- Suatu ketika, Sang Buddha berada di desa Ekanala, Magadha. Musim hujan telah tiba dan saat itu adalah saat menebar benih (padi). Pagi-pagi sekali di saat dedaunan masih basah oleh embun, Sang Buddha pergi ke sawah di mana Kasibharadvaja, seorang Brhamana yang petani, memiliki 500 bajak yang sedang dikerjakan. Ketika Sang Bhagava tiba, adalah saat Brahmana tersebut membagikan makanan kepada para pekerjanya. Sang Buddha menunggu di sanan untuk melakukan pindapata. Tetapi ketika Brahmana itu melihat Sang Buddha, ia mengejek dan berkata : “Saya membajak dan menanam benih, dan setelah membajak dan menanam benih, saya makan. O Pertapa, Engkau juga harus membajak dan menanam, dan setelah membajak dan menanam, baru Engkau bisa makan”. “O Brahmana, Tathagata juga membajak dan menanam. Dan setelah membajak dan menanam, Tathagata makan”, jawab Sang Buddha. Dengan bingung Brahmana bertanya, “Engkau mengatakan bahwa Engkau membajak dan menanam, tapi saya tidak melihat Engkau membajak?”. Sang Buddha menjawab : “Tathagata menanam keyakinan sebagai benih-benihnya. Aturan disiplinKu adalah sebagai hujannya. KebijaksanaanKu adalah kuk dan bajaknya. KesederhanaanKu adalah kepala-bajaknya. PikiranKu adalah talinya, Kesadaran (sati)-Ku dalah mata bajak dan tongkatnya”. “Tathagata terkendali di dalam perbuatan, ucapan dan makanan. Tathagata melakukan penyiangan dengan kebenaran. Kebahagiaan yang Tathagata dapatkan adalah kebebasan dari penderitaan. Dengan tekun Tathagata memikul kuk/gandar hingga mencapai Nibbana. Dengan demikian Tathagata telah melaksanakan pekerjaan membajak. Ini menghasilkan buah Keabadian. Dengan pembajakan seperti ini, seseorang terbebas dari semua penderitaan”. Setelah penjelasan ini, Brahmana tersebut menyadari kesalahannya, dan berkata, “Sudilah Yang Mulia Gotama makan nasi-susu ini. Yang mulia Gotama adalah seorang petani karena panennya menghasilkan buah Tanpa-kematian!” Setelah berkata demikian, Brahmana mengisi satu mangkuk besar dengan nasi-susu dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha. Sang Buddha menolak makanan tersebut dan mengatakan bahwa ia tidak dapat menerima makanan sebagai balasan/pembayaran dari pembabaran DhammaNya. Brahmana berlutut di kaki Sang Buddha dan memohon agar ditahbiskan menjadi anggota Persaudaraan para Bhikku. Tak berapa lama setelah itu, Kasibharadvaja menjadi Arahat.
Rabu, 21 Desember 2011
SANG BUDDHA DAN PETANI KASIBHARADVAJA
SIKAP SANG BUDDHA TERHADAP KEKUATAN GAIB
- Suatu saat, ketika Sang Buddha tinggal di Nalanda di Hutan Pavarika, seorang umat yang bernama Kevaddha datang kepada Beliau, memberi hormat dan berkata, “Yang Mulia, Nalanda adalah sebuah kota yang berhasil, Masyarakat yang tinggal di Nalanda hidupnya makmur, dan mereka mempunyai keyakinan terhadap Sang Bhagava. Yang Mulia, akan lebih baik jika Sang Bhagava menunjuk seorang bhikkhu untuk memperagakan satu keajaiban dari kekuatan supernormal, sehingga orang-orang Nalanda akan menjadi lebih yakin kepada Sang Bhagava”. Sang Buddha menjawab, “Kevaddha, Tathagata tidak mengajarkan Doktrin kepada para bhikkhu dalam cara itu”. Sang Buddha memberikan jawaban yang sama ketika pertanyaan yang sama diajukan kepada Beliau untuk kedua dan ketiga kalinya. Setelah ketiga kalinya, Sang Buddha menjawab bahwa ada 3 macam keajaiban supernormal : 1. Keajaiban dari kekuatan supernormal untuk tampak menjadi banyak menembus dinding, terbang di udara, menyelam ke dalam tanah, berjalan di atas air. Semua itu adalah perbuatan jasmani yang tidak dapat dilakukan oleh orang biasa. 2. Kekuatan supernormal untuk membaca pikiran orang lain. 3. Kekuatan supernormal untuk mampu membimbing orang-orang sesuai dengan tingkat batin mereka, demi kebaikan mereka sendiri, dengan menggunakan cara-cara yang cocok untuk memperbaiki orang-orang tersebut. Dua kekuatan supernormal yang pertama tersebut jika dipertunjukkan untuk mempengaruhi orang-orang demi kepentingan sendiri mereka sendiri, itu tidak berbeda dengan pertunjukkan seorang pesulap. Seorang bhikkhu yang mempraktekkan keajaiban duniawi semacam itu adalah sumber dari hal yang memalukan, kehinaan, dan menjijikan. Perbuatan-perbuatan tersebut mungkin dapat mempengaruhi dan memenangkan pengikut, tetapi hal-hal tersebut tidak membawa penerangan untuk membantu mereka menuju akhir dukkha. Jenis ketiga dari kekuatan supernormal, meskipun ia bisa disebut suatu ‘keajaiban’, tetapi ia dapat menolong orang-orang untuk bebas dari penderitaan. Inilah satu-satunya kekuatan supernormal yang pantas dipraktekkan. Satu-satunya keajaiban yang harus dipertunjukkan adalah sebagai berikut : bila engkau melihat seseorang yang penuh dengan nafsu, keinginan, dan keserakahan maka ajarlah dia untuk bebas dari nafsu, keinginan, dan keserakahan. Bila engkau melihat seseorang yang diperbudak oleh kebencian dan kemarahan, maka pakailah kekuatanmu untuk menolong dia mengendalikan kebencian dan kemarahannya. Bila engkau bertemu degnan orang yang bodoh dan tidak dapat melihat kealamiahan yang sebenarnya dari dunia (segala sesuatu di dunia adalah tidak kekal, mengecewakan, dan tanpa inti), maka gunakanlah kekuatanmu untuk menolong dia mengatasi kebodohannya. Ini adalah ‘keajaiban’ berharga yang dapat engkau pertunjukkan. Nasihat kepada Kevaddha ini diperluas pula sampai kepada peraturan Vinaya yang melarang para bhikkhu untuk mempertunjukkan kekuatan-kekuatan gaib untuk mempengaruhi orang-orang dan memperoleh pengikut, tanpa membantu mereka mencapai pencerahan. Hal ini jelas pada kasus Pindola Bharadvaja. Arahat Pindola Bharadvaja terkenal dengan kekuatan-kekuatan batinnya. Seorang kaya yang ingin agar bhikkhu ini membuktikan kekuatan batinnya, menaruh sebuah mangkuk indah di atas sebuah tempat yang tinggi dan menantang orang-orang suci untuk dpat menurunkan mangkuk itu. Jika ia dapat melakukannya, ia dapat memiliki mangkuk itu. Pindola Bharadvaja melayang naik dan membawa turun mangkuk tersebut dengan mudah. Ini juga dilakukan untuk membuktikan kepada orang kaya tersebut bahwa terdapat orang-orang suci di dunia ini, sebuah fakta yang tidak dipercaya oleh orang kaya itu. Ketika Sang Buddha mengetahui kejadian ini, Beliau memanggil Pindola Bharadvaja untuk membawa mangkuk tersebut. Beliau menghancurkan mangkuk itu berkeping-keping di depan kumpulan para bhikkhu, dan berkata, “Tathagata tidak senang pada demonstrasi kekuatan gaibmu. Kamu tidak pernah boleh memamerkan kekuatanmu semata-mata untuk memukau orang-orang bodoh”.
