Kamis, 21 April 2011

SILSILAH BUDDHA



  1. BUDDHA DIPANKARA
  2. BUDDHA KONDANNA
  3. BUDDHA MANGALA
  4. BUDDHA SUMANA
  5. BUDDHA REVATA
  6. BUDDHA SOBHITA
  7. BUDDHA ANOMADASSI
  8. BUDDHA PADUMA
  9. BUDDHA NARADA
  10. BUDDHA PADUMUTTARA
  11. BUDDHA SUMEDHA
  12. BUDDHA SUJATA
  13. BUDDHA PIYADASSI
  14. BUDDHA ATTHADASSI
  15. BUDDHA DHAMMADASSI
  16. BUDDHA SIDDHATTA
  17. BUDDHA TISSA
  18. BUDDHA PHUSSA
  19. BUDDHA VIPASSI
  20. BUDDHA SIKHI
  21. BUDDHAVESSABHU
  22. BUDDHA KAKUSANDHA
  23. BUDDHA KONAGAMANA
  24. BUDDHA KASSAPA
  25. BUDDHA ANGIRASA
  26. BUDDHA GOTAMA

Dan dimasa yang akan datang akan lahir BUDDHA MATREYA

40 objek meditasi samanta bhavana


 
  1. 10 kasina (wujud benda untuk perenungan)

Ø  Pathavasi kasina (wujud tanah)
Ø  Apo kasina (wujud air)
Ø  Tejo kasina (wujud api)
Ø  Vayo kasina (wujud udara atau angin)
Ø  Nila kasina (wujud warna biru)
Ø  Pita kasina (wujud warna kuning)
Ø  Lohita kasina (wujud warna merah)
Ø  Odata kasina (wujud warna putih)
Ø  Aloka kasina (wujud cahaya)
Ø  Akasa kasina (wujud ruangan terbatas)

  1. 10 asubha (ketidak murnian)

Ø  Uddhumataka (wujud mayat yang membengkak)
Ø  Vinilaka (wujud mayat yang berwarna kebiruan)
Ø  Vupubbaka (wujud mayat yang bernanah)
Ø  Vicchiddaka (wujud mayat yang tebelah ditengah)
Ø  Vikkahayitaka (wujud mayat yang dicabik cabik binatang buas)
Ø  Vikkhittaka (wujud mayat yang telah hancur/berserakan)
Ø  Hatavikkhittaka (wujud mayat yang membusuk dan hancur)
Ø  Lohitaka (wujud mayat yang berlumuran darah)
Ø  Puluvaka (wujud mayat yang dikerubungi belatung)
Ø  Atthika (wujud mayat yang telah menjadi tengkorak)

  1. 10 anussati (perenungan)

Ø  Buddhanussati (perenungan terhadap kualitas kualitas buddha)
Ø  Dhammanussati (perenungan terhadap kualitas kualitas dhamma)
Ø  Sanghanussati (perenungan terhadap kualitas kualitas sangha)
Ø  Silanussati (perenungan terhadap sila)
Ø  Caganussati (perenungan terhadap dana/kemurahan hati)
Ø  Devatanussati (perenungan terhadap kualitas kualitas dewa)
Ø  Marananussati (perenungan terhadap kematian yang akan dialami)
Ø  Kayagatanussati (perenungan terhadap kekotoran jasmani,yang terdiri dari 30 bagian)
Ø   Anapanassati (perenungan terhadap keluar masuknya nafas)
Ø  Upasamanussati (perenungan terhadap kebebasan)









  1. 4 brahmavihara (batin yang luhur)

Ø  Metta (cintakasih yang universal kepada semua mahluk)
Ø  Karuna (belas kasih universal kapada semua mahluk)
Ø  Mudita (perasaan simpati atas keberhasilan dan kebahagian semua mahluk)
Ø  Upekkha (keseimbangan batin)

  1. 4 arupayatana (arupa)

Ø  Kasinugaghatimakasapattati (perenungan terhadap objek yang sudah keluar dari kasina)
Ø  Akasanatcayatana-citta (perenungan terhadap objek kesadaran tanpa batas)
Ø  Natthibhavapattati (perenungan terhadap objek kekosongan)
Ø  Akincattatana citta (perenungan terhadap objek bukan pencerapan)

  1. aharepatikulasatta (renungan terhadap makanan yang menjijikan)

dalam meditasi ini meditator merenungkan bahwa makanan adalah barang yang menjijikan bila telah berada didalam perut.perenungan dilakukan hingga kejijikan dirasakan.

