
Jatila : pertapa bergelung, resi
Java : kecepatan, kekuatan
Jaya : kemenangan, jaya
Jayana : kemenangan
Jayasena : nama leluhur Pangeran Sidhattha
Jãyati : lahir, muncul
Jeta : nama pangeran yang tanahnya dibeli untuk dijadikan vihara
Jetu : pemenang
Jhãna (Dhyana) : konsentrasi pikiran, tingkatan meditasi
Jhãnika : orang yang mencapai konsentrasi pikiran
Jina : penakluk
Jita : lembut (suara), kemenangan
Jiva : kehidupan
Jivita : hidup, kehidupan
Jotana : bernyala
Joti : cahaya, pancaran sinar
Jotika : nama seorang siswa Sang Buddha



NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (K)
Kabba : puisi
Kakusandha : nama seorang Buddha sebelum Buddha Gotama
Kala : waktu
Kãlã : hitam
Kãlãma : nama suku pada masa kehidupan Sang Buddha
Kalãpa : ikatan, bungkusan, tumpukan, kelompok
Kalla : pandai, sehat
Kallita : sikap menyenangkan, keramahan
Kãludãyi : nama seorang siswa yang merupakan teman kecil Pangeran Siddhattha
Kalyãna : baik, indah, menyenangkan
Kalyãni : wanita cantik
Kãma : kesenangan
Kamala : bunga teratai
Kamalini : kolam teratai
Kãmaniya : menyenangkan, cantik
Kamma (Karma) : perbuatan
Kancana : emas
Kanaka : emas
Kanika : tanda kecil
Kaniskha : nama seorang raja
Kanittha/Kaniya : yang termuda
Kanitthi : saudara wanita termuda
Kanna : telinga
Kantã : menyenangkan, cantik; wanita
Kannya : gadis
Kapila : warna coklat; nama seorang pertapa
Kappa : masa dunia
Kara : tangan; cahaya
Karaka : pohon delima; kendi
Karakã : hujan es
Karaniya : yang patut dilakukan, kewajiban
Kariya : kewajiban
Karunã : belas asih
Kasina : alat untuk obyek meditasi
Kassapa : nama seorang Buddha sebelum Buddha Gotama
Kataka : gelang
Kathã : ucapan, wacana, cerita
Kathina : bingkai pengencang; upacara penyerahan jubah untuk bhikkhu yang telah bervassa
Kavi : penyair
Kãya : badan jasmani
Kesa : rambut
Kesava : nama dewa Wisnu
Ketu : bendera
Khaga : burung
Khandha : gugus, pangkal leher, batang, kelompok, tumpukan
Khanti : kesabaran
Khattiya : ksatria, raja, tuan
Khema : aman, tenang, penuh kedamaian
Khemã : nama seorang bhikkhuni siswa utama
Khemi : orang yang menikmati kedamaian
Khetta : ladang
Khira : susu
Khuddaka : kecil, sedikit, rendah, tak penting
Kicca : tugas
Kiki : sejenis burung berwarna biru
Kila : bermain, olahraga
Kirana : cahaya
Kiriya : perbuatan (dari seorang arahat)
Kisa : ramping, kurus
Kisãgotami : nama seorang bhikkhuni siswa Sang Buddha
Kitti : kemasyuran
Kokanada : teratai merah
Kolita : nama kecil Yang Ariya Moggallana
Koliya : nama suku yang berkerabat dengan suku Sakya
Komala : lembut, menarik
Komara : muda
Konãgamana : nama seorang Buddha sebelum Buddha Gotama
Kondannya : salah seorang dari lima siswa pertama Sang Buddha
Kosala : nama sebuah negeri di jaman Sang Buddha
Kosalla : kepandaian, kecerdasan
Koti : puncak
Kovida : cerdas, pandai
Kulla : rakit
Kumãra : anak laki-laki
Kumãri : anak wanita
Kumuda : bunga teratai putih
Kunda : sejenis bunga melati
Kundala : anting-anting
Kuntala : rambut
Kusala : kebaikan, cerdas, tangkas
Kusuma : bunga
Kuta : puncak
Kuvera : nama dewa yang memerintah di utara



NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (L)
Lãbha : sesuatu yang didapat, pendapatan
Laddha : telah didapat, telah dicapai
Lahu : cepat, ringan, nihil
Lakkhi : beruntung, makmur
Lakkha : tanda, target, tujuan, ratus ribu
Lakkhana : tanda, mutu, wajar
Lalita : cantik, anggun
Lãsika : penari
Lena: guna
Lila : luwes, anggun; tindak tanduk
Locana : mata
Loha : logam
Lohita/Lohitaka : merah
Loka : dunia, alam kehidupan
Lokapãla : penjaga alam
Lokiya : duniawi
Lumbini : tempat Pangeran Siddhattha dilahirkan



NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (M)

