Jumat, 16 Desember 2011

YANG ARIYA RAHULA

Terkemuka dalam Melaksanakan Kebaikan
Pada hari ketujuh setelah Sang Buddha kembali ke Kapilavatthu, Puteri Yasodhara mendandani Pangeran Rahula dengan pakaian yang bagus dan mengajaknya ke jendela. Dari jendela itu mereka dapat melihat Sang Buddha sedang makan siang. Puteri Yasodhara kemudian bertanya pada Rahula, “Anakku, tahukah engkau siapa orang itu ?”. Rahula menjawab, “Beliau adalah Sang Buddha, ibu”. Yasodhara tak dapat menahan air matanya yang menitik keluar dan berkata, “Anakku, petapa yang kulitnya kuning keemasan dan tampak seperti Brahma dikelilingi oleh ribuan muridnya adalah ayahmu. Beliau punya banyak harta pusaka. Pergilah kepadanya dan mintalah harta pusaka untukmu”.
Pangeran Rahula, yang masih kecil itu kemudian pergi mendekati Sang Buddha dan sambil memegang jari tangan Sang Buddha mengatakan apa yang dipesankan ibunya. Kemudian ia menambahkan, “Ayah, bahkan bayangan ayah membuat hatiku senang. Selesai makan siang Sang Buddha meninggalkan istana. Rahula mengikuti sambil terus merengek, “Ayah, berikanlah aku harta pusaka. Kelak aku akan menjadi raja, aku ingin memiliki harta pusaka. Ayah, berikanlah aku warisan”. Tak ada orang yang mencoba menghalang-halangi dan Sang Buddha sendiri juga membiarkan Rahula berbuat demikian. Setibanya di taman, beliau berpikir, “Rahula minta warisan harta pusaka, tetapi semua harta dunia penuh dengan penderitaan. Lebih baik Aku memberikan warisan berupa Tujuh Faktor Penerangan Agung yang Aku peroleh bawah pohon Bodhi. Dengan demikian akan mewarisi harta pusaka yang paling mulia”.
Di vihara, Sang Buddha meminta YA Sariputta untuk menahbiskan Rahula sebagai samanera. Rahula dengan demikian merupakan samanera pertama. Mendengar berita Rahula telah ditahbiskan menjadi samanera, Raja Suddhodana merasa sedih sekali. Oleh karena itu ia mohon kepada Sang Buddha agar seseorang yang akan ditahbiskan menjadi bhikkhu atau samanera agar dengan ijin orangtuanya. Sang Buddha menyetujui permohonan tersebut dan mulai saat itu tidak mentahbiskan bhikkhu atau samanera tanpa terlebih dahulu mendapat ijin dari orangtuanya.
Rahula merupakan putera dari Pangeran Siddhattha dan Puteri Yasodhara. Ketika Pangeran Siddhattha mendengar berita bahwa isterinya telah melahirkan seorang putera, mukanya menjadi pucat. Pangeran mengangkat kepalanya menatap langit dan berkata, “Rahulajato, bandhanam jatam” (Satu belenggu telah terlahir, satu ikatan telah terlahir). Karena itulah maka bayi yang baru lahir itu diberi nama Rahula. Kelahiran Rahula disambut dengan pesta besar yang meriah. Namun saat itu Pangeran Siddhattha telah bertekad untuk meninggalkan istana untuk mencari jalan untuk membebaskan manusia dari usia tua, sakit dan kematian.
Sesaat sebelum meninggalkan istana, Pangeran Siddhattha pergi ke kamar Puteri Yasodhara untuk melihat isteri dan anaknya. Isterinya sedang tidur nyenyak dan memeluk bayinya. Tangannya menutup muka sang bayi sehingga muka bayi tidak dapat terlihat. Pangeran semula ingin menggeser tangan isterinya untuk dapat melihat muka puteranya itu, tetapi hal ini diurungkan karena takut hal itu menyebabkan Puteri Yasodhara terbangun dan rencananya untuk meninggalkan istana bisa gagal. Pangeran berkata dalam hati, “Biarlah hari ini aku tidak melihat wajah anakku, tetapi nanti setelah aku memperoleh apa yang kucari aku akan datang kembali dan dengan puas dapat melihat wajah anak dan isteriku”. Setelah itu Pangeran Siddhattha meninggalkan istana dengan menunggang kuda Kanthaka diikuti oleh kusirnya, Channa, untuk berkelana mencari jalan kebahagiaan bagi umat manusia.
Kepergian Pangeran Sidhattha memberikan kesedihan yang mendalam bagi ayahnya, Raja Suddhodana terlebih pula isterinya, Puteri Yasodhara. Rahula yang kehilangan ayahnya diasuh dan dididik dengan penuh kasih sayang dan tumbuh menjadi anak yang pandai dan baik budi. Puteri Yasodhara sendiri ketika mendengar bahwa Pangeran Siddhattha yang telah menjadi petapa memakai jubah kuning, ia pun memakai jubah kuning, sewaktu mendengar petapa Siddhattha hanya makan satu kali sehari, ia pun makan hanya satu kali sehari. Demikian pula mengikuti kehidupan petapa Siddhattha, Puteri Yasodhara tidak lagi tidur di dipan yang tinggi dan mewah, tidak lagi memakai untaian bunga dan wewangian.