  1. catudhatuvavatthana(analisa atas empat unsur)

dalam meditasi ini meditator merenungkan terhadap unsur tanah,air,api,dan angin.

Rabu, 23 Februari 2011

araka jataka

ARAKA - JATAKA

(Kisah Mengenai Welas Asih)



Pada suatu kesempatan Sang Bhagava berkata demikian pada Sangha, "Para Bhikkhu, kemurahan hati (welas asih) yang dipraktekan dengan segenap pikiran, dimeditasikan, diperbesar, dijadikan alat kemajuan, dijadikan obyek tunggal, dilatih, dan dimulai dengan baik dapat diharapkan untuk menghasilkan sebelas berkah.

"Apakah kesebelasan berkah itu? Ia tidur dengan gembira dan bangun dengan gembira; ia tidak mengalami mimpi buruk; orang-orang menyukainya; para makhluk halus menjaganya; api, racun, dan pedang tidak mendekatinya; mudah diingat; pembawaannya menjadi tenang; ia mati tanpa perasaan takut; tanpa memerlukan kebijaksanaan lebih lanjut ia mencapai surga Brahma. Kemurahan hati, para bhikkhu, yang dilakukan tanpa mengenal kehendak" dan seterusnya. "Dapat diharapkan untuk menghasilkan sebelas berkah. Sambil memuji kemurahan hati yang berisi sebelas berkah ini, para bhikkhu, seorang bhikkhu seyogyanya bermurah hati kepada semua makhluk, disuruh atau tidak, ia seharusnya menjadi sahabat orang yang ramah, juga menjadi sahabat orang yang tidak ramah, dan menjadi sahabat orang yang acuh tak acuh. Jadi kepada semua tanpa perbedaan, disuruh atau tidak, di harus bermurah hati; ia harus bersimpati terhadap kesenangan atau kesusuhan dan melatih kesabaran; ia harus melakukan pekerjaanya dengan empat kebaikan. Dengan berbuat demikian ia akan sampai ke surga Brahma walaupun tanpa jalan atau buah. Para bijaksana dengan mengembangkan welas asih selama tujuh tahun, telah berdiam di surga Brahma selama tujuh jaman, masing-masing dengan satu masa berkembang dan satu masa menyusut "] Dan ia menceritakan kepada mereka sebuah kisah di masa lalu.

Pada suatu ketika, di zaman yang lalu, Sang Bodhisattva terlahir di keluarga Brahmin. Setelah dewasa, ia melenyapkan napsunya dan menjalani kehidupan religius,serta mencapai empat kebaikan. Ia bernama Araka, dan menjadi seorang guru yang tinggal di daerah Himalaya dengan pengikut yang banyak. Ia memberi nasehat kepada para bijaksana pengikutnya, "Seorang yang mengasingkan diri (pertapa) harus menunjukan welah asih, bersimpati (turut merasakan) dalam kesenangan maupun kesusuhan, dan penuh kesabaran karena rasa welas asih yang dicapai dengan penuh tekad mempersiapkannya menuju surga Brahma. " Dan untuk menjelaskan berkah dari welas asih, ia melantunkan sajak berikut ini:

"Hati yang memiliki welas asih tanpa batas kepada semua yang terlahir.

Di surga, di alam bawah, dan di bumi.

Penuh dengan rasa welas asih tak terbatas, kemurahan hati tanpa batas.

Di dalam hati yang demikian takkan ada perasaan sempit atau terkurung."


Demikianlah uraian Sang Bodhisattva kepada para muridnya mengenai pengalaman welas asih dan berkahnya. Dan ia seketika terlahir di surga Brahma, selama tujuh zaman, masing-masing dengan masa berkembang dan menyusut, ia tidak kembali lagi ke dunia ini. Setelah selesai berkhotbah, Sang Bhagava mengindentifikasi kelahiran tersebut, "Para bijaksana pada saat itu sekarang adalah para pengikut Buddha;dan saya sendiri adalah Sang Guru Araka."