RAJA PASENADI KOSALA
Jumat, 16 Desember 2011
Yang Ariya Khema Theri
Seseorang yang pengetahuannya dalam, pandai, dan terlatih dalam membedakan jalan yang benar dan salah, yang telah mencapai tujuan tertinggi, maka ia Kusebut seorang “Brahmana “
Khema berasal dari keluarga yang berkuasa di Desa Sagala Magadha. Ia sangat cantik, kulitnya berwarna kuning keemasan. Kecantikan Khema tersebut membuat Raja Bimbisara meminang Khema dan menjadikannya sebagai permaisuri.
Ratu Khema, amat memuja kecantikan wajahnya. Namun ia pernah mendengar bahwa Sang Buddha mengatakan bahwa kecantikan bukan hal yang utama, dan karena itu Ratu Khema menghindar untuk berjumpa dengan Sang Buddha. Raja Bimbisara mengerti sikap Ratu Khema terhadap Sang Buddha, ia juga mengetahui betapa istrinya amat mengagumi kecantikan wajahnya, lalu meminta pengarang lagu untuk menciptakan sebuah lagu yang isinya memuji keindahan hutan Veluvana. Lagu itu kemudian dinyanyikan oleh para penyanyi terkenal.
Ketika Ratu Khema mendengar lagu tersebut menjadi penasaran, karena hutan Veluvana yang digambarkan sebagai suatu tempat yang indah itu belum pernah ia dengar dan lihat sendiri.
“Kalian bernyanyi tentang hutan yang mana?” , tanya Ratu Khema kepada para penyanyi.
“Paduka Ratu, kami bernyanyi tentang tentang hutan Veluvana”, jawab mereka.
“Kalian bernyanyi tentang hutan yang mana?” , tanya Ratu Khema kepada para penyanyi.
“Paduka Ratu, kami bernyanyi tentang tentang hutan Veluvana”, jawab mereka.
Setelah mendengar lagu dari penyanyi tersebut Ratu Khema lalu menjadi ingin sekali mengunjungi hutan Veluvana.
Sang Buddha yang pada saat itu sedang berkumpul membabarkan Dhamma kepada murid-murid-Nya, mengetahui kedatangan Ratu Khema, lalu Sang Buddha menciptakan bayangan seorang wanita muda yang amat cantik, berdiri di samping-Nya.
Ketika Ratu Khema mendekat, ia melihat bayangan wanita muda yang amat cantik, ia berpikir, “Yang saya ketahui Sang Buddha selalu berkata bahwa kecantikan bukanlah hal yang paling utama. Tetapi di sisi Sang Buddha sekarang berdiri seorang wanita yang kecantikannya luar biasa. Saya belum pernah melihat wanita secantik ini”, ucap ratu Khema dengan kagum. Ratu Khema tidak mendengarkan kata-kata yang diucapkan Sang Buddha, pandangannya hanya tertuju kepada bayangan wanita cantik di sisi Sang Buddha.
Sang Buddha mengetahui bahwa Ratu Khema amat serius memperhatikan bayangan wanita cantik itu, lalu Sang Buddha mengubah bayangan wanita muda yang amat cantik itu perlahan-lahan menjadi wanita tua, berubah terus sampai akhirnya yang tersisa hanyalah setumpuk tulang belulang. Ratu Khema yang memperhatikan semua itu lalu berkesimpulan, “Pada suatu saat nanti, wajah yang muda dan cantik itu akan berubah menjadi tua, rapuh lalu mati. Ah, semua itu bukan kenyataan!”
Sang Buddha mengetahui apa yang ada dalam pikirannya, lalu berkata,
“Khema, inilah kenyataan perubahan dari kecantikan wajah. Sekarang lihatlah semua kenyataan ini.”
“Khema, inilah kenyataan perubahan dari kecantikan wajah. Sekarang lihatlah semua kenyataan ini.”
Sang Buddha lalu mengucapkan syair,
“Khema, lihatlah paduan unsur-unsur ini, berpenyakit, penuh kekotoran dan akhirnya membusuk. Tipu daya dan kemelekatan adalah keinginan orang bodoh”.
“Khema, lihatlah paduan unsur-unsur ini, berpenyakit, penuh kekotoran dan akhirnya membusuk. Tipu daya dan kemelekatan adalah keinginan orang bodoh”.
Ketika Sang Buddha selesai mengucapkan syair ini Ratu Khema mencapai Tingkat kesucian Pertama (Sottapana). Kemudian Sang Buddha berkata kepadanya, “Khema, semua mahluk di dunia ini, hanyut dalam nafsu indria, dipenuhi oleh rasa kebencian, diperdaya oleh khayalan, mereka tidak dapat mencapai pantai bahagia, tetapi hanya hilir mudik di tepi sebelah sini saja”.
Sang Buddha lalu mengucapkan syair,
“Mereka yang bergembira dengan nafsu indria, akan jatuh ke dalam arus (kehidupan), seperti laba-laba yang jatuh ke dalam jaring yang dibuatnya sendiri. Tetapi para bijaksana dapat memutuskan belenggu itu, mereka meninggalkan kehidupan duniawi, tanpa ikatan serta melepas kesenangan-kesenangan indria”.
“Mereka yang bergembira dengan nafsu indria, akan jatuh ke dalam arus (kehidupan), seperti laba-laba yang jatuh ke dalam jaring yang dibuatnya sendiri. Tetapi para bijaksana dapat memutuskan belenggu itu, mereka meninggalkan kehidupan duniawi, tanpa ikatan serta melepas kesenangan-kesenangan indria”.
(Dhammapada, Tanha Vagga No. at)
Setelah Sang Buddha selesai mengucapkan syairnya, Khema mencapai Tingkat Kesucian Arahat. Sang Buddha lalu berkata kepada Raja Bimbimsara,
“Baginda, Khema lebih baik meninggalkan keduniawian ataukah mencapai nibbana?”
“Baginda, Khema lebih baik meninggalkan keduniawian ataukah mencapai nibbana?”
Raja Bimbisara menjawab, “Yang Mulia, izinkanlah ia memasuki Sangha bhikkuni, jangan dulu mencapai nibbana!”
Khema meninggalkan keduniawian dan menjadi salah satu murid Sang Buddha yang terkemuka.
Visakha
Seperti dari setumpuk bunga dapat dibuat banyak karangan bunga; demikian pula hendaknya banyak kebajikan dapat dilakukan oleh manusia di dunia ini.
Visakha adalah puteri dari seorang hartawan dari Bhaddiya bernama Dhananjaya dan ibunya bernama Sumanadevi. Kakek Visakha adalah seorang hartawan bernama Ram, yang merupakan salah satu dari lima hartawan di wilayah kerajaan Raja Bimbisara.
Pada suatu hari, ketika kakek Visakha mendengar kabar bahwa Sang Buddha sedang berjalan memasuki kota, ia mengajak Visakha yang baru berusia tujuh tahun bersama lima ratus pengawalnya untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha.
“Cucuku sayang, hari ini hari bahagia untukmu dan untukku, kumpulkan lima ratus pengawal beserta lima ratus pelayan. Mari kita temui Sang Buddha”, kata kakek Visakha.
“Baiklah!” jawab Visakha. Keesokan harinya kakek Visakha mengundang Sang Buddha bersama para bhikkhu untuk menerima persembahan dana darinya. Setelah mendengar khotbah Sang Buddha, Kakek Visakha, Visakha dan lima ratus pengawalnya mencapai tingkat kesucian Sotapatti.
Ketika Visakha dewasa, dia tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Ia dipersunting oleh Punnavaddhana, putra Migara, seorang hartawan dari Savatthi. Pada waktu ia pindah mengikuti suaminya ke Savatthi, ayahnya meminta 8 orang penasihat mengiringinya ke Savatthi.
Pada suatu hari, ketika ayah mertuanya sedang makan siang di rumahnya, seorang bhikkhu berhenti di rumah tersebut untuk berpindapatta, Visakha yang pada saat itu sedang berdiri di dekat ayah mertuanya, ketika melihat bhikkhu itu, ia lalu berpikir, adalah tidak tepat jika saya memberitahukan kepada ayah mertua tentang kedatangan bhikkhu tersebut. Ia lalu bergeser ke samping supaya ayah mertuanya melihat kedatangan bhikkhu itu.