Maddava : kelembutan, keempukan
Madhu : madu
Magadha : nama sebuah kerajaan
Magga (Marga) : jalan
Mãgha : nama bulan (Januari - Februari)
Mahã : besar
Mahaddhana : kekayaan yang besar
Mahãkassapa : nama seorang siswa pemimpin Konsili Buddhis I
Mahãmãyã : nama ibu Pangeran Siddhattha
Mahãnãma : nama seorang dari lima siswa pertama Sang Buddha
Mahanta : besar
Mahattama : terbesar
Mahaviro : pemberani
Mahesi : guru besar, orang bijaksana
Mahesi : ratu, permaisuri
Mahilã : wanita
Mahinda : nama seorang siswa Sang Buddha (putra Raja Asoka) yang menyebarkan Dhamma ke Srilanka
Mahisa : kerbau
Mahita : dihormati
Mahodadhi : lautan luas
Majjha : tengah
Majjhima : bagian tengah, berada di tengah
Makaranda : sari bunga
Makuta : mahkota
Mãlã : rangkaian bunga
Mãlati : bunga melati
Mallika : bunga melati
Mãluta : angin
Mãlya : karangan bunga, untaian bunga
Mana : pikiran
Mandala : daerah, lingkaran
Mandana : perhiasan, penghiasan
Manggala : keberuntungan, berkah
Mani : mutiara, permata
Mãnita : dihormati, dipuja
Manju : cantik, molek, merdu
Manta : mantra, ungkapan
Mantã : kecendekiaan, pengetahuan
Manti : penasihat, menteri
Marakata : batu indah, giok
Mariyãda : tingkah laku
Matha : sekolah, akademi
Mattã : dimensi, ukuran; kecukupan
Mãtu : ibu
Mãyã : khayal
Mayãra : burung merak
Medhã : pemberian sesaji/korban, puja
Medha : kebijaksanaan
Medhãvi : orang bijaksana
Medini : bumi
Megha : awan, mega
Meghanãda : guntur
Meghiya : nama seorang siswa Sang Buddha
Mejjha : murni
Mettã (Maitri) : cinta kasih
Metteyya : nama seorang Bodhisatta
Mettiko : pemancar metta
Mihita : senyuman
Milinda : nama seorang raja
Mina : ikan
Minana : pengukuran, penghitungan, penimbangan
Mita : terukur, cukup, sedikit
Mitta (Mitra) : teman
Moda : senang, gembira
Modana : kegembiraan
Moggallãna : nama seorang siswa utama Sang Buddha yang memiliki kesaktian tinggi
Moggaliputta Tissa : nama seorang bhikkhu pemimpin Konsili Buddhis III
Mona : bijaksana, ketenangan
Mora : burung merak
Muda : kegembiraan
Muddhã : kepala, puncak
Muditã : gembira, puas, simpati
Muddã : cetakan, cap, cincin
Mudu : lembut, halus, muda
Mukhya : penting, besar
Mula : akar, umbi, awal, pangkal; modal
Muni : pertapa
Muninda : raja para bijaksana, Sang Buddha
Mutta : mutiara
Mutti : kebebasan



NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (N)

Nabhã : langit
Nãda : suara
Nadi : sungai
Nãga : naga; gajah; luhur
Nagara : kota
Nalina : bunga teratai
Nalini : danau teratai
Nama : batin
Namakãra : penghormatan
Nanda : 1. gembira; periang ; 2. nama seorang siswa Sang Buddha yang merupakan anak Pajapati Gotami
Nandana : 1. kegembiraan ; 2. nama kebun di kota Indra
Nandati : bergembira
Nandi : kesenangan, kegembiraan, kepuasan, keinginan
Nandiya : nama seorang umat yang mempersembahkan vihara kepada Sang Buddha
Nara : orang, laki-laki
Narapati : raja, pemimpin
Nãri : wanita
Nãsa : hidung
Nãtaka : penari
Nãtaputtaka : nama seorang siswa Sang Buddha
Nãtha : perlindungan
Nãtikã : penari wanita, aktris
Natta : malam
Nattu : cucu laki-laki
Nava : baru; sembilan
Navanita : mentega segar
Nãvika : anak kapal
Naya : pengajaran; rencana; ciri; cara; nasihat
Nãyaka : pemimpin
Nayana : mata
Neru : nama sebuah gunung tertinggi
Nibha : kilau, terang, seimbang
Nicca : tetap, pasti, abadi, berlangsung
Nidhi : harta karun
Nikanti : kepuasan, keinginan, nafsu, ambisi
Nikãya : kelompok, bagian
Nila : warna biru, warna hijau kebiruan
Nimi : nama seorang raja dalam cerita Jataka
Nimitta : tanda, gambaran, image
Nimmala (Nirmala) : bersih, murni
Nipãta : kumpulan, himpunan
Nipuna : pandai, ahli; berhasil
Niroga : sehat
Nirodha : padam, habis, hancur
Nisakara : bulan
Niyata : pasti, konstan, teguh, mantap
Niyoga : perintah, kepentingan
Nyãna : pengetahuan



NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (O)

Obhãsa : sinar, kilauan
Obhãsati : bersinar
Odhi : Batas
Oja : sari makanan, gizi, kelezatan, kilau; kekuatan
Oka : air, habitat
Okãsa : ruang, celah, tempat kosong; ijin; penampakan
Osadha : obat
Ottappa : rasa takut berbuat jahat
Ovada : nasihat, perintah



NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (P)