Setelah ditahbiskan oleh YA Sariputta, Rahula kini harus mengikuti peraturan yang berlaku. Sebagai anak Rahula tidak dapat memanggil ayah atau selalu berdekatan dengan Sang Buddha. Ini mungkin merupakan kesedihan baginya karena ia tidak dapat memperlakukan ayahnya sebagai seorang ayah sehingga mendorongnya untuk melakukan kenakalan-kenakalan kecil. Contohnya, suatu kali ia menunjukkan arah yang salah kepada umat yang datang ke vihara dan bertanya di mana dapat bertemu dengan Sang Buddha. Hal ini terdengar oleh Sang Buddha yang segera menuju ke kuti Rahula.
Rahula merasa bahagia ketika melihat ayahnya datang menghampirinya. Sang Buddha lalu meminta Rahula untuk menyiapkan sebaskom air. Setelah Rahula membasuh kaki Sang Buddha, Sang Buddha bertanya, “Rahula, dapatkah kamu minum air ini ?”
Rahula menjawab, “Tidak, tadi air ini bersih, tetapi sekarang sesudah dipakai membasuh kaki, air menjadi terlalu kotor untuk diminum”
Sang Budhha lalu menyuruh Rahula membuang air itu dan kembali dengan baskom yang sudah kosong. Lalu Sang Buddha berkata, “Rahula, dapatkah kamu menaruh makanan ke dalam baskom ini?”
Rahula menjawab, “Tidak saya tidak dapat menaruh makanan di baskom karena bekas tempat air kotor”.
Mendengar jawaban Rahula Sang Buddha berkata, “Seseorang yang mengetahui bahwa kebohongan adalah perbuatan buruk, tetapi berbohong terus menerus dengan menyakiti orang lain adalah seperti air yang kotor atau sebuah baskom yang sudah kotor. Kejahatan mulai dengan berbohong, yang akan mengundang kejahatan lain pada dirinya sendiri. Dan penderitaan yang disebabkan oleh kebohongan tidak akan dapat dielakkan oleh si pembuat kebohongan”.
Dengan kata-kata yang disampaikan oleh Sang Buddha, sejak saat itu Rahula dengan amat rajin mematuhi semua peraturan Sangha dan menjadi seorang bhikkhu yang terkemuka dalam melaksanakan perbuatan baik. Banyak orang memandang Rahula dengan penuh simpati. Meskipun terlahir dan dididik sebagai pangeran, Ia dapat melepaskan semua hak-hak istimewanya dan pada usia demikian muda dapat menjalani kehidupan suci dengan begitu baik. Namun adapula anggota sangha yang memperlakukannya dengan tidak ramah dan beberapa orang bhikkhu iri hati kepadanya. Menerima perlakuan yang tidak menyenangkan itu merupakan ujian berat baginya.
Pada suatu ketika, ketika YA Sariputta dan Rahula sedang berpindapata di Rajagaha, seorang perusuh melempar pasir ke mangkuk YA Sariputta dan memukul Rahula. YA Sariputta mengingatkan Rahula, “Rahula, engkau adalah siswa Sang Buddha. Perlakuan apapun yang kamu terima, tidak boleh menyebabkan kemarahan masuk ke dalam hatimu. Kamu harus selalu berbelas kasihan kepada semua makhluk. Orang yang paling berani, orang yang mencari penerangan, membuang kesombongan dan memiliki keteguhan hati untuk mengatasi kemarahan”. Rahula tersenyum dan terus berjalan sampai menemui sebuah sungai dan membersihkan kotoran dari tubuhnya.
Rahula tidak pernah membenci nasihat yang diberikan kepadanya. Setiap bangun pagi ia mengambil segenggam pasir dan bertekad, “Semoga hari ini saya mendapat nasihat sebanyak pasir ini”. Semangatnya dapat terlihat dari kenyataan bahwa ia melaksanakan latihan-latihan yang sangat sulit dan keras, dengan cara tidak berbaring melainkan duduk dalam posisi meditasi untuk tidur selama masa dua belas tahun.
Pada usia dua puluh tahun, Rahula ditahbiskan menjadi bhikkhu dengan pembimbing (upajjhaya) YA Sariputta dan guru penahbisan resmi YA Moggallana. Selama kurang lebih satu masa latihan musim hujan Rahula melatih diri dengan sungguh-sungguh. Ketika itu Sang Buddha yang mengetahui bahwa pikiran Rahula sudah matang, membawanya ke hutan Andha dan mengajarkan ajaran yang dikenal sebagai Nasihat Kecil untuk Rahula (Cullarahulovada Sutta, Majjhima Nikaya) Rahula merasakan kegembiraan setelah mendengar sabda Sang Buddha dan hatinya terbebas dari kekotoran batin (asava) dan beliau mencapai tingkat kesucian tertinggi yaitu Arahat.
Pada suatu kali delapan tahun setelah mencapai tingkat Arahat, terdapat para bhikkhu yang datang memakai tempat tidur YA Rahula. Karena tidak menemukan tempat untuk beristirahat, YA Rahula tidur di ruang terbuka di depan tempat Sang Buddha. YA Rahula mencapai Parinibbana (wafat) setelah wafatnya Sang Buddha, diperkirakan pada usia lima puluh tahun. Dibangun sebuah stupa untuk menyimpan peninggalan beliau.