Tapi ketika ayah mertua melihat kedatangan bhikkhu tersebut, beliau tidak perduli, dan meneruskan makan siangnya. Visakha berpikir, “Ayah mertuaku sudah melihat kedatangan bhikkhu itu tapi beliau tidak perduli.” Akhirnya ia berkata kepada bhikkhu tersebut, “Bhante, maafkanlah ayah mertua saya sedang makan makanan sisa,”
Ayah mertua yang sedang makan, mendengar ucapan menantunya bahwa ia makan makanan sisa, lalu mengibaskan tangannya dan berkata dengan marah, “Buang makanan ini dan usir perempuan itu dari rumah sekarang juga!”
Visakha yang mendengar ayah mertuanya marah dan mengusirnya, berkata dengan lembut, “Ayah, tidaklah cukup alasan yang mengharuskan saya pergi dari rumah ini, ayah saya mengirim 8 orang penasihat untuk mengawasi saya apabila saya melakukan kekeliruan. Saya akan mengundang mereka dan menjelaskan apa yang terjadi.”
Ayah mertuanya menyetujui ucapan Visakha untuk memanggil ke 8 penasihat tersebut. Ketika para penasihat itu berkumpul, Migara berkata, “Ketika saya sedang makan dengan piring emas, Visakha mengatakan saya sedang makan makanan sisa, maka saya mengusirnya keluar dari rumah ini.”
“Apakah benar anakku?” tanya para penasihat. “Saya tidak mengatakan demikian yang terjadi sebagai berikut, ketika seorang bhikkhu sedang berpindapata, berdiri di depan pintu, ayah mertua yang sedang makan dengan piring emas tidak mempedulikan bhikkhu tersebut.” Jadi saya berkata, “Bhante, maafkanlah ayah mertua saya sedang makan makanan sisa. Saya pikir ayah mertua saya tidak mau melakukan perbuatan baik saat ini, beliau hanya makan hasil dari perbuatan baiknya di masa lampau.”
“Apakah saya berkata salah, Tuan?” tanya Visakha kepada para penasihat. “Tidak, kamu tidak bersalah, apa yang Visakha katakan seluruhnya benar”, jawab para penasihat. “Mengapa tuan marah kepadanya?” tanya salah satu penasihat kepada Migara.
Akhirnya ayah mertuanya menyadari kekeliruannya, lalu Visakha berkata, “Tuan-tuan, meskipun pada mulanya tidaklah benar bila saya meninggalkan rumah ini atas perintah ayah, dan sekarang anda telah membebaskan saya atas semua tuduhan terhadap saya, maka sekaranglah waktu yang tepat bagi saya untuk pergi dari rumah ini.”
Visakha lalu memberi perintah, “Beritahu kepada semua pembantu baik laki-laki atau perempuan, persiapkan kereta dan segalanya, saya mau pulang ke rumah orang tuaku.” Ayah mertua menghampirinya, “Saya memaafkanmu, menantuku.”
“Ayah, saya sebagai murid Sang Buddha, tidak dapat tinggal diam apabila ada para bhikkhu yang sedang berpindapata. Namun, apabila saya diijinkan untuk mengundang dan berdana kepada para bhikkhu, saya akan tinggal”, jawab Visakha kepada ayah mertuanya.
Kemudian ayah mertuanya berkata, “Menantuku, kamu dapat mengundang para bhikkhu sesuai dengan keinginanmu.” Visakha lalu mengundang Sang Buddha dan murid-murid-Nya ke rumah mertuanya untuk keesokan harinya.
Ketika dana makanan telah disajikan Visakha mengundang ayah mertua untuk bertemu dengan Sang Buddha, tetapi ayah mertuanya yang mempercayai pertapa yang berpandangan salah, melarangnya. Untuk kedua kalinya Visakha meminta ayah mertuanya untuk datang.
Namun ayah mertuanya tetap bersikeras tidak mau menemui Sang Buddha. Namun Visakha bersepakat dengan ayah mertuanya untuk mendengarkan kotbah Sang Buddha dari balik tirai.
Setelah mendengar kotbah, Migara mencapai tingkat kesucian Sotapatti. Migara amat berterima kasih kepada Sang Buddha dan kepada menantunya. Sejak saat itu ia menyatakan Visakha sebagai ibunya, yang kemudian dikenal sebagai Migara mata. Visakha lalu berdana makanan dan kebutuhan lain kepada Sang Buddha dan murid-murid-Nya.
Visakha hidup bahagia dan makmur, dan dari pernikahannya itu, Visakha mempunyai sepuluh anak laki-laki dan sepuluh anak perempuan.
Pada suatu hari, Visakha pergi ke Vihara Jetavana bersama pelayannya, sesampainya di vihara ia melepaskan perhiasan yang dihadiahi ayahnya ketika ia menikah, karena terlalu berat, lalu membungkusnya dengan selendang dan meminta pelayannya untuk menjaganya. Namun, ketika pulang pelayan itu lupa membawa perhiasan tersebut. Sudah menjadi kebiasaan Yang Arya Ananda menyimpan barang-barang yang ditinggalkan oleh umat.
Visakha mengirim kembali pelayannya ke vihara dan berkata, “Pergi dan lihatlah perhiasan permata itu, tetapi jika Yang Arya Ananda telah menemukan dan menyimpannya di suatu tempat, jangan bawa pulang kembali; Saya mendanakan perhiasan permata itu kepada Yang Arya Ananda.” Tetapi Yang Arya Ananda tidak menerima dana tersebut.
Maka Visakha memutuskan untuk menjual perhiasan tersebut dan kemudian akan mendanakan hasil penjualannya. Tetapi tidak seorang pun yang mampu membeli perhiasan tersebut. Akhirnya Visakha membelinya sendiri seharga sembilan crore dan satu lakh. Dengan uang tersebut ia membangun sebuah vihara di bagian timur kota; Vihara itu dikenal dengan nama Pubbarama, ia lalu mempersembahkan vihara itu dengan rasa bahagia kepada Sang Buddha dan murid-muridnya-Nya. Selain itu Visakha juga berdana makanan, obat-obatan dengan penuh rasa hormat, ia amat bahagia karena semua keinginannya telah terpenuhi dan ia tidak lagi punya keraguan, kemudian sambil melantunkan lima syair kegembiraan ia berputar menglilingi vihara.
Syair itu berbunyi :
Visakha adalah puteri dari seorang hartawan dari Bhaddiya bernama Dhananjaya dan ibunya bernama Sumanadevi. Kakek Visakha adalah seorang hartawan bernama Ram, yang merupakan salah satu dari lima hartawan di wilayah kerajaan Raja Bimbisara.
Pada suatu hari, ketika kakek Visakha mendengar kabar bahwa Sang Buddha sedang berjalan memasuki kota, ia mengajak Visakha yang baru berusia tujuh tahun bersama lima ratus pengawalnya untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha.
“Cucuku sayang, hari ini hari bahagia untukmu dan untukku, kumpulkan lima ratus pengawal beserta lima ratus pelayan. Mari kita temui Sang Buddha”, kata kakek Visakha.
“Baiklah!” jawab Visakha. Keesokan harinya kakek Visakha mengundang Sang Buddha bersama para bhikkhu untuk menerima persembahan dana darinya. Setelah mendengar khotbah Sang Buddha, Kakek Visakha, Visakha dan lima ratus pengawalnya mencapai tingkat kesucian Sotapatti.
Ketika Visakha dewasa, dia tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Ia dipersunting oleh Punnavaddhana, putra Migara, seorang hartawan dari Savatthi. Pada waktu ia pindah mengikuti suaminya ke Savatthi, ayahnya meminta 8 orang penasihat mengiringinya ke Savatthi.
Pada suatu hari, ketika ayah mertuanya sedang makan siang di rumahnya, seorang bhikkhu berhenti di rumah tersebut untuk berpindapatta, Visakha yang pada saat itu sedang berdiri di dekat ayah mertuanya, ketika melihat bhikkhu itu, ia lalu berpikir, adalah tidak tepat jika saya memberitahukan kepada ayah mertua tentang kedatangan bhikkhu tersebut. Ia lalu bergeser ke samping supaya ayah mertuanya melihat kedatangan bhikkhu itu.