"Sampah menjadi Emas, Emas menjadi Cinta Kasih"

"Orang yang mempunyai kedua tangan tetapi malas, mabuk-mabukan, merugikan orang lain tidak lebih baik dari orang yang tidak mempunyai tangan"

"Untuk menghapus malapetaka di dunia, harus dimulai dari memperbaiki kondisi hati manusia."

nasihat bijaksana seorang ibu

JATAKA 100 - NASIHAT BIJAKSANA SEORANG IBU
(TANPA KEKERASAN)




Pada suatu masa, putra dari Raja Brahmadatta memerintah dengan bijaksana di Benares, India bagian utara.


Sebelumnya raja dari Kosala mengadakan peperangan, membunuh raja Benares, dan menjadikan permaisuri sebagai istrinya.


Sementara itu, putra dari permaisuri melarikan diri dengan diam-diam melalui terowongan bawah tanah. Di daerah pinggiran ia bahkan membangun pasukan tentara yang besar dan mengepung kota. Ia mengirimkan pesan kepada Raja Kosala, sang pembunuh ayahnya dan suami baru ibunya. Ia mengatakan padanya agar menyerahkan kerajaan itu atau berperang di medan pertempuran.


Ibu pangeran, permaisuri dari Benares, mendengar ancaman ini dari anaknya. Ia merupakan orang yang baik dan murah hati, seorang wanita yang selalu mencegah terjadinya kekerasan, penderitaan, dan pembunuhan. Jadi ia mengirimkan sebuah pesan bagi anaknya "Tidak perlu mengambil resiko dalam pertempuran. Lebih bijak bila kamu menutup seluruh pintu masuk ke dalam kota. Pada akhirnya kekurangan makanan, air , kayu bakar akan menjatuhkan mental penduduk. Kemudian mereka akan menyerahkan kota ini padamu tanpa bertempur".


Pangeran memutuskan untuk mengikuti nasihat ibunya yang bijak. Bala tentaranya memblokir kota selama tujuh hari tujuh malam. Lalu penduduk kota menangkap raja mereka yang lalim, memenggal kepalanya, dan mempersembahkannya kepada sang pangeran. Pangeran memasuki kota dengan kemenangan besar dan menjadi raja baru Benares

kisah radha jataka

Cerita ini diceritakan Sang Buddha ketika berada di Jetavana berkenaan dengan seorang isteri perumah tangga yang keras kepala. Kejadian ini seperti penggalan cerita diatas akan dibicarakan di indriya Jataka.


Sang Buddha berbicara demikian kepada Ananda "Adalah tidak mungkin untuk menjaga, melindungi wanita;tidak ada penjaga yang dapat menjaga agar wanita tetap berada dijalan yang benar. Kamu sendiri menemukan di beberapa kehidupan sebelumnya semua perlindunganmu itu tidak ada artinya; dan bagaimana kamu sekarang mengharapkan mendapatkan keberuntungan?".


Demikian yang saya dengar. Beliau menceritakan kisah yang terjadi pada kehidupan yang lampau.


Pada suatu waktu yang lampau ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta lahir sebagai seekor burung beo. Seorang Brahmin di kota kasi seperti ayah baginya dan saudaranya, memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri. Potthapada adalah nama Bodhisatta dan Radha adalah nama saudaranya.


Sekarang Brahmin memiliki seorang isteri, tetapi sangat buruk perilakunya. Setiap akan meninggalkan rumah untuk menyelesaikan pekerjaannya, ia berkata kepada kedua saudara tersebut "Jika, ibu kalian, isteriku, melakukan hal-hal yang tidak berguna, cegahlah ia". "akan kami lakukan ayah", kata Bodhisatta "Jika kami bisa; tetapi jika kami tidak bisa, kami tidak bisa berbuat apa-apa'.


Dengan demikian setelah ia mempercayakan isterinya pada pengawasan burung beonya, Brahmin tersebut pergi untuk mengerjakan urusannya. Setiap hari sejak itu isterinya melakukan tindakan yang tidak senonoh; sering melakukan perselingkuhan baik didalam maupun diluar rumah. Melihat hal itu, Radha berkata kepada Boddhisatta "kakak, salah satu dari perintah ayah adalah mencegah tindakan tidak senonoh dari isterinya dan sekarang ia tidak melakukan apa-apa tetapi menjual dirinya sendiri. Mari kita hentikan ia kakak" kata Bodhisatta, usulmu adalah usul yang bodoh kamu akan menghentikan tindakan-tindakannya sebelum itu tentu saja ia akan menyingkirkanmu. Jadi itu adalah tindakan yang sia-sia.