YA Anuruddha

Terkemuka dalam Mata Dewa
Sesaat sebelum mencapai Parinibbana, Sang Buddha menyampaikan kata-kata terakhir Beliau, “O Bhikkhu dengarkanlah baik-baik nasihatku : Segala sesuatu yang terdiri atas paduan unsur-unsur akan hancur kembali. Karena itu berjuanglah dengan sungguh-sungguh”. Setelah itu Sang Buddha memasuki Jhana kesatu, lalu Jhana kedua, ketiga, keempat. Kemudian memasuki keadaan ‘Ruang Tak Terbatas’, kemudian ‘Kesadaran Terbatas’, keadaan ‘Kosong’, keadaan ‘Bukan Pencerapan pun Bukan Pencerapan’ kemudian mencapai ‘Penghentian Pencerapan dan Perasaan’.
Pada saat itulah YA Ananda berkata kepada Anuruddha, “Bhante, Sang Bhagava telah Parinibbana!” Tetapi YA Anuruddha menjawab, “Belum, Avuso Ananda. Sang Bhagava belum Parinibbana. Beliau sekarang berada dalam keadaan ‘Penghentian Pencerapan dan Perasaan’ “.
Kemudian Sang Buddha bangun dari keadaan ‘Penghentian Pencerapan dan Perasaan’ lalu memasuki keadaan yang telah dijalaninya dengan urutan sebaliknya sampai kembali ke Jhana kesatu. Dari Jhana kesatu, Beliau kembali memasuki Jhana kedua, ketiga dan keempat. Keluar dari Jhana keempat Sang Buddha segera mengakhiri hidupnya dan mencapai Parinibbana.
Ketika Sang Buddha mencapai Parinibbana, YA Anuruddha mengucapkan syair berikut,
” Dengan tiada pergerakan napas,
tetapi dengan keteguhan hati,
Bebas dari keinginan dan tenang,
Demikianlah Sang Petapa mengakhiri hidupnya,
Tak gentar menghadapi saat mautnya,
Batinnya memperoleh kebebasan,
Bagaikan api lampu yang padam
“.
YA Anuruddha terlahir sebagai saudara sepupu Sang Buddha, putera dari Amitodana. Mempunyai saudara kandung bernama Mahanama dan merupakan saudara satu ayah lain ibu dari Ananda. Wajahnya tampan, alisnya lurus dan bentuk hidungnya bagus, ahli dalam seni bela diri dan olahraga. Orangtuanya amat menyayanginya dan memberinya rumah untuk tiap musim, satu untuk musim panas, satu musim dingin dan satu untuk musim hujan, sebagaimana yang diperoleh Pangeran Siddhattha dari orang tuanya. Di dalam tiap rumah yang dibangun untuk Anuruddha terdapat banyak pelayan yang selalu siap melayaninya.
Kedatangan Sang Buddha ke Kapilavatthu membuat banyak orang tertarik akan ajaran Sang Buddha dan banyak di antara mereka yang meninggalkan hidup keduniawian dan menjadi bhikkhu. Dalam keluarga Anuruddha belum ada yang menjadi bhikkhu. Oleh karena itu Mahanama mengusulkan agar salah satu dari mereka untuk menjadi bhikkhu, karena apabila keduanya menjadi bhikkhu maka tidak ada lagi yang memelihara garis keturunan keluarga.
Anuruddha yang terbiasa hidup dalam kemewahan merasa sulit untuk hidup sebagai bhikkhu, namun Mahanama membujuknya dengan menunjukkan kesukaran kehidupan sebagai perumah tangga, dan pekerjaan dalam pertanian yang tiada habisnya. Anuruddha meminta ijin dari ibunya untuk menjadi bhikkhu. Ibunya yang amat menyayanginya mula-mula menolak memberi ijin, akhirnya memberi ijin dengan syarat sepupunya Bhaddiya, Raja Sakya yang menggantikan Raja Suddhodana yang telah mangkat, juga mengikutinya menjadi bhikkhu. Ibunya berpikir bahwa tidak mungkin Bhaddiya akan meninggalkan tugasnya sebagai raja untuk menjadi bhikkhu.
Bhaddiya berkata bahwa ia mau menemani Anuruddha menjadi bhikkhu asalkan Anuruddha mau menunggu tujuh tahun lagi. Atas desakan Anuruddha, masa menunggu itu dipersingkat menjadi enam tahun, lima tahun, empat tahun, sampai satu tahun. Akhirnya Bhaddiya berjanji untuk melaksanakan hal itu tujuh hari lagi setelah ia menyerahkan tugasnya kepada anak dan saudaranya.
Anuruddha kemudian mengajak pula Ananda, Bhagu, Kimbila dan Devadatta untuk menjadi bhikkhu. Agar tidak dicurigai, mereka pergi ke taman seolah-olah akan berolahraga dengan membawa pula tukang cukur mereka yang bernama Upali. Di tengah perjalanan mereka menyuruh para pengiring pulang, dan kemudian melepaskan baju dan perhiasan yang dipakai untuk dibawa pulang oleh Upali. Tetapi Upali yang merasa takut akan kemarahan orang Sakya bila membawa pulang barang-barang itu, akhirnya mengikuti mereka untuk menjadi bhikkhu. Mereka bertemu dengan Sang Buddha di Anupiya dalam perjalanan ke Rajagaha. Mereka memohon kepada Sang Buddha agar Upali ditahbiskan terlebih dahulu agar mereka dapat mengurangi rasa kesombongan mereka karena dengan demikian selanjutnya mereka harus menghormati Upali sebagai bhikkhu yang lebih senior.
Bhaddiya kemudian mencapai tiga pengetahuan dan menjadi Arahat. Ananda mencapai tingkat kesucian Sotapanna. Devadatta memperoleh kesaktian yang dapat dicapai oleh manusia biasa. Bhagu, Kimbila dan Upali pun kemudian mencapai tingkat Arahat.
Anuruddha yang terbiasa hidup nyaman dan dilayani oleh banyak pelayan kini harus mengenakan jubah kasar, berkeliling menerima dana makanan, tidur di alam terbuka dan menjalani aturan yang keras. Dengan tekadnya yang kuat, ia dapat terbiasa dengan kehidupan sebagai bhikkhu namun merasa amat lelah dalam melaksanakan latihan-latihan itu.
Pada suatu kali ketika Anuruddha dan bhikkhu-bhikkhu lainnya sedang berkumpul di vihara Jetavana mendengarkan khotbah Sang Buddha, ia merasa sangat mengantuk dan tertidur. Ia terbangun ketika Sang Buddha menyebut namanya dan menyapanya dengan beberapa perkataan. Setelah khotbah selesai, dengan rasa malu Anuruddha menyampaikan rasa penyesalannya kepada Sang Buddha dan bertekad untuk tidak lagi tertidur pada saat mendengarkan khotbah Sang Buddha. Sejak saat itu Anuddha tidak pernah memejamkan mata walaupun di malam hari.
Dengan latihannya Anuruddha memperoleh mata dewa, yaitu kemampuan untuk melihat timbul lenyapnya makhluk-makhluk di alam semesta ini. Kemudian beliau mencapai tingkat kesucian tertinggi yaitu Arahat. Namun latihan yang keras demikian menyebabkannya gangguan pada matanya sehingga tidak dapat melihat. Ketika diminta oleh Sang Buddha agar beliau tidur untuk memulihkan penglihatan matanya sesuai dengan anjuran dokter, beliau menjawab, “Bhante, dengan bertekad untuk tidak tidur saya dapat mengatasi semua penderitaan. Bagaimana saya dapat melepaskan tekad itu ?”
YA Anuruddha hadir pada saat Sang Buddha mencapai Parinibbana dan berperan pula dalam Sidang Agung Sangha yang diadakan setelah Sang Buddha Parinibbana. Beliau dengan para bhikkhu lainnya mendesak YA Ananda untuk melatih diri dengan sungguh-sungguh sehingga dapat mencapai tingkat Arahat pada Sidang Agung tersebut. YA Anuruddha mencapai Parinibbana (wafat) di desa Veluva dari Vajjian di bawah kerimbunan pohon bambu.

