Jumat, 16 Desember 2011

Yang Ariya Sona Theri

Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi malas dan tidak bersemangat, maka sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang berjuang penuh dengan semangat.
Sona adalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai sepuluh orang anak. Beliau merawat, mengasuh, membesarkan, mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Seluruh hidupnya dicurahkan hanya untuk anak-anaknya, oleh karena itu ia dikenal sebagai Sona “Si Banyak Anak”.
Suami Sona adalah pengikut Sang Buddha, ia belajar banyak mengenai kehidupan. Setelah beberapa tahun menjadi kepala rumah tangga, suami Sona memutuskan untuk terbebas dari belenggu kehidupan dengan cara menjalani kehidupan suci. Dengan persetujuan Sona sebagai isterinya, suami Sona meninggalkan keluarganya, menjalani kehidupan suci dan ditahbiskan (upasampada) sebagai bhikkhu. Sona menjadi orang tua tunggal yang menghidupi dan merawat kesepuluh anak-anaknya itu dengan susah payah.
Waktu berlalu, Sona telah tua, dan anak-anaknya telah berkeluarga. Sona banyak menghabiskan waktunya pada kegiatan-kegiatan keagamaan. Walaupun demikian Sona yang telah tua, merasa takut dan cemas menghadapi hari tuanya. Sona merasa ia hanya menjadi beban bagi keluarga anak-anaknya saja. Sona takut akan kesepian, ditinggalkan oleh anak-anaknya.
“Aku sekarang sudah tua, sudah tidak seperti dulu lagi, akankah anak-anakku menyokongku…, memperhatikanku…, merawatku ketika sakit, seperti aku merawat mereka, bagaimanakah aku nanti…?” Sona menyadari kenyataan bahwa ia tidak dapat menggantungkan hidupnya kepada anak-anaknya, tapi harus bergantung kepada diri sendiri.
Pemikiran ini, membuat Sona memutuskan untuk mengikuti jalan hidup suaminya, yaitu menjalani kehidupan suci dan menjadi anggota Sangha Bhikkhuni, sehingga ia dapat mengembangkan cinta kasih dan sifat-sifat kebajikan.
Saat memasuki Sangha Bhikkhuni, Sona yang sudah lanjut usia itu membawa kebiasaan-kebiasaannya sendiri, ia harus menghadapai hal-hal baru yang tidak pernah dilakukannya, sehingga sering mendapat kritik dan saran dari para bhikkhuni lainnya yang lebih muda, namun memiliki vassa yang lebih banyak. Sona menyadari bahwa tidak mudah untuk mencapai pencerahan, harus berlatih dengan giat dan penuh semangat.
Dengan usianya yang telah lanjut, Sona merasa tidak banyak waktu lagi untuk berlatih sebelum meninggalkan dunia ini. Oleh karena itu, Sona berlatih meditasi dengan giat. Setiap malam ia habiskan waktunya untuk bermeditasi dengan sikap duduk dan sikap berjalan, dan Sona hanya tidur sebentar.
Dalam kegelapan malam, Sona berlatih meditasi jalan sambil memegang pilar demi pilar vihara, berjaga-jaga agar tidak tersandung benda.
Dengan usahanya yang giat, tanpa mengenal lelah, ia sendirian di dalam ruangan vihara, dimana para bhikkhuni lainnya sedang keluar, Sona mencapai Tingkat Kesucian Arahat. Dia menggambarkan dalam kata-katanya sendiri terdapat dalam Apadana :
Pada saat para bhikkhuni lainnya
meninggalkanku sendiri di vihara
Mereka telah memberikanku instruksi
Merebus seketel air
Mengambil air
Menuangkannya ke dalam ketel
Menaruh ketel di atas kompor dan duduk
Kemudian pikiranku menggubah
Aku melihat bahwa
Sesuatu tidak kekal,
Aku melihat sesuatu
sebagai penderitaan dan tidak berinti
Melepaskan segala kekotoran batin
Di sana aku mencapai Arahat
(Ap.ii, 3:6, vv. 234-36)

Yang Ariya Bhadda Kapilani Theri

Setelah melihat bahaya kehidupan dunia, kami berdua menjadi pertapa dengan memusnahkan kekotoran batin dan kami mencapai Nibbana
Bhadda Kapilani dilahirkan di dalam keluarga yang makmur dari suku Kosiya. Bhadda tumbuh menjadi dewasa di Sagala, ibukota dari kerajaan Madda. Pada suatu hari, ketika Bhadda masih kecil, ia melihat seekor burung gagak memakan serangga dan serangga tersebut kelihatan sangat menderita bergeliat-geliut diantara benih wijen kering. Kejadian tersebut sangat menakutkan Bhadda. Tetapi yang lebih menakutkan lagi ketika beberapa anak yang lebih tua mengatakan bahwa kematian serangga tersebut merupakan kesalahan Bhadda. Walaupun kejadian tersebut terlihat biasa, tetapi tidak menurut Bhadda. Semenjak kejadian itu, Bhadda mengambil keputusan untuk melepas hidup keduniawian.
Ternyata kejadian yang sama menimpa seorang anak laki-laki, yang kelak menjadi suami Bhadda, bernama Kassappa. Ketika itu Kassappa sedang berdiri di tengah-tengah sawah yang telah dibajak. Kassappa yang pada saat itu masih kecil melihat cacing-cacing sedang dimakan oleh burung-burung. Dia merasa bersalah atas penderitaan itu. Sama seperti Bhadda, dia memutuskan untuk menjadi pertapa.
Masing-masing tumbuh di kedua tempat yang berbeda. Bhadda dan Kassappa tetap pada keputusannya untuk menjadi pertapa. Keduanya bertekad bahwa mereka tidak akan menikah. Keputusan ini membuat kedua orang tua mereka menjadi sedih.
Orangtua Kassappa membujuk Kassappa untuk menikah.
“Kassappa, kami ingin melihat kamu berkeluarga”, ucap ayah Kassappa.
Namun Kassappa menolak,
“Maaf ayah, saya sudah memutuskan untuk tidak menikah.”
Orang tua Kassappa mendesak terus supaya Kassappa menikah, akhirnya ia menyetujuinya, tetapi dengan sebuah persyaratan,
“Ayah Ibu, aku akan menikah, tetapi carilah wanita yang wajahnya mirip dengan patung yang akan aku buat”, kata Kassappa kepada kedua orangtuanya.
Kassappa lalu membuat sebuah patung wanita yang sangat cantik. Orang tuanya kemudian mengutus orang-orang untuk mencari wanita cantik di seluruh negeri yang mirip dengan patung itu. Akhirnya ditemukanlah wanita cantik yang menyerupai patung yang dibuat oleh Kassappa itu.