Dan demikian yang saya dengar ia mengucapkan satu syair berikut ini:
Berapa banyak malam berlalu? Rencanamu
Adalah percuma. Sia-sia sebagai seorang isteri cintanya bisa diobral
Nafsunya; dan sebagai seorang isteri cintanya tidak cukup hanya satu.
Karena itulah Bodhiatta tidak mengizinkan saudaranya untuk mencegah tindakan isteri Brahmin, yang selalu keluyuran, bicara mengenai isi hatinya selama suaminya tidak ada. Pada saat pulang, Brahmin menanyai Potthapada tentang tingkah laku isterinya pada saat ia tidak ada dirumah dan Bodhisatta langsung menceritakan semuanya.
"Sekarang, ayah!! Katanya "Apa yang bisa engkau perbuat terhadap wanita yang sangat jahat itu?". Dan ia menambahkan,_"Ayahu, sekarang, setelah saya melaporkan semua tentang ibu jahat saya, kami tidak bisa tinggal lama lagi di sini". Seperti yang saya dengar, ia bersimpuh dikaki Brahmin tersebut dan pergi terbang bersama Radha menuju ke hutan.


Akhir khotbahnya, Sang Buddha mengajarkan empat kebenaran, yang pada akhir Ananda mengerti tentang seorang isteri yang memiliki keinginan yang sangat kuat akan keinginan-keinginan dunia adaklah hal yang tidak bisa dipungkiri merupakan hasil dari jalan kecil pertama.
"Suami dan isteri ini" kata Sang Buddha "adalah Brahmin dan isterinya pada waktu itu, Ananda adalah Radha dan saya sendiri adalah Potthapada.

dua ekor kera bersaudara

Chullanandiya Jataka Jataka Pali No.222


Suatu ketika, Bodhisattva terlahir di lingkungan Himalaya sebagai seekor kera bernama Nandaka. Adiknya bernama Chullanandaka. Mereka berdua memimpin sekelompok kera yang terdiri dari 84.000 ekor kera. Mereka juga mempunyai ibu tua yang telah buta untuk dirawat.


Pada suatu saat, ketika mereka sedang menikmati buah-buahan di hutan tanpa terasa mereka telah jauh dari tempat tinggalnya. Oleh karena itu, mereka mengirimkan makanan kepada ibunya melalui teman-temannya. Namun, kiriman makanan itu jarang disampaikan kepada ibunya. Tersiksa karena kelaparan, sang ibu jatuh sakit.
Ketika pulang, mereka sangat terkejut dengan keadaan ibunya yang sakit parah.
Selanjutnya, ketika mereka mengetahui bahwa buah-buahan yang dikirimkan melalui kawan-kawannya tidak diterima oleh sang ibu, mereka kemudian meninggalkan kelompoknya dan tinggal bersama ibunya di sebatang pohon banyan.


Pada suatu hari datanglah seorang brahmana yang jahat masuk ke dalam hutan itu. Brahmana ini telah dikeluarkan dari sekolah terkenal di Taxila dan telah meninggalkan guru yang paling terkenal yaitu Parasariya. Brahmana ini telah alih professi menjadi seorang pemburu dan pembunuh.


Melihat seorang pemburu datang mendekati, kedua kera bersaudara itu segera bersembunyi di belakang dedaunan. Namun, sang induk kera terlambat menyembunyikan diri. Kemudian, sang pemburu menarik busur untuk membunuhnya. Nandaka, si kera sulung melompat di depan pemburu dan memohonnya untuk membebaskan sang ibu dari kematian dan menjadikan dirinya sebagai gantinya. Si pemburu sepakat dan membunuh Nandaka.


Akan tetapi, sang pemburu tidak menaati janjinya dan sekali lagi ia mengarahkan anak panahnya kepada induk kera. Kali ini, Chullanandiya, si kera bungsu segera melompat di hadapan sang pemburu dan memohon kebebasan induknya. Ia juga bersedia dibunuh sebagai ganti kehidupan ibunya. Sang pemburu sekali lagi menyetujuinya. Karena itu, ia membunuh si kera bungsu.