YA. Ananda

Pembantu Tetap Sang Buddha dan Bendahara Dhamma
Pada suatu ketika dalam suatu pertemuan para bhikkhu di Rajagaha, Sang Buddha yang saat itu berusia lima puluh lima tahun menyinggung tentang perlunya ditunjuk seorang pembantu tetap untuk diriNya. Semua siswa utama seperti YA Sariputta dan YA Moggallana menawarkan diri untuk menjadi pembantu tetap namun semuanya ditolak oleh Sang Buddha. Para bhikkhu kemudian menganjurkan Ananda yang selama itu berdiam diri saja untuk memohon kepada Sang Buddha untuk dapat diterima sebagai pembantu tetap. Ananda mengatakan, “Kalau Sang Bhagava memang memerlukan Ananda sebagai Pembantu Tetap, Sang Bhagava boleh mengatakannya”. Kemudian Sang Buddha berkata, “Ananda, jangan membiarkan orang lain menganjurkan engkau untuk memohon pekerjaan tersebut. Atas kemauan sendiri engkau dapat menjadi Pembantu Tetap Sang Buddha”.
Baru setelah itulah Ananda menawarkan diri untuk menjadi Pembantu Tetap asal Sang Buddha berkenan meluluskan delapan permintaannya, yaitu menolak empat hal dan memenuhi empat hal. Empat hal yang diminta Ananda untuk ditolak adalah: apabila Sang Buddha menerima persembahan jubah, maka jubah itu tidak boleh diberikan kepada Ananda; apabila Sang Buddha menerima hadiah, hadiah itu tidak boleh diberikan kepada Ananda; Ananda tidak boleh diminta untuk tidur di kamar pribadi Sang Buddha yang harum baunya (Gandhakuti); apabila Sang Buddha menerima undangan pribadi, maka undangan itu tidak termasuk dirinya. Ananda mengatakan apabila Sang Buddha melakukan hal tersebut maka orang akan bercerita bahwa Ananda menjadi Pembantu Tetap karena ingin mendapat jubah bagus, makanan enak, tempat tinggal menyenangkan dan ikut serta kalau Sang Buddha mendapat undangan.
Empat hal yang diminta Ananda untuk dipenuhi adalah: apabila Ananda menerima undangan atas nama Sang Buddha maka Sang Buddha harus memenuhinya; apabila ada orang datang dari tempat jauh, agar Ananda dapat membawanya menghadap Sang Buddha; apabila Ananda merasa ada sesuatu yang meragukan ia diperbolehkan bertanya kepada Sang Buddha setiap waktu; apabila Ananda tidak hadir saat Sang Buddha berkhotbah, Sang Buddha bersedia mengulanginya kembali. Apabila hal tersebut tidak diperkenankan maka orang akan bertanya-tanya apa sebenarnya faedah dari pengabdian tersebut. Sang Buddha menyetujui permintaan tersebut dan sejak saat itu Ananda resmi menjadi Buddha-upatthaka (Pembantu Tetap Sang Buddha).
YA Ananda terlahir sebagai putera Sukkodana, saudara Suddhodana ayah Sang Buddha, oleh karenanya ia merupakan saudara sepupu pertama Sang Buddha. Hari kelahirannya bersamaan dengan hari kelahiran Sang Buddha, bersamaan pula dengan terlahirnya Puteri Yasodhara yang kemudian menjadi isteri Pangeran Siddhattha, Channa yang kemudian menjadi kusir Pangeran Siddhattha, Kaludayi yang kemudian mengundang Sang Buddha untuk berkunjung kembali ke Kapilavatthu, Kanthaka yang kemudian menjadi kuda Pangeran Siddhattha, seekor gajah istana, pohon Bodhi tempat Pangeran Siddhattha mencapai Penerangan Agung, Nidhikumbhi yaitu tempat harta pusaka.
Ananda memasuki Sangha bersama-sama dengan para bangsawan Sakya yaitu Mahanama, Bhaddhiya, Bhagu, Kambila, Devadatta dan tukang cukur mereka yang bernama Upali. Mereka menjumpai Sang Buddha di hutan mangga Anupiya dalam perjalanan ke Rajagaha. Di tempat itu mereka memohon kepada Sang Buddha untuk ditahbiskan menjadi bhikkhu. Dan dengan tujuan untuk mengurangi rasa kebanggaan mereka, mereka memohon kepada Sang Buddha untuk mentasbihkan Upali, tukang cukur mereka, terlebih dahulu.
Selama vassa berikutnya, Bhaddhiya mendapat tiga kemampuan dan menjadi Arahat. Anuruddha mendapatkan yang kedua dari kemampuan tersebut yaitu mata dewa yang dapat melihat timbul dan lenyapnya makhluk-makhluk. Sang Buddha menyatakan Anuruddha sebagai yang terkemuka di antara mereka yang memperoleh mata dewa (dibbacakkhu) dan Bhaddhiya sebagai yang terkemuka di antara mereka yang mengalami kelahiran agung. Ananda mendengar khotbah YA Punnamantaniputta dan menjadi seorang Sotapanna (seorang suci tingkat pertama).
Devadatta memperoleh kekuatan gaib yang dapat dicapai oleh manusia biasa. Di kemudian hari Devadatta mengembangkan pikiran jahat dan memusuhi Sang Buddha. Sedangkan Upali menjadi yang terkemuka di antara mereka yang mempelajari Vinaya (aturan kebhikkhuan).
Sebagai Pembantu Tetap Sang Buddha, Ananda melayani Sang Buddha selama dua puluh lima tahun, mengikuti Sang Buddha bagaikan bayanganNya, membawakan air dan tusuk gigi, mencuci kaki Sang Buddha, menyertai Sang Buddha ke mana saja, menyapu tempat kediaman Sang Buddha. Karena dekatnya hubungan dengan Sang Buddha, Ananda berkesempatan untuk mendengarkan semua Khotbah Sang Buddha. Karena mempunyai daya ingat yang luar biasa, Ananda dapat mengingat segala sesuatu yang diucapkan oleh Sang Buddha sehingga ia dikenal sebagai ‘Bendahara Dhamma’ (Dhamma Bhandagarika)
Pada suatu ketika di Jetavana dalam pertemuan para bhikkhu, Sang Buddha memuji Ananda dan menempatkannya sebagai bhikkhu yang utama dalam lima hal: kepandaian (Bahusacca), ingatan yang kuat (Sati), kelakuan baik (Gati), ketabahan (Dhiti), perhatian penuh dalam pelayanan (Upatthana).
Ketika Maha Pajapati Gotami, ibu tiri Sang Buddha, memohon kepada Sang Buddha untuk diijinkan memasuki Sangha, Anandalah yang sangat mendukung keinginan tersebut dan berhasil memohon kepada Sang Buddha untuk memperkenankan wanita memasuki Sangha. Inilah permulaan adanya Sangha Bhikkhuni dalam agama Buddha. Ananda pulalah, atas permintaan Sang Buddha, yang merancang jubah bhikkhu dengan pola menyerupai sawah di Magadha.
Meskipun mempunyai hubungan yang dekat dengan Sang Buddha, sampai pada saat Sang Buddha mencapai Parinibbana (wafat), Ananda belum juga mencapai tingkat Arahat (tingkat kesucian tertinggi). Ananda mencapai tingkat Arahat tiga bulan setelah wafatnya Sang Buddha yaitu pada Sidang Agung Pertarna di Gua Sattapanni, Rajagaha. Ketika itu YA Maha Kassapa mengusulkan untuk mengulang Dhamma dan Vinaya sehingga dapat diketahui Ajaran yang sesungguhnya. Para bhikkhu memintanya memilih anggota pertemuan dan beliau memilih 499 Arahat. Beliau diminta pula untuk memilih Ananda, karena meskipun belum mencapai Arahat, Ananda telah mempelajari Dhamma dan Vinaya dari Sang Buddha sendiri. Menyadari dirinya merupakan satu-satunya peserta pertemuan yang belum Arahat, sehari sebelum pertemuan dimulai Ananda melatih diri dengan sungguh-sungguh hingga larut malam.
Menjelang fajar, ia merasa mengantuk dan karenanya merebahkan diri. Pada saat kepala belum menyentuh bantal, belum lagi kakinya meninggalkan lantai, ia menyelami Enam Kemampuan Batin Luar Biasa (Abhiñña). Karena itulah beliau dikatakan sebagai satu-satunya siswa yang mencapai Arahat tanpa empat sikap tubuh (Iriyapatha).
Pada hari pertemuan, Ananda memasuki ruang pertemuan dan muncul di atas tempat duduk kosong yang telah disediakan untuknya. YA Upali dipilih untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan YA Maha Kassapa tentang Vinaya dan YA Ananda ditunjuk untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Dhamma, yaitu tentang Sutta dan Abhidhamma. Oleh karena itulah tiap Sutta selalu dimulai dengan kata-katanya, “Evam me sutam” – ‘Demikianlah telah kudengar’.
Ananda melewatkan tahun-tahun terakhirnya dengan mengajar, berkhotbah dan memberikan semangat kepada rekan-rekannya yang lebih muda. Beliau hidup sampai usia yang sangat lanjut yaitu seratus dua puluh tahun. Menjelang wafatnya, beliau pergi ke sungai Rohini yang terletak di perbatasan antara Kapilavatthu dan Koliya. Setelah berkhotbah kepada kedua pihak, beliau berjalan ke tengah sungai dan dari tubuhnya keluar api yang membakar badan jasmaninya. Sisa badan jasmaninya dibagi dua dan ditaruh dalam stupa di Kapilavatthu dan di Koliya.