“Kami telah menemukan wanita cantik yang dicari, ia benama Bhadda Kapilani”, lapor seorang yang ditugaskan itu kepada orang tua Kassappa.
Mereka amat bahagia karena anaknya akan menikah. Sungguh luar biasa dapat menemukan wanita yang persis sama seperti patung itu.
Kegembiraan itu juga dirasakan oleh orang tua Bhadda.
“Mari segera kita persiapkan pesta pernikahan Kassappa dengan Bhadda!”, ucap ayah Kassappa dengan bersemangat.
Kemudian kedua orang tua Kassappa dan Bhadda merencanakan pesta pernikahan untuk mereka secara rahasia. Mengetahui rencana pernikahan tersebut, Bhadda dan Kassappa berusaha untuk membatalkannya dengan cara menulis surat kepada kedua orangtuanya, yang berisi bahwa mereka akan menjadi pasangan suami isteri yang tidak harmonis.
Tetapi taktik surat tersebut tidak behasil dan pesta pernikahan tetap dilangsungkan. Namun sesudah pernikahan tersebut, Kassappa dan Bhadda sepakat untuk tidak mewujudkan kehidupan berumah tangga, mereka sepakat untuk meninggalkan hidup keduniawian. Mereka saling memotong rambut mereka satu sama lain, mengenakan jubah kuning, memberikan kebebasan kepada pelayan-pelayannya dan menjadi pertapa.
Kassappa dan Bhadda meninggalkan rumah, Bhadda berjalan mengikuti Kassappa, mereka menyadari bahwa berjalan bersama-sama kesana kemari, akan menimbulkan prasangka, maka mereka memutuskan untuk berpisah. Kassappa mengambil arah kanan sedangkan Bhadda mengambil arah kiri.
Setelah berselang beberapa waktu Kassappa menjadi pengikut Sang Buddha dan ditahbiskan (upasampada) menjadi bhikkhu. Bhadda tinggal di Titthiya rama dekat hutan Jeta di Savatthi.
Setelah kurang lebih 5 tahun pada saat Maha Pajapati Gotami membentuk Sangha Bhikkhuni, kemudian Bhadda ditahbiskan menjadi anggota Sangha Bhikkhuni
Kassappa, Sang Putera,
pewaris Sang Buddha,
penuh konsentrasi,
yang mengetahui bahwa
Ia telah hidup dimasa lampau,
Ia telah melihat surga dan neraka.
Kassappa memutuskan lingkaran
tumimbal lahir, mencapai Arahat,
karena ketiga pengetahuan yang ia
miliki maka ia disebut brahmana
pemilik Tiga Pengetahuan.
Dengan cara yang sama,
Bhadda Kapilani pemilik Tiga Pengetahuan,
Setelah meninggalkan kematian,
melanjutkan sisa kehidupan
jasadnya yang terakhir kali,
setelah menaklukkan Mara dan
para pengikutnya.
Setelah melihat
bahaya kehidupan dunia,
kami berdua menjadi pertapa dengan
memusnahkan kekotoran batin
dan kami mencapai Nibbana.

Yang Ariya Kisa Gotami Theri

Orang yang pikirannya melekat pada anak-anak dan ternak peliharaannya, maka kematian akan menyeret dan menghanyutkannya, seperti banjir besar menghanyutkan sebuah desa yang tertidur.
Kisa Gotami adalah seorang gadis dari sebuah keluarga miskin di kota Savatthi. Nama sebenarnya adalah “Gotami”. Tetapi karena tubuhnya yang kurus maka dia dipanggil “Kisa”. Setiap orang yang melihat Kisa Gotami berjalan, dengan badannya yang tinggi dan kurus, tak seorang pun dapat melihat kebaikan yang ada di dalam dirinya.
Kisa Gotami sulit mendapatkan suami karena miskin dan tidak memilik daya tarik. Namun secara tak terduga kebaikan Kisa Gotami terlihat oleh seorang pedagang kaya yang menganggap bahwa kebaikan tidak dapat dilihat dari penampilan luar saja. Pedagang kaya itu kemudian menikahi Kisa Gotami.
Kisa Gotami tidak menduga ternyata keluarga suaminya memandang rendah dirinya karena kasta, kemiskinan, dan penampilan dirinya. Hal-hal tersebut membuat Kisa Gotami sangat menderita, terutama karena suaminya tercinta harus menghadapi konflik antara orang-orang yang ia sayangi, yaitu orangtua dan isterinya.
Waktu terus berlalu, lahirlah seorang bayi laki-laki dari pernikahannya itu. Kisa Gotami mulai diterima dan dihormati oleh seluruh keluarga suaminya. Dia sangat bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, anaknya tersebut meninggal dunia ketika ia baru saja belajar berjalan. Kematian anaknya itu membuat Kisa Gotami sangat sedih dan amat takut.
“Akankah keluarga suamiku memandang rendah dan menyalahkan diriku atas semua yang telah terjadi?”
“O, tidak, aku harus berbuat sesuatu”, pikirannya amat kalut.
Kejadian tersebut membuat Kisa Gotami menjadi gila, apalagi dia tidak pernah melihat kematian sebelumnya. Kisa Gotami tidak bisa menerima kenyataan bahwa anaknya telah meninggal, dia menganggap anaknya hanya sakit dan harus mendapatkan obat untuk menyembuhkannya.
Dengan menggendong anaknya, Kisa Gotami meminta obat dari rumah ke rumah
“Tolong…, oh tolonglah, berikanlah obat untuk anakku yang sakit ini”, ucapnya dengan penuh pengharapan.
Tidak sedikit orang yang mengejeknya tanpa perasaan, namun ada seorang baik hati dan bijaksana yang iba melihatnya, kemudian dia menasihatinya untuk menemui Sang Buddha.
“Saudari, pergilah kepada Sang Buddha, Beliau memiliki obat yang kamu butuhkan”, kata orang baik hati dan bijaksana itu.
Dengan bergegas Kisa Gotami menemui Sang Buddha di Jetavana, di kediaman Anathapindika, di mana Sang Buddha sedang bermalam. Kemudian Kisa Gotami memohon kepada Sang Buddha,
“Yang Mulia…. tolong …… tolonglah…… berikanlah obat yang dapat menyembuhkan anakku yang sakit ini.”
Lalu Sang Buddha menjawab,
“Gotami, mintalah segenggam biji lada dari rumah keluarga yang belum pernah mengalami kematian.”
“Baik, Yang Mulia,” Kisa Gotami berkata dengan pikiran gembira.
Dengan membawa anaknya yang telah meninggal dunia itu, Kisa Gotami pergi dari rumah ke rumah, untuk meminta segenggam biji lada.
“Bolehkah saya meminta segenggam biji lada?” tanya Kisa Gotami.