Pabala : berkuasa, kemampuan, berkekuatan besar
Pabba : bagian, buku, sendi
Pabbata : gunung
Pabhava : sumber, sebab
Pabhã : sinar
Pabhãva : kekuasaan, kekuatan, kebesaran
Pabhu : prabu, raja, penguasa, tuan
Paccaya : syarat, kondisi; sebab, penyokong
Padhãna : utama, perdana
Padipa : lentera, lampu
Paduma : bunga teratai
Paggaha : usaha, pujian, tunjang
Pahattha : penggembira, bersuka-ria; terpukul
Pajãpati : nama bibi Pangeran Siddhattha perawat Beliau
Pajja : syair, jalan
Pakattha : teragung, bagus
Pãla/Pãlaka : pelindung
Pãlana : perlindungan
Pailala : kolam kecil, danau kecil
Pamadã : wanita
Pamãna : penghitungan, ukuran, jumlah; batas; standar; jarak
Pãmitã : nama saudara Raja Suddhodana
Pãna (Prana) : kehidupan, mahluk hidup, nafas
Panãma : penghormatan
Panca : lima
Pandara : putih, putih kekuningan
Pandicca : kebijaksanaan, kecerdasan
Pandita : orang bijaksana, orang cerdas
Pandu : kekuningan
Pãni : tangan, telapak tangan; mahluk
Panita : nikmat; bagus, lembut, rapi
Paniya : pedagang
Pankaja : teratai
Pannya : kebijaksanaan; pengertian
Parãga : benang sari
Parama : yang tertinggi
Pãramitã : timbungan kebajikan, kesempurnaan kebajikan
Pari : menyeluruh
Parinnya : penuh pengertian
Parivãra : pengawal, pengikut
Pãsãda (Prasadha) : gedung, istana
Pãsãna : karang, batu
Pasenadi : nama seorang raja di jaman Sang Buddha
Pasiddha : berhasil; muncul; ahli
Passaddhi : ketenangan, kepadaman, keheningan
Passika : nama seorang siswa Sang Buddha
Patãcãrã : nama seorang bhikkhuni siswa Sang Buddha
Patãkã : bendera
Patapa : daya, kekuatan, kebesaran, kemahsyuran
Patha : jalan
Pathama (Pratama) : pertama, awal
Pathavi : bumi, tanah, pertiwi
Pathika : pengembara
Pati : pemilik, tuan, suami
Patihãriya : keajaiban
Patipadã : jalan pelaksanaan, metode
Patita : jatuh, roboh
Patita : sangat gembira
Patta : mangkuk; daun; mahkota bunga; mencapai, tercapai
Patthiva : raja
Pãtu : depan, tampak, terlihat
Pãvaka : api, terang, cerah, murni
Pavana : angin
Pavara : agung
Paveni : tradisi, adat; keturunan; gelung
Pavina : pandai, ahli
Pavitta : suci
Paya : susu, air
Payojana (Prayojana) : manfaat, tujuan
Pema : cinta
Phala : buah, hasil, akibat, pahala
Phussa : 1. sentuhan, perasaan; berbintik-bintik; cerah ; 2. nama bulan (Desember - Januari)
Pingala : warm coklat
Pita : kuning
Pitaka : keranjang
Piti (Priti) : kegiuran
Pitu : ayah
Piya (Priya) : menyenangkan, tercinta
Pokkhara : teratai
Pori : sopan
Posa : laki-laki
Pubba (Purwa) : permulaan, awal, dulu
Puggala : orang, manusia
Puja : penghormatan, puja
Pulina : pasir
Puma : laki-laki
Pundarika : teratai putih
Punnya : jasa, kebajikan, kebaikan
Punna (Purna) : sempurna
Puppha (Puspa) : bunga
Pura : kota
Purisa : laki-laki, orang
Purohita : penasihat kerohanian seorang raja
Putta : anak laki-laki, putra



NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (R)

Rãdha : nama seorang siswa Sang Buddha
Rahada : kolam dalam
Rãhu : gerhana, pemimpin kaum asura
Rãhula : 1. belenggu ; 2. nama anak Pangeran Siddhattha
Rãja : raja
Rajani : malam
Rajata : perak
Rakkhana : perlindungan
Rakkhita : terjaga, terlindungi, terobati
Ramana : kegembiraan, kesukariaan
Ramani : wanita
Ramaniya : menyenangkan, menggembirakan, nyaman
Ramati : bersenang, bergembira
Ramma/Ramya : (lih. Ramaniya)
Rasa : rasa, pengecapan, sopan santun, tugas, harta
Rasmi : pancaran sinar, tall
Ratha : kereta
Rati : kesenangan
Ratana : permata
Ratta : merah, darah, terwarnai
Ratti : malam
Rathapãla : nama seorang siswa Sang Buddha
Rava : suara, gumam
Ravi : matahari
Revata : nama seorang siswa Sang Buddha
Rohini : nama seorang bhikkhuni
Rohita : merah, darah
Rucira : senang, cantik, ramah
Rukkha : pohon
Rupa : bentuk, jasmani
Rupanandã : nama puteri clan Pajapati Gotami
Rupasãri : nama ibu Yang Ariya Sariputta
Rupasiri : cantik, anggun
Rupini : wanita cantik
Rupiya : perak



NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (S)
Sabha : semua, seluruh
Sabhã : tempat permusyawaratan, gedung rapat
Sacca (Satya) : kebenaran
Sadã : selamanya
Sãdara : patut disayang, penuh perhatian
Sadda : suara, kata
Saddhã : keyakinan
Saddhamma : kebenaran
Saddhana : kaya, makmur
Sãdu : menyenangkan, nikmat
Sãgara : laut
Sagga : surga
Sakka : nama raja dewa di surga Tavatimsa, dewa Indra, wangsa Sakya
Sakhã : sahabat
Sakhi : sahabat
Sukkodana : nama saudara Raja Suddhodana
Sakulã : nama seorang bhikkhuni
Sãkya : nama suku Pangeran Siddhattha
Sãlã : aula
Salila : air
Sãma : sama
Sama : hitam, gelap; kuning, keemasan, tenang
Samadhi : pemusatan pikiran, keteguhan pikiran
Samana : pertapa
Samantã : sekeliling, sekitar
Samatha : ketenangan
Sãmãvati : nama ratu isteri raja Udena
Samaya : waktu, saat, tempo; perhimpunan; ajaran
Samiddhi : sukses
Samijjhana : sukses
Sãmika : pemilik, majikan
Sãmini : majikan perempuan
Samirana : angin
Samita : tenang, menentramkan
Sammã : benar
Sammãna : penghormatan
Sammodaka : orang yang berbicara dengan ramah, pemberi rasa suka hati
Sammodana : kegembiraan, pembicaraan yang menyenangkan, pemberian rasa suka hati
Sampadã : kesempurnaan, kelengkapan
Sampasãda : simpati, cerah, senang
Sampatti : kekayaan, kesempurnaan, kesuksesan
Samudda : lautan, samudra
Sanda : tebal, padat
Sandhi : sambungan, penyatuan, penghubungan
Sandhya : waktu senja
Sangha : perhimpunan, perhimpunan para bhikkhu
Sanghamittã : nama bhikkhuni (puteri Raja Asoka) yang menyebarkan Dhamma ke Srilanka
Sãni : tabir, tirai, korden, layar
Santakãya : 1. berjasmani tenang ; 2. nama seorang siswa Sang Buddha
Santutthi : kepuasan terhadap yang dimiliki
Santusitã : nama seorang dewa yang sebelumnya merupakan ibu Pangeran Siddhattha
Sannya : pencerapan, pengenalan
Santa : tenang, damai
Santi : ketenangan, kedamaian
Santosa : kesenangan atas yang dimiliki
Santussati : bersenang atas yang dimiliki
Sãnu : nama seorang siswa Sang Buddha
Sappadasa : nama seorang siswa Sang Buddha
Sara : danau; anak panah; suara, vokal
Sarana : perlindungan, pengenangan, pergantungan
Saraniya : yang seharusnya diingat
Sãriputta : nama seorang siswa utama Sang Buddha yang merupakan murid terpandai
Sãririka : yang berkenaan dengan jasmani, tulang, relik
Saroja/Saroruha : bunga teratai
Sãsana : ajaran, aturan, pemerintahan, berita
Sasi : bulan
Sassata : kekal
Sassirika : semarak, cahaya kemilau, tenar
Sata : seratus, berperhatian
Sati : perhatian, pengenangan
Satta : mahluk hidup; tujuh
Satthu : guru, Sang Buddha
Satti (Sakti) : kemampuan, kekuatan, kehebatan
Sãvaka : siswa, pendengar
Savana : pendengaran, pengaliran
Sãvatthi : nama ibukota kerajaan Kosala
Seda : keringat
Senã : tentara
Seritã : tindakan sekehendak hati, bebas
Seta : putih
Settha : utama, baik sekali, luhur
Setthi : jutawan
Setu : jembatan
Seyya : lebih baik
Siddha : 1. berhasil ; 2. nama seorang dewa
Siddhattha : l . yang tercapai tujuannya ; 2. nama kecil Buddha Gotama
Siddhi : keberhasilan
Siha : singa
Sihahanu : nama ayah Raja Suddhodana
Sihãsana : tahta, singgasana
Sikkha : latihan
Sikha : lidah api, puncak, ujung
Sikhi : 1. burung merak ; 2. nama seorang Buddha sebelum Buddha Gotama
Sila : moralitas, susila, kewajaran, keajegan, senantiasa
Simã : batas
Sindhu : sungai Sindhu
Sira : kepala, topik
Siri : keagungan, keberuntungan
Sissa : pelajar, pendengar
Sita/Sitala : dingin
Sivali : nama seorang siswa Sang Buddha yang terkenal banyak timbunan jasanya
Sobhã : kecantikan
Sobhana : kecantikan
Sobhati : indah, memancarkan keindahan
Sogata : Buddhis
Sokhaya : kebahagiaan, kenyamanan
Soma: bulan
Somma : sopan, rapi, gemulai
Sonna : emas
Sopaka : nama seorang siswa Sang Buddha
Soracca : rendah hati
Sota : pendengaran
Sotthi : sejahtera, selamat, berkah
Su : baik, indah, mudah
Subha : cantik, menarik
Subhadda : berkembang biak, gagah perkasa
Subhata : mudah dipelihara, mudah dirawat
Sucarita : kebaikan
Suci : suci, bersih
Sudatta : nama kecil Anathapindika
Suddha : bersih, murni
Suddhodana : nama ayah Buddha Gotama
Sudhi : orang bijaksana
Sudina : terang, bercahaya, hari baik
Sudinna : terberikan dengan baik
Sugandha : harum
Sugata : telah pergi dengan baik, telah sampai dengan baik
Sugati : keadaan bahagia, alam menyenangkan
Suhada : teman, berhati baik
Suhita : puas, bermanfaat baik
Sujã : nama isteri dewa Sakka
Sujana : orang baik
Sujãtã : nama orang yang mempersembahkan makanan kepada pertapa Siddhattha
Sujjhati : menjadi bersih/suci
Sukha : kebahagiaan, kesenangan
Sukheti : membuat bahagia
Sukhita : gembira, bahagia
Sukkodana : nama saudara Raja Suddhodana
Sukhumãla : lembut
Suladdha : terterima dengan baik, terterima dengan mudah
Sumana : 1. suka hati, baik hati ; 2. nama seorang perangkai bunga di jaman kehidupan Sang Buddha
Somanassa : kegembiraan, kepuasan
Sumanggala : 1. berkah baik ; 2. nama seorang siswa Sang Buddha
Sumati : orang bijaksana, pengetahuan baik, pikiran baik
Sumedha : 1. bijaksana ; 2. nama bodhisatta yang kemudian menjadi Buddha Gotama
Sundara : tampan, baik, bagus
Sundari : cantik, baik, bagus
Sunita : nama seorang siswa Sang Buddha
Sunu : anak laki-laki
Supanna : nama sejenis burung surga; burung garuda
Supina : mimpi
Suppabuddha : nama ayah Puteri Yasodhara
Suppasanna : bersih, cemerlang
Sura : dewa, berani
Suriya (Surya) : matahari
Surupa/Surupi : tampan, cantik, rupawan/wati
Susila : bertingkah laku baik
Susu : pemuda
Susuddha : sangat bersih
Susukka : sangat putih
Suta : anak laki-laki; terdengar; telah belajar
Sutã : anak wanita
Sutta : benang, terlelap; salah satu bentuk sabda Sang Buddha
Suvanna : emas
Suvatthi : sejahtera, selamat
Suvitta : kaya
Suyama : nama dewa yang menyambut kelahiran Pangeran Siddhattha



NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (T)