Tapi ketika ayah mertua melihat kedatangan bhikkhu tersebut, beliau tidak perduli, dan meneruskan makan siangnya. Visakha berpikir, “Ayah mertuaku sudah melihat kedatangan bhikkhu itu tapi beliau tidak perduli.” Akhirnya ia berkata kepada bhikkhu tersebut, “Bhante, maafkanlah ayah mertua saya sedang makan makanan sisa,”
Ayah mertua yang sedang makan, mendengar ucapan menantunya bahwa ia makan makanan sisa, lalu mengibaskan tangannya dan berkata dengan marah, “Buang makanan ini dan usir perempuan itu dari rumah sekarang juga!”
Visakha yang mendengar ayah mertuanya marah dan mengusirnya, berkata dengan lembut, “Ayah, tidaklah cukup alasan yang mengharuskan saya pergi dari rumah ini, ayah saya mengirim 8 orang penasihat untuk mengawasi saya apabila saya melakukan kekeliruan. Saya akan mengundang mereka dan menjelaskan apa yang terjadi.”
Ayah mertuanya menyetujui ucapan Visakha untuk memanggil ke 8 penasihat tersebut. Ketika para penasihat itu berkumpul, Migara berkata, “Ketika saya sedang makan dengan piring emas, Visakha mengatakan saya sedang makan makanan sisa, maka saya mengusirnya keluar dari rumah ini.”
“Apakah benar anakku?” tanya para penasihat. “Saya tidak mengatakan demikian yang terjadi sebagai berikut, ketika seorang bhikkhu sedang berpindapata, berdiri di depan pintu, ayah mertua yang sedang makan dengan piring emas tidak mempedulikan bhikkhu tersebut.” Jadi saya berkata, “Bhante, maafkanlah ayah mertua saya sedang makan makanan sisa. Saya pikir ayah mertua saya tidak mau melakukan perbuatan baik saat ini, beliau hanya makan hasil dari perbuatan baiknya di masa lampau.”
“Apakah saya berkata salah, Tuan?” tanya Visakha kepada para penasihat. “Tidak, kamu tidak bersalah, apa yang Visakha katakan seluruhnya benar”, jawab para penasihat. “Mengapa tuan marah kepadanya?” tanya salah satu penasihat kepada Migara.
Akhirnya ayah mertuanya menyadari kekeliruannya, lalu Visakha berkata, “Tuan-tuan, meskipun pada mulanya tidaklah benar bila saya meninggalkan rumah ini atas perintah ayah, dan sekarang anda telah membebaskan saya atas semua tuduhan terhadap saya, maka sekaranglah waktu yang tepat bagi saya untuk pergi dari rumah ini.”
Visakha lalu memberi perintah, “Beritahu kepada semua pembantu baik laki-laki atau perempuan, persiapkan kereta dan segalanya, saya mau pulang ke rumah orang tuaku.” Ayah mertua menghampirinya, “Saya memaafkanmu, menantuku.”
“Ayah, saya sebagai murid Sang Buddha, tidak dapat tinggal diam apabila ada para bhikkhu yang sedang berpindapata. Namun, apabila saya diijinkan untuk mengundang dan berdana kepada para bhikkhu, saya akan tinggal”, jawab Visakha kepada ayah mertuanya.
Kemudian ayah mertuanya berkata, “Menantuku, kamu dapat mengundang para bhikkhu sesuai dengan keinginanmu.” Visakha lalu mengundang Sang Buddha dan murid-murid-Nya ke rumah mertuanya untuk keesokan harinya.
Ketika dana makanan telah disajikan Visakha mengundang ayah mertua untuk bertemu dengan Sang Buddha, tetapi ayah mertuanya yang mempercayai pertapa yang berpandangan salah, melarangnya. Untuk kedua kalinya Visakha meminta ayah mertuanya untuk datang.
Namun ayah mertuanya tetap bersikeras tidak mau menemui Sang Buddha. Namun Visakha bersepakat dengan ayah mertuanya untuk mendengarkan kotbah Sang Buddha dari balik tirai.
Setelah mendengar kotbah, Migara mencapai tingkat kesucian Sotapatti. Migara amat berterima kasih kepada Sang Buddha dan kepada menantunya. Sejak saat itu ia menyatakan Visakha sebagai ibunya, yang kemudian dikenal sebagai Migara mata. Visakha lalu berdana makanan dan kebutuhan lain kepada Sang Buddha dan murid-murid-Nya.
Visakha hidup bahagia dan makmur, dan dari pernikahannya itu, Visakha mempunyai sepuluh anak laki-laki dan sepuluh anak perempuan.
Pada suatu hari, Visakha pergi ke Vihara Jetavana bersama pelayannya, sesampainya di vihara ia melepaskan perhiasan yang dihadiahi ayahnya ketika ia menikah, karena terlalu berat, lalu membungkusnya dengan selendang dan meminta pelayannya untuk menjaganya. Namun, ketika pulang pelayan itu lupa membawa perhiasan tersebut. Sudah menjadi kebiasaan Yang Arya Ananda menyimpan barang-barang yang ditinggalkan oleh umat.
Visakha mengirim kembali pelayannya ke vihara dan berkata, “Pergi dan lihatlah perhiasan permata itu, tetapi jika Yang Arya Ananda telah menemukan dan menyimpannya di suatu tempat, jangan bawa pulang kembali; Saya mendanakan perhiasan permata itu kepada Yang Arya Ananda.” Tetapi Yang Arya Ananda tidak menerima dana tersebut.
Maka Visakha memutuskan untuk menjual perhiasan tersebut dan kemudian akan mendanakan hasil penjualannya. Tetapi tidak seorang pun yang mampu membeli perhiasan tersebut. Akhirnya Visakha membelinya sendiri seharga sembilan crore dan satu lakh. Dengan uang tersebut ia membangun sebuah vihara di bagian timur kota; Vihara itu dikenal dengan nama Pubbarama, ia lalu mempersembahkan vihara itu dengan rasa bahagia kepada Sang Buddha dan murid-muridnya-Nya. Selain itu Visakha juga berdana makanan, obat-obatan dengan penuh rasa hormat, ia amat bahagia karena semua keinginannya telah terpenuhi dan ia tidak lagi punya keraguan, kemudian sambil melantunkan lima syair kegembiraan ia berputar menglilingi vihara.
Syair itu berbunyi :
Kapankah aku dapat mempersembahkan sebuah vihara,
tempat tinggal yang dibangun dengan semen dan batu bata.
Semoga tercapai keinginanku.Kapankah aku dapat mempersembahkan
perlengkapannya-perlengkapannya, kasur-kasur,
kursi-kursi, karpet dan bantal-bantal.
Semoga tercapai keinginanku.Kapankah aku dapat mempersembahkan
makanan dan minuman.
Semoga tercapai keinginanku.Kapankah aku dapat mempersembahkan
jubah dan kain-kain.
Semoga tercapai keinginanku.Kapankah aku dapat mempersembahkan
obat-obatan, madu dan mentega.
Semoga tercapai keinginanku.
Para bhikku yang mendengar suaranya, berkata kepada Sang Buddha, “Yang Mulia, selama ini kami tidak pernah mendengar Visakha bernyanyi, tapi pada hari ini, dengan dikelilingi anak-anak dan cucu-cucunya, ia bernyanyi sambil mengelilingi vihara. Apakah ia sudah kehilangan akal sehatnya ?”
Sang Buddha menjawab, “O, para bhikkhu, anakku Visakha tidak bernyanyi, tapi ia melantunkan syair karena semua keinginannya telah terpenuhi dan hatinya dipenuhi rasa bahagia. Visakha pada masa lampau selalu berbuat kebaikan-kebaikan yang besar dan mempunyai keyakinan yang kuat kepada ajaran Para Buddha. Seperti seorang ahli bunga menyusun banyak rangkaian bunga dari setumpuk bunga-bunga.”
Kemudian Sang Buddha mengucapkan Syair 53 :
Seperti dari setumpuk bunga dapat dibuat banyak karangan bunga; demikian pula hendaknya banyak kebajikan dapat dilakukan oleh manusia di dunia ini.
Sang Buddha menjawab, “O, para bhikkhu, anakku Visakha tidak bernyanyi, tapi ia melantunkan syair karena semua keinginannya telah terpenuhi dan hatinya dipenuhi rasa bahagia. Visakha pada masa lampau selalu berbuat kebaikan-kebaikan yang besar dan mempunyai keyakinan yang kuat kepada ajaran Para Buddha. Seperti seorang ahli bunga menyusun banyak rangkaian bunga dari setumpuk bunga-bunga.”