“Oh … tentu saja,” jawab si tuan rumah, kemudian diberikanlah segenggam biji lada kepada Kisa Gotami.
Kemudian Kisa Gotami bertanya lagi,
“Apakah di rumah ini tidak pernah mengalami kematian dari salah satu anggota keluarga.”
“Tentu saja pernah”, jawab si tuan rumah. Kemudian Kisa Gotami meninggalkan rumah tersebut dan menanyakan hal yang sama ke rumah-rumah lainnya. Setiap orang ingin menolongnya, tetapi ia tidak pernah menemukan sebuah rumah pun dimana kematian dari anggota keluarga belum pernah terjadi.
Hari sudah menjelang malam dan akhirnya Kisa Gotami menyadari bahwa bukan hanya ia seorang yang terpukul karena kematian orang yang disayangi.
Ternyata terdapat banyak orang yang telah meninggal dunia, ini merupakan segi-segi kehidupan manusia. Kisa Gotami menjadi sadar dan mengerti bahwa pada setiap kelahiran pasti ada kematian.
Tak lama setelah menyadari hal ini, sikap terhadap anaknya yang telah meninggal dunia berubah. Ia tidak lagi melekat kepada anaknya. Kisa Gotami memakamkan anaknya di hutan dan kembali kepada Sang Buddha.
” Sudahkah kamu mendapatkan biji lada, Gotami?” tanya Sang Buddha.
“Yang Mulia, Saya tidak mendapatkan segenggam biji lada dari rumah yang keluarganya belum pernah mengalami kematian,” jawab Kisa Gotami.
Kemudian Sang Buddha berkata,
“Gotami, kamu berpikir bahwa hanya kamu yang kehilangan seorang anak, sekarang kamu menyadari bahwa kematian terjadi pada semua makhluk. Sebelum keinginan mereka terpuaskan, kematian telah menjemputnya.”
Mendengar hal ini, Kisa Gotami benar-benar menyadari akan ketidakkekalan, ketidakpuasan dan tanpa inti dari kelompok kehidupan dan mencapai tingkat kesucian Sotapatti dan memohon ditahbiskan untuk menjadi bhikkhuni. Kisa Gotami memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dengan bernamaskara. Kemudian memohon ditahbiskan menjadi anggota Sangha Bhikkhuni.
Tak lama setelah menjadi bhikkhuni, Kisa Gotami mempelajari sebab-sebab kemunculan dari benda-benda. Pada suatu hari, ketika Kisa Gotami sedang menyalakan beberapa lampu, ia melihat beberapa api lampu mati dan yang lainnya masih menyala. Tiba-tiba Kisa Gotami mengerti dengan jelas timbul dan tenggelamnya kehidupan makhluk. Sang Buddha dengan kemampuan-Nya yang luar biasa melihat dari Vihara Jetavana, mengirimkan seberkas sinar serta menampakkan diri-Nya di hadapan Kisa Gotami. Sang Buddha berkata kepada Kisa Gotami untuk meneruskan meditasi dengan objek ketidakkekalan dari kehidupan makhluk dan berjuang keras untuk mencapai Nibbana.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair Dhammapada 114 berikut:
“Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi tidak dapat melihat keadaan tanpa kematian (Nibbana), sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang dapat melihat “keadaan tanpa kematian”.”
Kisa Gotami mencapai Tingkat Kesucian Arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Yang Ariya Patacara Theri

Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi tidak dapat melihat timbul tenggelamnya segala sesuatu yang berkondisi, sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang dapat melihat timbul tenggelamnya segala sesuatu yang berkondisi.
Patacara merupakan putri seorang saudagar kaya dari Savatthi. Ia sangat cantik. Orangtua Patacara sangat menyayangi dan menjaganya dengan ketat. Oleh karena itu ketika Patacara menginjak umur 16 tahun, ia selalu dikelilingi oleh beberapa penjaga, untuk melindunginya dari gangguan para pemuda. Karena selalu dijaga oleh para penjaga dan dikelilingi para pelayan di rumahnya, Patacara terlibat hubungan asmara dengan salah seorang pelayan di rumahnya. Hubungan tersebut berlangsung tanpa diketahui oleh orangtua Patacara.
Pada suatu hari, orangtua Patacara merencanakan pernikahannya dengan seorang pemuda dari golongan yang sederajat. Mengetahui hal tersebut, membuat Patacara menjadi sangat terkejut. Patacara tidak mau menikah dengan pemuda pilihan orangtuanya, karena itu ia melarikan diri meninggalkan kota bersama kekasihnya, pelayan orang tuanya, pergi melalui pintu gerbang utama, dan tinggal di sebuah desa kecil, jauh dari Savatthi.
Patacara, kini menjadi isteri orang miskin. Suaminya menjadi petani dan Patacara harus melakukan seluruh pekerjaan rumah tangga sendiri, hal yang sebelumnya tidak pernah ia kerjakan.
Tidak lama kemudian Patacara hamil dan pada saat persalinan sudah dekat, Patacara minta ijin kepada suaminya untuk mengantarnya pulang ke rumah orangtuanya.
“Suamiku, di sini tidak ada orang yang merawatku apabila aku melahirkan anak kita, ijinkanlah aku pulang ke rumah orang tuaku”, mohon Patacara. Namun suaminya tidak mengijinkannya, beberapa kali Patacara meminta izin namun jawabannya selalu sama, hingga pada suatu hari ketika suaminya sedang pergi bekerja di sawah, Patacara memutuskan untuk pergi ke rumah orangtuanya sendirian dan memberitahukan kepergiannya kepada tetangganya.
Sewaktu suaminya kembali dan diberitahukan oleh tetengganya tentang kepergian istrinya, maka dengan segera ia menyusul. Setelah menemukan Patacara, suaminya memohon kepada Patacarta untuk kembali ke rumah mereka tapi Patacara menolak, dan terus berjalan. Di tengah perjalanan, Patacara merasa kesakitan karena bayinya akan segera lahir. Akhirnya Patacara melahirkan anak laki-lakinya di semak-semak. Setelah Patacara melahirkan, suaminya membawanya pulang bersama bayi laki-lakinya, kembali ke rumah mereka.
Beberapa tahun kemudian, Patacara hamil anaknya yang kedua, pada saat akan melahirkan Patacara juga ingin pulang ke rumah orang tuanya. Patacara juga ingin melahirkan, anaknya di rumah orang tuanya. Dengan menuntun anaknya yang pertama Patacara berjalan pulang menuju rumah orang tuanya, suaminya terus mengikuti Patacara. Namun di tengah perjalanan menuju Savatthi, hujan badai menerpa mereka.