Tãdi : orang yang tegar/tetap; sedemikian itu
Tamãla : nama sejenis pohon, pohon pinang
Tamba : coklat, merah; tembaga
Tãla : pohon palmyra
Tãna : perlindungan, pertahanan, pernaungan; Nibbana
Tanaya : anak laki; keturunan
Tanayã : anak wanita
Tanti : tali kecapi, garis, tradisi, kitab, pustaka, perdana
Tanu : kurus, ramping
Tapa : tapa, latihan diri, usaha membakar kilesa
Tapana : bercahaya, pembakaran
Tapussa : nama seorang siswa awam pertama Sang Buddha
Tãrã/Tãrakã : bintang
Tarani : kapal, perahu
Taru : pohon
Taruna : pemuda
Taruni : pemudi
Tasa : getar, goyang, gerak
Tathã : demikian, begitu
Tatiya : ketiga
Tatta : hakekat, kebenaran, keaslian; telah panas, berkilau
Teja : panas, sinar, kemuliaan, keagungan, kekuatan
Tevijja : mempunyai tiga pengetahuan (Vijja 3), arahanta
Thala : tanah
Thãma : kekuatan
Thanita : guruh, guntur; gelegar
Thera : tua, senior
Thira : teguh, kuat, abadi; gunung; pohon
Thuti : pujian
Ti : tiga
Tidasa : dewa, dewa surga Tavatimsa
Tika : bagian tiga, kelompok tiga; terdiri dari tiga
Tikkha : tajam, cerdas
Timi : nama ikan yang sangat besar
Tina : rumput
Tissa : nama seorang siswa Sang Buddha
Titti : kepuasan, kesukaan; penuh, kenyang; pinggir
Tomara : tombak
Tuhina : embun
Tusita : nama surga
Tuttha : gembira



NAMA-NAMA BUDDHIS DENGAN HURUF AWAL (U)
Ubbiri : nama seorang bhikkhuni
Ucca : tinggi, mulia, agung
Uccakulina : kelahiran yang mulia/agung
Udadhi : lautan
Udagga : kegembiraan hati; berhati mulia
Udaka : air
Udara : perut
Udãna : nama salah satu kitab suci agama Buddha
Udarã : mulia, terbaik, tinggi
Udaya : timbul, tumbuh; pendapatan
Udayana : pertumbuhan, perkembangan
Udena : nama seorang raja pada jaman Sang Buddha
Udicca : mulia
Udita : muncul, terbit, naik; telah terucapkan
Ugga : besar, berkuasa
Uggasena : nama seorang siswa Sang Buddha
Ujjala : terang, bersinar
Uju : lurus, jujur
Ukkã : obor
Ulu : bintang
Ummi : gelombang
Upadi : semangat kehidupan
Upajivati : hidup, berpenghidupan, benaung, bergantung
Upakãra : bantuan, tunjangan
Upãli : nama seorang bhikkhu pengulang Vinaya pada Konsili Buddhis I
Upananda : nama seorang siswa Sang Buddha
Uparãja : raja muda
Upatissa : nama kecil Yang Ariya Sariputta
Upatthãna : tunjangan; pelayanan
Upãya : cara, jalan, upaya
Upekkhã : keseimbangan batin; keadaan batin tak condong
Uppala : teratai
Uppalavannã : nama seorang bhikkhuni siswa utama Sang Buddha
Usabha : nama seorang siswa Sang Buddha
Usmã : panas, uap hangat
Ussava : pertunjukan, pagelaran
Uttama : tertinggi, terbaik, utama, mulia
Uttara : lebih tinggi, lebih hebat; arah utara; jawaban; selimut; perahu; terseberang; berikut, atas
Utthãyaka : aktif, rajin
Utu : suhu, panas, musim cuaca, waktu; darah bulanan
Uyyãna : taman, kebun buah

arti awalan nama dalam agama buddha

A : pendengar yang baik.
B : berjiwa besar.
C : pembicara yang baik.
D : penyayang.
E : tidak stabil.
F : sopan santun.
G : mudah memaafkan.
H : pandai menyembunyikan kesedihan dibalik senyuman.
I : murah senyum dan selalu tampil bahagia.
J : tulus hati.
K : adil.
L : sangat perasa.
M : humoris.
N : tidak mudah jatuh cinta.
O : mempunyai kepribadian yang baik.
P : terkenal.
Q : orang aneh.
R : Rajin bekerja.
S : Bijaksana.
T : cinta damai.
U : pemikir.
V : Jaim (jaga image).
W : pesimis.
X : penuh rahasia.
Y : lucu dan konyol secara bersamaan.
Z : berpikiran sempit.