Kemudian Sang Buddha mengucapkan Syair 53 :
Seperti dari setumpuk bunga dapat dibuat banyak karangan bunga; demikian pula hendaknya banyak kebajikan dapat dilakukan oleh manusia di dunia ini.
Culla Subadha
Meskipun dari jauh, orang baik akan terlihat bersinar; Bagaikan puncak pegunungan Himalaya. Tetapi meskipun dekat, orang jahat tidak akan terlihat; Bagaikan anak panah yang dilepaskan pada malam hari.
Berawal dari Anathapindika masih remaja. Ia mempunyai sahabat akrab dari anak seorang bendahara bernama Ugga, yang tinggal di kota Ugga. Mereka belajar bersama ilmu sastra di rumah seorang guru. Ketika mereka belajar bersama, mereka membuat perjanjian, “Bila kita sudah dewasa, lalu menikah dan mempunyai anak, yang perempuan akan dijadikan isteri dari anak laki-laki.” Ketika kedua remaja ini menjadi dewasa, mereka menjadi bendahara, yang tinggal di kota masing-masing.
Waktu berlalu, Anathapindika telah berkeluarga dan mempunyai anak perempuan yang bernama Culla Subhadda. Pada suatu kesempatan Bendahara Ugga berkunjung ke Savatthi dengan membawa kereta untuk berdagang. Ketika itu Anathapindika berkata kepada anak perempuannya Culla Subhadda, “Anakku sayang, ayahmu Bendahara Ugga akan datang mengunjungi kita; kamu harus melayaninya dengan baik.” “Baiklah ayah”, jawab Culla Subhadda, ia berjanji untuk mematuhi perintah ayahnya.
Sejak Bendahara Ugga tiba, Culla Subhadda menyiapkan sendiri piring-piring, masakan dan makanan lainnya, menghiasi rumah dengan bunga-bunga, menyediakan minyak wangi, obat gosok dan lain-lain untuk menyenangkan tamunya. Ketika waktu makan tiba, ia segera menyiapkan air untuk tamunya mandi dan sesudah itu ia melayani segala macam kebutuhan tamunya itu.
Ketika Bendahara Ugga memperhatikan tingkah laku Culla Subhadda yang menyenangkan itu, hatinya bahagia. Suatu hari ia berbincang-bincang dengan Anathapindika, ia mengingatkan kembali perjanjian di antara mereka, ketika mereka masih remaja, ia lalu memutuskan untuk memilih Culla Subhadda untuk menjadi menantunya.
Sekarang ini, Bendahara Ugga berguru kepada pertapa telanjang yang mempunyai pandangan yang salah, dan Anathapindika lalu bertanya kepada Sang Budhha tentang masalah ini. Sang Guru melihat bahwa Bendahara Ugga mempunyai kemampuan untuk mempelajari Dhamma, mengijinkan Culla Subhadda untuk menjadi menantu Bendahara Ugga. Sesudah Bendahara Anathapindika membicarakan masalah ini kepada isterinya, ia lalu menerima lamaran Bendahara Ugga dan mempersiapkan upacara pernikahan puterinya.
Bendahara Anathapindika memberikan beberapa hadiah kepada putrinya. Ia memberikan Sepuluh Peringatan, kemudian berkata, “Putriku sayang, kalau kamu tinggal di rumah mertuamu, api di dalam rumah jangan dibawa keluar dan sebagainya.” Ia juga menyediakan delapan orang pengikut sebagai penasihat, ia berpesan kepada mereka, “Kalau ada kesalahan berada di pihak puteriku, kalian harus memberitahukan kesalahannya.”
Ketika ia hendak melepaskan puterinya, ia berdana yang luar biasa besarnya kepada Bhikkhu Sangha, yang dipimpin oleh Sang Buddha, dan mengumumkan kepada masyarakat bahwa puterinya telah melakukan perbuatan baik sehingga puterinya memperoleh kebahagian, ia lalu melepas puterinya pergi dengan penuh rasa bahagia.
Ketika Culla Subhada tiba di kota Ugga, seluruh anggota keluarga mertuanya dan keluarga besar lainnya datang menyambut dengan penuh kehangatan. Ia memasuki kota dengan berdiri di atas kereta kencana, berpawai ke sekeliling kota, yang memperhatikan kebesaran dan kebahagiaannya. Ia menerima banyak hadiah dari penduduk, sehingga menimbulkan hubungan dan pengertian yang baik dengan penduduk di sekitarnya. Seluruh kota membicarakan dengan penuh hormat kecantikan dan keluhuran budinya.
Sekarang ini, ayah mertuanya sedang menjamu para pertapa telanjang pada suatu festival, dan pada saat itu ia mengirimkan pesan kepada menantunya, “Panggillah ia masuk, untuk memberikan hormat kepada pertapa-pertapa kita.”
Tetapi dengan penuh kerendahan hati Culla Subhadda menolak untuk bertemu dan masuk menemui mereka. Berkali-kali mertuanya memberikan pesan supaya menantunya datang dan berkali-kali pula ia manolak untuk masuk. Akhirnya ayah mertuanya marah dan memerintahkan, “Usir dia keluar dari rumah ini!”
Tetapi ia menolak, “Tidak seorangpun dapat menghukum tanpa suatu alasan.” Dengan segera Culla Subhadda mengumpulkan para penasihat yang mengiringinya dan menerangkan permasalahan di hadapan mereka.
Ayah mertua berbincang-bincang dengan isterinya tentang masalah ini dan berkata, “Perempuan ini menolak untuk memberikan hormat kepada para pertapa kita, alasannya karena mereka ‘tidak sopan’.” Ibu mertuanya berkata, “Bagamanakah tingkah laku para bhikkhunya, sehingga ia puja sedemikian tinggi ?”
Ia lalu memanggil Culla Subhadda dan berkata, “Bagaimanakah tingkah laku para bhikkhumu, yang kamu puja sedemikian tinggi? Apa yang mereka pahami dan bagaimana mereka mempraktekannya? Jawablah pertanyaan saya.”
Dalam menjawab pertanyaan ibu mertuanya, Culla Subhadda menjelaskan tentang kemuliaan dan keluhuran dari Sang Buddha dan Ajaran-Nya sebagai berikut :
Berawal dari Anathapindika masih remaja. Ia mempunyai sahabat akrab dari anak seorang bendahara bernama Ugga, yang tinggal di kota Ugga. Mereka belajar bersama ilmu sastra di rumah seorang guru. Ketika mereka belajar bersama, mereka membuat perjanjian, “Bila kita sudah dewasa, lalu menikah dan mempunyai anak, yang perempuan akan dijadikan isteri dari anak laki-laki.” Ketika kedua remaja ini menjadi dewasa, mereka menjadi bendahara, yang tinggal di kota masing-masing.
Waktu berlalu, Anathapindika telah berkeluarga dan mempunyai anak perempuan yang bernama Culla Subhadda. Pada suatu kesempatan Bendahara Ugga berkunjung ke Savatthi dengan membawa kereta untuk berdagang. Ketika itu Anathapindika berkata kepada anak perempuannya Culla Subhadda, “Anakku sayang, ayahmu Bendahara Ugga akan datang mengunjungi kita; kamu harus melayaninya dengan baik.” “Baiklah ayah”, jawab Culla Subhadda, ia berjanji untuk mematuhi perintah ayahnya.
Sejak Bendahara Ugga tiba, Culla Subhadda menyiapkan sendiri piring-piring, masakan dan makanan lainnya, menghiasi rumah dengan bunga-bunga, menyediakan minyak wangi, obat gosok dan lain-lain untuk menyenangkan tamunya. Ketika waktu makan tiba, ia segera menyiapkan air untuk tamunya mandi dan sesudah itu ia melayani segala macam kebutuhan tamunya itu.
Ketika Bendahara Ugga memperhatikan tingkah laku Culla Subhadda yang menyenangkan itu, hatinya bahagia. Suatu hari ia berbincang-bincang dengan Anathapindika, ia mengingatkan kembali perjanjian di antara mereka, ketika mereka masih remaja, ia lalu memutuskan untuk memilih Culla Subhadda untuk menjadi menantunya.