“Suamiku, carikanlah aku tempat berlindung!”, teriak Patacara dengan muka yang pucat. Dengan segera suami Patacara mencarikan tempat perlindungan untuk istrinya. Ketika suami Patacara sedang memotong dahan pohon, seekor ular berbisa keluar dari liangnya dan mematuknya, pada saat itu juga ia meninggal dunia.
Patacara menantikan kedatangan suaminya dengan penuh rasa cemas, takut dan kesakitan, pada saat penantiannya itu, Patacara melahirkan anaknya yang kedua. Deru angin dan hujan badai terus berlangsung, kedua anaknya itu menangis karena ketakutan, kedinginan dan kelaparan. Patacara dengan tubuh yang masih lemah karena melahirkan, melindungi kedua anaknya dengan posisi tubuh menelungkupi mereka di tanah, ia melewati malam itu dengan penuh rasa cemas, ketakutan dan kedinginan.
Pada pagi harinya, ketika matahari sudah terbit, Patacara mencari suaminya sambil menggendong bayinya dan menuntun anak tertuanya. Ia berjalan menuju bukit kecil dan melihat tubuh suaminya sudah kaku di dekat gundukan rumah semut. Patacara sangat sedih dan berduka, ia menyalahkan dirinya atas kematian suaminya.
” Hu….Hu….karena kesalahan aku, maka suamiku mati”. Tangisan tersedu-sedu.
Patacara menangis dan meratap sepanjang hari, sambil meneruskan perjalanan ke rumah orang tuanya. Hujan yang tak henti-henti, membuat sungai Aciravati meluap dan airnya setinggi pinggang. Patacara yang masih lemah amat kebingungan, ia tidak mampu menyeberangi sungai dengan kedua anaknya. Lalu ia meninggalkan anak tertuanya di satu sisi sungai yang airnya mengalir dengan amat deras, dan ia menyeberang dengan menggendong bayinya. Sesampainya diseberang sungai, Patacara menebarkan ranting pohon yang telah dipatahkannya, dan membaringkan bayinya yang dibalut dengan kain penutup kepalanya diatas ranting-ranting itu.
Kemudian Patacara menyeberang kembali untuk menjemput anak tertuanya. Ketika ia berada di tengah sungai seekor elang besar menyambar bayinya, bagaikan sepotong daging. Melihat kejadian itu Patacara berteriak-teriak untuk mengusir burung elang itu, namun usahanya sia-sia, burung elang itu tidak memperdulikannya tetap membawa bayinya terbang tinggi. Anak tertuanya yang mengira ibunya memanggil, berjalan menyeberangi sungai untuk pergi ke tempat ibunya berada. Karena arus sungai yang amat deras, anak itu hanyut terbawa arus sungai.
Dalam sekejap Patacara kehilangan kedua anaknya dan juga kehilangan suaminya. Patacara lalu menangis dan meratap keras seperti orang gila, “Hu… hu… bayiku disambar elang, anak tertuaku hanyut, suamiku mati dipatuk ular berbisa….!”
Dengan perasaan sedih dan duka yang mendalam, Patacara berusaha pulang ke Savatthi menuju rumah orang tuanya. Sesampainya di Savatthi, Patacara menjumpai seorang laki-laki di tengah jalan, dan menanyakan tentang keadaan orang tuanya.
“Saudari, tadi malam rumah saudagar kaya itu roboh dan menimpa mereka. Rumahnya terbakar, saudagar kaya, isteri dan anak laki-lakinya, mereka semua terbakar dalam satu tumpukan. Saudari, lihatlah kemari…! asapnya dapat terlihat dari sini”, ucap lelaki itu sambil tangannya menunjuk pada kepulan asap.
Mendengan berita yang demikian tragis, Patacara tidak kuat lagi menerima kenyataan yang menyedihkan ini ia menjadi gila, ia merobek-robek pakaiannya dan hampir tidak berpakaian. Patacara berlari-lari, berteriak-teriak, meratap-ratap di sepanjang jalan. Orang-orang yang melihatnya mengusirnya, “Pergi… Pergilah… wanita gila…!”
Sang Buddha yang sedang membabarkan Dhamma di Vihara Jetavana, melihat Patacara sedang berteriak-teriak di depan vihara. Seorang murid Sang Buddha berusaha mencegahnya masuk dan berkata kepada orang yang ada didepan vihara, “Jangan biarkan wanita gila itu masuk.”
“Jangan melarangnya, biarkan ia mendekat”, kata Sang Buddha. Ketika Patacara berada cukup dekap dengan Sang Buddha. Beliau berkata dengan penuh kelembutan, “Anak-Ku Patacara, sadarlah.”
Setelah mendengarkan kata-kata dari Sang Buddha Patacara menjadi tenang, dan kesadarannya pulih kembali. Ia lalu sadar bahwa tubuhnya hampir tidak berpakaian, Patacara menjadi malu dan ia lalu bersimpuh di tanah. Lalu salah seorang murid Sang Buddha memberinya sehelai kain, dan Patacara membungkus dirinya dengan kain itu. Lalu ia mendekat pada Sang Buddha, bersujud di kaki-Nya dan berkata,
“Yang Mulia, tolonglah saya. Salah satu anakku disambar burung elang, yang satunya lagi hanyut terbawa arus sungai, suamiku meninggal dipatuk ular berbisa, orang tua dan saudara laki-lakiku rumahnya roboh dan terbakar dalam satu tumpukan”, ratap Patacara.
Sang Buddha berkata, “Patacara, jangan takut, kamu telah datang kepadaKu yang dapat melindungimu dan membimbingmu. Sepanjang proses lingkaran kehidupan ini (Samsara), jumlah air mata yang telah kamu cucurkan atas kematian kedua anakmu, suami, orangtua, dan saudara laki-lakimu sudah sangat banyak, lebih banyak dari air yang ada di empat samudra.”
Kemudian Sang Buddha menjelaskan dengan rinci ‘Anamatagga Sutta’, yang menjelaskan perihal kehidupan yang tak terhitung banyaknya. Berangsur-angsur Patacara merasa tenang dan damai. Sang Buddha menambahkan bahwa ia seharusnya tidak berpikir keras tentang sesuatu yang telah pergi, tetapi seharusnya berjuang keras menyucikan diri untuk mencapai Nibbana. Mendengar nasihat Sang Buddha, Patacara mencapai Tingkat Kesucian Sotapatti. Kemudian Patacara menjadi bhikkhuni.
Pada suatu hari, Patacara sedang membersihkan kakinya dengan air dari tempayan. Pada saat ia menuangkan air untuk pertama kalinya, air tersebut hanya mengalir pada jarak yang pendek kemudian meresap. Lalu ia menuangkan untuk kedua kalinya, air tersebut mengalir sedikit lebih jauh, tetapi air yang dituangkan untuk ketiga kalinya mengalir paling jauh. Dengan melihat aliran dan menghilangnya air yang dituangkan sebanyak tiga kali, Patacara mengerti dengan jelas tiga tahapan di dalam kehidupan makhluk hidup.