Namun, ia tetap juga melanggar janjinya dengan membunuh sang induk kera. Ia mencabut anak panah ketiga dan mengarahkannya ke induk kera yang telah buta matanya tersebut. Ia kemudian mengumpulkan ketiga jasad kera dan dengan bahagia dibawanya pulang. Selama perjalanan ia merasa bahagia karena berpikir bahwa ia telah dapat memberikan keluarganya tiga jasad kera dalam satu hari.

Ketika ia akan tiba di rumah, ia mendengar berita bahwa rumahnya telah disambar petir dan seluruh anggota keluarganya hancur. Kehilangan seluruh anggota keluarganya membuatnya sedih luar biasa dan berubah pikiran. Ia melemparkan pakaiannya dan berlari menuju ke rumah dengan dua tangan terbuka seolah akan memeluk anak dan istrinya. Ketika ia tiba di rumah dan mencari anggota keluarganya di antara puing-puing, kepalanya kejatuhan tiang bambu rumah yang sedang terbakar. Dikatakan oleh para saksi mata bahwa ia telah hilang dalam kepulan asap dan api yang timbul dari neraka bersamaan dengan terbukanya bumi untuk menelan tubuhnya. Para saksi mata juga mendengar bahwa pria yang sekarat itu mengulang pelajaran yang telah diberikan oleh guru tuanya di Taxila dengan menyebutkan kalimat berikut ini:

Sekarang saya teringat akan ajaran guru saya,
Dan sekarang saya mengerti maksudnya,
Ketika ia mengajarkan padaku untuk berhati-hati;
Dan jangan melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan penyesalan.

(Keterangan:
Pada waktu itu Nandiya adalah Bodhisattva, Parasariya adalah Sariputta, induk kera adalah Gotami; Chullanandiya adalah Ananda dan Devadatta adalah si pemburu)
Demikianlah salah satu kisah Jataka yang menguraikan tokoh-tokoh penting di sekitar Bodhisattva di kehidupan yang lampau maupun ketika Beliau terlahir sebagai Buddha Gotama di kehidupan yang terakhirnya.

Kamis, 13 Januari 2011

Teory SAMATHA – BHAVANA I


Samatha Bhavana berarti Pengembangan Ketenangan Bathin
Keterangan dalam bahasa PALI sebagai berikut;


A KILESE SAMETITI ; SAMATHO
Artinya;
Keadaan yang membuat kilesa tenang disebut
SAMATHA, yaitu Ekaggata yang berada dalam
Mahakusala-citta 8 dan Rupavacarapathamajjhana-kusala citta 1


B CITTAM SAMETITI ;SAMATHO
Artinya;
Keadaan yang membuat pikiran tenang dalam
Konsentrasi terhadap suatu objek di sebut SAMATHA,
Yaitu Ekaggata yang berada dalam Maha ̃kriya-citta
8 dan Rupa ̃vacara-pathamajjha ̃nakriya-citta 1


C VITAKKADI OLARIKADHAMME SAMETITI ; SAMATHO
Artinya;
Keadaan yang membuat jhana jenis kasar tidak timbul
Disebut SAMATHA, yaitu Ekaggata yang berada
Dalam Dutiyajjhanakusalakriya-citta dan lain-lainya
Sehingga mencapai Pancamajjhanakusalakriya-citta


KILESE SAMETITI ; SAMATHO
Bagi mereka yang melaksanakan maditasi samatha bhavana, pada saat itu Mahakusala-cittupada timbul terus menerus, jika orang itu adalah Tihetuka-Puggala dan berusaha dengan secukupnya, ia akan mampu dan berhasil menjadi Jhanalabhi-Puggala, yaitu Rupavacara-pathamajjhanakusala timbul.
Dalam Mahakusala-ciituppada dan Pathamajjhanakusala-cittuppada ini EKAGGATA-CETASIKA menjadi pemimpin.
Dengan adanya pengertian Ekaggata-Cetasika inilah timbul kalimat bahasa PALI yang berbunyi ‘KILESE SAMETITI ; SAMATHO