Sekarang ini, Bendahara Ugga berguru kepada pertapa telanjang yang mempunyai pandangan yang salah, dan Anathapindika lalu bertanya kepada Sang Budhha tentang masalah ini. Sang Guru melihat bahwa Bendahara Ugga mempunyai kemampuan untuk mempelajari Dhamma, mengijinkan Culla Subhadda untuk menjadi menantu Bendahara Ugga. Sesudah Bendahara Anathapindika membicarakan masalah ini kepada isterinya, ia lalu menerima lamaran Bendahara Ugga dan mempersiapkan upacara pernikahan puterinya.
Bendahara Anathapindika memberikan beberapa hadiah kepada putrinya. Ia memberikan Sepuluh Peringatan, kemudian berkata, “Putriku sayang, kalau kamu tinggal di rumah mertuamu, api di dalam rumah jangan dibawa keluar dan sebagainya.” Ia juga menyediakan delapan orang pengikut sebagai penasihat, ia berpesan kepada mereka, “Kalau ada kesalahan berada di pihak puteriku, kalian harus memberitahukan kesalahannya.”
Ketika ia hendak melepaskan puterinya, ia berdana yang luar biasa besarnya kepada Bhikkhu Sangha, yang dipimpin oleh Sang Buddha, dan mengumumkan kepada masyarakat bahwa puterinya telah melakukan perbuatan baik sehingga puterinya memperoleh kebahagian, ia lalu melepas puterinya pergi dengan penuh rasa bahagia.
Ketika Culla Subhada tiba di kota Ugga, seluruh anggota keluarga mertuanya dan keluarga besar lainnya datang menyambut dengan penuh kehangatan. Ia memasuki kota dengan berdiri di atas kereta kencana, berpawai ke sekeliling kota, yang memperhatikan kebesaran dan kebahagiaannya. Ia menerima banyak hadiah dari penduduk, sehingga menimbulkan hubungan dan pengertian yang baik dengan penduduk di sekitarnya. Seluruh kota membicarakan dengan penuh hormat kecantikan dan keluhuran budinya.
Sekarang ini, ayah mertuanya sedang menjamu para pertapa telanjang pada suatu festival, dan pada saat itu ia mengirimkan pesan kepada menantunya, “Panggillah ia masuk, untuk memberikan hormat kepada pertapa-pertapa kita.”
Tetapi dengan penuh kerendahan hati Culla Subhadda menolak untuk bertemu dan masuk menemui mereka. Berkali-kali mertuanya memberikan pesan supaya menantunya datang dan berkali-kali pula ia manolak untuk masuk. Akhirnya ayah mertuanya marah dan memerintahkan, “Usir dia keluar dari rumah ini!”
Tetapi ia menolak, “Tidak seorangpun dapat menghukum tanpa suatu alasan.” Dengan segera Culla Subhadda mengumpulkan para penasihat yang mengiringinya dan menerangkan permasalahan di hadapan mereka.
Ayah mertua berbincang-bincang dengan isterinya tentang masalah ini dan berkata, “Perempuan ini menolak untuk memberikan hormat kepada para pertapa kita, alasannya karena mereka ‘tidak sopan’.” Ibu mertuanya berkata, “Bagamanakah tingkah laku para bhikkhunya, sehingga ia puja sedemikian tinggi ?”
Ia lalu memanggil Culla Subhadda dan berkata, “Bagaimanakah tingkah laku para bhikkhumu, yang kamu puja sedemikian tinggi? Apa yang mereka pahami dan bagaimana mereka mempraktekannya? Jawablah pertanyaan saya.”
Dalam menjawab pertanyaan ibu mertuanya, Culla Subhadda menjelaskan tentang kemuliaan dan keluhuran dari Sang Buddha dan Ajaran-Nya sebagai berikut :
“Tenang ucapan mereka,
tenang pikiran mereka,
tenang langkah mereka berjalan,
tenang pendirian mereka
Mereka melihat ke bawah;
sedikit yang mereka ucapkan.
Itulah para bhikkhu saya.Perbuatan mereka bersih,
Ucapan mereka bersih,
Pikiran mereka bersih,
Itulah para bhikkhu saya.Tidak bernoda seperti mutiara,
Murni di dalam dan di luar
Penuh dengan sifat-sifat baik,
Itulah para bhikkhu saya.Dunia gembira dengan keuntungan dan
bersedih karena kerugian.
Tetapi mereka tidak terpengaruh dari
keduanya; keuntungan dan kerugian.
Itulah para bhikkhu saya.Dunia gembira karena terkenal dan
bersedih karena tidak terkenal.
Tetapi mereka tidak terpengaruh dari
keduanya; terkenal atau tidak terkenal.
Itulah para bhikkhu saya.Dunia gembira karena pujian dan
bersedih karena celaan.
Tetapi mereka tidak bereaksi
terhadap keduanya; pujian dan celaan.
Itulah para bhikkhu saya.Dunia gembira karena kesenangan dan
bersedih karena penderitaan.
Tetapi mereka tidak berubah
terhadap kesenangan dan penderitaan.
Itulah para bhikkhu saya”.
Dengan kata-kata yang diucapkannya itu, dan pada saat itu juga Culla Subhadda memuaskan ibu mertuanya. Sehingga ibu mertuanya bertanya kepadanya,
“Mungkinkah bagi kami untuk bertemu dengan bhikkhu-bhikkhu kamu?”
“Tentu saja mungkin,” jawab Culla Subhadda.
“Kalau begitu, aturlah supaya kami dapat bertemu dengan mereka,” tanya ibu mertuanya.
“Baiklah,” jawab Culla Subhadda.
Kemudian Culla Subhadda menyiapkan persembahan-persembahan kepada Bhikkhu Sangha yang dipimpin oleh Sang Buddha.
Ia lalu berdiri di lantai paling atas di istana dan menghadap Vihara Jetavana, sambil menghormat, ia merenungkan kebajikan-kebajikan Sang Buddha. Ia menghormati Sang Buddha dengan mempersembahkan dupa, wewangian dan bunga-bunga, lalu ia melemparkannya ke udara delapan genggam bunga melati, sambil berkata dengan penuh hormat,
“Yang Mulia saya mengundang Bhikkhu Sangha yang dipimpin oleh Sang Buddha besok pagi, semoga Sang Guru mengetahui permohonan undangan saya melalui bunga-bunga ini.”
Bunga-bunga ini lalu melayang di udara dan membentuk payung bunga yang indah diatas Sang Buddha ketika Beliau sedang membabarkan Dhamma di tengah para bhikkhu.
Pada waktu itu Anathapindika, yang sedang mendengarkan Dhamma, mengundang Sang Buddha untuk menjadi tamunya besok pagi. Sang Buddha lalu menjawab,
“Saudara, saya sudah menerima undangan untuk besok pagi.”
“Tetapi Yang Mulia,” jawab Anathapindika, “Tidak ada seorangpun yang datang ke sini sebelum saya, undangan siapakah Yang Mulia terima?”
Sang Guru berkata :
“Culla subhadda mengundangku, saudara.”
“Tetapi, Yang Mulia, bukankah Culla Subhadda tinggal jauh dari sini, kira-kira seratus dua puluhleagues (1 league = 4,8km) dari sini ?”
“Ya,” jawab Sang Buddha. “Tetapi perbuatan baik, meskipun jauh dapat menampakkan dirinya seperti saling berhadapan.” Kemudian Sang Buddha mengucapkan syair :
“Mungkinkah bagi kami untuk bertemu dengan bhikkhu-bhikkhu kamu?”
“Tentu saja mungkin,” jawab Culla Subhadda.
“Kalau begitu, aturlah supaya kami dapat bertemu dengan mereka,” tanya ibu mertuanya.
“Baiklah,” jawab Culla Subhadda.
Kemudian Culla Subhadda menyiapkan persembahan-persembahan kepada Bhikkhu Sangha yang dipimpin oleh Sang Buddha.