Sang Buddha melihat Patacara melalui kemampuan batin-Nya dari Vihara Jetavana, mengirim seberkas sinar dan menampakkan diri sebagai seorang manusia. Sang Buddha kemudian berkata kepadanya, “Patacara kamu sekarang pada jalan yang benar, kamu telah tahu pandangan yang benar tentang kelompok kehidupan (khanda). Seseorang yang tidak mengerti karakteristik ketidak-kekalan, ketidak-puasan, tanpa inti dari khanda adalah tidak bermanfaat, walaupun ia hidup selama seratus tahun.”

YANG ARIYA UPALI

Terkemuka dalam Menjaga Sila
Enam bangsawan muda Sakya yaitu Ananda, Anuruddha, Bhaddiya, Bhagu, Devadatta dan Kimbila memutuskan bersama untuk menjadi siswa Sang Buddha. Ketika mereka meninggalkan Kapilavatthu, ibu kota kerajaan Sakya, mereka diiringi dengan rombongan besar kereta, gajah dan sejumiah pelayan untuk melayani mereka dalam perjalanan. Di perbatasan antara kerajaan Sakya dan kerajaan Magadha, mereka mengirim seluruh kereta kembali ke Kaplivatthu, dan yang tinggal bersama mereka hanyalah Upali, tukang cukur mereka.
Di tepi hutan mereka menyuruh Upali untuk mencukur rambut mereka. Kemudian mereka melepaskan baju mereka yang mewah, perhiasan, lalu mengenakan jubah yang telah disiapkan. Mereka memberikan baju dan perhiasan itu kepada Upali dan menyuruhnya kembali ke Kapilavatthu. Upali mendapati dirinya sendirian dengan barang-barang berharga di dekatnya. Dengan gemetar dipungutnya barang-barang itu. Namun ia berpikir, kalau ia membawa pulang barang-barang itu tentu orang-orang akan mencurigainya dan ia akan dituduh mencuri barang-barang itu. Kemudian ia bertanya-tanya, mengapa keenam bangsawan muda itu mau meninggalkan kehidupan keduniawian untuk memasuki kehidupan suci. Ia teringat sabda Sang Buddha, “Semua penderitaan di dunia ini lahir karena nafsu keinginan. Bila nafsu keinginan tidak dilenyapkan, kedamaian pikiran sulit dicapai”.
Upali tidak lagi tertarik pada baju dan perhiasan mewah itu, dan ia pun bergegas mengejar para bangsawan muda itu untuk ikut pula menemui Sang Buddha. Mereka menjumpai Sang Buddha di Anupiya dalam perjalanan ke Rajagaha. Mereka memohon kepada Sang Buddha untuk diterima sebagai bhikkhu dan memohon agar Upali dapat ditahbiskan terlebih dahulu agar mereka dapat mengurangi kesombongan hati mereka dengan menjadikan Upali sebagai senior mereka.
Dengan sikap rendah hati Upali selalu menerima apa yang dikatakan orang dengan baik dan melakukan segala hal dengan sungguh-sungguh, belajar dan melaksanakan semua aturan dengan baik melebihi para bhikkhu lainnya. Pada suatu kali Upali memohon ijin untuk tinggal di dalam hutan untuk melatih diri dalam meditasi.
Tetapi Sang Buddha menjawab, “Setiap orang mempunyai kemampuan sendiri-sendiri. Engkau tidak terlahir untuk hidup dalam kesunyian di hutan. Bayangkanlah apabila terdapat seekor gajah besar sedang mandi dengan gembira di sebuah danau. Apa yang akan terjadi bila seekor kelinci atau kucing melihat kegembiraan sang gajah, kemudian mencoba menyainginya dengan melompat ke dalam air juga?”
YA Upali kemudian menyadari bahwa beliau harus tetap berada dalam Sahgha, mengabdikan dirinya dalam peraturan dan latihan, menjaga sila dan bertindak sebagai penuntun bagi bagi bhikkhu-bhikkhu lainnya. Apabila menemui keragu-raguan sesedikit apapun, beliau segera menanyakannya kepada Sang Buddha. Beliau memegang teguh semua sila – mulai dari yang paling dasar yaitu tidak membunuh, mencuri, melakukan tindakan asusila, berdusta, minum minuman keras yang memabukkan – sedemikian baiknya sehingga orang-orang mulai datang kepadanya untuk meminta nasihatnya.
Meskipun demikian tidak berarti YA Upali mengikuti peraturan secara dogmatis. Beliau tahu bagaimana untuk membuat pengecualian. Pada suatu kali beliau bertemu dengan seorang bhikkhu tua yang sakit yang baru kembali dari perjalanan. Mendengar bahwa sakit tersebut dapat diobati dengan meminum anggur, YA Upali menemui Sang Buddha dan bertanya apa yang harus dilakukannya. Sang Buddha berkata bahwa orang yang sakit dikecualikan dari aturan yang melarang minum minuman yang diragi. YA Upali segera memberikan anggur kepada bhikku itu, yang dengan demikian menjadi sembuh dari sakitnya.
YA Upali melaksanakan sila untuk kepentingan semua bhikkhu dan untuk perbaikan Sangha. Beliau dihormati atas caranya menyelesaikan perselisihan yang seringkali mengganggu Sangha. Sesudah Sang Buddha mencapai Parinibbana, beliau memberikan sumbangan yang sangat besar dalam melestarikan Ajaran Sang Buddha dengan mengulang Vinaya (peraturan kebhikkhuan) dalam Sidang Agung yang diselenggarakan di bawah pimpinan YA Maha Kassapa. Ketika pertemuan dibuka, YA Maha Kassapa berkata, “Para Bhante yang terhormat, harap Sangha mendengarkan apa yang akan aku ucapkan. Kalau Sangha menganggap baik, aku akan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada bhikkhu Upali mengenai Vinaya”.
YA Upali menjawab, “Para Bhante yang terhormat, harap Sangha mendengarkan apa yang akan aku ucapkan. Kalau Sangha menganggap baik, aku akan menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai Vinaya yang akan diajukan oleh Ayasma Maha Kassapa”.
Kemudian YA Maha Kassapa bertanya, “Bhikkhu Upali, di mana ditetapkannya pelanggaran Parajika yang pertama?”
“Di Vesali, Bhante”
“Mengenai siapa?”