Yang dimaksud THETUKA-PUGALA, adalah;
Mahluk yang dilahirkan dengan kekuatan alobha(tidak tamak) adosa(tidak benci), dan amoha(tidak bodoh)
Jika seseorang dilahirkan dengan kekuatan alobha, adosa, dan amoha. Ia disebut Tihetuka-Puggala
Dan mampu mencapai jhana dalam kehidupan sekarang,
Jika dia melaksanakan samatha Bhavana.
Dan mampu menjadi Aria Puggala jika dia melaksanakan Vipassana-bhavana


Yang dimaksud JHANALABHI-PUGGALA, adalah
Meditasiawan yang melaksanakan samatha bhavana sehingga memdapatkan Jhana, dan mahir dalam Jhana, artinya kapanpun ia bisa memasuki Jhana dan bisa keluar dari Jhana setiap saat.
CITTAM SAMETITI ; samatho
Bagi mereka(yang mulia meditator) yang telah menjadi Arahat, kemudian berbalik melaksanakan Samatha-Bhavana supaya mendapatkan Lokiya-Jhanna, pada saat itu dalam meditasi Mahakriya-cittuppada timbul terus-menerus sehingga mencapai Jhanna-Puggala, yaitu Rupavacara-pathamajjhana-kriya-cittuppada timbul
Mahakriya-cittuppada dan Pathamajhannakriya-cittuppada ini tidak dapat membasmi kilesa dan nivarana.
Dalam Mahakriya-cittuppada dan Pathamajhannakriya-cittuppada ini, EKAGGATA-CETASIKA menjadi Pemimpin.
Dengan adanya pengertian Ekaggata-Cetasika inilah timbul bahasa Pali yang berbunyi
CITTAM SAMETITI ; SAMATHO


VITAKKADI OLARIKADHAMME SAMETITI ; SAMATHO
Orang awam, Sekkha-Puggala dan Asekha-Puggala yang menjadi Pathamajhannalabhi-Puggala, bila melanjutkan melaksanakan Samath-Bhavana, Jhanna tingkat atas ada Dutiyajhannakusala-kriya dan lain-lain timbul menurut tingkatan
Dutiyajjhanna-cittuppada yang menjadi kusala-kriya dan lain-lain, tidak usah lagi membasmi dan menenangkan kilesa nivarana
Bila jhanna tersebut timbul membuat pikiran terkonsentrasi lebih kuat menurut tingkatan, berikut dengan meningalkan jhana yang kasar yaitu VITAKA dan lain-lain, yaitu Dutiyajjhana meningalkan Vitakka, Tatiyajjhana meninglkan Vicara, Catutthajjhana meningalkan piti,
Pancamajjhana meningalkan sukkha.
Dalam Dutiyajjhana-kusala-kriya-cittuppada ini timbul, ada EKAGGATA-CETASIKA yang menjadi pemimpin,
Dengan tercapainya EKAGGATA-CETASIKA inilah sehinga timbul kalimat bahasa Pali yang berbunyi
VITAKKADI OLARIKADHAMME SAMETITI ; SAMATHO


SAMATHA ada dua macam, yaitu;


PARITTA-SAMATHA; bagi mereka yang melaksanakan samatha-bhavana tetapi belum mencapai Appana-Bhavana, disebut Paritta-Samatha.
Sebab pada saat itu yang ada hanya Mahakusala atau Mahakriya-JAVANA, yang timbul dan jhana yang ada pada saat itu mempunyai kekuatan yang lemah.


MAHAGGATA-SAMATHA ; bagi mereka yang melasanakan Samatha-Bhavana dan telah mencapai Appana-Bhavana yaitu Mahaggata-Jhana, disebut Mahaggata-Samatha
Sebab pada saat itu Mahaggatakusala telah timbul dan dapat dicapai atau mencapai Mahaggatakriya JAVANA
TELAH TIMBUL, dan jhana yang dihasilkan pada saat dicapai, mempunyai kekuatan yang sangat besar dan mampu,dapat mengkonsentrasikan pada objek meditasi dengan kuat.