Ia lalu berdiri di lantai paling atas di istana dan menghadap Vihara Jetavana, sambil menghormat, ia merenungkan kebajikan-kebajikan Sang Buddha. Ia menghormati Sang Buddha dengan mempersembahkan dupa, wewangian dan bunga-bunga, lalu ia melemparkannya ke udara delapan genggam bunga melati, sambil berkata dengan penuh hormat,
“Yang Mulia saya mengundang Bhikkhu Sangha yang dipimpin oleh Sang Buddha besok pagi, semoga Sang Guru mengetahui permohonan undangan saya melalui bunga-bunga ini.”
Bunga-bunga ini lalu melayang di udara dan membentuk payung bunga yang indah diatas Sang Buddha ketika Beliau sedang membabarkan Dhamma di tengah para bhikkhu.
Pada waktu itu Anathapindika, yang sedang mendengarkan Dhamma, mengundang Sang Buddha untuk menjadi tamunya besok pagi. Sang Buddha lalu menjawab,
“Saudara, saya sudah menerima undangan untuk besok pagi.”
“Tetapi Yang Mulia,” jawab Anathapindika, “Tidak ada seorangpun yang datang ke sini sebelum saya, undangan siapakah Yang Mulia terima?”
Sang Guru berkata :
“Culla subhadda mengundangku, saudara.”
“Tetapi, Yang Mulia, bukankah Culla Subhadda tinggal jauh dari sini, kira-kira seratus dua puluhleagues (1 league = 4,8km) dari sini ?”
“Ya,” jawab Sang Buddha. “Tetapi perbuatan baik, meskipun jauh dapat menampakkan dirinya seperti saling berhadapan.” Kemudian Sang Buddha mengucapkan syair :
“Meskipun dari jauh,
orang baik akan terlihat bersinar
bagaikan puncak
pegunungan Himalaya.
Tetapi meskipun dekat,
orang jahat tidak akan terlihat,
Bagaikan anak panah yang dilepaskan
pada malam hari.”
Dewa Sakka, raja para dewa menyadari bahwa Sang Guru telah menerima undangan Culla Subhadda, memberikan perintah kepada Dewa Vissakamma:
“Ciptakanlah lima ratus pagoda dan pada esok hari antarkanlah Bhikkhu Sangha yang dipimpin oleh Sang Buddha menuju Kota Ugga.”
Keesokan paginya, Dewa Vissakamma menciptakan lima ratus pagoda dan menunggu di depan pintu Vihara Jetavana. Sang Buddha memilih lima ratus Arahat, dan rombongan ini bersama-sama lalu duduk di pagoda, dan melalui udara menuju Kota Ugga.
Bendahara Ugga beserta rombongan, dengan dikepalai oleh Culla Subhadda berdiri menunggu di jalan, di mana Sang Buddha akan tiba. Ketika ia melihat Sang Buddha mendekati dengan semua kemegahan dan keagungan-Nya, hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan yang luar biasa.
Ia menyampaikan penghormatan yang tertinggi dengan karangan bunga dan persembahan lainnya, mengundang Sang Guru untuk memasuki rumahnya, dan menyampaikan hormatnya. Ia mempersembahkan berbagai macam dana, mengundang Sang Buddha berkali-kali untuk bersedia menjadi tamunya. Selama tujuh hari ia mempersembahkan dana yang luar biasa besar.
Sang Buddha lalu mengingatkannya untuk selalu berbuat kebaikan dan membabarkan Dhamma kepada ayah mertuanya.
Dimulai dengan Bendahara Ugga, delapan puluh empat ribu makhluk hidup, mencapai pengertian terhadap Dhamma Yang Mulia.
Sebagai hadiah atas kemurahan hati Culla Subhadda, Sang Buddha lalu meminta Yang Mulia Anuruddha untuk tetap tinggal, dengan berkata, “Kamu tetap tinggal di sini.”
Sang Buddha lalu kembali ke Savatthi. Sejak saat itu kota Ugga menjadi kota yang penduduknya mengerti akan Dhamma Yang Mulia, kota yang sejuk dan damai.
“Ciptakanlah lima ratus pagoda dan pada esok hari antarkanlah Bhikkhu Sangha yang dipimpin oleh Sang Buddha menuju Kota Ugga.”
Keesokan paginya, Dewa Vissakamma menciptakan lima ratus pagoda dan menunggu di depan pintu Vihara Jetavana. Sang Buddha memilih lima ratus Arahat, dan rombongan ini bersama-sama lalu duduk di pagoda, dan melalui udara menuju Kota Ugga.
Bendahara Ugga beserta rombongan, dengan dikepalai oleh Culla Subhadda berdiri menunggu di jalan, di mana Sang Buddha akan tiba. Ketika ia melihat Sang Buddha mendekati dengan semua kemegahan dan keagungan-Nya, hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan yang luar biasa.
Ia menyampaikan penghormatan yang tertinggi dengan karangan bunga dan persembahan lainnya, mengundang Sang Guru untuk memasuki rumahnya, dan menyampaikan hormatnya. Ia mempersembahkan berbagai macam dana, mengundang Sang Buddha berkali-kali untuk bersedia menjadi tamunya. Selama tujuh hari ia mempersembahkan dana yang luar biasa besar.
Sang Buddha lalu mengingatkannya untuk selalu berbuat kebaikan dan membabarkan Dhamma kepada ayah mertuanya.
Dimulai dengan Bendahara Ugga, delapan puluh empat ribu makhluk hidup, mencapai pengertian terhadap Dhamma Yang Mulia.
Sebagai hadiah atas kemurahan hati Culla Subhadda, Sang Buddha lalu meminta Yang Mulia Anuruddha untuk tetap tinggal, dengan berkata, “Kamu tetap tinggal di sini.”
Sang Buddha lalu kembali ke Savatthi. Sejak saat itu kota Ugga menjadi kota yang penduduknya mengerti akan Dhamma Yang Mulia, kota yang sejuk dan damai.
Yang Ariya Ambapali Theri
Demikianlah tubuh ini. Sekarang berkeriput, tempat berbagai rasa sakit bersemayam, rumah tua dengan plesteran dinding yang mengelupas. Ucapan Pembabar Kebenaran tidaklah salah.
Pada suatu pagi, seorang tukang kebun dari Kerajaan Licchavi di Vaseli, menemukan seorang bayi perempuan terbaring di bawah pohon mangga dan memberikannya nama Ambapali, yang berasal dari kata amba (mangga) dan pali (garis atau batang).
Kemudian Ambapali tumbuh dan berkembang menjadi seorang gadis yang cantik dan anggun.
Banyak pangeran dari Licchavi ingin menikahinya. Mereka saling bertengkar ingin menjadikan Ambapali sebagai isteri. Untuk menyelesaikan pertengkaran tersebut, mereka berdiskusi dan sepakat memutuskan,
“Biarlah Ambapali menjadi milik semua orang.”
Dengan demikian, Ambapali menjadi wanita penghibur. Dengan sifatnya yang baik, dia melatih ketenangan dan kemuliaan. Ambapali sering memberikan dana dalam jumlah besar dalam setiap kegiatan amal. Walaupun Ambapali seorang wanita penghibur, namun dia terlihat seperti ratu yang tak bermahkota di Kerajaan Licchavi itu.
Ketenaran Ambapali menyebar dan terdengar oleh raja Bimbisara dari Magadha. Kemudian Raja Bimbisara menemuinya, Beliau sangat terpesona akan kecantikannya. Terjalinlah hubungan diantara Raja Bimbisara dengan Ambapali, dari hubungan tersebut lahirlah seorang anak laki-laki.
Ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vesali dan tinggal vihara di hutan mangga. Ambapali datang untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan Sang Buddha memberikan khotbah kepada Ambapali. Keesokan harinya Ambapali mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu untuk datang ke rumahnya.
“Yang mulia, saya mengundang Yang Mulia bersama para bhikkhu untuk menerima dana makanan, besok pagi di rumah saya,” mohon Ambapali. Sang Buddha menerima undangan itu.
Setelah itu Ambapali dengan tergesa-gesa meninggalkan Pangeran Licchavi yang saat itu berada di dalam kereta, pangeran itu berusaha menemukan alasannya dan bertanya,
“Ambapali, ada apa gerangan sehingga kau berkeliling menemaniku dengan tergesa-gesa?”