“Mengenai bhikkhu Sudinna dari desa Kalandaka”
Demikianlah ditanyakan tentang pokok persoalannya, asal mulanya dan tentang orang-orang yang terlibat, apa yang ditetapkan dan apa yang kemudian ditambahkan. Kemudian ditanyakan tentang apa yang dianggap sebagai pelanggaran dan apa yang dianggap sebagai bukan pelanggaran. Ditanyakan pula tentang peraturan-peraturan yang lain, baik yang berlaku untuk para bhikkhu maupun untuk para bhikkhuni. Demikianlah semua pertanyaan dijawab oleh YA Upali dengan terang dan jelas sehingga Vinaya dapat terulang kembali dengan benar untuk dilestarikan.

Yang Ariya Maha Pajapati Gotami Theri

Seseorang yang tidak lagi berbuat jahat melalui badan, ucapan, dan pikiran serta dapat mengendalikan diri dalam 3 saluran perbuatan ini, maka ia Kusebut seorang “Brahmana”
Maha Pajapati Gotami, yang terkenal sebagai salah satu pembentuk Sangha Bhikkhuni, berasal dari suku Koliya. Pada waktu Maha Pajapati Gotami dilahirkan, seorang peramal meramalkan bahwa jika besar nanti ia akan menjadi pemimpin dari suatu perkumpulan yang mempunyai banyak pengikut. Oleh karena itu ia diberi nama “Pajapati”, yang berarti pemimpin suatu perkumpulan besar, sedangkan “Maha” merupakan suatu awalan yang berarti luar biasa.
Maha Pajapati Gotami mempunyai kakak perempuan bernama Maya, kakak beradik ini menikah dengan Raja Suddhodana, dan tinggal bersama di Kapilavatthu. Kakak Maha Pajapati Gotami, Ratu Maya hamil lebih dahulu, yang kemudian melahirkan Pangeran Siddharta. Tujuh hari setelah melahirkan Pangeran Siddharta, Ratu Maya meninggal dunia.
Sudah menjadi tradisi, Maha Pajapati Gotami menggantikan kakaknya, menjadi Permaisuri dari Raja Suddhodana. Maha Pajapati Gotami walaupun sebagai ibu tiri, beliau menyusui dan mengurus Pangeran Siddharta seperti anaknya sendiri. Dari pernikahannya dengan Raja Suddhodana melahirkan dua orang anak, yaitu seorang anak perempuan bernama Sundari-Nanda dan seorang anak laki-laki bernama Nanda.
Waktu berlalu, Pangeran Siddharta yang telah mencapai ke-Buddha-an datang berkunjung ke Kapilavatthu, bersemayam di Nigrodharama (Taman Banyan), ketika itu Raja Suddhodana telah mangkat. Mendengar kabar kedatangan Sang Buddha, Maha Pajapati Gotami, bersama-sama dengan lima ratus wanita datang menemui Sang Buddha dan memohon kepada Beliau supaya wanita dapat ditahbiskan menjadi bhikkhuni, dan mengajukan permohonan,
“Yang mulia, akan menjadi baik, apabila seorang wanita diijinkan untuk meninggalkan kehidupan berumah tangga dan memasuki kehidupan suci, menjalani Ajaran dan Peraturan yang dipimpin oleh Sang Tathagata.”
Tanpa menjelaskan alasan-Nya, Sang Buddha langsung menolak, dengan berkata,
“Cukup, O Gotami, jangan mengajukan permohonan supaya wanita meninggalkan kehidupan berumah tangga dan memasuki kehidupan suci, menjalani Ajaran dan Peraturan yang dipimpin oleh Sang Tathagata.”
Untuk kedua dan ketiga kalinya Maha Pajapati Gotami mengulangi permohonannya, Sang Buddha tetap memberikan jawaban yang sama.
Kemudian, ketika Sang Buddha sedang berada di Kapilavatthu dalam perjalannya menuju Vesali, Beliau tinggal di sana pada waktu yang sesuai, saat itu Beliau berada di Mahavana (Hutan Besar) di Ruang Kutagara (Ruang Menara).
Ketika itu Maha Pajapati Gotami telah mencukur rambutnya, mengenakan jubah kuning, dengan lima ratus wanita pengikutnya, dalam perjalanan menuju Vesali, mereka tiba di Ruang Kutagara, Mahavana. Maha Pajapati Gotami dengan kaki yang bengkak, penuh dengan debu, amat berduka, sangat sedih dan penuh airmata, berdiri dengan menangis di depan pintu masuk ruangan. Yang Mulia Ananda menemui mereka yang sedang menangis dan menanyakan mengapa mereka amat berduka, kemudian beliau menemui Sang Buddha dan berkata,
“Lihatlah, Yang Mulia, Maha Pajapati Gotami berdiri di luar pintu, dengan kaki yang bengkak, tubuh yang berdebu dan amat sedih. lzinkanlah wanita meninggalkan kehidupan duniawi dan memasuki kehidupan suci, dengan menjalani Ajaran dan Peraturan yang dipimpin oleh Sang Buddha. Adalah baik, Yang Mulia, kalau wanita diizinkan meninggalkan kehidupan duniawi dan memasuki kehidupan suci.”
“Cukup, Ananda, jangan meminta agar wanita meninggalkan kehidupan duniawi dan memasuki kehidupan suci, dengan menjalani Ajaran dan Peraturan yang dipimpin oleh Sang Tathagata”, jawab Sang Buddha.
Untuk kedua dan ketiga kalinya, Yang Mulia Ananda atas nama para wanita memohon kepada Sang Buddha, tetapi Beliau tetap tidak mengizinkan.
“Yang Mulia, apakah wanita mempunyai kemampuan, apabila mereka meninggalkan kehidupan berumah tangga dan memasuki kehidupan suci, menjalani Ajaran dan Peraturan yang dipimpin oleh Sang Tathagata, dapat mencapai Tingkat Kesucian Sotapanna, Sakadagami, Anagami, mencapai Arahat?”
Sang Buddha menjawab, bahwa mereka mampu untuk mencapai Tingkat-tingkat Kesucian.
Mendengar jawaban Sang Buddha ini, Yang Mulia Ananda mencoba untuk membujuk Yang Maha Sempurna dengan berkata,
“Kalau demikian, Yang Mulia, mereka mampu untuk mencapai Tingkat Kesucian. Maha Pajapati Gotami telah memberikan pengorbanan yang besar kepada Yang Mulia, sebagai ibu asuh, perawat dan memberikan susunya, ia menyusui ketika ibu Yang Mulia meninggal dunia. Yang Mulia, adalah baik apabila wanita diijinkan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan memasuki kehidupan suci dengan menjalani Ajaran dan Peraturan yang dipimpin oleh Sang Tathagata.”