Selasa, 06 Desember 2011

DHAMMACAKKAPPAVATTANA SUTTA

Āsāḷha dalam bahasa Pāḷi atau Āsādha dalam bahasa Sansekerta adalah nama bulan yang bersamaan dengan bulan Juli. Bulan purnama dalam bulan Āsādha adalah hari yang penting dalam sejarah kehidupan Buddha Gotama. 


Pada hari Āsādha ini lebih dari 2500 tahun yang lalu, Buddha mengajarkan hasil penemuan Beliau, yaitu Empat Kebenaran Mulia, kepada lima orang petapa yang bernama Koṇḍañña, Vappa, Bhaddiya, Mahānāma, dan Assaji. Pengajaran tersebut yang diberi nama Dhammacakkappavattana Sutta, Khotbah tentang Pemutaran Roda Dhamma, yang menyebabkan lima petapa mencapai tingkat kesucian Sotapanna; Koṇḍañña yang pertama kali mencapai kesucian disusul dengan yang lainnya. Mereka semuanya mohon ditahbiskan menjadi bhikkhu. Setelah mendengar khotbah kedua, yaitu Anattalakkhana Sutta atau Khotbah tentang Tanpa Inti, lima bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian Arahat.


Peristiwa penting lain pada hari Āsādha yaitu terbentuknya Ariya Saṅgha yang terdiri dari enam orang suci, yaitu Buddha dan lima bhikkhu. Sejak saat itu lengkaplah sudah Tiratana atau Tiga Permata yang terdiri dari Buddharatana, Dhammaratana, dan Saïgharatana. Demikian pula Tisaraṇa atau Tiga Perlindungan sudah lengkap, yaitu Perlindungan kepada Buddha, Dhamma, dan Saṅgha.


Khotbah dimulai dengan penjelasan tentang dua cara ekstrim yang harus dihindari oleh petapa, yaitu:
1)    mengumbar nafsu indriya (kāmasukhallikānuyoga), dan
2)    menyiksa diri (attakilamathānuyoga)
Jalan Tengah yang terhindar dari kedua jalan ekstrim itu, yang telah sempurna diselami oleh Sang Tathāgata, membuka mata batin, menimbulkan pengetahuan, membawa ketenangan, pengetahuan batin luar biasa, kesadaran agung, dan pencapaian Nibbāna. Jalan Tengah yang dimaksud adalah Jalan Mulia berunsur Delapan (Ariya Aṭṭhaṅgika Magga), yang terdiri dari:
1.    Pandangan Benar (sammā diṭṭhi)
2.    Pikiran Benar (sammā saṅkappa)
3.    Ucapan Benar (sammā vācā)
4.    Perbuatan Benar (sammā kammanta)
5.    Penghidupan Benar (sammā ājῑva)
6.    Usaha Benar (sammā vāyāma)
7.    Perhatian Benar (sammā sati)
8.    Konsentrasi Benar (sammā samādhi)


Kemudian Buddha menjelaskan hasil penemuan Beliau, yaitu Empat Kebenaran Mulia, yakni:
I.     Kebenaran Mulia tentang Dukkha
Kelahiran, usia tua, kematian, ratap tangis, penderitaan jasmani, kepedihan hati, kekecewaan, berkumpul dengan yang tidak disenangi, berpisah dengan yang disenangi, tidak mendapat apa yang diinginkan adalah dukkha.
II.    Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha
Kesenangan (taṇhā), inilah yang membuat kelahiran kembali, yang disertai dengan hawa nafsu dan kegemaran, yang menggemari objek di sana sini, yakni: kāmataṇhā (kesenangan terhadap nafsu inderawi), bhavataṇhā (kesenangan terhadap kemenjadian), dan vibhavataṇhā (kesenangan terhadap ketidakmenjadian).
III.    Kebenaran Mulia tentang Musnahnya Dukkha
Musnahnya kesenangan tersebut tanpa sisa karena lenyapnya nafsu, terlepasnya kesenangan, tertolaknya kesenangan, terbebas dari kesenangan, tak terikat oleh kesenangan.
IV.    Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Musnahnya Dukkha
Jalan menuju musnahnya dukkha adalah Jalan Mulia berunsur Delapan, yaitu Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar, dan Konsentrasi Benar.


Empat Kebenaran Mulia ini dijelaskan oleh Sang Tathāgata dalam Tiga Tahap dan Dua Belas Ciri Pandangan. Tiga tahap itu adalah: 
1)    pengetahuan tentang Empat Kebenaran Mulia (sacca ñāṇa), 
2)    pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan tentang Empat Kebenaran Mulia (kicca ñāṇa), dan 
3)    pengetahuan mengenai apa yang telah dilakukan dengan Empat Kebenaran Mulia itu (kata ñāṇa).