“Pangeran, saya baru saja mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu untuk datang ke rumah besok pagi, untuk menerima dana makanan dan saya ingin meyakinkan bahwa semua telah dipersiapkan dengan baik”, jawab Ambapali.
Mengetahui hal tersebut para bangsawan Licchavi memohon kepada Ambapali untuk memberikan hak istimewa tersebut kepada mereka, dengan menawarkan kepadanya seratus ribu logam emas, tapi Ambapali menolak tawaran tersebut. Kemudian para bangsawan Licchavi itu datang menemui Sang Buddha, dan berkata,
“Izinkanlah kami besok mengundang Yang Mulia dan para bhikkhu untuk menerima dana makanan besok pagi.” Undangan makan dari para bangsawan Licchavi tersebut terjadi di hari yang sama dengan undangan makan Ambapali. Sang Buddha tidak menerima undangan tersebut, dan berkata, “Saya telah menerima undangan Ambapali lebih dahulu.”
Keesokan paginya Sang Buddha dan para bhikkhu datang ke rumah Ambapali untuk menerima dana makanan. Setelah selesai menerima dana makanan tersebut, Ambapali mempersembahkan hutan mangga tersebut kepada Sang Buddha.
Pada suatu hari, anak Ambapali dari Raja Bimbisara, bernama Vimala-Kondañña, yang telah menjadi seorang bhikkhu dan telah mencapai Tingkat Kesucian Arahat, memberikan khotbah Dhamma. Setelah mendengar khotbah dari anaknya tersebut, Ambapali meninggalkan kehidupan duniawi, menjadi anggota Sangha Bhikkhuni. Beliau menggunakan tubuhnya sebagai obyek meditasi, merefleksikan sifat-sifat ketidakkekalan, dengan melatih meditasi dengan giat, Beliau akhirnya mencapai Tingkat Kesucian Arahat.
Dalam versi Therighata, dikatakannya pada saat Beliau tua, Beliau membandingkan kecantikannya yang ia miliki dahulu dengan keadaan sekarang :
Pada suatu pagi, seorang tukang kebun dari Kerajaan Licchavi di Vaseli, menemukan seorang bayi perempuan terbaring di bawah pohon mangga dan memberikannya nama Ambapali, yang berasal dari kata amba (mangga) dan pali (garis atau batang).
Kemudian Ambapali tumbuh dan berkembang menjadi seorang gadis yang cantik dan anggun.
Banyak pangeran dari Licchavi ingin menikahinya. Mereka saling bertengkar ingin menjadikan Ambapali sebagai isteri. Untuk menyelesaikan pertengkaran tersebut, mereka berdiskusi dan sepakat memutuskan,
“Biarlah Ambapali menjadi milik semua orang.”
Dengan demikian, Ambapali menjadi wanita penghibur. Dengan sifatnya yang baik, dia melatih ketenangan dan kemuliaan. Ambapali sering memberikan dana dalam jumlah besar dalam setiap kegiatan amal. Walaupun Ambapali seorang wanita penghibur, namun dia terlihat seperti ratu yang tak bermahkota di Kerajaan Licchavi itu.
Ketenaran Ambapali menyebar dan terdengar oleh raja Bimbisara dari Magadha. Kemudian Raja Bimbisara menemuinya, Beliau sangat terpesona akan kecantikannya. Terjalinlah hubungan diantara Raja Bimbisara dengan Ambapali, dari hubungan tersebut lahirlah seorang anak laki-laki.
Ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vesali dan tinggal vihara di hutan mangga. Ambapali datang untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan Sang Buddha memberikan khotbah kepada Ambapali. Keesokan harinya Ambapali mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu untuk datang ke rumahnya.
“Yang mulia, saya mengundang Yang Mulia bersama para bhikkhu untuk menerima dana makanan, besok pagi di rumah saya,” mohon Ambapali. Sang Buddha menerima undangan itu.
Setelah itu Ambapali dengan tergesa-gesa meninggalkan Pangeran Licchavi yang saat itu berada di dalam kereta, pangeran itu berusaha menemukan alasannya dan bertanya,
“Ambapali, ada apa gerangan sehingga kau berkeliling menemaniku dengan tergesa-gesa?”
“Pangeran, saya baru saja mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu untuk datang ke rumah besok pagi, untuk menerima dana makanan dan saya ingin meyakinkan bahwa semua telah dipersiapkan dengan baik”, jawab Ambapali.
Mengetahui hal tersebut para bangsawan Licchavi memohon kepada Ambapali untuk memberikan hak istimewa tersebut kepada mereka, dengan menawarkan kepadanya seratus ribu logam emas, tapi Ambapali menolak tawaran tersebut. Kemudian para bangsawan Licchavi itu datang menemui Sang Buddha, dan berkata,
“Izinkanlah kami besok mengundang Yang Mulia dan para bhikkhu untuk menerima dana makanan besok pagi.” Undangan makan dari para bangsawan Licchavi tersebut terjadi di hari yang sama dengan undangan makan Ambapali. Sang Buddha tidak menerima undangan tersebut, dan berkata, “Saya telah menerima undangan Ambapali lebih dahulu.”
Keesokan paginya Sang Buddha dan para bhikkhu datang ke rumah Ambapali untuk menerima dana makanan. Setelah selesai menerima dana makanan tersebut, Ambapali mempersembahkan hutan mangga tersebut kepada Sang Buddha.
Pada suatu hari, anak Ambapali dari Raja Bimbisara, bernama Vimala-Kondañña, yang telah menjadi seorang bhikkhu dan telah mencapai Tingkat Kesucian Arahat, memberikan khotbah Dhamma. Setelah mendengar khotbah dari anaknya tersebut, Ambapali meninggalkan kehidupan duniawi, menjadi anggota Sangha Bhikkhuni. Beliau menggunakan tubuhnya sebagai obyek meditasi, merefleksikan sifat-sifat ketidakkekalan, dengan melatih meditasi dengan giat, Beliau akhirnya mencapai Tingkat Kesucian Arahat.
Dalam versi Therighata, dikatakannya pada saat Beliau tua, Beliau membandingkan kecantikannya yang ia miliki dahulu dengan keadaan sekarang :
Rambutku hitam,
bagai warna kumbang,
diujungnya berikal
Karena usia tua,
sekarang bagai serat kulit kayu rami
Ucapan Pembabar Kebenaran
tidaklah salah.Ditutupi bunga,
rambutku wangi bagai kotak parfum
Sekarang karena usia tua,
baunya bagai bulu anjing
Ucapan Pembabar Kebenaran
tidaklah salah.Sebelumnya alisku nampak
demikian indah,
bagai lukisan bulan sabit
yang dilukis sangat indah,
karena usia tua,
tergantung ke bawah oleh kerutan.
Ucapan Pembabar Kebenaran
tidaklah salah.Mataku berbinar,
sangat bercahaya bagai permata,
Berwarna biru gelap dan
berbentuk panjang,
Dipengaruhi oleh usia tua,
tidak lagi kelihatan cantik
Ucapan Pembabar Kebenaran
tidaklah salah.Sebelumnya gigiku nampak indah,
bagai warna kuncup
tanaman yang masih muda.
Karena usia tua,
hancur dan menghitam.
Ucapan Pembabar Kebenaran
t idaklah salah.
Sebelumnya, kedua dadaku
nampak indah, menggembung
bundar, berdekatan, menjulang,
Sekarang keduanya turun
bagai kantung air kosong
Ucapan Pembabar Kebenaran
tidaklah salah.Sebelumnya tubuhku nampak indah,
bagai lembaran emas yang digosok.
Sekarang penuh oleh
kerutan-kerutan halus
Ucapan Pembabar Kebenaran
tidaklah salah.Sebelumnya kedua kakiku
nampak indah,
bagai (sepatu) yang penuh kapas.
Karena usia tua,
menjadi retak-retak dan berkeriput.
Ucapan Pembabar Kebenaran
tidaklah salah.Demikianlah tubuh ini.
Sekarang berkeriput,
tempat berbagai rasa sakit
bersemayam,
rumah tua dengan plesteran dinding
yang mengelupas.
Ucapan Pembabar Kebenaran
tidaklah salah.
Langganan:
Postingan (Atom)