Akhirnya, setelah Yang Mulia Ananda mengajukan permohonan berkali-kali, Sang Buddha lalu berkata,
“Ananda, kalau Maha Pajapati Gotami mau menerima Delapan Peraturan Utama, ia harus melaksanakan peraturan ini sebagai persyaratan penahbisannya. Peraturan-peraturan ini harus dihormati, dijaga, dihargai, dijunjung tinggi selama hidupnya, dan tidak boleh dilanggar.”
Yang Mulia Ananda lalu menyampaikan hal ini kepada Maha Pajapati Gotami, ia dengan gembira menerima Delapan Peraturan Utama. Dengan diterimanya persyaratan ini, secara otomatis ia sudah menerima Penahbisan Tertinggi, menjadi bhikkhuni.
Maha Pajapati Gotami adalah wanita yang pertama kali diterima dalam pasamuan Bhikkhuni. Wanita yang lain diterima ke dalam pasamuan setelah Maha Pajapati Gotami, oleh para bhikkhu sesuai peraturan yang telah diajarkan Sang Buddha.
Tambahan :
Dengan munculnya Sangha Bhikkhuni, Sang Buddha lalu menyampaikan pandangan Beliau di masa yang akan datang, dengan bersabda,
“Ananda, apabila wanita tidak diizinkan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan memasuki kehidupan suci dengan menjalani Ajaran dan Peraturan yang dipimpin oleh Sang Tathagata, Kehidupan Suci akan berlangsung dalam masa yang lama sekali dan Dhamma Yang Mulia akan bertahan sepuluh ribu tahun lamanya. Tetapi, sejak wanita diijinkan meninggalkan kehidupan duniawi, maka Kehidupan Suci tidak akan berlangsung lama dan Dhamma Yang mulia hanya akan bertahan selama lima ribu tahun.”
Sang Buddha menambahkan,
“Seperti perumpamaan ini, Ananda, rumah yang dihuni oleh lebih banyak wanita dan laki-lakinya sedikit maka akan mudah dirampok. Demikian pula dimana Ajaran dan Peraturan yang mengizinkan wanita meninggalkan Kehidupan Suci tidak akan bertahan lama.”
“Dan seperti seorang laki-laki yang akan membangun terlebih dahulu sebuah bendungan yang besar sehingga dapat menampung air, demikian pula Tathagata membentenginya dengan Delapan Peraturan Utama untuk Sangha Bhikkhuni, yang tidak boleh dilanggar selama hidup mereka.”
Pernyataan ini, tentu saja tidak begitu menyenangkan bagi para wanita, Sang Buddha tidaklah bermaksud untuk menghukum, tetapi memperhitungkan hal ini karena kelemahan fisik wanita itu sendiri.
Meskipun ada beberapa alasan yang masuk akal, Sang Buddha dengan berat hati mengizinkan wanita untuk ditabhiskan menjadi bhikkhuni, hal ini menujukkan kebesaran hati Sang Buddha, dan merupakan yang pertama kali di dalam sejarah dunia ini, terbentuknya Sangha Bhikkhuni dengan peraturan-peraturan yang harus dilaksanakan selama hidupnya.

YANG ARIYA RAHULA

Terkemuka dalam Melaksanakan Kebaikan
Pada hari ketujuh setelah Sang Buddha kembali ke Kapilavatthu, Puteri Yasodhara mendandani Pangeran Rahula dengan pakaian yang bagus dan mengajaknya ke jendela. Dari jendela itu mereka dapat melihat Sang Buddha sedang makan siang. Puteri Yasodhara kemudian bertanya pada Rahula, “Anakku, tahukah engkau siapa orang itu ?”. Rahula menjawab, “Beliau adalah Sang Buddha, ibu”. Yasodhara tak dapat menahan air matanya yang menitik keluar dan berkata, “Anakku, petapa yang kulitnya kuning keemasan dan tampak seperti Brahma dikelilingi oleh ribuan muridnya adalah ayahmu. Beliau punya banyak harta pusaka. Pergilah kepadanya dan mintalah harta pusaka untukmu”.
Pangeran Rahula, yang masih kecil itu kemudian pergi mendekati Sang Buddha dan sambil memegang jari tangan Sang Buddha mengatakan apa yang dipesankan ibunya. Kemudian ia menambahkan, “Ayah, bahkan bayangan ayah membuat hatiku senang. Selesai makan siang Sang Buddha meninggalkan istana. Rahula mengikuti sambil terus merengek, “Ayah, berikanlah aku harta pusaka. Kelak aku akan menjadi raja, aku ingin memiliki harta pusaka. Ayah, berikanlah aku warisan”. Tak ada orang yang mencoba menghalang-halangi dan Sang Buddha sendiri juga membiarkan Rahula berbuat demikian. Setibanya di taman, beliau berpikir, “Rahula minta warisan harta pusaka, tetapi semua harta dunia penuh dengan penderitaan. Lebih baik Aku memberikan warisan berupa Tujuh Faktor Penerangan Agung yang Aku peroleh bawah pohon Bodhi. Dengan demikian akan mewarisi harta pusaka yang paling mulia”.
Di vihara, Sang Buddha meminta YA Sariputta untuk menahbiskan Rahula sebagai samanera. Rahula dengan demikian merupakan samanera pertama. Mendengar berita Rahula telah ditahbiskan menjadi samanera, Raja Suddhodana merasa sedih sekali. Oleh karena itu ia mohon kepada Sang Buddha agar seseorang yang akan ditahbiskan menjadi bhikkhu atau samanera agar dengan ijin orangtuanya. Sang Buddha menyetujui permohonan tersebut dan mulai saat itu tidak mentahbiskan bhikkhu atau samanera tanpa terlebih dahulu mendapat ijin dari orangtuanya.
Rahula merupakan putera dari Pangeran Siddhattha dan Puteri Yasodhara. Ketika Pangeran Siddhattha mendengar berita bahwa isterinya telah melahirkan seorang putera, mukanya menjadi pucat. Pangeran mengangkat kepalanya menatap langit dan berkata, “Rahulajato, bandhanam jatam” (Satu belenggu telah terlahir, satu ikatan telah terlahir). Karena itulah maka bayi yang baru lahir itu diberi nama Rahula. Kelahiran Rahula disambut dengan pesta besar yang meriah. Namun saat itu Pangeran Siddhattha telah bertekad untuk meninggalkan istana untuk mencari jalan untuk membebaskan manusia dari usia tua, sakit dan kematian.