Dari Tiga Tahap Pengetahuan, maka Empat Kebenaran Mulia dijelaskan dalam Dua Belas Ciri, yaitu:
I.     Kebenaran Mulia tentang Dukkha
1.    Ini adalah Kebenaran Mulia tentang Dukkha 
2.    Kebenaran Mulia tentang Dukkha patut dipahami (pariññeyya)
3.    Kebenaran Mulia tentang Dukkha telah dipahami (pariññāta)
II.     Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha
4.    Ini adalah Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha 
5.    Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha patut dihindari (pahātabba)
6.    Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha telah dihindari (pahῑna)
III.    Kebenaran Mulia tentang Musnahnya Dukkha
7.    Ini adalah Kebenaran Mulia tentang Musnahnya Dukkha 
8.    Kebenaran Mulia tentang Musnahnya Dukkha patut dicapai (sacchikātabba)
9.    Kebenaran Mulia tentang Musnahnya Dukkha telah dicapai (sacchikāta)
IV.    Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Musnahnya Dukkha
10.    Ini adalah Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Musnahnya Dukkha
11.    Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Musnahnya Dukkha patut dikembangkan (bhāvetabba)
12.    Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Musnahnya Dukkha telah dikembangkan (bhāvita)


Ketika pemahaman terhadap pengetahuan sebagaimana yang sebenarnya (yathābūtha ṭāṇadassana) tentang Empat Kebenaran Mulia, yang terdiri dari tiga tahap dan dua belas ciri yang ada pada Sang Tathāgata telah sempurna, maka pada saat itu Sang Tathāgata menyatakan diri sebagai orang yang mencapai Penerangan Sempurna, nan tiada bandingnya di dunia, di alam dewa, alam mara, dan alam brahma, bersama dengan himpunan para samaṇa, brāhmaṇa, dewa, dan manusianya. Timbullah dalam diri Sang Tathāgata pengetahuan dan pengertian, ”Tak tergoncangkan kebebasan batin-Ku. Ini adalah kelahiran-Ku yang terakhir. Kini tidak ada tumimbal lahir lagi.”


Setelah mendengar sabda Sang Bhagavā, para bhikkhu Pañcavaggiya merasa puas dan bersuka cita atas sabda Sang Bhagavā. 


(Khotbah tentang Pemutaran Roda Dhamma)


Ketika Roda Dhamma (Dhammacakka) diputar oleh Sang Bhagava, di Taman Rusa Isipatana, dekat kota Bārāṇasῑ, yang tak dapat dihentikan oleh para samana, brahmana, dewa, mara, brahma, atau siapapun juga di dunia, seketika itu juga kabar gembira ini tersebar ke alam Dewa Cātummahārājika, Tāvatiṁsa, Yāma, Tusita, Nimmānarati, Paranimittavasavatti, hingga para dewa yang bersemayam di alam brahma. 


Demikian pada saat itu juga, suara berkumandang hingga menembus ke alam brahma. Serentak sepuluh ribu tingkat alam berguncang, bergetar, bergoyah, dan sinar gilang-gemilang yang tiada taranya muncul di dunia melebihi kemampuan cahaya kedewaan.


Sumber: Book of the Kindred Sayings (Saṁyutta Nikāya) jilid 5 halaman 356

Selasa, 22 November 2011

kisah cakkhuphala thera



Bab I-YAMAKA VAGGA (Syair Berpasangan)
Syair 1 (I:1. Kisah Cakkhupala Thera )
Suatu hari, Cakkhupala Thera berkunjung ke Vihara Jetavana untuk melakukan penghormatan kepada Sang Buddha. Malamnya, saat melakukan meditasi jalan kaki, sang thera tanpa sengaja menginjak banyak serangga sehingga mati. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali serombongan bhikkhu yang mendengar kedatangan sang thera bermaksud mengunjunginya. Di tengah jalan, di dekat tempat sang thera menginap mereka melihat banyak serangga yang mati.
“Iiih, mengapa banyak serangga yang mati di sini ?” seru seorang bhikkhu. “Aah, jangan jangan …,” celetuk yang lain. “Jangan-jangan apa?” sergah beberapa bhikkhu. “Jangan-jangan ini perbuatan sang thera!” jawabnya. “Kok bisa begitu?” tanya yang lain lagi. “Begini, sebelum sang thera berdiam di sini, tak ada kejadian seperti ini. Mungkin sang thera terganggu oleh serangga-serangga itu. Karena jengkelnya ia membunuhinya.”
“Itu berarti ia melanggar vinaya, maka perlu kita laporkan kepada Sang Buddha!” seru beberapa bhikkhu. “Benar, mari kita laporkan kepada Sang Buddha, bahwa Cakkhupala Thera telah melanggar vinaya,” timpal sebagian besar dari bhikkhu tersebut.
Alih-alih dari mengunjungi sang thera, para bhikkhu itu berubah haluan, berbondong-bondong menghadap Sang Buddha untuk melaporkan temuan mereka, bahwa ‘Cakkhupala Thera telah melanggar vinaya !’
Mendengar laporan para bhikkhu, Sang Buddha bertanya, “Para bhante, apakah kalian telah melihat sendiri pembunuhan itu ?”
“Tidak Bhante,” jawab mereka serempak.
Sang Buddha kemudian menjawab, “Kalian tidak melihatnya, demikian pula Cakkhupala Thera juga tidak melihat serangga-serangga itu, karena matanya buta. Selain itu Cakkhupala Thera telah mencapai kesucian arahat. Ia telah tidak mempunyai kehendak untuk membunuh.”
“Bagaimana seorang yang telah mencapai arahat tetapi matanya buta?” tanya beberapa bhikkhu.
Maka Sang Buddha menceritakan kisah di bawah :
Pada kehidupan lampau, Cakkhupala pernah terlahir sebagai seorang tabib yang handal. Suatu ketika datang seorang wanita miskin. “Tuan, tolong sembuhkanlah penyakit mata saya ini. Karena miskin, saya tak bisa membayar pertolongan tuan dengan uang. Tetapi, apabila sembuh, saya berjanji dengan anak-anak saya akan menjadi pembantu tuan,” pinta wanita itu. Permintaan itu disanggupi oleh sang tabib.
Perlahan-lahan penyakit mata yang parah itu mulai sembuh. Sebaliknya, wanita itu menjadi ketakutan, apabila penyakit matanya sembuh, ia dan anak-anaknya akan terikat menjadi pembantu tabib itu. Dengan marah-marah ia berbohong kepada sang tabib, bahwa sakit matanya bukannya sembuh, malahan bertambah parah.
Setelah diperiksa dengan cermat, sang tabib tahu bahwa wanita miskin itu telah berbohong kepadanya. Tabib itu menjadi tersinggung dan marah, tetapi tidak diperlihatkan kepada wanita itu. “Oh, kalau begitu akan kuganti obatmu,” demikian jawabnya. “Nantikan pembalasanku!” serunya dalam hati. Benar, akhirnya wanita itu menjadi buta total karena pembalasan sang tabib.
Sebagai akibat dari perbuatan jahatnya, tabib itu telah kehilangan penglihatannya pada banyak kehidupan selanjutnya.
Mengakhiri ceriteranya, Sang Buddha kemudian membabarkan syair di bawah ini :
Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.
Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, di antara para bhikkhu yang hadir ada yang terbuka mata batinnya dan mencapai tingkat kesucian arahat dengan mempunyai kemampuan batin analitis pandangan Terang’ (pati-sambhida).