JHANA, berarti kesadaran/pikiran yang melekat kuat dalam objek Kammatthana(Meditasi), yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi pada objek meditasi yang dipilih dengan ke kuatan Appana-Samadhi, samadi disini meningalkan istilah meditasi, karena pikiran telah terkonsentrasi kuat pada objek meditasi, maka kata Samadhi mengambil alih istilah meditasi yang kita lakukan,
Appana-Samadhi adalah konsentrasi yang pandai/ahli yaitu kesadaran pikiran terkonsentrasi pada objek dengan kuat


8 Tingkat Jhana


1 Pathama-Jhana
2 Dutiya-Jhana
3 Tatiya-Jhana
4 Catuttha-Jhana
5 Akasanancayatana-Jhana
6 Vinnanancayatana-Jhana
7 Akincannayatana-Jhana
8 Nevasannanasayatana-Jhana
40 objek pokok meditasi


A Kasina 10 (10 wujut benda)
B Asubha 10 (10 wujut kotoran)
C Anussati 10 (10 macam perenungan)
D Appamanna 4(4 keadaan yang tidak terbatas)
E Aharepatikusalasanna 1 (1 perenungan terhadap makanan memjijikan)
F Catudhatuvavatthana 1 (1 analisa terhadap 4 unsur)
G Arupa 4 (4 perenungan tampa materi)


Nb, detailnya dapat saya berikan jika ada yang tertarik dengan objek tertentu


6 CARITA,
yaitu 6 macam prilaku yang dikaitkan dengan kecocokan objek meditasi
Ini tidak saya uraikan karena sebaiknya minta objek meditasi pada yang ahli dan mempunyai otoritas yaitu “Bikkhu”


Masing masing CARITA ini secara garis besar mempuyai kecocokan tertentu terhadap objek meditasi.


BHAVANA ada 3 tingkatan


1 PARIKAMMA-BHAVANA, pegembangan bhtin tingkat pendahuluan
2 UPACARA-BHAVANA, pengembangan bathin tingkat penghampiran
3 APPANA-BHAVANA,pengembangan bathin tingkat terkonsentrasi dengan kuat


Untuk mencapai Parikamma-Bhavana objek apakah yang harus diambil dalam melaksanakan meditasi
Samatha-Bhavana. Semua objek(40 objek) dapat menghasilkan Parikamma-Bhavana


Untuk mencapai Upacara-Bhavana, objek meditasi yang dapat menghasilkanya yaitu
8 Anussati (buddhanussati, s.d Devanussati)
Aharepatikulasanna1 dan catudhatuvavatthana


Untuk mencapai Appana-Bhavana, objek meditasi yang dapat menghasilkanya
’10 objek kasina, 10 objek Asubha, 1O Kayagatasati, anapanassati, 4 Appamanna, dan 4 Arupa




Untuk jhana 5-8, sesuai objek masing-masing


Mari kita masuk pada pencapaiyan jika teman teman sedhamma telah melaksanakan meditasi samatha dan cukup lama serta kira-kira mendapatkan gambaran pencapaiyan .
Ada di mana kira-kira tingkatan dan pencapaiyan meditasi kita dari tingkat awal hinga tercapai pemusatan pikiran


Ada 3 NIMITTA atau gambaran bathin saat kita melaksanakan meditasi Samatha-Bhavana


Yang pertama pada tingkatan PARIKAMMA-NIMITTA, Gambaran bathin permulaan, yaitu suatu objek yang kita pilih dalam meditasi kita, contoh jika memilih objek kasina warna merah misalnya, kemudian objek tersebut dibayangkan dalam pikiran, dan masih dalam kondisi tidak terlihat dengan jelas dan tetap.


UGGAHA-NIMITTA, gambaran bathin mencapai, yaitu objek meditasi yang kita ambil untuk meditasi, objek tersebut sudah melekat dalam pikiran, sebagai contoh kasina warna merah tsb.
Terlihat dengan jelas dan tetap