sigalovada suta


Pada suatu ketika, Sang Buddha sedang berdiam di Rajagaha, di Vihara Hutan Bambu, di Kandakavinapa (Tempat Pemeliharaan Tupai). Pada waktu itu, Sigala, putra kepala keluarga, bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha, dengan rambut dan pakaian basah, sambil ber-anjali ia menyembah ke berbagai arah, yaitu arah Timur, Selatan, Barat, Utara, bawah dan atas. Dan Sang Bhagava pada pagi hari itu, setelah mengenakan jubah serta membawa mangkukNya, pergi ke Rajagaha untuk mengumpulkan dana makanan (pindapatta). Kemudian Sang Bhagava melihat Sigala, putera kepala keluarga itu menyembah ke berbagai arah dan bertanya :
“O Putera kepala keluarga, mengapa engkau bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha, dengan rambut dan pakaian basah sambil ber-anjali, engkau menyembah ke berbagai arah, yaitu ke arah Timur, Selatan, Barat, Utara, bawah dan atas?”
“Yang Mulia, ketika ayahku menjelang wafat, beliau berkata kepadaku untuk menyembah ke enam arah. Demikianlah Yang Mulia, karena menghormati, mengindahkan, menjunjung dan menganggap suci kata-kata ayah itulah, maka saya bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha. Dengan rambut dan pakaian basah, sambil ber-anjali, saya menyembah ke enam arah.”
Sang Buddha lalu berkata, “Tetapi anakKu, dalam agama seorang Ariya enam arah itu tidak seharusnya disembah dengan cara demikian.”
Sigala, putera kepala keluarga itu bertanya :
“Yang Mulia, bagaimanakah seharusnya seorang Ariya menyembah ke enam arah itu? Alangkah baiknya apabila Sang Bhagava berkenan mengajarkan kepada saya, ajaran yang menguraikan caranya menyembah ke enam arah itu sesuai dengan agama seorang Ariya.”
“O putera kepala keluarga, dengarkan dan perhatikan dengan baik kata-kataKu ini. Karena siswa Ariya telah menyingkirkan empat kekotoran tingkah laku (kammakilesa), karena ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat (papakamma) yang didasari oleh empat dorongan, karena ia tidak mengejar enam saluran yang memboroskan kekayaan, maka dengan menjauhi (nasevati) empat belas hal buruk ini, ia adalah seorang pengayom enam arah itu, seorang penakluk (vijaya), yaitu ia akan sejahtera dalam alam ini dan alam berikutnya. Pada saat penghancuran tubuhnya, setelah mati, ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga. Apakah empat kekotoran tingkah laku yang telah ia singkirkan itu? Yaitu membunuh makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berzinah dan berbohong. Apakah empat dorongan yang mendasari perbuatan-perbuatan jahat yang tidak ia lakukan?
Perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan :
  • atas dorongan rasa senang sepihak (chanda gati),
  • atas dorongan kebencian (dosa gati),
  • atas dorongan ketidak-tahuan (moha gati), dan
  • atas dorongan rasa takut (bhaya gati).
Tetapi karena para siswa Ariya tidak terseret oleh keempat dorongan-dorongan tersebut, maka ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat.”
Kemudian Sang Buddha menerangkan lebih lanjut :
“Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian atau ketidak-tahuan atau ketakutan telah melanggar Dhamma, maka nama baik dan kemashyurannya akan menjadi pudar, bagaikan bulan yang susut pada masa bulan gelap.”
“Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian, atau ketidak-tahuan atau ketakutan tidak pernah melanggar Dhamma, maka nama baik dan kemashyurannya menjadi sempurna dan penuh, bagaikan bulan purnama pada masa bulan terang.”
“Dan apakah enam saluran yang memboroskan kekayaan itu?” Yaitu :
  1. Gemar minum minuman yang memabukkan,
  2. Berkeliaran di jalan pada saat yang tidak pantas,
  3. Mengejar tempat-tempat hiburan,
  4. Gemar berjudi,
  5. Bergaul dengan teman-teman jahat,
  6. Kebiasaan malas.
“O putera kepala keluarga, terdapat pula enam bahaya karena :
  1. Gemar minum minuman yang memabukkan, yaitu :
    • Kerugian harta secara nyata,
    • Bertambahnya pertengkaran,
    • Tubuh mudah terserang penyakit,
    • Kehilangan sifat yang baik,
    • Terlihat tidak sopan,
    • Kecerdasan menjadi lemah.
  2. Berkeliaran di jalan pada saat yang tidak pantas, terdapat enam bahayanya, yaitu:
    • Dirinya sendiri tidak terjaga dan tidak terlindung,
    • Anak isterinya tidak terjaga dan tidak terlindung,
    • Harta kekayaannya tidak terjaga dan tidak terlindung,
    • Ia dapat dituduh sebagai pelaku kejahatan-kejahatan yang belum terbukti,
    • Menjadi sasaran desas-desus palsu,
    • Ia akan menjumpai banyak kesulitan.
  3. Mengejar tempat-tempat hiburan, bahaya-bahayanya adalah ia akan selalu berpikir :
    • Dimanakah ada tari-tarian,
    • Dimanakah ada nyanyi-nyanyian,
    • Dimanakah ada pertunjukan musik,
    • Dimanakah ada pembacaan deklamasi,
    • Dimanakah ada permainan tambur,
    • Dimanakah ada permainan genderang.
  4. Gemar berjudi, bahaya-bahayanya adalah :
    • Bila menang, ia memperoleh kebencian,
    • Bila kalah, ia kehilangan harta kekayaannya,
    • Kerugian harta benda secara nyata,
    • Di pengadilan kata-katanya tidak berharga,
    • Ia dipandang rendah oleh sahabat-sahabat dan pejabat-pejabat pemerintah,
    • Ia tidak disukai oleh orang-orang yang akan mencari menantu, karena mereka akan berkata bahwa seorang penjudi tidak dapat memelihara seorang isteri.
  5. Bergaul dengan teman-teman jahat, bahaya-bahayanya adalah ia menjadi teman dan sahabat dari :
    • Setiap penjudi,
    • Setiap orang yang gemar berfoya-foya,
    • Setiap pemabuk,
    • Setiap penipu,
    • Setiap orang yang kejam.
  6. Kebiasaan menganggur (malas), bahaya-bahayanya adalah ia akan selalu berkata:
    • ‘Terlalu dingin’ dan ia tidak bekerja,
    • ‘Terlalu panas’ dan ia tidak bekerja,
    • ‘Terlalu pagi’ dan ia tidak bekerja,
    • ‘Terlalu siang’ dan ia tidak bekerja,
    • ‘Aku terlalu lapar’ dan ia tidak bekerja,
    • ‘Aku terlalu kenyang’ dan ia tidak bekerja.