Kamis, 10 November 2011

Ajahn Brahm, Si Winnie the Pooh



Andai Ajahn Brahmavamso (60) tidak menjadi bhikku, barangkali dia sudah jadi pelawak atau aktor. ceramahnya ringan, segar, dan jenaka. Lelucon-leluconnya mengandung pesan moral tak bersekat, tidak menggurui, tidak menghakimi, dan langsung kena di hati. Kisah-kisah yang disampaikan Ajahn Brahm, begitu sapaannya, merupakan antitesis dari seluruh standar yang dibangun di atas gagasan umum tentang ”kesuksesan” dan ”keberhasilan”. Melalui cerita, ia mengajak orang memasuki esensi hidup; wilayah lebih dalam dari ”kulit luar” kehidupan yang memesona, sekaligus mengikat, melekat. 
”Kalau saya tahu akan menjadi bhikku, saya tak perlu belajar sekeras itu di universitas, hahahaha…” ujar Ajahn Brahm, membuka ceramah Minggu (27/3) petang bertema ”Let Go Ego” di Jakarta, yang dihadiri lebih 5.000 orang. ”Begitu menjadi bhikku, saya harus melepas semuanya, termasuk melepas banyak pacar… hehehe….. Begitu melepas semua, saya merasa sangat bahagia…” ujarnya. Melepas, menanggalkan, meninggalkan adalah esensi Dhamma yang sangat ia pahami setelah sembilan tahun menjadi petapa di hutan Thailand. ”Jika Anda benar paham fisika kuantum, Anda harus mampu membuat pelayan bar paham,” begitu kata pakar fisika kuantum, Werner K Heisenberg.
”Bercerita adalah cara yang indah untuk menyampaikan pesan,” ujar Ajahn Brahm, ketika ditemui di Jakarta, Senin (28/3) pagi, di ujung akhir 15 acara di berbagai kota selama 10 hari di Indonesia.
”Suatu cerita akan menghubungkan pengalaman orang yang satu dengan yang lain karena kita berada di dalam jaring kehidupan.” Cerita keledai Ajahn Brahm dikenal sebagai ”Ajahn Nike” karena selalu mengatakan just do it (lakukan saja)— promosi dagang sepatu merek Nike—untuk mendorong agar orang tidak mengeluh dan menggerutu. ”Semua pengalaman adalah pupuk bagi hidup,” katanya. ”Suatu ketika ada seekor keledai yang menjelajah hutan dengan riang, sampai tak sadar ia terperosok ke dalam sumur tua. Untung sumur itu kering dan tak terlalu dalam. Tetapi, keledai tak bisa memanjat, jadi ia berteriak, minta tolong, E..o.. eeoo eeooo..” Suara itu memancing seorang petani mendekat. Petani itu benci keledai, tetapi ia juga tahu, sumur itu sumber bahaya. Maka, dengan sekopnya, ia mengisi tanah ke dalam sumur untuk mengubur si keledai hidup-hidup, sekaligus menutup sumur. Menyadari yang terjadi, si keledai menjerit. Ia sedih dan takut. Setelah beberapa saat, keledai itu mendapat apa yang dalam pandangan buddha disebut ”pandangan cerah”. Ia merangkul kekinian, dan… just do it. Tak ada suara lagi, sampai petani itu berpikir, ”Terkubur sudah keledai bego itu.”
Padahal, setiap sekop tanah yang menimpa punggungnya, si keledai menggoyang luruh tanah itu, lalu menginjak-injaknya hingga padat di bawah. Maka ia naik satu inci lebih tinggi. Begitu seterusnya. Petani yang sibuk menyekop tanah tak menyadari sepasang telinga mulai muncul di mulut sumur. Ketika pijakan sudah cukup tinggi, Keledai itu melompat keluar dari sumur dan melarikan diri. ”Saya ceritakan kisah ini pada Presiden Sri Lanka. Saya bilang, jika menghadapi kritik, berlakulah seperti keledai, goyang, luruhkan, dan Anda seinci lebih tinggi. Anda hanya perlu merangkul kekinian,” ujar Ajahn Brahm, ”Itulah let go ego….”
Maksudnya?
”Jangan biarkan orang lain merenggut kebahagiaanmu dengan membuatmu marah, kecewa, sedih,” ia menjelaskan makna melepas ego, yang dalam hidup sehari-hari dipahami sebagai ”menerima dengan keikhlasan yang tulus”. Cinta dan welas asih. Namun, tindakan melepas ego tak semudah mengucapkannya. Orang bertahan hidup dengan ego, kemudian sulit mengendalikannya. Ketika nafsu keinginan yang tak ada batasnya menguasai pikiran, orang tak tahu batas cukup dan tak bisa mensyukuri karunia hidup. ”Sandaran kebahagiaan bukan hal-hal yang bersifat material, ’kulit luar’ itu,” ujar Ajahn Brahm.
Menurut dia, segala bentuk kekerasan di dunia disebabkan oleh ego, oleh rasa takut dikalahkan. ”Terlalu banyak kompetisi, dan sangat sedikit kerja sama,” tuturnya. Pendidikan bisa memutus rantai itu, kata Ajahn Brahm. Sejak dini, anak dilatih menyeimbangkan kerja sama sosial dengan prestasi pribadi. Dimulai dengan 70 persen prestasi pribadi dan 30 persen nilai rata-rata kelas, sampai benar-benar seimbang. Itu akan mendorong anak bekerja sama untuk menutup kekurangan teman. ”Kementerian Dalam Negeri Inggris dari kabinet lalu memberi promosi bagi kerja sama, bukan prestasi pribadi. Penghargaan pada proses, bukan hasil akhir, pada ketulusan, kejujuran. Alangkah damainya kalau kita bisa menanggalkan gagasan menjadi yang terhebat,” kata Ajahn Brahm.
Gagasan itu melawan dalil umum tentang kemenangan sebagai hasil kompetisi sehingga acap dicapai dengan kecurangan. Di bidang politik, misalnya, terlihat sangat jelas, meski atas nama demokrasi. Padahal, cara itu berlawanan dengan arti ’kandidat’, yang berasal dari kata Latin candidatus, artinya putih. ”Pada zaman Romawi, kandidat posisi politik menggunakan jubah putih dalam kampanye pemilihan umum. Warna putih melambangkan bersih dari dosa, kemurnian, ketulusan,” jelasnya.
Menurut Anda, apa persoalan terbesar di dunia saat ini?
Kompetisi membuat orang kehilangan cinta dan welas asih. Situasi seperti ini membahayakan kehidupan karena menghancurkan kemanusiaan. Mari memahami bahwa bumi ini adalah rumah kita bersama. Kita saling terkait, terhubung, dan saling bergantung. Kita ini satu. Mari bekerja sama dengan tulus untuk menyelamatkan kemanusiaan dan bumi kita bersama.
Merangkul Sosok Ajahn yang kocak, jenaka di atas panggung berbeda dengan sosoknya ketika ia ditemui secara khusus. Senyumnya lepas, namun ia lebih serius. Sorot matanya tajam dan terasa mampu membaca gerak pikiran lawan bicaranya. Ia menyebut secara khusus nama Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, dan Abdurrahman Wahid sebagai tokoh yang merangkul dan menolak kekerasan. Beberapa kali Ajahn Brahm juga diundang ke acara lintas agama. Pernah, undangan disampaikan lewat telepon, dan ia diminta mengeja namanya. Ia mengejanya, ”B untuk Buddhis, R untuk Roma katolik, A untuk Anglikan, H untuk Hindu, M untuk Muslim….”
Menurut Ajahn Brahm, meditasi dan memaafkan merupakan sumbangan Buddhisme pada dunia. Pada semua jenis mistisisme dari berbagai tradisi spiritual, meditasi merupakan jalan menuju pikiran yang murni dan kokoh. Di puncak keheningan akan dipahami apa yang disebut”diri”, ”tuhan”, ”dunia”, ”alam semesta”, dan segalanya.
Kisah favorit Ajahn Brahm adalah Winnie the Pooh, beruang lembut yang tak pernah belajar di sekolah. Ia adalah beruang dengan otak kecil yang membuatnya sangat bijak. Ia tidak berpikir, tetapi melihat dan mengetahui sehingga ia begitu mudah dicintai.
Anda ingin menjadi siapa dalam cerita itu?
Winnie the Pooh hehehe…
Yang membuat Anda sedih atau menyesal?
Penyesalan dan kesedihan tak punya arti khusus buat saya karena saya telah melepas masa lalu. (Dalam salah satu ceramahnya, ia bercerita saat ayah yang sangat ia cintai meninggal. Ketika keluar dari krematorium di tengah gerimis tipis, ia tahu tak akan bisa bersamanya lagi. Namun, ia tidak menangis. Suara hatinya mengatakan, ”Ayah saya sungguh hebat. Hidupnya merupakan inspirasi luar biasa. Betapa untungnya saya telah menjadi putranya. Waktu itu saya menggenggam tangan ibu saya menuju perjalanan panjang masa depan. Saya merasa bahagia, seperti baru saja usai menonton konser terhebat. Saya tak akan pernah melupakannya. Terima kasih, Ayah…”)
Tentu saja ada banyak kesedihan jika Anda melihat tsunami di Jepang, menyaksikan orang berkelahi, berperang. Daripada sedih, saya melakukan sesuatu. Itu sebabnya saya banyak melakukan perjalanan dan berbagi.
Yang membuat Anda bahagia?
Yang paling penting adalah kebahagiaan saya sendiri dan kebahagiaan orang lain. Namun, setelah bertahun-tahun hidup sebagai petapa, saya tak mampu lagi membedakan antara kebahagiaan orang lain dan kebahagiaan saya. Itu sebabnya saya bepergian dan melayani sebanyak mungkin, memberi ceramah, menceritakan kisah- kisah kocak, membuat orang tertawa.
Anda bisa marah?
Hhmmm… Anda harus berusaha keras untuk membuat saya marah hahahaha….