Sesaat sebelum meninggalkan istana, Pangeran Siddhattha pergi ke kamar Puteri Yasodhara untuk melihat isteri dan anaknya. Isterinya sedang tidur nyenyak dan memeluk bayinya. Tangannya menutup muka sang bayi sehingga muka bayi tidak dapat terlihat. Pangeran semula ingin menggeser tangan isterinya untuk dapat melihat muka puteranya itu, tetapi hal ini diurungkan karena takut hal itu menyebabkan Puteri Yasodhara terbangun dan rencananya untuk meninggalkan istana bisa gagal. Pangeran berkata dalam hati, “Biarlah hari ini aku tidak melihat wajah anakku, tetapi nanti setelah aku memperoleh apa yang kucari aku akan datang kembali dan dengan puas dapat melihat wajah anak dan isteriku”. Setelah itu Pangeran Siddhattha meninggalkan istana dengan menunggang kuda Kanthaka diikuti oleh kusirnya, Channa, untuk berkelana mencari jalan kebahagiaan bagi umat manusia.
Kepergian Pangeran Sidhattha memberikan kesedihan yang mendalam bagi ayahnya, Raja Suddhodana terlebih pula isterinya, Puteri Yasodhara. Rahula yang kehilangan ayahnya diasuh dan dididik dengan penuh kasih sayang dan tumbuh menjadi anak yang pandai dan baik budi. Puteri Yasodhara sendiri ketika mendengar bahwa Pangeran Siddhattha yang telah menjadi petapa memakai jubah kuning, ia pun memakai jubah kuning, sewaktu mendengar petapa Siddhattha hanya makan satu kali sehari, ia pun makan hanya satu kali sehari. Demikian pula mengikuti kehidupan petapa Siddhattha, Puteri Yasodhara tidak lagi tidur di dipan yang tinggi dan mewah, tidak lagi memakai untaian bunga dan wewangian.
Setelah ditahbiskan oleh YA Sariputta, Rahula kini harus mengikuti peraturan yang berlaku. Sebagai anak Rahula tidak dapat memanggil ayah atau selalu berdekatan dengan Sang Buddha. Ini mungkin merupakan kesedihan baginya karena ia tidak dapat memperlakukan ayahnya sebagai seorang ayah sehingga mendorongnya untuk melakukan kenakalan-kenakalan kecil. Contohnya, suatu kali ia menunjukkan arah yang salah kepada umat yang datang ke vihara dan bertanya di mana dapat bertemu dengan Sang Buddha. Hal ini terdengar oleh Sang Buddha yang segera menuju ke kuti Rahula.
Rahula merasa bahagia ketika melihat ayahnya datang menghampirinya. Sang Buddha lalu meminta Rahula untuk menyiapkan sebaskom air. Setelah Rahula membasuh kaki Sang Buddha, Sang Buddha bertanya, “Rahula, dapatkah kamu minum air ini ?”
Rahula menjawab, “Tidak, tadi air ini bersih, tetapi sekarang sesudah dipakai membasuh kaki, air menjadi terlalu kotor untuk diminum”
Sang Budhha lalu menyuruh Rahula membuang air itu dan kembali dengan baskom yang sudah kosong. Lalu Sang Buddha berkata, “Rahula, dapatkah kamu menaruh makanan ke dalam baskom ini?”
Rahula menjawab, “Tidak saya tidak dapat menaruh makanan di baskom karena bekas tempat air kotor”.
Mendengar jawaban Rahula Sang Buddha berkata, “Seseorang yang mengetahui bahwa kebohongan adalah perbuatan buruk, tetapi berbohong terus menerus dengan menyakiti orang lain adalah seperti air yang kotor atau sebuah baskom yang sudah kotor. Kejahatan mulai dengan berbohong, yang akan mengundang kejahatan lain pada dirinya sendiri. Dan penderitaan yang disebabkan oleh kebohongan tidak akan dapat dielakkan oleh si pembuat kebohongan”.
Dengan kata-kata yang disampaikan oleh Sang Buddha, sejak saat itu Rahula dengan amat rajin mematuhi semua peraturan Sangha dan menjadi seorang bhikkhu yang terkemuka dalam melaksanakan perbuatan baik. Banyak orang memandang Rahula dengan penuh simpati. Meskipun terlahir dan dididik sebagai pangeran, Ia dapat melepaskan semua hak-hak istimewanya dan pada usia demikian muda dapat menjalani kehidupan suci dengan begitu baik. Namun adapula anggota sangha yang memperlakukannya dengan tidak ramah dan beberapa orang bhikkhu iri hati kepadanya. Menerima perlakuan yang tidak menyenangkan itu merupakan ujian berat baginya.
Pada suatu ketika, ketika YA Sariputta dan Rahula sedang berpindapata di Rajagaha, seorang perusuh melempar pasir ke mangkuk YA Sariputta dan memukul Rahula. YA Sariputta mengingatkan Rahula, “Rahula, engkau adalah siswa Sang Buddha. Perlakuan apapun yang kamu terima, tidak boleh menyebabkan kemarahan masuk ke dalam hatimu. Kamu harus selalu berbelas kasihan kepada semua makhluk. Orang yang paling berani, orang yang mencari penerangan, membuang kesombongan dan memiliki keteguhan hati untuk mengatasi kemarahan”. Rahula tersenyum dan terus berjalan sampai menemui sebuah sungai dan membersihkan kotoran dari tubuhnya.
Rahula tidak pernah membenci nasihat yang diberikan kepadanya. Setiap bangun pagi ia mengambil segenggam pasir dan bertekad, “Semoga hari ini saya mendapat nasihat sebanyak pasir ini”. Semangatnya dapat terlihat dari kenyataan bahwa ia melaksanakan latihan-latihan yang sangat sulit dan keras, dengan cara tidak berbaring melainkan duduk dalam posisi meditasi untuk tidur selama masa dua belas tahun.
Pada usia dua puluh tahun, Rahula ditahbiskan menjadi bhikkhu dengan pembimbing (upajjhaya) YA Sariputta dan guru penahbisan resmi YA Moggallana. Selama kurang lebih satu masa latihan musim hujan Rahula melatih diri dengan sungguh-sungguh. Ketika itu Sang Buddha yang mengetahui bahwa pikiran Rahula sudah matang, membawanya ke hutan Andha dan mengajarkan ajaran yang dikenal sebagai Nasihat Kecil untuk Rahula (Cullarahulovada Sutta, Majjhima Nikaya) Rahula merasakan kegembiraan setelah mendengar sabda Sang Buddha dan hatinya terbebas dari kekotoran batin (asava) dan beliau mencapai tingkat kesucian tertinggi yaitu Arahat.
Pada suatu kali delapan tahun setelah mencapai tingkat Arahat, terdapat para bhikkhu yang datang memakai tempat tidur YA Rahula. Karena tidak menemukan tempat untuk beristirahat, YA Rahula tidur di ruang terbuka di depan tempat Sang Buddha. YA Rahula mencapai Parinibbana (wafat) setelah wafatnya Sang Buddha, diperkirakan pada usia lima puluh tahun. Dibangun sebuah stupa untuk menyimpan peninggalan beliau.