Dengan demikian semua yang harus ia kerjakan tetap tidak dikerjakan, harta kekayaan baru tidak ia peroleh dan harta kekayaan yang sudah ia miliki menjadi habis.”
Sang Buddha kemudian menerangkan :
“O putera kepala keluarga, terdapat empat macam orang yang harus dianggap musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu :
  1. Orang yang tamak,
  2. Orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat suatu apapun,
  3. Penjilat,
  4. Kawan pemboros.
Terdapat pula empat dasar yang menyebabkan orang yang seharusnya dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu :
  1. Orang yang tamak, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
    • Ia tamak,
    • Ia memberi sedikit dan meminta banyak,
    • Ia melakukan kewajibannya karena takut,
    • Ia hanya ingat akan kepentingannya sendiri.
  2. Orang yang banyak bicara, tetapi tidak berbuat sesuatu apapun, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
    • Ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang lampau,
    • Ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang mendatang,
    • Ia berusaha untuk mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong,
    • Bila ada kesempatan untuk membantu ia mengatakan tidak sanggup.
  3. Penjilat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
    • Ia menyetujui hal-hal yang salah,
    • Ia tidak menganjurkan hal-hal yang benar,
    • Ia akan memuji dirimu dihadapanmu,
    • Ia berbicara jelek tentang dirimu dihadapan orang-orang lain.
  4. Kawan pemboros mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar akan minum minuman keras,
    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau sering berkeliaran di jalan pada waktu yang tidak pantas,
    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau mengejar tempat-tempat hiburan dan pertunjukkan,
    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar berjudi.”
Sang Bhagava lalu mengucapkan syair berikut :
“Sahabat yang selalu mencari apa-apa untuk diambil, sahabat yang kata-katanya berlainan dengan perbuatannya, sahabat yang menjilat, lagi pula hanya berusaha membuat engkau senang, sahabat yang gembira dengan cara-cara jahat. Empat ini adalah musuh-musuh. Setelah menyadarinya demikian, biarlah orang bijaksana menghindari mereka dari jauh, seakan mereka jalan yang berbahaya dan menakutkan.”
“O putera kepala keluarga, terdapat empat macam sahabat yang harus dipandang berhati tulus (suhada), yaitu :
  1. Sahabat penolong,
  2. Sahabat pada waktu senang dan susah,
  3. Sahabat yang memberi nasehat yang baik,
  4. Sahabat yang bersimpati.
Atas empat dasar inilah sahabat penolong harus dipandang berhati tulus:
  1. Sahabat penolong berhati tulus karena :
    - Ia menjaga dirimu sewaktu engkau lengah,
    - Ia menjaga milikmu sewaktu engkau lengah,
    - Ia menjadi pelindung dirimu sewaktu engkau dalam ketakutan,
    - Ia memberikan bantuan dua kali daripada apa yang engkau perlukan.
  2. Sahabat pada waktu senang dan susah berhati tulus karena :
    - Ia menceritakan rahasia-rahasia dirinya kepadamu,
    - Ia menjaga rahasia dirimu,
    - Ia tidak akan meninggalkan dirimu sewaktu engkau berada dalam kesulitan
    - Ia bahkan bersedia mengorbankan hidupnya demi kepentinganmu.
  3. Sahabat yang memberi nasehat yang baik, berhati tulus karena :
    - Ia mencegah engkau berbuat jahat,
    - Ia menganjurkan engkau untuk berbuat yang benar,
    - Ia memberitahukan apa yang belum engkau pernah dengar,
    - Ia menunjukkan engkau jalan ke surga.
  4. Sahabat yang bersimpati, berhati tulus karena :
    - Ia tidak bergembira atas kesengsaraanmu,
    - Ia merasa senang atas kesejahteraanmu,
    - Ia mencegah orang lain berbicara jelek tentang dirimu,
    - Ia membenarkan orang lain yang memuji dirimu.
“O putera kepala keluarga, bagaimanakah caranya siswa Ariya melindungi enam arah itu?
Enam arah itu harus dipandang sebagai berikut :
  1. Ibu dan ayah seperti arah Timur,
  2. Para guru seperti arah Selatan,
  3. Isteri dan anak-anak seperti arah Barat,
  4. Sahabat-sahabat dan kawan-kawan seperti arah Utara,
  5. Pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan seperti arah bawah,
  6. Guru-guru agama dan brahmana-brahmana seperti arah atas,
“AnakKu, Sigala, putera kepala keluarga, dengarkanlah baik-baik keterangan ini :
  1. Ibu dan ayah seperti arah Timur.
    Ada lima cara seorang anak harus memperlakukan orang tuanya seperti arah
    Timur :
    - Aku harus merawat mereka,
    - Aku akan memikul beban kewajiban-kewajiban mereka,
    - Aku akan mempertahankan keturunan dan tradisi keluarga,
    - Aku akan menjadikan diriku pantas menerima warisan,
    - Aku akan melakukan perbuatan-perbuatan baik dan upacara agama setelah mereka meninggal dunia
    Dalam lima cara inilah, orang tua yang diperlakukan demikian oleh seorang anak seperti arah Timur, menunjukkan kecintaan mereka kepadanya dengan:
    - Mencegah anaknya berbuat jahat,
    - Mendorong mereka berbuat baik,
    - Melatihnya dalam suatu profesi,
    - Mencarikan pasangan (suami/isteri) yang pantas,
    - Pada waktu yang tepat, mereka menyerahkan warisan kepada anaknya.
    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang anak memperlakukan orang tuanya seperti arah Timur. Dalam lima cara inilah orang tua menunjukkan kecintaan mereka kepadanya. Demikianlah arah Timur ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
  2. Para guru seperti arah Selatan.
    Ada lima cara siswa-siswa harus memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan :
    - Dengan bangkit (dari tempat duduk untuk memberi hormat),
    - Dengan melayani mereka,
    - Dengan bersemangat untuk belajar,
    - Dengan memberikan jasa-jasa kepada mereka,
    - Dengan memberikan perhatian sewaktu menerima ajaran dari mereka.