Cerita Angsa dan Kura-Kura


Ada sepasang Kura-Kura dan Angsa yang hidup di sebuah telaga yang bernama telaga Kumudawati. Telaga itu sangat indah serta banyak bunga-bunga berwarna-warni yang tumbuh di sana. Kura-kura yang jantan bernama Durbhuddhi dan yang betina bernama Katcapa. Angsa yang jantan bernama Cakrengga dan yang betina bernama Cakrenggi. Kedua pasang binatang itu sudah lama bersahabat. 
Musim kemarau telah tiba, di telaga telah mulai mengering. Kedua angsa akan berpamitan dengan sahabatnya karena angsa tidak bisa hidup tanpa air, maka kami akan meninggalkan telaga Kumdawati ini menuju telaga Manasasaro di pegnungan Himalaya. Kura-kura tidak bisa melepaskan kepergian kedua sahabatnya itu.
Akhirnya kura-kura memutuskan untuk ikut bersama dengan angsa. Angsa kemudian mau mengajak kura-kura pergi bersama dengan dirinya yaitu dengan cara kura-kura menggigit tengah-tengah kayu dan angsa yang akan memegang ujung-jungnya. Tetapi dengan persyaratan jangan lengah, janganlah sekali-kali berbicara dan jangan melihat di bawah atau jika ada orang yang bertanya jangan sekali menjawab. Kura-kura lalu berpegangan di tengah-tengah kayu dengan mulutnya, sedangkan kedua ujung-ujungnya dipegang oleh angsa.
Setelah tepat berada di tanah lapang Wila Jenggala ada sepasang anjing srigala yang berlindung di bawah pohon mangga yang jantan bernama Si Nohan dan yang betina Si Bayan. Srigala betina melihat ke atas dilihatnya angsa terbang membawa sepasang kura-kura lalu Srigala berkata pada suaminya, ayah cobalah lihat ke atas betapa aneh angsa terbang membawa sepasang kura-kura. Srigala jantan menjawab itu bukan kura-kura namun itu adalah kotoran sapi. Demikian omongan tersebut didengar oleh kura-kura, mendengar kura-kura dibilang kotoran sapi oleh Srigala, kura-kura lalu marah dan melepaskan gigitannya pada kayu dan akhirnya kura-kura itu jatuh dan dimakan oleh srigala. Angsa tinggal dengan perasaan kecewa dan menyayangkan kenapa kura-kura tidak mau mendengarkan nasehatnya.