PATIBHAGA-NIMITTA, gambaran bathin berlawanan, di sini penguasan penuh terhadap objek dicapai, objek meditasi yang diambil telah melekat pada pikiran, objek yang diambil terlihat dengan nyata, tetap dan jernih (jika mengambil kasina warna sebagai contoh) terbebas dari gangguan, dan objek tersebut dapat dibesarkan dan dikecilkan dalam pikiran kita, biasanya jika mengambil kasina warna ada wadah kasina tsb yang kita ambil dalam ukuran tertentu, ukuran kasina tersebut itulah yang kita proyeksikan membesar dan mengecil sesuai keinginan kita.
Untuk mencapai Parikamma-Nimitta dan Uggaha-Nimitta, seluruh objek meditasi yang 40 dapat menghasilkan kedua pencapaiyan meditative di atas, tetapi untuk pencapaiyan ke tiga
Yaitu;
Patibhaga-Nimitta tidak semua objek dapai menghasilkan pencapaiyan ke 3, yaitu Patibhaga-Nimitta, kebanyakan yogi banyak yang keliru disini, sehingga kadang-kadang pencapaiyan meditasi seakan-akan mentok, padahal objek meditasinya kurang cocok untuk mencapai pemusatan pikiran/pencerapan secara mendalam.


Apa saja objek yang bias menghasilkan tingkat ke 3 atau Patibhaga-Nimitta, ada 22 objek dari 40, yang dianggap sesuai untuk pencapaiyan, tingkat ini, apa saja
10 Kasina, 10 Asubha, 1 Kayagatasati, dan 1 anapanasati


Pada saat yogi mencapai tahap Uggaha-Nimitta, dia harus mengubah objek meditasinya ke 22 objek yang dapat menghasilkan level 3 Nimitta, banyak para yogi yang tidak mendapat bimbingan tidak menyadari hal ini, kalau halanganya sudah mahir dengan objek yang dipakai 2 tahap sebelumnya dan susah menentukan apa yang dipilih untuk meningkatkan pencapaiyan meditasi, disitulah seorang guru yang mahir dan sudah menpraktekan Samatha di butuhkan,


Kebanyakan para yogi pemula terpaku pada teory, dan malas belajar pada guru meditasi, jika anda bercita-cita agar meditasinya maju dalam pencapaiyan inilah saatnya pergi ke Vihara dan bertanya pada para bhanthe,
Agar mendapat bimbingan guru yang pantas, jangan membaca teory atau bertanya pada orang yang belum pernah praktek, atau malah pencapaiyanya dibawah orang yang bertanya?


Ada bhikkhu yang spesialisasinya meditasi dan ditunjuk oleh Sanggha yang akan membantu, jadi para yogi ayo ke vihara dan berlatih meditasi, agar tidak mandek pencapaiyanya


Tambahan pada pencapaiyan Parikamma-Nimitta objek yang para yogi lihat dengan mata merupakan Paccuppanna-Rupa-Rammana (objek bentuk yang sekarang/pada saat ini)
Sedangkan pada level Uggaha-Nimitta dan Patibhaga-Nimitta objek meditasi yang dilihat dengan batin dan merupakan Atita-Rupa-Rammana (objek bentuk yang lalu)


PERBEDAANYA adalah Rupa-Rammana (objek bentuk) yang menjadi Uggaha-Nimitta itu mempunyai sifat yang sama dengan objek permulaan, sedangkan Rupa-Rammana (objek bentuk) pada Patibhaga-Nimitta tidak sama dengan objek permulaan, karena Rupa-Rammana pada level ini lebih jelas, jernih dan sangat jelas dilihat oleh bathin kita, seperti penglihatan mata yang baik yang dapat mengenali bentuk dengan segala sudut pandang.


Sampai di sini para Yogi dapat melanjutkan sendiri tahapan-tahapan meditasinya, biasanya setelah pencapaiyan
Patibhaga-Nimitta saya mengklasifikasikan yogi tersebut sebagai “mahir” tingal seberapa rajin, dan yakin akan pencapaiyanya tergantung saddha, dan Viriya
Yogi ini kita sebut saja melakukan Samadhi, dalam literature Buddha;
Sila, Samadhi, Panna,
Maka jangan lupa menyempurnakan pancasila buddhis, agar samadhinya maju, dan mudah mudahan melakukan VIPASSANA Bhavana, agar pannanya juga ikut berkembang,


Menilik pentingnya Vipassana-Bhavana dalam praktek dhamma Guru Agung Sammasambuddha Sidartha Gotama mungkin suatu hari, atau saatnya tepat akan kita bahas kemudian
Ataupun rekan senior di sini lebih mahir dari pada saya, untuk memenuhi praktek kemoralan saya minta rekan senior dalam dhamma untuk menulisnya