    Dalam lima cara inilah, guru-guru yang diperlakukan demikian oleh siswa-siswa mereka seperti arah Selatan, akan mencintai siswa-siswanya dengan:
    - Melatihnya sedemikian rupa sehingga ia selalu baik,
    - Membuatnya menguasai apa yang telah diajarkan,
    - Mengajarnya secara menyeluruh dalam berbagai ilmu dan seni,
    - Berbicara baik tentang dirinya di antara sahabat-sahabatnya dan kawan-kawannya,
    - Menjaga keselamatannya di semua tempat.
    O putera kepala keluarga, dengan lima cara inilah siswa-siswa memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan. Dalam lima cara inilah guru-buru mencintai siswa-siswa mereka. Demikianlah arah Selatan ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
  3. Isteri dan anak-anak seperti arah Barat.
    Dengan lima cara seorang isteri harus diperlakukan oleh suaminya seperti arah Barat :
    - Dengan menghormati,
    - Dengan bersikap ramah-tamah,
    - Dengan kesetiaan,
    - Dengan menyerahkan kekuasaan rumah-tangga kepadanya,
    - Dengan memberikan barang-barang perhiasan kepadanya.
    Dengan enam cara inilah, seorang isteri yang diperlakukan demikian oleh suaminya seperti arah Barat dengan :
    - Mencintainya,
    - Menjalankan kewajiban-kewajibannya dengan baik,
    - Bersikap ramah-tamah terhadap sanak-keluarga kedua belah pihak,
    - Dengan kesetiaan,
    - Dengan menjaga barang-barang yang diberikan suaminya,
    - Pandai dan rajin dalam melaksanakan segala tanggung-jawabnya.
    O putera kepala keluarga, dengan lima cara inilah seorang suami memperlakukan isterinya seperti arah Barat. Dalam enam cara inilah seorang isteri mencintai suaminya. Demikianlah arah Barat ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
  4. Sahabat-sahabat dan kawan-kawan seperti arah Utara.
    Dengan lima cara seorang warga keluarga memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah Utara dengan :
    - Bermurah hati,
    - Berlaku ramah,
    - Memberikan bantuan,
    - Memperlakukan mereka seperti ia memperlakukan dirinya sendiri,
    - Berbuat sebaik ucapannya.
    Dalam lima cara inilah, o putera kepala keluarga, sahabat-sahabat dan kawan-kawan yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah Utara, mencintainya dengan :
    - Mereka melindunginya sewaktu ia lengah,
    - Mereka melindungi harta miliknya sewaktu ia lengah,
    - Mereka menjadi pelindung sewaktu ia berada dalam bahaya,
    - Mereka tidak akan meninggalkannya sewaktu ia sedang dalam kesulitan,
    - Mereka menghormati keluarganya.
    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah Utara. Dalam lima cara inilah sahabat-sahabat dan kawan-kawan mencintainya. Demikianlah arah Utara ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
  5. Pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan seperti arah bawah.
    Dalam lima cara seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah :
    - Dengan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka,
    - Dengan memberikan mereka makanan dan upah,
    - Dengan merawat mereka sewaktu mereka sakit,
    - Dengan membagi barang-barang kebutuhan hidupnya,
    - Dengan memberikan cuti pada waktu-waktu tertentu.
    Dalam lima cara inilah, o putera kepala keluarga, pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan yang diperlakukan demikian oleh majikan seperti arah bawah, akan mencintainya dengan cara :
    - Mereka bangun lebih pagi daripadanya,
    - Mereka merebahkan diri untuk beristirahat setelahnya,
    - Mereka puas dengan apa yang diberikan kepada mereka,
    - Mereka melakukan kewajiban-kewajiban mereka dengan baik,
    - Dimanapun mereka berada mereka akan memuji majikannya, memuji keharuman namanya.
    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah. Dalam lima cara inilah pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan mencintainya.
    Demikianlah arah bawah ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
  6. Guru-guru agama dan brahmana-brahmana seperti arah atas.
    Dalam lima cara seorang warga keluarga harus memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas :
    - Dengan cinta kasih dalam perbuatan,
    - Dengan cinta kasih dalam perkataan,
    - Dengan cinta kasih dalam pikiran,
    - Membuka pintu rumah bagi mereka (mempersilahkan mereka),
    - Menunjang kebutuhan hidup mereka pada waktu-waktu tertentu.
    Dalam enam cara inilah, o putera kepala keluarga, para pertapa dan brahmana yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah atas, akan menunjukkan kecintaan mereka :
    - Mereka mencegah ia berbuat jahat,
    - Mereka menganjurkan ia barbuat baik,
    - Mereka mencintainya dengan pikiran penuh kasih sayang,
    - Mereka mengajarkan apa yang belum pernah ia dengar,
    - Mereka membenarkan dan memurnikan apa yang pernah ia dengar,
    - Mereka menunjukkan ia jalan ke surga.
    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas. Dalam enam cara inilah para pertapa dan brahmana menunjukkan kecintaan mereka kepadanya.
    Demikianlah arah atas ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.”
    Setelah Beliau selesai berkata demikian, Sigala, putera kepala keluarga itu, berkata dengan amat gembira :
    “Sungguh mengagumkan, Yang Mulia! Sungguh mengagumkan, Yang Mulia! Sama halnya seperti seseorang menegakkan kembali apa yang telah roboh, memperlihatkan apa yang tersembunyi, menunjukkkan jalan benar kepada yang tersesat, atau memberikan cahaya dalam kegelapan, agar mereka yang mempunyai mata dapat melihat benda-benda di sekitarnya. Demikian pula, dengan berbagai macam cara Dhamma telah dibabarkan oleh Sang Bhagava kepada saya. Dan sekarang, Yang Mulia, saya menyatakan berlindung kepada Buddha, Dhamma serta Sangha. Semoga Yang Mulia berkenan menerima saya sebagai seorang upasaka, yang sejak hari ini sampai selama-lamanya telah menyatakan berlindung kepada Buddha, Dhamma serta Sangha.”